
"Kenapa?! Kenapa kamu tidak bisa menghentikan istrimu itu? Kenapa dia tetap ke kantor hari ini?! Aku benar-benar muak melihatnya! Aku membencinya!!!aku benar-benar membencinyaaa!" Sumpah serapah seperti rel kereta, menyembur di akhir kalimat Sally.
"Apa yang bisa ku lakukan?" Suara Bram terdengar berat.
"Kenapa untuk menjadi laki-laki saja kamu tak bisa bersikap tegas dengan istrimu itu?"
"Aku tak pernah menganggapnya istri selama ini." Bram menyahut.
"Tapi kan' kamu bisa membuatnya keluar dari pekerjaannya."
"Tidak bisa..."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak bisa melarangnya."
"Kenapa tidak bisa? kamu suaminya!"
"Aku tidak lagi suaminya."
"Apa maksudmu, kalau kamu bukan suaminya?"
"Aku telah menceraikannya."
Suara Bram terdengar parau, entah mengapa menyebut kata cerai membuatnya benar-benar terluka.
Jawaban pendek itu membuat Sally sesaat terdiam.
"Kamu bercerai dengan Diah?"
Bram tak menjawab pertanyaan Sally selanjutnya, dia merasakan sakit saat dia mengingat dirinya tak lagi terikat hubungan dengan Diah.
"Sayang...kenapa kamu bercerai dengannya?" Pertanyaan Sally, sesaat membuat Bram terkesima.
Rasanya itu seperti pertanyaan bodoh, ditengah hubungan terlarang yang sedang mereka berdua jalin.
"Aku telah mengucapkan talak pada Diah." Jawab Bram.
"Kamu melakukannya demi aku?" Tanya Sally lagi.
Bram tak menjawab, dia tak tahu persis perceraian itu atas alasan apa, apakah dia yang melakukannya karena semua perbuatannya yang begitu keterlaluan pada Diah ataukah Diah yang melepaskan dirinya sendiri.
"Aku akan pulang hari ini..." Suara Bram terdengar berat.
__ADS_1
"Kemana?"
"Kemana lagi jika bukan kepadamu?"
"Oooh..."
Hanya itu sahutan dari seberang sana, begitu datar bahkan tanpa euforia apa-apa, saat mendengar Bram telah melepaskan istrinya demi perselingkuhan mereka berdua.
...***...
Pada ruang meeting itu, ada pertemuan terbatas yang hanya di hadiri oleh enam orang.
Pak Rudiath, papa Raka selaku pemegang saham tertinggi sekarang, Sarah, pemegang saham kedua pengganti papa angkatnya, Ibu Mytha, mama angkat Sarah.
Di meja besar itu duduk berseberangan Raka dan Sally, dua orang ini setelah begitu lama baru pertama kali duduk satu meja.
Di sebelah Raka duduk dengan tenang kakaknya, Edgar, seolah-olah kehadiran Sally tak di sadarinya. Raka bahkan membuang muka dari perempuan yang pernah menjadi mantan tunangannya itu.
Andai saja bukan karena keharusan, dia tidak akan duduk di sana berhadapan dengan perempuan yang sekarang menerbitkan rasa jijik di hatinya.
Sifat dan kelakuan Sally yang semakin liar dan menjadi-jadi itu, sungguh membuatnya tak nyaman.
Dia sudah berusaha menutup mata, dan dengan sabar menunggu karma yang kini dipintal untuk menyingkirkan Sally dari lingkaran kehidupannya.
Mata Sally tak lepas menatap kepada Raka, sementara Sarah menatap lurus pada dua orang yang berada di depannya itu.
"Ada apa sebenarnya, sehingga kita semua harus melakukan meeting mendadak seperti ini?"
Bu Mytha berpaling tajam kepada Sarah yang raut wajahnya tanpa riak itu. Yang dia tahu undangan pertemuan itu datang dari Sarah.
Sarah tidak menampakkan wajah jengah, matanya kemudian berpindah kepada Diah, Rian dan Bu Dian selaku asisten-asisten mereka yang berdiri di depan pintu yang tertutup itu.
"Apakah mereka harus ada juga di ruangan ini?" Tanya Sally tiba-tiba sambil membuang muka pada tiga orang itu. Tapi tatapannya begitu nanar pada satu orang yang paling dia benci, yaitu Diah.
"Aku telah mengijinkan mereka berada di sini...karena setiap asisten wajib tahu apa yang akan kita bahas hari ini." Sarah berdiri dari duduknya menganggukkan kepalanya kepada papa mertuanya sambil membungkukkan badannya sedikit.
"Aku mohon ijin untuk berdiri..." Ucapnya penuh hormat.
Pak Rudiath yang penuh wibawa itu menarik sudut bibirnya, tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Ada satu hal yang sepertinya harus kita ketahui bersama, meskipun sebenarnya ini salah. Jika kita buka di dalam forum, tidak terlalu baik untuk atmosfir intern perusahaan."
__ADS_1
Semua mata menatap kepada Sarah.
Menunggu apa persisnya yang akan di katakan oleh salah satu komisaris itu.
"Yang pertama, mengenai pengajuan Sally sebagai wakil mama dalam perusahaan ini. Karena mama telah mengajukan secara prosedural, maka di harapkan dewan direksi utama untuk meninjau ulang pengajuan ini, mempertimbangkan berbagai aspek yang membuat kita bersama yakin, apakah Sally memang layak memegang jabatan ini." Kalimat itu terdengar lugas di ucapkan Sarah.
Sally memandang tajam kepada Sarah, betapa dia tidak suka mendengar nada suara Sarah yang di anggapnya meremehkan dirinya.
"Tentu saja hal ini akan di serahkan kepada komisaris utama." Sarah membungkukkan badannya kepada pak Rudiath.
"Mengingat hal ini berhubungan tentang penanganan operasional perusahaan, akan diputuskan oleh dewan direksi pada rapat berikutnya." Pak Rudiath menyahut dengan kalem, sementara Sally menatap sang mama dengan kesal.
Dia sudah sangat ingin berkeliaran di dalam gedung besar ini, bertemu Raka setiap hari, bukankah itu bisa membuatnya bisa menebar pesona dan rayuannya.
Mustahil, dalam fikirnya, Raka tak tergoda dengan dirinya, bukankah bertahun-tahun dia menjadi tunangan Raka, meskipun dia batu es karena prinsifnya sebelum menikah tak menyentuh dirinya. Toh, sekarang Raka telah menikah, tentu saja dia tahu betapa nikmatnya bercinta itu. Bagaimana mungkin dia bisa menolak tubuh mantan kekasihnya itu, jika Sally sedikit lebih berkeras untuk menggodanya.
Rasa dendamnya pada Sarah, rasa penasarannya pada perasaan Raka terhadapnya bercampur aduk.
"Dan yang kedua, kenapa kita harus mengadakan pertemuan ini..." Sarah menghela nafasnya.
"Seseorang mengklaim memiliki 15 persen saham perusahaan kita ini...orang di luar lingkaran keluarga Rudiath-Wijaya."
Wajah mama angkat Sarah seketika merah padam, begitupun orang lain nampak tegang, bagaimana tidak, ini perusahaan di rintis dua keluarga besar itu dari awal, sangat di sayangkan jika kemudian ada orang lain yang masuk.
Hanya Raka yang tak bergeming di tempatnya menatap kepada Sarah, lurus.
"Mengapa ada perpindahan saham tanpa ada sepengetahuan bersama? Ini menyalahi aturan di dalam perusahaan ini! Seumur perusahaan ini, tidak pernah ada hal seperti ini terjadi." Suara pak Rudiath terdengar sedikit gusar, pandangannya mengitari semua wajah yang hadir.
Mama Sarah tampak kelabakan dia sungguh tak menyangka lerbuatan yang diam-diam di lakukannya itu, terbongkar.
"Supaya tidak terjadi kesalah pahaman antara kita, sebaiknya kita menghadirkan orangnya untuk mengklarifikasi. Hal ini bukan sesuatu yang yang main-main." Suara Pak Rudiath terdengar tajam.
"Diah, bawakan tamu kita kemari, beri kesempatan padanya membuktikan bahwa apa yang dikatakannya bukan sekedar omong kosong." Sarah memberi isyarat kepada Diah untuk keluar, memanggil seseorang.
Ibu Mytha duduk dengan tegang, tanpa suara, seperti menunggu sebuah pertunjukan di gelar.
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....
__ADS_1