
Seminggu setelah Raka memberikan kejutan rumah baru, Sarah dan Raka kemudian pindah rumah.
Memasuki rumah baru itu, Sarah dan Raka mengundang semua keluarga untuk makan bersama di rumah baru.
Ada Papa, mama, Edgar, Lila, Deasy dan adiknya Dylan. Dan tamu spesial mereka adalah papa angkat Sarah yang membawa serta mbok Yem.
Mbok Yem, atas ijin Papa angkat Sarah, ikut tinggal dengan Sarah di rumah barunya, hal ini juga karena permintaan dari Sarah yang sangat ingin pengasuhnya itu bisa menghabiskan hari tuanya dengan Sarah.
Mbok Yem sudah seperti orangtua kedua baginya, dengan ketulusan wanita yang kini beranjak tua itu telah merawat dan mengasuh Sarah dari kecil. Bahkan semua nilai moral tentang kehidupan, mbok Yem telah begitu banyak menanamkan padanya.
Sarah merasa dia bisa berada di jalan lurus dalam masa remajanya meski dia hidup dalam perasaan terbuang, tentu saja karena jasa mbok Yem.
Mereka menghadap meja makan besar, mengobrol dengan riang, Raka secara khusus telah mendatangkan koki untuk membuat perjamuan makan istimewa ini.
"Sebenarnya kalian tidak perlu pindah..." Mama masih saja merasa keberatan dengan kepindahan Sarah dan Raka. Apalagi Rae kemudian tidak lagi bisa tiap hari bersamanya.
"Mama pasti kangen sama Rae..." Lanjut mama lagi dengan nada sedih.
"Mama dan papa saja yang pindah kemari." Tawar Raka, sembari melirik sang mama yang ada di seberang meja.
"Rumah yang di sana bagaimana? kalau kami pindah juga." Mama manyun.
"Kami akan sering pulang ke rumah mama..." Sarah menengahi sambil menyelesaikan makannya, menutup dengan dessert.
"Sudahlah, Sar...Mama tidak apa-apa, mama memang begitu juga waktu kami pindah dulu." Seloroh Edgar sambil mengerling pada mamanya.
__ADS_1
"Iya, mamamu ini...jangan di ambil hati." Papa menyenggol sang istri yang duduk di sampingnya.
"Mama tahu kalian sudah dewasa, suatu saat pasti ingin hidup mandiri, ingin menjadi lebih bertanggungjawab dalam rumah tangga tanpa terlalu di campuri oleh orangtua. Suatu saat setiap anak akan pergi, hanya orangtua yang tetap tinggal. Seperti itulah hukumnya. Tak ada yang salah, semuanya memang seharusnya begitu karena jika anak-anak selalu berada bersama orangtua, mereka tak pernah merasa menjadi orang dewasa sepenuhnya, tapi setiap orangtua tak pernah benar-benar bisa sukarela melepas anak-anak mereka...tetap saja mama merasa berat." Suara mama begitu rendah, dia mengeluarkan apa yang menghimpit dadanya.
"Ma, ini hanya pindah rumah, masih dalam satu kota, kalau mama mau, kami akan setiap hari akan menjenguk mama." Raka meraih tangan mamanya.
"Kadang-kadang kami akan menginap di rumah mama seperti biasa, ma." Lila angkat bicara, dia tak tega melihat kemuraman di wajah mama mertuanya itu.
Setelah selesai acara makan malam bersama itu, mereka pindah ke ruang keluarga, papa Sarah dan papa Raka serta Edgar dan Raka terlibat pembicaraan mengenai pekerjaan dan bisnis seperti biasa. Sementara mama, Sarah dan Lila sibuk bermain dengan anak-anak.
Usia Dylan terpaut satu tahun dengan Rae, sehingga bocah yang sudah bisa berjalan bahkan berlari ini begitu penasaran dengan Rae yang baru bisa duduk dan merangkak itu. Jika tidak di perhatikan, maka mungkin saja dia akan menyeret sang adik untuk bisa berjalan bersamanya.
Setelah Edgar, Lila dan kedua buah hatinya pulang mengingat Deasy sekolah pagi harinya, mama dan papa Raka juga memutuskan untuk pulang, karena besok pagi-pagi, papa Raka mempunyai janji temu dengan salah satu kolega bisnisnya sambil olahraga golf.
"Papa menginap di sini saja, dari pada balik ke Villa, di sana papa sendiri." Kata Sarah.
Papa Sarah menyetujuinya, dia merasa tidak punya kesibukan yang mengharuskannya segera pulang.
Putusan sidang cerai papa dan mama Sarah di jadwalkan tiga hari lagi, setelah beberapa kali mediasi dan sempat tertunda seminggu dari jadwal karena dia meminta draft tambahan dalam proses pra pengabulan perceraian. Dan semua masalah itu menjadi rumit memang tidak jauh dari harta dan aset.
Papa dan mama Sarah tidak lagi serumah, Mamanya tetap tinggal di rumah mereka yang lama bersama Sally sementara papanya pindah ke villa keluarga.
Mereka mempunyai beberapa rumah memang baik di dalam kota maupun di luar daerah, tapi sepertinya papa Sarah tak mau ambil pusing lagi. Awalnya papa Sarah ingin memasukkan Sarah di dalam salah satu penerima warisan tetapi hal ini ditentang keras oleh mama dan Sally, mereka mereka menganggap Sarah tak berhak atas harta keluarga, karena hanya anak Angkat saja.
"Sudahlah, pa...jangan terlalu difikirkan, nanti papa sakit." Hibur Sarah.
__ADS_1
"Papa minta maaf tak bisa memperjuangkan hakmu, Sarah." Keluh papanya.
"Papa aku telah memiliki semua hal yang kuharalkan di dunia ini dan Tuhan telah memberiku lebih dari cukup. Tak ada yang ku inginkan lagi." Sarah memandang sesaat pada suaminya dengan senyum lebar.
"Ya, aku juga tak akan membiarkan istriku kekurangan, pa. Tidak perlu kuatir." Sahut Raka.
"Mamamu meminta setengah dari saham yang di miliki papa pada perusahaan." Papa Sarah menghela nafas.
"Dia benar-benar ingin membuat papa merasakan kehilangan yang banyak karena perceraian ini."
Sarah dan Raka saling pandang, sekarang Raka sedikit kuatir, jika Mama Sarah ikut andil dalam perusahaan, dia bisa mengacaukan apa yang telah di bangun selama ini.
"Papa tahu jika mytha terlibat dalam perusahaan, dia pasti membuat keputusan yang berbenturan dengan pemegang saham yang lain. Ini tidak baik." Papa menghela nafas sekali lagi, dia sungguh sulit membayangkan jika 30 persen dari kepemilikan saham itu di miliki oleh Mama Sarah.
"Papa mempunyai sebuah rencana setelah putusan sidang cerai, untuk mengundurkan diri dari perusahaan." Tiba-tiba papa Sarah menatap kepada dua orang anak menantunya itu yang di sambut dengan keterkejutan Sarah dan Raka.
"Dari 60 persen saham yang dimiliki oleh keluarga Wijaya, 30 persennya mungkin akan di serahkan kepada mamamu sebagai pihak pemodal awal berdirinya perusaan ini. Dan 30 persen saham yang kumiliki sisanya, akan ku berikan kepada Sarah."
(Bagaimana kisah selanjutnya? bagaimana pula Sarah akan menyikapi pengunduran diri papanya? Ikuti di part-part di mana Sarah akan berhadapan face to face dengan Sally dalam pembalasan terakhir yang akan di lakukan Sarah kepada mama angkat, yang telah membuat orangtuanya menderita. Seperti apa kisahnya...jangan lupa VOTE novel ini mumpung hari senin, yaa😅Love You all my readers)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...😊...
__ADS_1