
"Tok...tok...tok...!"
Bunyi pintu kamar di ketok. Sarah berusaha membuka matanya yang terasa berat. Dia menatap ke atas langit-langit kamar. Ruangan itu mulai terang, cahaya matahari pagi menerobos dari sela-sela tirai, sedikit menyilaukan mata.
Raka masih tidur nyenyak, kaki Raka mencangklong begitu rupa di atas paha Sarah, seakan tak ingin membiarkan istrinya itu tiba-tiba hilang selama dia terlelap.
Suara ketokan di pintu terdengar lagi.
"Sayang..."Sarah menggoyangkan badan Raka sambil memanggil setengah berbisik.
"Hm..."Raka menyahut dengan deham malas, sementara kedua matanya tetap terpejam. Dia sepertinya benar-benar mengantuk.
"Sayang bangun!"
"Kenapa...kamu tiba-tiba mual lagi?"
" Ada yang mengetok pintu."
Raka membuka matanya dengan terpicing, lalu mengernyit dahinya.
"Siapa?"
Sarah tak menjawab tapi jari telunjuknya menempel di bibirnya.
Ketokan terdengar lagi,
"Sayang...kalian masih tidur?" Suara renyah nan hangat yang sangat mereka kenal, terdengar dari balik pintu.
"Mama...?" Sarah dan Raka menyahut berbaringan lalu seperti anak kecil mereka berdua bergegas turun dari tempat tidur.
"Ya, ma...!" Raka meloncat masih dengan celana pendek dan kaos tipisnya setengah terburu-buru menuju pintu, sementara Sarah bergegas membuka gorden yang menutup jendela kaca kamar.
Rasa malu mencubit wajahnya, ketika melihat ke jam dinding kamar, jarum pendek sudah hampir berada di angka delapan.
Dia benar-benar merasa menjadi menantu tak tahu diri, berada di rumah mertua dan tidur sampai sesiang ini.
Mama berdiri di ambang pintu dengan wajah segar bugar dan senyum yang begitu lebar, di tangannya ada nampan kecil berisi segelas susu hangat, ketika Raka membuka pintu.
"Sayang...apa kabarmu pagi ini?" Senyum lebar dengan mata berbinar hangat itu tertuju lurus kepada Sarah yang berdiri kikuk di depan pintu balkon kamar yang baru saja di bukanya itu.
__ADS_1
"Baik, ma." Sarah menjawab gugup, seperti anak yang kedapatan mencuri permen.
Mama melangkah ke arah Sarah seolah tak melihat Raka yang menyeringai lebar sambil tangannya masih berada di gagang pintu.
Raka melongo melihat tingkah mama yang mengacuhkan kehadirannya begitu saja. Tidak sedikitpun dia menoleh pada Raka yang sudah bersiap-siap menyambutnya dengan basa-basi.
"Sayang, mama buatkan segelas susu hangat untukmu."Mama menyodorkan gelas kepada Sarah.
Wajah Sarah menjadi semakin bersemu merah, dia benar-benar merasa sangat malu, sudah bangun kesiangan malah diantarkan susu oleh mertuanya sendiri.
Dengan tangan gemetar disambutnya gelas itu, lalu menundukkan kepalanya dengan sungkan.
"Maaf, jadi merepotkan mama."
"Mama tidak repot kok, cuma sedikit khawatir, tadi malam kalian langsung naik ke kamar dan kamu belum makan apa-apa sampai pagi ini.
Perut yang kosong terlalu lama di tambah perubahan hormon bisa membuat mual di awal kehamilan lebih parah." Sahut Sang mama.
Sarah mengangkat wajahnya, tak ada lagi wajah yang kaku dan memancarkan kekecewaan tadi malam.
Pagi ini mama kembali menjadi mama yang begitu dikenalnya, hangat, lembut dan penuh perhatian.
"Raka juga mau, segelas susu hangat." Raka memeluk mamanya itu dari belakang. Dan mencium pipi sang mama.
Mama merengut, wajahnya seketika menjadi masam.
"Memangnya kamu lagi hamil juga?"
"Tapi Raka yang membuat Sarah hamil."
Jawaban norak Raka membuat wajah Sarah menjadi merah.
"Yang membuat hamil tidak perlu susu ibu hamil. Tapi seharusnya segera mandi, di bawah mbak Marni sudah buatkan waffel coklat kesukaanmu." Mama melepaskan lengan Raka yang memeluknya dengan manja.
Mama menggandeng tangan Sarah menuju balkon.
"Lihatlah, sayang...matahari bersinar hangat pagi ini, duduk sebentar di sini, selagi belum terlalu panas. Kata dokter, Ibu hamil bagus jika berjemur pagi hari karena sinar matahari penting untuk membantu mensintesis vitamin D bagi pertumbuhan bayi dan memperkuat tulang ibu." Mama membimbing Sarah duduk, di kursi balkon bersamanya.
"Kamu juga harus tahu, sayang...Vitamin D juga berguna untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, kesehatan mata, serta menurunkan risiko darah tinggi pada ibu hamil. Jadi saat bangun pagi luangkan waktunya sebentar duduk di sini. Tapi jangan terlalu panas ya, nanti kulitmu terbakar, lho"
__ADS_1
Sarah mengangguk dengan patuh, sungguh dia hampir tak mampu mencerna apa yang sedang dikatakan mertuanya itu, tapi yang dia tahu, perhatian yang diberikan oleh perempuan paruh baya yang baik hati ini terasa begitu menghangatkan hati.
"Mama..." Raka tiba-tiba duduk di kursi yang sama dengan Sarah di depan mamanya yang seolah sedang duduk menantang langit. Raka duduk tepat di samping istrinya itu, begitu rapat tanpa jarak.
"Mama masih marah pada Raka?" Tanya Raka hati-hati.
Sejenak wajah lembut itu berubah menjadi serius, matanya tertuju pada dua orang yang sangat di sayanginya itu.
"Sayang..."Mama mengarahkan pandangannya kepada Raka.
"Setiap orang tua tentu akan kecewa, jika anaknya membohonginya. Tapi saat seorang anak menyadari kesalahannya itu dan menyesalinya, tak akan ada seserpihpun kekecewaan itu bersisa karena berarti anaknya itu telah belajar dengan baik dari kekhilafannya. Setiap kesalahan adalah pembelajaran jika kita mau mengakuinya dan tak berusaha mengulangi kesalahan yang sama." Ucap mama.
Sarah dan Raka sama-sama terdiam, mereka tak mempunyai keberanian menantang bola mata hitam yang berbinar menatap mereka itu.
"Tidak ada orang tua yang bertahan begitu lama tak berbicara kepada anaknya, semarah apapun mereka. Apapun yang telah kalian lakukan entah itu kesalahan atau kekeliruan, jadikan itu sebagai pelajaran karena karena kalian ke depannya akan menjadi orang tua juga."
Mama menghela nafasnya sejenak.
"Dan untuk kalian berdua, dengarkan nasehat mama ini baik-baik." Katanya kemudian,
"Sebagai suami istri, kalian bukan lagi dua tapi satu. Jadilah sehati sefikir menghadapi segala persoalan rumah tangga kalian. Dalam perjalanannya, berbeda pendapat mungkin boleh, menjadi kesal satu sama lain adalah wajar tapi jangan pernah bertengkar dengan suami atau istrimu sampai matahari terbit di esok hari. Karena pertengkaran yang terlalu lama bisa membuka celah kesalahan yang lainnya. Masalah sehari cukup untuk sehari, kesusahan semalam cukup untuk satu malam. Besok akan ada hari dengan kesusahannya sendiri. " Suara itu begitu tenang dengan intonasi yang sangat teratur, menyusup ke gendang telinga dan masuk sampai ke relung hati.
Sarah terpesona pada seraut wajah yang masih nampak cantik di usia senja itu, mungkin benar kata pepatah kebijakan dan kebaikan hati bisa membuat seseorang menjadi awet muda.
"Seorang suami selalu berada di depan, membimbing dan mengambil keputusan. Tapi istri tidak harus selalu di belakang, ada kalanya harus berdiri di sampingnya untuk mengingatkan dan memberi pertimbangan. Sebagai suami, hargai istrimu supaya selama kamu di sisinya, kamu menerima penghormatan dan pengabdiannya. Sebagai istri, jagalah kehormatan suamimu karena jika kamu merendahkannya di depan orang lain, maka kamu telah merendahkan dirimu di hadapan banyak orang."
"Kesalahan di masa lalu, biarlah menjadi milik masa lalu. Jangan mengingatnya, jika itu menyakitkan, tapi cukup mengenang seperlunya saja untuk sekedar mengingatkan kita, hal yang menyakitkan tidak harus di ulang kembali di kemudian hari." Mama meletakkan jemari Raka di atas jemari Sarah.
"Jika kalian berdua masih bertanya, apakah papa dan mama masih marah? Ya, kami masih marah karena kalian tak pernah mempercayai kami untuk terlibat dalam kesulitan kalian dan ada kalanya kami sebagai orang tua, kehilangan kata-kata, tapi kami tak pernah kehilangan cinta."
Senyum mama begitu manis, sangat manis bahkan lebih manis dari semua permen di dunia ini.
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru...
__ADS_1