
Sarah menggeliat ketika merasakan seseorang sedang menyentuh pipinya, matanya membuka dan terbangun dalam keadaan berada di dalam dekapan Raka.
Suaminya itu sedang menatap wajahnya, begitu aneh dan dalam.
Sarah mengucek matanya, mengumpulkan kesadarannya, dia memastikan tidak sedang bermimpi.
"Sayang..." Sarah membalas tatapan Raka dengan bingung.
"Kamu cantik sekali kalau dalam keadaan tidur, seperti peri yang sedang terlelap." Raka berucap lembut. Mata itu berpijar aneh.
"Kalau sedang bangun seperti nenek lampir, ya..."Sarah meledek Raka yang terlihat serius itu.
"Kalau sedang terbangun, mirip peri juga sih..." Raka menaikkan alisnya seperti sedang berfikir.
"Cuma perinya kalau dalam keadaan terjaga sedikit jahat karena suka menggodaku." Jawab Raka terkekeh.
Sarah tertawa mendengarnya, tapi segera mulutnya di bekap oleh Raka.
."Sttt...Nanti Rae bangun." Raka berucap setengah berbisik.
"Biar saja dia bangun, ini kan sudah mau pagi juga."
"Jangan..."
"Kenapa? bukankah kamu suka sekali memandikannya pagi-pagi?" Sarah bertanya dengan mulut masih di tutupi jemari suaminya itu.
"Biar Rae tidur saja dulu." Raka melepas jemarinya yang menutup bibir Sarah.
"Aku ingin bicara sebentar denganmu."
Sarah sekarang mendonggak dengan seksama pada wajah laki-laki yang masih memeluknya dalam selimut itu.
"Bicara apa?" Tanya Sarah dengan penasaran.
"Tidak begitu penting...tapi em...sedikit penting..." Raka tampak ragu meneruskan kalimatnya.
"Penting dan sedikit penting? yang benar, yang mana?"
"Penting atau tidak pentingnya, ini tergantung kamu." Jawab Raka yang semalin membuat Sarah kebingungan menafsirkan maksudnya.
"Sayang...?" Sarah memicingkan matanya dengan muka masam.
"Kamu tidak sedang membicarakan mau minta persetujuan kawin lagi kan?"Tanya Sarah dengan mimik curiga.
"Astaga sayang...kalau aku ada niat begitu, sebelum aku membuat proposal minta ijin kawin, aku harus mengasingkan diri sepuluh tahun dulu, mengumpulkan kekuatan, takutnya belum sempat aku mengatakannya, aku telah dikutuk olehmu dan mama jadi belatung." Raka tergelak mendengar pertanyaan Sarah.
Sarah tersenyum kecil dengan puas.
"Syukurlah kamu sadar diri lebih dulu."Sambutnya sambil gantian membekap mulut suaminya itu.
"Stt...nanti Rae bangun, katanya sedang infin membicarakan sesuatu denganku."
Raka segera menghentikan tawanya, menangkap perlahan pergelangan tangan istrinya dan mengecut jemari yang pelan-pelan merangkup itu.
"Sayang..."Raka memanggil Sarah dengan suara lembut.
__ADS_1
"Ya..."
"Apakah kamu pernah merindukan seseorang?"
Sarah menatap Raka dengan heran, pertanyaan itu membuat dahinya berkerut.
"Apa maksudmu?" Sarah bertanya dengan hati-hati. Perasaannya menjadi tidak enak.
Apakah Raka sedang mencurigainya merindukan orang lain? Apakah suaminya itu sedang menuduhnya memikirkan laki-laki lain, selain dirinya?
"Tentu saja, aku selalu merindukanmu." Sarah menjawab kemudian.
"Itu aku tahu, tidak usah kamu katakan, aku juga sudah tahu. Bagaimana mungkin kamu tidak merindukan suami seganteng ini..." Raka terkekeh, sebuah cubitan di perut segera membuatnya meringis.
"Aduh, sayang...kamu suka sekali mencubit perutku, kenapa sih?" Raka masih meringis
"Memangnya kamu mau kucubit di mana?"
"Ke bawah sedikit..." Jawab Raka dengan muka bercanda.
"Bener mau di cubit di situ?" Sarah membeliak lucu pada suaminya itu.
"Iya, bolehlah...tapi cubitnya yang lembut."
Cubitan lanjutan di perut Raka, membuatnya mendekap Sarah lebih erat, menahan cubitan yang naik level jadi lebih serius itu.
"Sekarang langsung to the point saja, sebelum Rae benar-benar bangun."
"Iya...iya sayang...aku sebenarnya cuma ingin bertanya saja."
"Apakah kamu pernah merindukan papamu?"
Pertanyaan Raka membuat Sarah terkesiap sesaat.
"Papa? kenapa dengan papa? Beliau tidak kenapa-kenapa, kan?" Sarah mencecar pertanyaan pada Raka.
"Maksudku...papa kandungmu." Jawab Raka dengan suara yang sangat hati-hati.
Sarah merenggangkan pelukannya, pertanyaan Raka terasa menghujam jantungnya. Perasaan yang aneh menjalari, tak bisa dia ungkapkan.
Menyebut nama orang yang telah menelantarkannya puluhan tahun lamanya, bahkan dari telapak kakinya masih merah itu, membuat luka lamanya menyeruak.
"Kenapa kamu menanyakan itu?"tanya Sarah dengan nada serak.
"Sayang, jangan salah paham, aku hanya sedikit ingin tahu." Raka menyahut dengan tak enak melihat reaksi Sarah.
"Kita tidak harus membicarakan ini, kan?" Sarah bertanya, lalu memalingkan wajahnya dari Raka.
"Kita tidak perlu membicarakannya, jika kamu tidak ingin." Raka tersenyum lebar sambil menarik rubuh Sarah menghadapnya kembali.
"Jika kamu benar-benar membencinya, maka aku tak akan bertanya lagi." Sarah mendekap istrinya yang tampak menjadi enggan itu.
"Aku tak bilang aku membencinya, aku hanya..." Sarah menarik nafasnya perlahan.
"Sayang, mama pernah berkata, setiap masalah bukan dihindari tapi dihadapi, apakah kamu mengingatnya?"
__ADS_1
"Aku tidak menghindarinya, dia yang telah membuangku." Sarah berucap dingin.
"Karena dia telah membuangmu, apakah kamu membencinya?"
Pertanyaan Raka membuat Sarah terdiam, dia tak tahu harus menjawab apa. Dia tidak mengerti bagaimana perasaannya pada sang ayah, apakah membenci atau mencintainya? karena dia tidak pernah merasakan belaian atau dekapan ayahnya itu sedikitpun, bahkan wajahnya pun, Sarah sudah tak ingat lagi.
"Aku tidak tahu." Sarah menyahut dengan suara bimbang.
"Kamu pernah memikirkannya?"Tanya Raka sambil membelai anak rambut Sarah yang mulai bersikap kembali tenang di pelukannya.
"Kadang-kadang..." Jawab Sarah tanpa memandang wajah Raka.
"Kadang-kadang, aku memikirkannya, seperti apa hidupnya setelah menyerahkan diriku pada orang lain? Apakah dia pernah memikirkan bagaimana kehidupanku? Apakah dia pernah bertanya, apakah aku baik-baik saja? Atau mungkin sedikit mempunyai rasa penasaran, apa aku bahagia atau menderita?" Sarah bersuara seperti gumam, pelan dan terdengar sedih.
"Aku tak bisa mengatakan membenci atau mencintai orang yang tak pernah ku kenal sama sekali, kecuali darahnya mengalir dalam tubuhku."
Raka mengelus punggung wanita yang berkeluh dalam pelukannya itu.
"Ya, seperti apapun dia, tetap saja merupakan bagian dari dirimu." Raka berkata lembut dan hangat.
"Aku tak pernah meminta untuk menjadi bagian dari diri orang yang tak menginginkanku." Sahut Sarah, bergetar, rindu dendam tersirat di nada suaranya.
"Jangan pernah mengingkari dan mempertanyakan kehendak Tuhan, karena rencananya baik untuk semua orang. Bahkan di setiap penderitaan selalu menyimpan makaud dibaliknya." Raka mengangkat dagu Sarah. Menatap mata yang mulai sedikit berembun itu.
"Apa rencana Tuhan, ketika membiarkan ibuku meninggal saat melahirkan aku? Dan apa rencana Tuhan ketika membiarkan ayahku membenciku karena telah membuat ibuku membayar kelahiranku dengan nyawanya? Apa rencana Tuhan saat membiarkan mama angkatku menyiksaku setiap hari dengan ketidaksukaannya padaku? Apa rencana Tuhan saat memberiku adik..."
"Rencana Tuhan yang terbaik di balik semua penderitaanmu itu adalah kamu bertemu aku, suami yang mencintaimu bahkan tak mampu berkedip saat memandangmu..." Raka menyela kalimat panjang Sarah yang terdengar penuh sesal itu.
"Dan rencana terindahnya kamu memiliki seorang putra tertampan di dunia, baby Rae kita.
Lalu apa yang kau sesali dari setiap penderitaan yang telah membentukmu sekuat dan setegar sekarang? Kebahagian apa lagi yang kamu cari dari Tuhan, melebihi yang kamu miliki sekarang?" Pertanyaan Raka seperti menohok jantung Sarah.
Wanita dalam pelukannya itu memandang Raka fengan mulut setengah terbuka, dia tak punya kata-kata untuk menyangkal pernyataan suaminya itu.
"Apakah kamu ingin bertemu dengan orang yang telah membuatmu merasa terbuang itu?"
Raka menatap Sarah dengan kehangatan yang tak berubah.
"Kenapa kamu menanyakan itu, sayang?" Tanya Sarah, dengan mata tak berkedip.
"Karena aku telah bertemu dengannya..."
(Terimakasih sudah setia menunggu lanjutan part novel akak ini😅 nantikan episode selanjutnya yaaaa, lope2 sekebon cinta buat semua readers kesayangan🙏😊)
...
Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
__ADS_1
...I love you all❤️...