
Dada Diah berdegup aneh, lebih kencang dari biasanya. Diah tak bisa bohong jika dia merindukan suara itu, setelah sekian lama. Bibir Diah terbuka dengan gemetar,
"Dari mana saja kamu? Kenapa baru menelponku sekarang? Apa kamu tidak tahu, aku kadang-kadang suka merindukanmu?"
Pertanyaan itu seolah menghambur ingin keluar tapi hanya kerongkongannya. Tak ada yang benar-benar keluar.
"Ya, saya Diah..." Itu saja yang keluar dari bibirnya yang terbuka itu, kalimat pendek yang aneh terlontar dengan sedikit gugup.
"Menolehlah ke sebelah kiri..."
"Hah..." Diah dengan reflek mengikuti instruksi dari speaker handphonenya.
"Mobil orange..."
Diah segera terpaku pada sebuah mobil di area parkir, yang tampak mencolok.
Seorang laki-laki di jendela mobil tersenyum padanya, sambil meletakkan dagunya di atas punggung tangannya yang tersampir di sana.
Diah terpesona menatap wajah yang hampir setahun menghilang dari pandangannya itu.
"Fajri..." Dia tak bisa menahan untuk memanggil Doddy dalam nama yang sangat di kenalnya.
"Kemarilah..." Suara di handphone itu senada dengan gerakan bibir Doddy, lalu handohone itu di lepasnya.
Sejurus kemudian dia hanya memandang Diah yang melangkah ke mobilnya yang tidak jauh dari tempat Diah berdiri.
Lalu Doddy keluar dari dalam mobil, berdiri di sana menunggu langkah Diah yang salah tingkah menghampirinya.
__ADS_1
"Apa kabar?" Tangannya terulur menyalami Diah dengan gerakan yang elegan.
"Aku...aku baik. " Diah menjawab terbata-bata, dia tak bisa menyembunyi semburat merona di wajah cantiknya.
"Lama tak bertemu, senang melihat senyummu lagi." Begitu lugasnya Doddy berucap, ringan tanpa beban, tanpa mempertimbangkan perasaan Diah yang mendadak bergemuruh tak terkendali.
"Kamu sudah pulang, kan?" Tanya Doddy menyadari Diah sepertinya bingung sendiri.
"Iya..."
"Aku akan mengantarmu pulang, boleh?"
"Em...iya tapi..."
"Jangan bilang pak Ardie akan mengantarmu. Mobilnya baru saja keluar beberapa menit yang lalu." Doddy menunjuk sebuaj mobil silver, milik kantor yang di pakai Pak Ardie, baru saja keluar dari area parkir menuju jalan raya.
"Oh, aku memang mau pulang, cuma sudah calling taxi. Sebentar lagi tiba."
Belum sempat Diah mengatakan apa-apa lagi, tiba-tiba sebuah taksi berbelok masuk ke halaman gedung besar itu, melewati pos security.
Doddy dengan anteng melambaikan tangan pada taxi itu. Saat taxi itu mendekat dia menghampiri, berbicara lewat kaca mobil taxi yang terbuka sambil menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah.
Diah hanya melongo saat taxi yang di pesannya itu tiba-tiba mundur dan berlalu.
"Aku sudah mengusir taksimu supaya aku bisa mengantarmu. Apakah sekarang kita bisa berangkat?" Dengan acuh tak acuh Doddy membuka pintu penumpang mobilnya, mempersilahkan Diah untuk masuk ke dalam dengan cara yang begitu santun.
Sambil celingak celinguk Diah masuk ke dalam mobil itu, dia hendak protes tetapi tubuhnya melakukan respon sebaliknya.
Melihat Diah sudah duduk, Doddy menutup pintu mobil, dengan langkah panjang memutarinya, dan beberapa saat kemudian sudah duduk di samping Diah, dengan senyum tipisnya yang membuat wajahnya begitu tampan di timpa cahaya dari langit sore yang menembus kaca mobilnya.
"Jalan." Ucapnya sambil menepuk bahu sopirnya. Mobil itupun segera melaju perlahan membelah jalanan yang ramai.
__ADS_1
"Kamu tidak tergesa-gesa pulang, kan?" Doddy melirik ke jam tangannya.
"Tidak juga...tapi aku harus menjemput anakku Bella dari rumah neneknya." Jawab Diah tergagap, di pandang oleh Doddy tiba-tiba membuatnya gugup.
"Apakah bisa kamu katakan pada Bella, mama agak sibuk sedikit sore ini, mungkin terlambat menjemputnya."Doddy menarik sudut bibirnya, alisnya naik sedikit, seolah menunggu jawaban Diah.
Diah tercengang, benar-benar tercengang dengan sikap Doddy, setelah begitu lama menghilang, sekarang datang tiba-tiba, membuatnya hampir jantungan dan sikapnya yang begitu elegan dan inisiatif, benar-benar berbeda dengan kecanggungannya setahun yang lalu saat bertemu Diah.
"Aku hanya minta dua jam saja waktumu sore ini." Lanjutnya, tanpa basa-basi sama sekali seperti sewajarnya dua orang yang telah lama tak bertemu dan tak saling kontak. Doddy begitu to the point.
"Kita kemana?" Diah bertanya dengan bingung, bahkan Doddy tak meminta persetujuannya untuk 'penculikan' mendadak ini.
"Ke suatu tempat..." Jawab Doddy, sambil merapihkan jas yang di kenakannya.
"Tapi...aku belum pulang, aku belum mandi, aku belum berganti baju...aku..."Diah menyahut dengan mata tak berkedip pada Doddy.
"Kamu tak mandi seminggupun sepertinya tak masalah, karena tak akan ada yang tahu..."
"Eh..."
"Karena kamu selalu terlihat cantik ..." Ucap Doddy setengah menggumam, sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
Sopir pribadi Doddy yang tepat di depan Doddy hanya melongo mendengarnya, seperti mendengar sebuah kalimat ajaib yang dia tak pernah mendengarnya keluar dari mulut Tuan mudanya itu.
Dengan masih terpesona, sang sopir melirik ke arah langit lewat kaca mobil, dia takut hujan turun mendadak demi mendengar bosnya yang maha dingin dengan perempuan itu tiba-tiba mengucapkan sebuah kalimat pujian yang ajaib meski hampir tak terdengar.
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1