Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 60 MEMBAYAR HUTANG


__ADS_3

Raka dan Sarah mengantar mama pulang setelah makan malam di apartemen Sarah.


Hampir tengah malam, ketika mereka tiba di rumah mama.


"Kalian sudah lebih seminggu tidak menjenguk mama ke sini, mama masih kangen." Mama menunjukkan mimik menghiba.


Sarah dan Raka saling bertukar pandang.


"Mama sudah lama tidak makan sup buatan Sarah."


Kalau sudah begitu, tentu saja sia-sia ingin menolak permintaan mama.


"Iya, ma...kami menginap di sini saja." Sarah menyahut sambil tersenyum pada mama.


Wajah mama langsung sumringah.


"Papa sudah pulang ya, bi?" tanya Raka ketika bi Asih menutup pintu dan menguncinya.


"Sudah, den. Tuan sudah masuk kamar dari tadi. Mungkin sudah tidur." Jawab Bi Asih.


"Mama masuk kamar saja sudah. Ini sudah hampir tengah malam. Mama harus segera istirahat." Ujar Raka pada mamanya.


"Kok, nadanya tidak enak?"Mama menaikkan alisnya pada Raka.


"Maksud mama? Tidak enak bagaimana?"Raka menatap mamanya penuh tanya. Merasa tidak ada yang salah dengan kalimatnya.


"Itu, nadanya agak mengusir." Mama memanyunkan bibirnya.


"Mama juga kangen ngobrol sama mantu mama, masa kamu kurung terus sejak pulang dari Leiden?"Goda mama.


"Akh, mama...."Raka berbalik dengan muka masam dan menaiki tangga menuju kamarnya di iringi tawa terkekeh mamanya.


"Raka sudah mengantuk, ma....selamat malam mama sayang." Raka berucap dari ujung tangga tanpa menoleh lagi pada mamanya. Mama senang sekali membuatnya salah tingkah.


"Ma, Sarah naik dulu." Sarah tersenyum malu-malu.


"Iya, Sayang..."Mama menyahut dengan seringai yang masih tersisa di sudut bibirnya.


"Selamat malam, ma."


"Selamat malam, sayang."


Sarah segera naik menyusul Raka naik ke kamar. Ketika membuka pintu Raka sedang berganti pakaian.


"Ku kira mama menahanmu lama." Raka melirik pada Sarah yang langsung ke kamar mandi menuju wastafel.


Sarah tidak menyahut ocehan Raka, hanya tersenyum kecil saja, mama dan anak ini semakin dia mengenalnya, ternyata kadang begitu lucu.


Mereka menunjukkan kasih sayang dengan cara yang aneh tapi menyenangkan.


Sarah merasa selalu bahagia di antara mereka.


Sarah menyikat giginya dan mencuci wajahnya, rasanya dia ingin cepat berbaring dan beristirahat setelah ini.


Begitu dia masuk ke kamar, Raka sudah berbaring di tempat tidur dengan celana pendek tanpa atasan.


Sarah mengernyit dahinya,

__ADS_1


"Bajumu mana, sayang?" tanya Sarah sambil membuka lemari mencarikan baju tidurnya.


"Tidak usah pakai baju, nanti kamu suruh lepas juga." Sahut Raka acuh, dia bersandar di kepala tempat tidur sambil mengawasi Sarah.


"Ge-er." Sarah tertawa mendengarnya.


"Sayang...."


"Hmm...."


"Boleh minta sesuatu malam ini?"


"Apa?"


"Kamu pakai lingerie dong, sekali-kali"


Sarah berbalik dengan mata melotot.


"Permintaanmu aneh-aneh, sayang! Malu, ah."


"Kan dengan suami sendiri, tidak apa-apa sayang..." Raka tersenyum lebar sambil menurunkan badannya berbaring miring, meletakkan sikunya di atas bantal dan menyangga kepalanya sambil mengawasi istrinya yang masih memilih pakaian yang akan di pakainya, di antara baju-bajunya yang berlipat rapih dalam lemari.


"Dan lagi, aku tidak punya baju lingerie."


"Tuh, di gantungan ada satu."


"What?"


Mata Sarah menoleh ke arah gantungan di sebelah tempat bajunya yang berlipat.


Di sana bergantung sebuah lingerie warna merah maron pendek dengan tali satu, bagian pinggir dadanya berenda sementara antara atas dada dengan bagian pinggang hanya kain tipis transparan. Baju satin halus itu begitu lembut ketika di sentuh.


"Ini punya siapa?" Sarah mengambilnya dan menunjukkan kepada Raka dengan mata memicing penuh curiga.


"Punyamu."


"Aku tidak punya baju yang seperti ini."


"Aku yang beli."


"Hah! Kamu yang beli? masa kamu beli baju beginian? Itu tidak di tanya yang punya toko?"


"Ya, bukan aku beli sendiri. Tapi ku suruh Dea yang beli, ku minta antar ke apartemen eh di antarnya ke mama...."


"Astaga, sayang...." Wajah Sarah langsung merah padam sambil memegang dahinya dengan wajah malu. Suaminya ini kadang luar biasa ajaibnya.


"Ah, sudahlah. Mama no coment juga. Ayo, di coba, sayang." Raka tampak antusias.


"Tidak mau...!" Sarah hendak menggantung kembali baju itu ke lemari.


"Ya, sudahlah, kalau tidak mau. Nanti ku kirim untuk Beatrix, dia pasti suka memakainya."


"Iya...iya! Aku pakai....!" Sarah menyahut cepat dengan nada jengkel ketika mendengar ucapan Raka.


Dia benar-benar tidak rela baju yang di beli suaminya di pakai oleh perempuan lain.


Raka terkekeh penuh kemenangan, menikmati detik-detik istrinya itu mengenakan lingerie itu di depannya.

__ADS_1


"Sayang, kemarilah...."Raka menjulurkan sebelah tangannya dengan suara serak.


Sarah tampak malu-malu ketika lekuk tubuhnya terpampang sempurna di balut satin yang tampak melekat pas di tubuhnya itu.


Rambut panjangnya tergerai sedikit tak beraturan membuat Sarah malah kelihatan s*ksi.


Belahan dadanya bagian atas terlihat menyembul, putih mulus kencang dan kesat. Sementara pada bawah dada, pusarnya nampak mengintip menggoda dari balik bagian yang transparan.


Pahanya yang mulus seperti pualam itu bersilang membuat kaki Sarah nampak begitu jenjang.


"Sesuai ekspetasi." Raka tersenyum puas.


Ketika Sarah mendekati bibir tempat tidur dengan tak sabar Raka menariknya dan memeluk tubuh istrinya itu seperti ingin memangsanya. Sarah terpekik kecil saat mendarat di atas tubuh Raka yang menyambutnya dengan dada yang polos.


"Sayang, hutang yang tertunda harus di bayar dengan bunganya."Jemari Raka merayap di atas kain lingerie tipis itu, membuat Sarah merinding tak karuan.


"Aku berhutang apa?" Sarah meringis.


"Hutang tadi yang belum sempat terlaksana."Raka mencium daun telinga Sarah sambil berbisik manja di sana. Nafas Raka yang yang hangat terasa berhembus menggelitik di kulit lehernya.


"Akh...."


Sarah tidak mampu bersuara lagi, entah hutang atau apa yang harus di bayarnya, Sarah benar-benar tak perduli, yang pasti dia menikmatinya sekarang.


Raka melanjutkan aksinya saat melihat Sarah pasrah saja membiarkannya mengeksplorasi setiap jengkal tubuh istrinya itu.


Sebelah paha Sarah di tariknya, supaya berada di atas perutnya, sementara tangannya sibuk meraba ke sana kemari.


Lalu ciuman liar Raka segera bertubi-tubi membuat Sarah hampir tak bisa bernafas.


Raka selalu merasa candu pada istrinya itu, sejak dia merasakan kehangatan yang di suguh Sarah dari malam pertama mereka di Leiden.


Malam itu mereka lewati dengan adegan percintaan yang luar biasa. Seperti perang yang saling menyerang dan tak pernah puas. Sarah bahkan membalas Raka dengan meletakkan dirinya beberapa kali di atas tubuh Raka.


Membuat Raka menggelepar seperti ikan yang terdampar di pantai. Menjelang subuh mereka berdua tertidur lelap sampai pagi.


Sarah terbangun pagi-pagi, merasakan tubuhnya remuk redam dan rasa tidak enak yang aneh.


"Sayang, ini masih terlalu pagi...."Raka terbangun saat Sarah menggeliat di pelukannya sambil melenguh serak seperti mengeluh.


Tangannya di atas dahi, memegang kepalanya yang terasa berat.


"Aku harus bangun untuk membuat sarapan." Sarah memindahkan tangan Raka dari atas pinggangnya. Raka tidak menyahut, sepertinya dia benar-benar masih sangat mengantuk.


Sarah bangun, menyentuhkan kakinya ke lantai kamar hendak beranjak. tiba-tiba dia merasakan perutnya sedikit kram. Lalu seperti ada yang naik sampai ke kerongkongannya. Rasa mual yang luar biasa.


"Oeeeek....!" Sarah menutup mulutnya, dia merasa ada yang melesak dari perutnya minta di keluarkan.


"Sayang, kamu kenapa?" Raka membuka matanya, mendengar Sarah mengeluarkan suara yang aneh.


Sarah tidak bisa menyahut, tapi dia benar-benar mual. Lalu sekejap kemudian, dia berlari ke arah kamar mandi menuju wastafel dan berusaha muntah di sana.


"Sayang...! Ada apa denganmu?"


...(Dukungan&VOTEnya author tunggu lho, supaya novel ini bisa masuk rekomendasi☺️)...


__ADS_1


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please juga🤗❤️...


...Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP🙏...


__ADS_2