
Mata Diah tak berkedip menatap Bram.
"Aku tak menginginkan rumah itu..." Sahut Diah, perlahan.
"Jika kamu ingin mewariskannya pada Bella sebagai seorang ayah, itu adalah hakmu. Tetapi aku tidak akan tinggal di sana setelah bercerai denganmu." Diah membuang wajahnya sejenak ke arah kaca kantin itu, yang langsung menunnjukkan pemandangan di luar dari lantai dua.
"Kenapa? Aku akan keluar dari sana. Aku tidak akan lagi pernah ke sana jika kamu menginginkannya." Suara Bram tak pernah selunak ini, selama mereka bersama, bahkan Diah merasa terkejut dengan perubahan itu. Sedari mereka berjabat tangan setelah sidang tadi, tak sepatah katapun keluar dari bibir Bram. Dia begitu diam dan murung.
Sekarang, mereka berdua duduk berhadapan, tak pernah berbicara seperti orang normal seperti sekarang, sayangnya antara mereka sudah tak ada lagi hubungan apa-apa. Mereka mendadak seperti dua orang asing tetapi saling mengenal.
"Aku...aku tak bisa tinggal di sana, terlalu banyak kenangan menyakitkan tersimpan di dalamnya." Diah menatap ke wajah Bram kemudian melepaskan kembali pandangannya ke arah jalan raya yang ramai di balik kaca.
"Di sana, aku merawat dan menyaksikan bagaimana jasad anakku, Beni...terbujur tak bernyawa. Di sana banyak air mata dan kesepian ku lewati...Aku benar-benar tak ingin tinggal di sana lagi." Diah berkata setengah bergumam, bibirnya gemetar menjawab Bram, betapa dia tak ingin lagi tinggal di rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya selama delapan tahun terakhir itu.
"Suatu saat jika aku mampu berdamai dengan hatiku, mungkin sesekali aku datang melihatnya, tapi tidak sekarang. Sepertinya, aku harus menata hidupku, melepaskan setiap jejak luka untuk bisa bernafas lebih lega. Bukan hal mudah beradaptasi dengan hidup baru. Tapi ada dan tiada dirimu, aku sudah terbiasa dengan itu. Aku hanya ingin memulai hidupku yang baru, tanpa bayang-bayang masa lalu. " Kalimat sedih itu dilanjutkan Diah dalam hatinya.
"Aku masih bisa membiayai Bella, setiap bulan aku tetap akan menstranfer uang untuk lrbutuhan sekolah Bella." Ucap Bram tiba-tiba.
"Aku tahu keadaanmu, aku tak akan menuntut apapun darimu. Aku masih bisa membiayai hidup kami berdua, dengan bekerja. Jadi, tak perlu repot-repot melakukannya." Nada itu terdengar sinis, tapi sebenarnya Diah mengucapkannya dengan tulus.
"Aku akan berusaha memenuhi tanggungjawabku." Tukas Bram kecut.
Diah terdiam, di tatapnya lamat-lamat wajah mantan suaminya yang kusut dan semakin tak terurus itu. Sungguh ajaib saat dia mendengarkan kata tanggungjawab dari Bram. Itu adalah hal yang teramat langka.
"Apa maksudmu? Jangan berusaha mengatakan apapun supaya aku goyah dengan keputusan yang telah ku ambil. Meski aku mungkin bisa memaafkanmu tapi semua sudah tak sama lagi." Pandangan Diah terarah lurus pada wajah Bram, begitu curiga dan gusar.
"Aku hanya ingin melakukannya, tanpa maksud apa-apa. Jangan salah sangka."
Diah mengatupkan bibirnya, membiarkan Bram berbicara.
__ADS_1
"Diah..." Bram menundukkan wajahnya yang terasa panas.
"Maafkan aku..."
Suara Bram itu terdengar pelan tapi jelas. Diah terkesima, dalam seumur hidupnya mengenal Bram, tak pernah sekalipun dia mendengarkan permintaan maaf dari mulut Bram.
Ketika dia mendengarnya sekarang, Diah merinding sendiri. Rasa haru dan perasaan aneh tak bisa di tepisnya.
"Maafkan aku yang tak pernah bisa menjadi suami yang baik bagimu. Aku harap setelah hari ini, kamu akan hidup lebih baik. Ku titipkan Bella, anak kita padamu, aku percaya dalam perawatanmu, Bella akan menjadi anak yang baik." kalimat itu begitu tertata dan nyaris lembut meski di ucapkan dengan sedikit bergetar dari bibir Bram yang gelap pucat itu.
"Aku tahu, tak ada jalan kembali lagi, aku terlalu jauh tersesat darimu dan melepasmu adalah hal terbaik yang bisa ku lakukan untuk mengembalikan semua kesakitan yang telah ku berikan padamu. Aku merelakan perpisahan ini jika itu membuatmu bahagia, meski mungkin aku akan menyesalinya seumur hidupku." Bram sangat ingin mengucapkannya tapi, kata-kata itu seolah menguap di ujung lidahnya.
Dan yang bisa di lakukannya hanya menatap wajah Diah yang terpaku seperti patung di depannya. Jemarinya melekat erat pada gelas teh yang ada di genggamannya.
"Aku ikhlas dengan perceraian ini..." Bram meraih dokumen perceraian di atas meja dengan jari-jari yang gemetar.
Ya, pertama kalinya Bram tak bisa menahan air matanya saat berhadapan dengan Diah.
Bram tak bisa menahan dirinya lebih lama lagi di situ, sejuta penyesalan berkecamuk tapi dia tak mungkin bisa kembali lagi.
Diah menatap punggung laki-laki yang dulu begitu di pujanya itu, tak mengucapkan apapun lagi, meski di hati kecil Bram, dia sedikit berharap Diah menahannya pergi.
Buliran bening yang hangat membasahi pipi Diah tanpa di sadarinya.
Mata sayu Diah mengiringi kepergian Bram yang hilang di balik pintu kaca, langkah itu tak pernah dilihatnya sebegitu gontainya.
Tapi, tak ada hal lagi yang bisa menahan perpisahan itu, Diah telah memilih melepaskan diri, dia tak tahan hidup dalam pernikahan yang lebih dari dua orang di dalamnya.
__ADS_1
Selama ini, dia sudah mencoba bertahan, tapi tiga cinta dalam satu mahligai, itu terlalu ramai. Bram tetap saja memilih mantan kekasihnya itu untuk bersama dengannya. Diah tak punya tempat di antara mereka.
Bram telah melepaskannya, dan dia tak ingin menoleh ke belakang lagi. Apapun yang kini menjadi pergumulan hidup Bram, bukan lagi urusannya.
Perlahan Diah menyeka air matanya, menatap kotak cincin di atas meja yang ditinggalkan oleh Bram.
Dengan jemari gemetar di bukanya lagi kotak itu, menatap cincin pernikahan yang telah dikenakannya delapan tahun terakhir, tak pernah sekalipun cincin itu lepas dari jemari manisnya bahkan saat Bram meninggalkannya berbulan-bulan. Dalam kepergian Bram dalam mengkhianatinyapun, cincin itu tetap berada di tempat pertama kali dia disematkan oleh suaminya.
Pertama kali cincin itu di lepasnya adalah beberapa jam yang lalu saat palu hakim di ketuk tiga kali.
Dengan hati yang remuk, Diah menghapus air matanya dengan punggung tangannya,
"Selamat tinggal...dan...terimakasih..." Dia mengulang kalimat yang sama dengan yang di ucapkan Bram sebelum pergi.
Diah meninggalkan selembar uang biru di samping kotak itu untuk membayar dua gelas teh panas yang telah menjadi dingin tanpa sekalipun di minum oleh mereka berdua.
Seperti itulah cinta mereka, waktu dan pengkhianatan telah membuat cinta mereka kehilangan baranya. Cinta mereka menjadi dingin, lebih dingin dari es.
Kaki Diah melangkah, meninggalkan meja itu antara lega dan terluka.
Dia lega berhasil keluar dari lingkaran penderitaannya tetapi hatinya tetap saja merasa terluka, dia kehilangan cinta pertamanya yang tak pernah mencintainya.
(Karena banyaknya dukungan Vote, komen dan like, Hari ini kita crazy UP, ya...cari tahu kenapa tiba-tiba Bram tak bersikeras seperti sebelumnya di part selanjutnya malam ini. Apakah dia menyesal telah menyia-nyiakan Diah ataukah ada sesuatu di balik kepasrahan Bram, meski dia menyadari sebenarnya dia mencintai Diah ☺️🤗🤗 i love You all❤️☺️)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....
__ADS_1