
Raka hampir tersedak melihat bagaimana istrinya itu menunjukkan territorinya dengan cara yang begitu mendadak dan tak di sangka-sangka. Sarah tak pernah bersikap seserius seperti saat ini. Ketika dia berlagak mengancam, Raka benar-benar takjub, sangat elegan dan mengena, penuh majas dan begitu sarkas.
Sally bahkan tak bisa berkata-kata, matanya hampir meloncat keluar berbicara langsung masuk dengan langkah panjang di ikuti tatapan Sally yang melotot di belakang punggungnya.
Raka hanya menaikkan alisnya, lalu tanpa perduli dengan Sally dia memberi kode pada Ryan untuk mengikutinya.
"Raka..." Sally memanggil dengan tergesa, saat melihat laki-laki itu berbalik dan beranjak pergi.
Tapi Raka seperti tak mendengar apa-apa. Dia berjalan dengan acuh menuju lift.
"Raka! Tunggu!" Sally hendak menyusul Raka ketika sebuah suara terdengar dari dalam ruangan,
"Kami ingin masuk atau tidak? Atau pintu ini akan ku tutup?" Pertanyaan Sarah terdengar dingin tapi tegas.
Sesaat ditatapnya Raka yang telah menghilang di dalam lorong menuju pintu lift, wajahnya bimbang sesaat. Dia merasa Sarah dan Raka seperti bersengkongkol untuk mempermalukan dirinya.
Sally masuk ke dalam ruangan yang dulu seing dikunjunginya sebagai ruang kerja papanya itu.
Ruangan itu tidak banyak berubah kecuali beberapa furniture yang berganti, tetapi warna dan suasananya yang di dominasi dengan warna krem dan cokelat muda itu adalah khas dari ruangan papanya. Warna-warna kalem tetapi berkesan mewah.
Sarah duduk di kursi kerjanya di belakang meja cokelat kayu pekat itu dengan bersilang kaki.
__ADS_1
Kedua tangannya bersilang di depan dada, menatap tajam kepada Sally, hampir tak berkedip.
"Ada apa? Apa yang membuatmu berdiri sepanjang pagi di depan ruanganku?" Tanya Sarah sambil menaikkan alisnya yang cantik itu.
Suaranya begitu ringan, seolah tanpa beban.
"Ruanganmu?" Sally meradang mendengar pertanyaan yang lebih kepada pernyataan kepemilikan itu.
"Biasanya yang ingin berbicara kepadaku harus duduk dengan sopan di kursi itu, jika tidak, maka mungkin security akan mengeluarkannya dengan terpaksa." Sarah menunjukan salah satu dari sepasang kursi sofa yang berada tepat di seberang mejanya.
wajahnya sama sekali tanpa ekspresi menanggapi kegusaran Sally.
"Sarah jangan bersikap kurang ajar pada..."
Sekarang suara Sarah meninggi, menyela ucapan Sally, satu kata itu di ucapkan dengan nada perintah sedemikian rupa.
Sally menganga di tempatnya berdiri, melotot degan biji mata sebesar kelereng.
"Jika kamu duduk dan berbicara, aku akan mendengarkanmu tapi jika kamu berdiri dengan sikap tuan di tempat sekarang kamu adalah tamu, maka aku tak segan-segan mengusirmu." Sarah menyandarkan punggungnya di kursi komisaris syang kini di dudukinya.
"Kamu..."Wajah Sally merah padam.
"Tak ada yang tak tahu jika aku sekarang adalah komisaris di sini, bahkan jika kamu memanggil mama sekalipun, maka kami bedua berada di posisi yang setara dalam perusahaan ini. Jadi...ku sarankan bersikap sopanlah." Sarah menarik sudut bibirnya membentuk senyum kecil yang dingin.
__ADS_1
"Mama yang menyuruhku kemari, dan menunjukku sebagai orang yang berada di bawahnya. Jadi aku akan mengambil ruangan papa ini sebagai tempatku dan mama!" Sally berteriak dengan wajah merah padam tapi Sarah tapak acuh dan sibuk membuka dokumen yang ada di atas mejanya, tanpa menyahut apa-apa seolah tidak lagi melihat Sally.
"Sarah!!! Kamu mendengarku?" Sally berkacak pinggang dengan wajah masam dan merah padam, sikap Sarah benar-benar memancing emosinya.
"Sarah!"
"Berhentilah berteriak padaku!!" Sarah tiba-tiba berdiri sambil menghempaskan telapak tangannya di atas meja, membuat Sally terkejut bahkan terjajar selangkah ke belakan. Dia tak menyangka, Sarah bersikap begitu keras. Sikap yang tak pernah di tunjukkan oleh Sarah, selama dia mengenal kakak angkatnya itu.
"Kuperingatkan padamu, Sally. Kamu bukan siapa-siapa di sini. Bahkan jika mama menunjukmu sebagai CEO yang mewakili dirinya sekalipun, kamu tak bisa membentakku dengan kurang ajar seperti ini. Suka atau tidak suka, aku adalah komisaris di perusahaan ini!" Sarah berucap dengan suara yang begitu dalam dan tajam. Wajah Sally yang merona itu seperti disiram air panas, giginya bergemerutuk, tapi dia sejkarang tak bisa berbuat apa-apa, jika dia membuat ulah dengan menyerang Sarah maka dia akan dilemparkan dari tempat yang sudah di idam-idamkannya untuk menjadi jalan baginya kembali kepada mantan tunangannya itu.
"Jika kamu tidak duduk dan berbicara baik-baik, maka keluarlah! Karena aku tak akan mendengarkanmu, sepatah katapun meski lidahmu keluar. Kamu faham?" Sarah duduk kembali dan menyilangkan kakinya, sementara punggungnya di sandarkannya kembali sambil menarik nafas sesaat, matanya tak lepas dari Sally yang kini hanya mengatupkan giginya.
Lalu dengan kesal, Sally duduk di kursi sofa di seberang meja sarah, duduk pada kursi yang lebih rendah. Mata Sally memerah, seumur hidup dia tak pernah sekalipun mengalah atau mendengarkan Sarah dan sekarang dia benar-benar jengkel karena mau tidak mau harus menuruti perintah kakak angkat yang di bencinya itu.
Sarah tersenyum seperti seorang pawang yang berhasil menjinakkan ular.
"Bicaralah sekarang...aku akan mendengarkanmu." lanjutnya dengan suara yang lebih lunak, Sarah sepertinya sangat tahu bagaimana cara membuat harga diri Sally itu remuk.
(Part selanjutnya lebih tegang, lhoš Apakah Sarah akan menuruti permintaan Sally ataukah dia menolaknya? Yuk ikuti terus, ya part selanjutnya. Berikan akak kopi, bunga atau apa saja deh, setelah bikin mie instan akak nulis lagiš¤£)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Rakaš¤...
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......