
Raka dengan sedikit ragu menggantikan posisi bapak penjual es cendol. Menghadap beberapa toples yang ada di atas meja gerobak, sekarang dia benar-benar bingung harus berbuat apa dan memulai dari mana.
Lalu Sarah dengan senyum senang, duduk di sebuah kursi plastik memandang sang suami ketika bapak penjual mulai mendiktenya dengan begitu bersemangat.
"Ambil cendolnya masukkan ke gelas, terus siram dengan gula merahnya, habis itu tambahkan santan." Si bapak berlagak seperti master chef, bisa mengajari tuan muda tampan di sampingnya itu.
Tidak lama, Raka tersenyum lebar membawa segelas cendol hasil karyanya dengan puas.
"Terimakasih, Sayang...." Sarah menyambutnya dengan sumringah. Lalu mengaduknya, menikmati si es cendol itu dua tiga sendok dengan begitu senangnya, kemudian menarik suaminya itu duduk di sampingnya dan menyuapinya.
"Enakkan? Segarkan? ini namanya es cendol sayang." Sarah mengoceh dengan riang.
Raka mengangguk mengiyakan,
"Ini mungkin nenek moyang es boba, sayang." Raka nyengir. Sarah tertawa.
"Ayo habiskan..." Sarah menyerahkan gelas itu.
"Lho, kok aku yang habiskan?"
"Aku sudah saja."
Raka menatap istrinya itu dengan tidak percaya, sudah seharian putar-putar mencari es cendol. Ketika ketemu, dia cuma minum tiga sendok. Dia malah mengira tadi, melihat begitu ngototnya Sarah, mungkin istrinya itu memborong es cendol dengan gerobak-gerobaknya. Rasa hati kesal luar biasa, tapi dia tak berdaya.
"Pak, berapa?"
"Lima ribu saja neng"
Sarah merogoh tasnya dan mendapati uang lima ribuan.
"Ini untuk cendolnya, pak." Sarah menyodorkan lembaran di tangannya.
Raka masih terbengong-bengong melihat tingkah istrinya itu. Untuk harga cendol yang di carinya seperti mencari intan itu, dia hanya membayar dengan harga pas.
"Oh, iya pak..."Sarah merogoh lagi tas tangannya itu.
"Ini, saya mau traktir bapak-bapak tukang becak di sana, pak...minta tolong di bikinkan, mungkin mereka kehausan juga." Sarah tersenyum manis sambil menyodorkan segepok uang tunai berwarna merah.
Si bapak terpana.
__ADS_1
"Ini betulan, neng?"
"Ini banyak sekali..."Bapak tukang es cendol gemetaran menggenggam gepokan uang itu dengan kedua tangannya.
"Iya, pak. Saya ikhlas." Sarah tersenyum lebar, kemudian menarik tangan suaminya yang masih menatap Sarah kebingungan dari tempatnya duduk, di tangannya masih ada gelas es cendol.
"Alhamdullilah...terimakasih banyak, neng...terimakasih...terimakasih....semoga neng selalu sehat, bayinya sehat dan selamat. Semoga neng dan tuan berumur panjang...."Doa tak henti keluar dari mulut si bapak itu, matanya berkaca-kaca dengan wajah mengharu biru.
"Sama-sama pak. Semoga bapak selalu sehat dan dagangan laris manis tiap hari" Sarah tersenyum begitu manisnya, lebih manis dari cendol yang di jual si bapak.
Tiga orang pelayan toko roti keluar menenteng beberapa box roti.
Lalu Sarah menyuruh mereka membagikan kepada para tukang becak yang mangkal tidak jauh dari situ, dan memberi tukang becak yang mangkal di tengah panasnya hari itu, beberapa lembar uang tunai.
"Semoga bisa membantu."
Tak pernah orang-orang menduga, di siang bolong seperti ini, mereka semua bertemu dengan seorang bidadari dan membagikan rejeki tak terduga kepada mereka. Ucapan terimakasih dan doa mengiringi langkah dua orang itu ketika berjalan menuju mobil.
"Sayang..."Raka masih terpesona dengan semua yang di lakukan istrinya itu. Sang istri yang di tatap wajahnya begitu berseri.
"Aku melihat seorang sinterklas cantik siang ini." Raka mencubit hidung istrinya dengan gemas.
"Ya, aku melihatnya..."
"Kadang-kadang kita merasa, setiap menemui kesulitan yang kita temui dalam hidup membuat kita adalah orang yang tidak beruntung dalam hidup. Padahal itu mungkin saja begitu kecil bagi orang lain yang hidupnya lebih sulit. Saat orang yang membutuhkan menerima apa yang sedikit bagi kita, bisa saja bagi mereka itu setara dengan telah mendapatkan seluruh dunia baginya, saking berartinya." Sarah menatap ke arah jalan raya, saat mobil itu mulai bergerak, dia masih mengingat kata-kata itu, yang di ucapkan oleh mbok Yem ketika dia masih kecil.
Raka sejenak menoleh pada sang istri, meskipun tangannya masih di setiran. Baru kali ini dia mendengarkan kalimat sebijak itu.
"Kalau kita selalu berada dalam dunia kita, menjadi sulit untuk bertenggang rasa. Kadang-kadang kita harus keluar dan melihat, mereka yang berada di luar sana mempunyai kehidupan yang lain, dengan permasalahan hidup yang berbeda bahkan ada yang demi sepiring nasi mereka sanggup berdiri sepanjang hari menunggu rejeki. Dengan begitu kita akan pandai bersyukur dan meringankan setiap beban hidup kita." Raka menyimak setiap kalimat Sarah, tak menyangka istrinya itu mempunyai hati yang begitu halus.
Raka menyimak setiap kalimat Sarah, tak menyangka istrinya itu mempunyai hati yang begitu halus.
"Sayang..." Sarah memegang lengan Raka yang berada di setiran.
"Hmm..."
"Terimakasih untuk cendolnya." Sarah mendarat sebuah ciuman di pipi Raka yang serius menatap ke arah jalan raya. Raka sedikit terkejut dengan ciuman itu, Sarah sebenarnya bukan orang yang suka bertindak agresif tapi adalah perespon yang baik. Mendapat ciuman mendadak dan ucapan terimakasih itu membuat semua lelahnya berburu cendol hari ini menguap tak berbekas.
"Terimakasih juga sayang..."Raka menyengir pada istri yang sekarang meletakkan kepala dengan manja di bahunya.
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Telah memperkenalkan cendol yang luar biasa itu. Sebantar lagi si cendol itu aku masuk list favoritku."Raka terkekeh.
"Sampai saat ini, aku merasa begitu beruntung telah mendapatkan kamu sebagai istriku. Ternyata ketika aku merasa pernikahanku kemarin adalah bencana, tapi di baliknya Tuhan telah merencanakan segala hal yang indah bagiku. Aku tak tahu patah hati yang tak seberapa itu hanyalah ujian kecil untuk mendapatkan kebahagiaan terbesar dalam hidupku." Raka berucap perlahan, matanya terpaku ke arah jalanan raya.
"Aku juga merasa sedikit malu, banyak mengeluh dan menyalahkan Tuhan atas apa yang ku hadapi saat merasa menikah denganmu adalah ketidakberuntungan hidupku."Sarah mengangkat kepalanya dan meletakkan dagunya di bahu Raka.
"Ternyata?" Raka tak sabar menunggu kelanjutan kalimat yang keluar dari mulut Sarah.
"Ternyata, suami yang di berikan Tuhan kepadaku adalah yang terbaik." Sarah tersipu malu. Seketika hati Raka berbunga-bunga luar biasa, menerima pengakuan seperti itu bagi seorang lelaki, ibarat mendapatkan trofi.
Raka melirik sebentar ke wajah istrinya yang hanya beberapa senti dari hidungnya.
Betapa gemasnya ingin mencium si pemilik mata hitam yang berbinar serupa lukisan itu.
"Sayang, duduklah dengan benar..." Raka mendesah parau.
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa konsentrasi menyetir dengan benar kalau bibirmu itu menggoda sekali di depan hidungku." Keluh Raka.
Sarah merengut dan duduk ke posisi tegak kembali. Raka sangat menikmati ekspresi itu. Ternyata menemani istri ngidam itu bisa menjadi pengalaman indah untuk di kenang.
Tak lama mobil mereka tiba di depan rumah, pak Dudung dengan tergesa membuka pintu pagar. Sarah segera keluar dan berjalan menuju pintu.
Bunyi ponsel Raka mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil.
Pemberitahuan sebuah email masuk.
Seketika pias wajah Raka berubah saat membaca isi pesan di dalam email itu, yang di sertakan dengan sebuah lampiran.
Sebuah panggilan untuk segera berpisah.
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru...
__ADS_1