Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
BAB 112 GODAAN BUMIL CANTIK


__ADS_3

"Sepertinya rambut pendek lebih bagus, simpel..." Sarah mematut-matut wajahnya yang chubby di depan cermin.


Raka yang sedang asyik memeriksa beberapa dokumen di atas sofa bed kamar, pura-pura tidak mendengar.


Sudah beberapa hari ini, Sarah selalu membicarakan ingin potong rambut. Raka sebenarnya sangat menyukai rambut panjang Sarah dari dulu, jadi dia tidak terlalu setuju andai sang istri potong rambut. Masalahnya yang punya rambut ingin sekali memangkasnya, sang pengagum ini bisa apa, di tambah lagi menurut Sarah akhir-akhir ini dia merasa sangat gerah dengan rambut panjangnya.


"Nanti pasca melahirkan, menurut artikel yang ku baca, rambut akan rontok karena fluktuasi hormon. Istilahnya postpartum loss hair atau apalah itu..." Alasan Sarah.


"Sayang, aku juga baca artikel di internet ada mitos, potong rambut saat hamil anaknya bisa kenapa-kenapa."


"Hush! Sembarangan." Sarah menyahut tidak senang.


"Kata artikel, sayang..." Raka berdalih, sambil menggedikkan bahu.


"Hoax." Sarah menyisir rambutnya, lalu menjepitnya ke atas dengan malas.


"Gerah, sayang...panas." Sarah mendekat pada sang suami.


"Sore-Sore begini masih sibuk, sayang?" Sarah bergelayut manja, memeluk Raka dari belakang.


"Iya, ini dokumen harus di review dulu, biar papa bisa tanda tangan."


"Oh..."


"Memangnya kenapa?"


"Aku mau bakso, sayang..."


Raka tahu benar gelagat sang istri jika sedang ada maunya, manjanya kumat. Si calon papa siaga ini tak pernah mau mendebat Sarah, yang penting istrinya ini happy terus dia rela menurutinya.


"Ya, sudahlah. Biar pakai gofood saja, biar delivery order." Raka meraih ponselnya. Beberapa bulan ini, aplikasi itu adalah sahabat baik Raka untuk mengatasi selera aneh sang istri yang bisa tiba-tiba datang, tidak ada angin tidak ada badai.


"Aku mau makan di depotnya. Bakso kalau di bawa pulang rasanya aneh." Sarah menciumi pipi Raka sedikit membujuk.


"Tapi..." Raka menatap seabrek dokumen yang ada di atas sofabed dengan nanar


"Kamu tetap di sini saja..." Sarah tersenyum kecil, melihat sikap Raka.


"Lalu, yang mengantarmu cari bakso siapa?"


"Kan, ada Dea di bawah. Habis mengantar dokumenmu ini, dia masih dengan mama, ngobrol."


"Tapi, kamu tidak boleh jauh-jauh, lho. Kata dokter Yogi minggu ini sudah harus siaga satu, sewaktu-waktu bisa lahiran." Raka memperingatkan, sedikit cemas jika Sarah jauh dari pengawasannya.


"Iya, sayang..." Sarah tersenyum riang, seperti burung yang terlepas dari sangkarnya. Dia jenuh sekali selama beberapa hari hanya bolak balik di dalam rumah saja, itu pun ada-ada saja warning dari suaminya.


"Sayang, tidak boleh begini...sayang tidak boleh begitu. Sayang, nanti capek,lho...Sayang, jangan begini! Menurut si anu, kata si itu tidak boleh..."


Entah artikel mana atau info dari mana, yang mempengaruhi si calon papa ganteng ini menjadi possesif dan cerewet di masa penghujung kehamilan Sarah. Kekhawatirannya kadang menjadi sedikit berlebihan.

__ADS_1


Tapi, Sarah memakluminya, Raka belum pernah menjadi papa, jadi dia begitu excited dengan status baru yang akan di sandangnya sebentar lagi.


"Tidak ke mall, kan?" Raka mengernyit dahinya.


"Masa cari bakso jauh-jauh sampai ke mall, di ujung kompleks sini juga ada." Sarah terkekeh, mengingat Raka yang kecolongan saat dia dan Dea pergi cari es krim sampai ke Pakuwon Mall.


"Ingat sayang, perutmu itu besar sekali. Nanti kalau terlalu aktif, bisa brojol di jalan."


"Astaga sayang, orang lahiran mesti ada tanda-tandanya dulu kata mama. Masa brojol sembarangan." Kalimat peringatan sang suami di sambut tawa Sarah.


"Ya, siapa tahu..."Raka mengerling pada sang istri.


Sarah mengambil handphone dan sebuah tas tangan dari atas meja.


"Sayang, aku pergi dulu." Sarah mencium bibir Raka sekilas, lalu segera hilang di balik pintu.


Raka hanya menggeleng-geleng kepalanya melihat tingkah sang istri lalu kembali konsentrasi membaca dokumen yang ada di tangannya.


...***...


Hari sudah gelap, Raka duduk dengan gelisah di ruang tamu, sekali-kali menengok ke arah pintu.


Dia tak sabar menunggu Sarah kembali.


"Masak sih, beli bakso sudah tiga jam belum balik-balik." Keluhnya.


Handphone Sarah dan Dea sama-sama tidak aktif.


"Dia bilang mau ke depot bakso ujung komplek. Ini komplek mana?" Raka memang punya banyak alasan untuk mencemaskan Sarah. Yang pertama karena dia lagi hamil besar, yang kedua dia masih teringat bagaimana Sally memperlakukan Sarah jika bertemu. Sally tidak bisa di tebak kelakuannya.


"Sayang..."


Suara Sarah membuyarkan kegelisahan Raka, istrinya itu berdiri di depan pintu dengan wajah sumringah tanpa kurang satu apapun, tapi dengan tampilan yang berbeda. Tak urung Raka terpana sekaligus terpesona dengan penampilan baru Sarah.


Rambutnya pendek di atas bahu, terlihat fresh dan cantik.


"Kalian dari mana saja?" Raka melotot, tapi kekesalannya segera menguap entah kemana.


"Ka Sarah eh bu Sarah minta di antarkan ke salon sebentar...jadi..."


"Itu handphone kenapa tidak aktif semua?" Raka bersungut.


Mama senyam senyum sendiri melihat tingkah Raka yang agak aneh itu, lalu meninggalkan mereka menyelesaikan urusannya.


"Ponselku bateraynya low pak..." Jawab Dea takut-takut.


"Aku juga..." Sarah menunjukkan wajah memelas.


"Masa tidak bawa power bank semua, itu mobil ada charge juga..."

__ADS_1


"Maaf pak..." Dea melirik Sarah yang tampak puas melihat Raka seperti orang kebakaran jenggot. Jiwa usilnya memang keterlaluan.


"Sudah...sudah, aku yang salah sayang. Dea tidak tahu apa-apa." Sarah memberi kode Dea segera pergi.


"Terimakasih sudah menemaniku, De...lain kali kita jalan lagi..." Sarah mengedipkan matanya kepada Dea.


"Tidak ada lain kali-lain kali lagi!" Raka menarik tangan Sarah dari ruang tamu itu, membawanya naik ke kamar tanpa bicara lagi.


"Sayang..." Sarah ngos-ngosan ketika sampai.


"Kamu masih marah? aku kan cuma bercanda...aku cuman mau bikin surprise..."


Belum selesai Sarah menyelesaikan kalimatnya, Raka membalikkan badan dan mendekap Sarah, lalu sebuah ciuman yang cepat dan panas menyumpal mulutnya.


Kilat kekesalannya tadi, entah hilang kemana, sisa mata sayu yang seperti baru kalah perang.


"Akh...kamu...ini...kenapa?" Sarah hampir tak bisa bernafas.


"Kamu...kamu cantik sekali..." Raka tak bisa menahan dirinya, melihat penampilan baru Sarah.


Leher jenjang dan bahunya yang mulus itu, biasanya lebih sering tersembunyi oleh rambut panjang hitamnya, sekarang nampak seperti hamparan pualam.


Ciuman Raka yang penuh gairah itu tak terbendung, turun dari bibir istrinya, melewati leher dan singgah bertubi-tubi di pundak Sarah yang masih berdiri dalam posisi kebingungan.


"Kamu...kamu sangat menggoda sekali sayang..." Bisik Raka.


Lalu tangannya menyusup di antara rambut dan kulit kepala Sarah, seolah lupa istrinya itu sedang hamil tua.


"Sayang, aku sedang hamil besar." Sarah mendelik kepada Raka.


Wajah Raka begitu memelas dan lucu.


"Siapa suruh kamu cantik..." Keluhnya. Sudah hampir sebulan ini dia puasa tidak menyentuh isterinya itu, karena sangat takut hubungan intim membuat istrinya itu tidak nyaman, mengingat perutnya Sarah besar sekali.


"Sayang..." Sarah menangkupkan jemarinya di dagu sang suami. Menariknya perlahan ke arah wajahnya.


"Kamu mau?" Goda Sarah sambil menggigit bibir bawahnya dengan manja.


Raka benar-benar kesal luar biasa, hanya bisa menelan ludahnya sendiri, ibu hamil ini begitu nakal dan menggoda.


(Ini bumil emang nakal, ya...kasian RakanyašŸ˜†


ada gak emak2 hamil tua yang suka bikin suaminya sakit kepala kayak neng Sarah ini, padahal boleh banget tuh kata dokter...Rakanya aja yang terlalu protektif, maklum hamil pertama belum pengalaman🤣🤣🤣 Yuk, tetap kepoin ya pasangan yang segera mau launching baby ganteng besok lusa inišŸ¤—šŸ¤­)



...Terimakasih sudah membaca novel iniā¤ļø...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...

__ADS_1


...I love you allā¤ļø...


__ADS_2