Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 233 AKU AKAN MENJAGANYA


__ADS_3

"Mama...mama..." Sally memeluk tubuh yang terbujur kaku di atas brankar pasien, dia berusaha terus menarik kain penutup wajah mamanya.


"Sally..." Sarah menarik adiknya itu dari belakang tetapi Sally terus memeluk tubuh mamanya, setelah di otopsi untuk keperluan penyelidikan penyebab kematian dan kemudian di kembalikan ke pihak keluarga.


Berdasarkan hasil visum, Mytha meninggal karena terjatuh dari balkon lantai tiga rumahnya, dan di perkirakan akibat bunuh diri.


"Mama, lihat aku ma...kenapa mama menutup wajah mama. Kenapa mama tidak mau melihat Sally lagi?"


Sally memanggil dengan wajah memelas.


"Sally, jangan begini...mama tak akan senang jika melihatmu begini." Sarah berusaha merangkul Sally.


"Sarah, lihatlah mama...dia tidak mau bangun. Dia tidak boleh tidur di situ...mama pasti kedinginan..." Sally berontak dan melepaskan mantel yang di gunakannya lalu menutupi kain penutup tubuh sang mama.


Raka hanya berdiri di sudut ruangan, tak mempunyai kata-kata kecuali menatap Sally dengan sedih, membiarkan Sarah berusaha menenangkannya.


"Mama...kenapa mama begini...banyak yang mau ku katakan pada mama. Tetapi kenapa mama diam saja. Mama pasti marah padaku, Sarah. Dia marah karena aku tidak menurutinya." Sally membalikkan badannya menatap kepada Sarah dengan begitu menghiba. Wajah Sally berubah pias menjadi ketakutan, seperti anak kecil yang takut di hukum.


Sarah tak bisa menahan air matanya, di peluknya Sally dengan penuh kasih sayang.


"Mama tidak marah padamu, Sally." Sahut Sarah dengan suara serak.


"Tapi mama..."


"Mama hanya sedang ingin tidur saja." Sarah menepuk-nepuk punggung Sally yang tampak bingung dalam pelukannya.


"Kami akan membawa jasad ibu untuk dipersiapkan di bawa pulang." Dua orang perawat yang sedari tadi berdiri di situ, karena membawa brankar itu dari dalam ruang pasca Visum di lakukan meminta ijin kepada Sarah.


Sarah menganggukkan kepalanya, tetap memeluk Sally yang tampak terpukul dan bahkan begitu histerisnya sampai-sampai dia tak bisa lagi mengendalikan dirinya.


Saat suara derit roda brankar yang membawa tubuh Mytha itu di tarik, Salli berbalik dan berlari menahannya.


"Mama kemana? Mama mau di bawa kemana??" Matanya nanar dengan marah.


"Kita akan membawa mama pulang." Sarah menelan ludahnya, suaranya terdengar parau, dia merasa sangat kehilangan mama angkatnya yang pergi dengan cara yang tiba-tiba itu tapi lebih merasa sedih melihat keadaan Sally yang sangat shock atas kepergian Mamanya.

__ADS_1


"Kita tunggu di sini saja, mama akan pulang bersama kita." Sarah berucap lembut sambil melepaskan tangan Sally dari pinggiran brankar yang terbuat dari besi itu.


Cengkeraman Sally perlahan lepas, tapi matanya yang bingung itu mengerjap-ngerjap pada Sarah. Dia seperti Sally kecil yang tampak percaya pada Sarah, saat Sarah kecil membawanya bersembunyi dalam lemari baju dan mengatakan padanya,


"Kita harus diam di sini, Santa klaus akan datang malam ini membawa boneka bear yang besar untukmu. Kalau kita di luar, dia tidak berani masuk, dan dia akan lewat saja dengan kereta rusanya."


Suara nafas Sally terdengar tenang, dia memegang lengan Sarah, kuat-kuat. Tak nampak lagi Sally yang beringas dan berapi-api yang menatap Sarah dengan penuh kebencian. Hanya seorang Sally yang diliputi kesedihan dalam jiwanya yang tergoncang.


Sarah menelpon Sally beberapa jam yang lalu setelah menerima kabar keadaan mamanya yang melompat dari lantai tiga rumah mereka dan nyawanya tak sempat di selamatkan, meninggal ketika di bawa dalam perjalanan ke rumah sakit.


Sally yang tampak sedang tertekan ketika tiba itu shock berat bahkan nyaris terlihat linglung. Sikapnya menjadi aneh, seperti tak bisa menerima kenyataan itu, emosinya seperti anak kecil yang tak jelas.


"Mama tidak suka berantakan, dia harus berdandan dulu, biar bisa pulang dengan kita." Sarah mengucapkan kalimat itu, air matanya turun di sudut matanya, sungguh tak tega dengan keadaan Sally, jiwa adiknya itu benar-benar tergoncang sangat dalam.


Sally mengangguk dan diam saja saat brankar itu di bawa menjauh. Sarah menggigit bibirnya, rasa bersalah yang besar sedang menyusup di sudut hatinya, dia merasa dirinyalah penyebab kematian tragis sang mama, usai mamanya marah besar tak terima dengan posisinya yang di ambil oleh Sarah.


...***...


Sarah terdiam, setelah dokter menyuntikkan obat penenang pada Sally.


"Mama! Mama...kenapa kalian memasukkan mama ke dalam peti! Mama tidak suka tempat yang sempit. Mama takut gelap! Mamaku pasti takuuuut....!!!" Sally berteriak dengan marah, beberapa orang menangkapnya termasuk Raka ketika dia berusaha menarik tubuh mamanya.


"Sally! Hentikan Sally..."Pertama kali setelah sekian tahun, Raka memeluk tubuh Sally, menahannya supaya tidak berontak.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku...!" Mata Sally yang nyalang itu menatap kepada Raka, dan saat itulah Raka menyadari mata Sally begitu kosong seolah kehilangan jiwanya.


Sally bahkan tak mengenalnya lagi.


"Lepaskan aku..." Tatapan asing itu membuat Raka merinding.


"Sarah...mana Sarah..." Dia melepaskan diri dari Raka seperti orang ketakutan, menghambur pada Sarah. Seolah di dunia ini dia hanya mengenal kakaknya itu.


"Sarah, mereka jahat pada mama..."Seperti anak kecil dia memeluk leher Sarah. Hati Sarah tak pernah sehancur ini melihat keadaan Sally.


Sekarang dokter telah memberikan obat penenang, menurut dokter Sally perlu psikiater, jiwanya benar-benar terganggu.

__ADS_1


"Sayang..." Raka menepuk pundak Sarah yang madih duduk di kursi menatap Sally yang tampak tertidur tenang dengan nafas teratur di bed pasien.


"Aku sudah menelpon papa, dia segera berangkat dari Kanada pagi ini..." Ucap Raka dengan volume rendah.


"Jasad mama sudah siap di bawa pulang..." Tambahnya hati-hati.


Sarah hanya mengangguk tanpa berbicara sedikitpun. Dia tariknya selimut putih pasien dan menyelimuti Sally dengan kasih sayang.


"Sally sedang shock, dia perlu banyak istirahat. Kita menunggu dia bangun dan tenang..." Sarah berusaha tersenyum meski wajahnya masih sembab.


"Sayang, jangan menyalahkan dirimu terlalu berlebihan..." Akhirnya Raka tak tahan untuk tak bicara melihat keadaan istrinya itu.


"Aku hanya sedih, kenapa mama harus melakukan ini." Ucap Sarah bergetar.


"Semua orang punya jalan hidup masing-masing, tak ada yang tahu bagaimana cara kita pulang kepada Tuhan. Ini sudah jalannya, tak ada yang bisa kita lakukan untuk itu."


"Aku takut...ini karena aku..." Sarah menunduk.


"Sayang..." Raka mengangkat dagu istrinya itu dengan lembut, menghapus air mata yang turun di sana.


"Ini bukan karena siapa-siapa, tak ada siapapun yang bisa membelokkan takdir. Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing, tak ada siapapun yang tahu dan bisa menahannya.


Dan mama mengakhiri semua pergumulan hidupnya dengan caranya sendiri, bukan karena siapa-siapa. Tak perlu mempertanyakan dan nenyesalinya, yang bisa kita lakukan adalah berdoa, semoga Tuhan memberinya pengampunan. Semoga beliau damai dalam perjalanannya pulang ke rumah Tuhan. Semoga ada tempat baginya...kita hanya bisa berdo'a" Raka memeluk Sarah.


Dan di dalam pelukan suaminya, Sarah terisak, tubuhnya bergoncang kuat dalam kesedihannya.


Bagaimanapun yang terjadi, apapun yang di lakukan mereka padanya, Sarah selalu menganggap merekalah keluarganya.


"Aku...aku akan menjaga Sally untuk mama. Aku akan merawat adikku, untuk mama..."Sarah berucap gemetaran, dalam kesedihannya pada pundak suaminya dia melabuhkan semua perasaannya.



(Semoga hari ini kita bisa Double UP ya, jangan lupa VOTEnya ya untuk novel ini...☺️🙏)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....


__ADS_2