
Dengan langkah ragu, Sarah memasuki lorong menuju kamar hotel sang ayah. Di liriknya jam tangannya masih jam 10 pagi lewat beberapa menit.
Mereka datang lebih awal karena mereka sengaja membawa Rae ikut juga, sebuah kejuatan buat ayah Sarah yang sangat ingin menggendong cucunya itu.
"Sebaiknya kita membawa Rae juga, ayahmu sangat ingin melihat Rae. Kita datang lebih awal saja, sebelum mengantarnya ke bandara kita sempat makan siang dulu. Ayahmu terjadwal di penerbangan jam 15.30 WIB."
Sarah senang bukan main, Raka selalu saja bisa membuat hatinya bahagia.
Rasanya belum puas untuk bertemu dengan ayahnya itu, sekarang dia sudah mau pergi saja.
Entah mengapa Sarah merasa keberangkatan ayahnya itu begitu berat untuk dilepaskan seolah-olah ada perasaan khawatir yang aneh, takut sekali jika dia tak bisa melihat wajah sang ayah lagi.
Perasaan itu mungkin karena dia baru pertama kali bertemu dengan sang ayah dan sekarang harus berpisah dengan cepat atau bisa juga karena rasa rindu yang belum sepenuhnya ruah.
Sarah benar-benar sangat ingin menahan sang ayah. Tapi, laki-laki itu sangat bersikeras ingin pergi. Dia sdikit beharap dengan melihat wajah Rae, sang ayah mau menunda keberangkatannya itu.
"Waaaaaaah..." Wajah ayah Sarah yang sumringah terpampang di depan pintu ketika mendapati Sarah yang berdiri di sana. Dan yang lebih membuat matanya itu berbinar tak berkedip, melihat bayi mungil yang berada dipelukan Raka.
"Kami akan mengantar ayah ke bandara. " Sarah tiba-tiba memeluk dan mencium sang ayah.
Ayah Sarah tampak terkesima dengan sikap Sarah yang begitu akrab dan hangat, seolah-olah mereka berdua adalah ayah dan anak yang tak pernah ada masalah.
"Masuklah..." Ucapnya girang. Ayah Sarah sudah tampak rapi, dia benar-benar siap untuk pergi, di atas tempat tidurnya tampak koper abu-abu besar yang telah terpacking sempurna.
"Ini cucuku?" Ayah Sarah menatap takjup pada bayi mungil montok yang berada di dalam gendongan Raka, matanya seperti mata Raka, bulat berbinar jenaka.
"Ayo, Rae sapa kakekmu..."Raka tersenyum sambil menggerak-gerak tangan Rae kecil
Dengan wajah penasaran dan senang luar biasa, ayah Sarah mendekatkan wajahnya, dia benar-benar terpesona dengan bayi laki-laki tampan yang adalah cucunya sendiri.
Baby Rae tampak bingung sesaat melihat kepada ayah Sarah yang melotot padanya, lalu perlahan muka sang bayi menjadi masam terkejut dengan wajah asing yang begitu dekat dengan wajahnya. Dan di detik berikutnya terdengar suara tangisnya.
"Astaga sayang, itu kakek Rae..." Sarah dan Raka tertawa meihat tingkah Rae yang ketakutan itu, bayi ini sangat jarang di bawa keluar rumah, karena itu dia cepat merasa takut karena tak terbiasa dengan suasana baru dan orang asing yang tak pernah dilihatnya.
__ADS_1
"Ini kakek, jangan menangis begitu. Apa kakekmu ini seram sekali?" Ayah sarah yang semula menyorongkan kedua tangannya hendak mengambil rae dari pelukan ayahnya itu menurunkan tangannya dengan wajah sedih.
"Dia hanya belum terbiasa saja. Nanti lama-lama akan mau kok. Rae memang mirip mommynya suka jual mahal." Raka tertawa sambil menenangkan Rae yang masih menangis.
"Kapan aku jual mahal?" Sarah merengut pada sang suami yang suka seenaknya berceloteh itu.
"Stttt...nanti ku tulis list waktunya kapan istriku ini bersikap jual mahal." Raka terkekeh. Ayah Sarah tersenyum melihat kehangatan antara sepasang suami istri itu, rasanya menyenangkan mmelihat Raka begitu menyayangi anaknya.
Mereka duduk di sofa ruang kamar hotel yang ditempati ayah Sarah.
"Masih lama kan berangkatnya..." Sarah menyeletuk sambil mengambil Rae dari Raka.
"Ya, kita biasa ngobrol dulu di sini kan Yah, cek out room juga jam 12." Raka menimpali.
"Iya, masih lama, beberapa jam lagi..."Ayah Sarah masih tampak begitu penasaran ingin memegang sang cucu.
Rae yang tidak menangis lagi sibuk sendiri memainkan renda baju mommynya.
"Sarah sepertinya masih belum tuntas rindunya bertemu ayah." Raka mengerling pada sang istri yang mengangguk saja tanpa bersuara. Dia tak tahu harus berbicara apa pada sang ayah untuk bisa memvuatnya menangguhkan kepergiannya.
Ayah Sarah tersenyum kecut, dia sangat ingin tinggal tapi lusa adalah hari cek upnya dengan dokter George, dokter spesialis orthopedi yang menangani penyakitnya. Hasil lab sudah keluar dan di kirimkan lewat email padanya beberapa hari yang lalu, hanya saja dia tidak terlalu mengerti bagaimana membacanya.
Cedera di tulang bahunya itu sepertinya memang berpengaruh banyak, rasa sakitnya juga seperti menusuk-nusuk. Dia hanya berusaha bersikap normal padahal bahunya itu terasa nyeri jika di gerakkan.
Dokter George bilang, hasil lab dari patahan tulang sendinya itu menunjukkan sel-sel myeloma yang telah begitu lama menggerogoti bagian dalam tulangnya, di dalam sumsumnya. Baru terdeteksi saat dia mengalami cedera, dan kerusakannya cukup parah karena memang ternyata tulangnya itu keropos dari dalam akibat sel kangker tersebut.
Operasi pergantian engsel tulang bahu sudah di lakukan beberapa minggu sebelum dia berangkat. Tapi entah mengapa nyeri yang dirasakannya makin menjadi-jadi. Vonis dokter yang mengatakan myeloma multiplenya ini sudah stadium lanjut menggerakkan hatinya untuk pulang ke Indonesia, dia ingin menemui anaknya sebentar saja sebelum dirinya mungkin harus berpamitan dengan dunia.
Dia seharusnya pada hari lusa harus melakukan CT SCAN lagi, memastikan tulang bahunya tidak apa-apa dan juga memeriksa perkembangan sel-sel myeloma pasca operasi itu.
Ayah Sarah tak ingin Sarah tahu tentang penyakit yang di deritanya itu, karena alasan itu dia harus segera pergi. Dia ingin menyembunyikan luka hidupnya dan sakit yang di deritanya dari anak yang di cintainya itu.
"Ayah tidak bisa menundanya...tapi ayah hanya beberapa minggu di Kanada, bulan depan rencananya akan balik lagi. Bulan depan ulang tahun ibumu, ayah ingin menjenguk pusaranya." Suara ayah terdengar lirih.
__ADS_1
"Ulang tahun ibu?" Mata Sarah berbinar menatap ayahnya, dia belum pernah tahu hari ulang tahun ibunya.
"Ya, ibumu berulang tahun bulan depan, aku sangat ingin menemuinya. Dia sangat suka dengan bunga krisan kuning. Aku akan membawakannya bunga favoritnya itu dan juga...kamu."
Sarah tak bisa menahan air matanya.
"Terimakasih, ayah." Ucap Sarah sambil memegang lengan sang ayah.
"Ugh..." Ayah Sarah meringis, nyeri nail sampai ke punggungnya. Tapi di tahannya.
"Ayah bisa tinggal di rumah dengan kami." Tawar Raka.
"Ayah sangat senang boleh tinggal di rumah kalian, tapi ayah bisa menyewa apartemen selama tinggal di sini."
"Ayah tidak perlu menyewa apartemen, ada apartemen Sarah yang kosong...ayah bisa tinggal di sana, aku bisa sambil mengurus semua keperluan ayah." Sarah memohon kepada ayahnya itu.
"Baiklah, akan ayah fikirkan. Sekarang, bolehkah aku menggendong cucuku ini?" Ayah Sarah menjulurkan tangannya, dia lupa bahunya yang cedera.
Rae yang sudah tenang, di serahkan Sarah ke tangan sang ayah. Tapi baru saja ayahnya menyambut Rae, wajah ayah Sarah merah padam, Rae hampir jatuh dari pegangannya, untung saja Sarah reflek menyambutnya.
"Ayah kenapa?" Sarah panik melihat ayahnya yang melengkung memeluk bahunya. Ayahnya benar-benar kesakitan.
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...
__ADS_1