
Sally menatap wajah mama Raka seperti sebuah boneka tak bernyawa. Dia sungguh tak percaya apa yang di dengarnya.
Seketika wajahnya pucat pasi, dia terduduk di atas kakinya sendiri, rasa putus asa yang dirasakannya sampai ambang batas yang tak bisa lagi di toleransi oleh dirinya sendiri.
Dia berusaha bertahan dengan kedua telapak tangannya di lantai yang seolah lebih dingin dari es batu.
Dan di detik berikutnya Sally terkulai dan terjatuh ke lantai, tak sadarkan diri. Mama Sarah terpekik, menyongsong tubuh Sally,
"Sayang...!" Dengan cemas dia mengangkat kepala Sally ke atas pangkuannya, menepuk-nepuk pipi Sally.
Semua sejenak saling pandang, kemudian Sarah turun dari kursi yang di dudukinya perlahan, mendekati tubuh Sally, tapi mamanya mendorong Sarah dengan pandangan marah.
"Jangan berpura-pura bersikap simpatik." Semburnya.
Suasana menjadi sangat tegang, papa Sarah maju mendekat, berusaha ikut menyadarkan Sally. Tapi Sally tak bergeming, wajah sembab dengan rambut berantakan itu seperti kapas. Dia benar-benar shock hingga tak sadarkan diri.
"Pa, kita harus membawanya ke kamarnya!" Mama Sarah membeliak pada suaminya itu.
Sang Papa mencoba mengangkat tubuh Sally tapi badan tuanya tak sebanding dengan beban yang di angkatnya.
Mama dan Papa Raka berdiri sedikit bingung harus berbuat apa sementara Raka menatap acuh, seolah Sally tidak lebih sedang bermain peran di depan matanya.
Sarah mendonggak pada suaminya yang berdiri tak jauh dari dirinya. Raka membalas tatapan itu dengan mata yang berkedip menunggu, dia tahu Sarah menginginkan dia melakukan sesuatu.
"Biarkan Raka membantu membawanya, pa." Sarah kemudian memegang pergelangan ayahnya.
Sejenak Raka berdiam di tempatnya dengan raut enggan yang tak bisa disembunyikan tapi karena rasa semua orang kemudian menoleh kepadanya, dia maju perlahan.
"Sayang, ini bukan mauku..." Dia sempat-sempat mengucapkan kata-kata itu di telinga Sarah.
"Tante, ini hanya rasa kemanusiaan, bukan karena apa-apa." Kalimat itu begitu datar keluar dari bibir Raka, seolah permintaan ijin untuk mengangkat tubuh Sally sebelum kemudian dia berjongkok, lalu pada detik berikutnya, tubuh Sally telah melayang di atas dua lengan kekarnya.
Tubuh Sally terkulai di pelukan Raka, lemas dan pasrah.
"Tante, tunjukkan kamarnya," Kata Raka kemudian sambil berdiri tak bergerak menunggu mama Sarah bangun.
Perempuan paruh baya itu sedikit gelagapan, lalu berdiri mendahului,
"Bawa ke sini saja." Katanya, memandu menuju salah satu kamar yang ada di bawah. Kamar Sally sendiri di lantai atas, tentu agak sulit jika naik ke atas.
__ADS_1
Raka berjalan mengikuti langkah mama Sarah, sementara Sarah berada di belakangnya dengan wajah cemas. Tapi kemudian langkahnya tertahan, dia sadar mama sama sekali tak ingin melihat wajahnya sekarang.
"Surti, ambilkan air, bawa ke mari!" Suara keras mama terdengar keras memanggil salah satu asisten rumah tangganya sebelum membukakan pintu kamar.
"Bawa Sally ke kamar ini saja." Kemudian dengan tergopoh menuju ruang tengah seperti ingin mengambil sesuatu.
Raka segera membaringkan tubuh Sally ke atas tempat tidur ketika tangan Sally mengait di lehernya dengan kuat, matanya terbuka sayu.
Seolah memberitahukan, dirinya sudah sadar.
"Kaka..." suara lirihnya setengah berbisik, memanggil nama Raka dengan panggilan kesayangan yang biasanya di tujukannya pada Raka dahulu.
Raka menatap tajam kepada Sally, sejenak mereka berdua saling bertemu pandang.
"Lepaskan tanganmu, Sally." Suara Raka terdengar setengah menggeram, dia begitu risih dengan apa yang dilakukan Sally.
"Kaka, aku merindukanmu." Suara lemah itu terdengar mendayu. Wajah mereka begitu dekat, karena Sally nenarik leher Raka lebih kuat. Dengan sedikit kasar, Raka merenggut tangan Sally dari lehernya.
"Jangan panggil aku lagi dengan panggilan itu. Aku merasa jijik mendengarnya."Desis Raka dingin.
"Kenapa? kenapa dulu kamu tidak menyentuhku? Kenapa kamu memperlakukanku seperti tak pernah tertarik pada diriku? Kenapa pada Sarah kamu bisa melakukannya?" Sally menarik tangan Raka, sebelum Raka berbalik.
"Ini salahmu! Kamulah penyebab semuanya. Tahukah kamu, aku merasa dicintai dan di inginkan ketika bersama Bram, tapi bersamamu aku merasa di acuhkan, bahkan untuk sebuah ciumanpun begitu sulitnya aku mendapatkannya!" Sally mengucapkan kalimat itu tanpa malu sama sekali
Raka melepaskan tangan Sally, wajahnya kemudian menyeringai seolah melihat Sarah begitu rendahnya.
"Sally, aku tak menyangka, untuk mencari orang yang suka cita menginjak harga dirimu kamu rela melemparkan dirimu pada orang lain. Jika kamu benar-benar ingin tahu kenapa aku berusaha tak menyentuhmu meskipun kita telah bertunangan, maka aku akan menjawabmu! Aku berusaha tidak merusak kesucianmu sampai kita melakukan pernikahan yang sah! Kenapa? karena aku menghormatimu, menghargaimu sebagai orang yang kusayangi. Aku ingin kamu merasa merasa dijaga dan dihargai serta bangga tetap suci di hari aku memanggilmu sebagai istri." Raka berkata dengan ekspresi yang begitu datar.
"Sayangnya, aku terlalu naif, begitu bodoh berusaha menjaga sebongkah batu yang ku kira berlian!"
Raka menarik sudut bibirnya, membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan langkah ringan keluar dari kamar itu diiringi pandangan mama yang hampir bertabrakan dengannya dengan sebotol minyak kayu putih di tangannya.
Makan malam yang direncanakan malam itu tak pernah terjadi, semua telah kehilangan mood untuk melakukannya.
Berkali-kali Papa Sarah mengucapkan permintaan maaf atas semua kejadian yang telah lewat, di mana mereka menyembunyikan rahasia misteri pernikahan Raka dan Sarah dari orang tua Raka sendiri.
Papa dan mama Sarah tidak terlalu menanggapi meskipun raut kecewa terpancar tanpa bisa mereka sembunyikan.
Betapa tidak, masa depan anak mereka telah dipermainkan begitu saja, tanpa mempertimbangkan perasaan orang tua yang begitu menyayanginya.
__ADS_1
Papa Raka pamit bahwa mereka harus segera pulang dengan alasan kepalanya tiba-tiba sakit, mungkin hipertensinya naik dan lupa mengonsumsi obat sebelum berangkat tadi. Mama Sarah hanya diam dengan tenang, sedikitpun tak berbicara lagi hanya senyum terpaksa menghiasi bibirnya. Sementara Raka dan Sarah tampak sudah tak sabar ingin segera meninggalkan rumah itu.
Di dalam mobil, mereka semua menjadi pendiam, mungkin tak tahu apa yang harus di bicarakan. Rasa Shock sekaligus kecewa mungkin masih bergelayut di hati dua orang tua itu, merasa di bohongi sedemikian lama tentu saja bukan hal yang mudah di terima atau mungkin mereka sedang berusaha mencerna kejadian yang barusan terjadi.
Raka dan Sarah, tentu tak ingin memperkeruh suasana dengan berusaha berbicara atau membela diri.
Cukup saja waktu yang memulihkan setiap luka dan kekecewaan. Orang tua kadang merasa marah atas kesalahan anak-anaknya, tapi mereka tak pernah benar-benar marah pada mereka.
...***...
Sarah dan Raka berbaring di atas tempat tidur, berhadapan dan hanya saling memandang.
Raka menyeka anak rambut yang jatuh menutupi sebagian pipi istrinya itu dengan telunjuknya.
"Sayang, kenapa kamu memandangku seperti itu?" tanya Raka, perlahan. Dia tak tahan melihat istrinya yang sedari tadi berdiam diri, tak bersuara sedari mereka berdua berganti pakaian dan naik ke atas tempat tidur.
"Aku hanya merasa lelah..."Suara Sarah terdengar bergetar. Tubuhnya meringkuk, kedua tangannya memeluk lututnya sambil tetap dalam posisi berbaring miring. Seperti anak bayi yang tak berdaya.
"Sayang, semua sudah kita lewati bersama. Tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi."
kata Raka, sambil mendekat pada tubuh yang meringkuk itu dan memeluknya dengan hangat.
"Tidak apa-apa sayang, aku akan selalu bersamamu." Raka berbisik lembut sambil mencium rambut Sarah dengan sayang.
Sarah tak bisa menahan isaknya, dia begitu lega telah menemukan sesorang yang mencintainya dan sebuah keluarga yang menyayanginya. Dia tak akan pernah lagi merasa sendiri dan mengutuk nasibnya yang tak beruntung di dunia ini.
"Sayang, kata dokter Yogi...ibu hamil tidak boleh stres apalagi banyak menangis, tidak baik untuk perkembangan janin." Raka berucap hangat, sambil mengusap-ngusap punggung istrinya itu.
Tangan Sarah tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih terasa datar, tapi dia tahu ada satu nyawa di sana, yang menjadi muara kehidupannya dan Raka sekarang.
Sarah membenamkan wajahnya di dada Raka, menggosok wajahnya di kaos tipis yang dikenakan Raka untuk menghapus sisa airmatanya sambil merapatkan tubuhnya kepelukan suaminya dan berbisik lirih,
"Sayang...terimakasih untuk semuanya."
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru...
__ADS_1