
"Silahkan masuk, Ka...." seorang dokter muda tampan berkacamata menyambut mereka di dalam ruangannya, dia adalah dokter Yogi, teman Raka.
"Hai, Gi...terimakasih sudah menjadwalkan sore ini bisa menerima kami." Raka menjabat tangan temannya itu, mereka saling mengenal di jerman, bermula dari pekan mahasiswa indonesia yang di adakan komunitas mahasiswa yang tinggal di jerman.
Yogi adalah mahasiswa berprestasi, kebetulan mengambil PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) di sana untuk menyelesaikan pendidikan dokter spesialis obgyn (Obstetry dan Gynecology).
"Iya, senang bertemu lagi denganmu." Dokter Yogi menyambut hangat jabat tangan Raka.
Raka mengenal Dokter muda sebagai pribadi yang pendiam dan introvert. Ketika Raka yang lumayan supel itu mengajaknya berbicara, di awalnya begitu canggung karena Dokter Yogi bukan orang yang suka terlalu banyak bicara. Tapi lama kelamaan ternyata dia sangat enak diajak mengobrol, apalagi Raka dan dokter Yogi mempunyai kesamaan doyan makan. Selama di Jerman Raka dan dokter Yogi berteman baik.
"Perkenalkan ini istriku, Sarah." Raka melingkarkan tangan kirinya di pundak Sarah.
Sarah menjulurkan tangannya, menyambut hangat tangan dokter Yogi.
Alisnya mengernyit sedikit, seolah agak meneliti wajah Sarah.
"Sarah."ucap Sarah sedikit tak enak.
"Yogi." Sambut Dokter Yogi.
Dokter Yogi mengalihkan pandangan pada Raka, seolah memastikan sesuatu.
Dia mengenal tunangan Raka yang pernah dua kali bertemu di jerman. Dan dia yakin, yang di depannya bukan perempuan bernama Sally itu.
"Kami sudah menikah delapan bulan yang lalu, biasalah orang tampan, yang dipacari yang mana, yang dinikahi yang mana."Raka berkelakar setengah berbisik di depan wajah dokter Yogi, dia tahu jika dokter Yogi merasa sedikit aneh karena gadis di depannya begitu asing dari gadis yang dikenalnya waktu dia membawa ke ulangtahun teman mereka di jerman beberapa tahun yang lalu.
Wajah Sarah seketika merona, sementara Yogi hanya tertawa kecil menutupi rasa tidak enaknya telah bersikap sedikit tidak sopan.
"Ayo, duduklah." Dokter Yogi mempersilahkan mereka duduk di kursi di depan meja kerjanya.
"Sudah test pack, Ka?" Dokter Yogi menaikkan alisnya pada sang kawan yang wajahnya berseri-seri sedari masuk tadi.
"Kan sudah ku bilang di telpon tadi, sudah test pack, cuma hasilnya kurang meyakinkan."
"Mbak Sarah...." Dokter Yogi mengalihkan pandangannya pada Sarah.
"Eh, kok mbak?" Raka protes.
"Aku bingung harus manggil istrimu bagaimana, Ka."Dokter Raka tampak memperbaiki gagang kacamatanya dengan bingung.
"Sarah saja." Sahut Sarah pendek, sambil tersenyum dan melirik kepada suami yang ada di sebelahnya.
"Iya, ini jadi canggung sekali, jarang-jarang pasiennya teman sendiri." Dokter Yogi terkekeh.
"Santai saja, Gi. Aku maunya konsultasi santai jadi ingatnya sama kamu," Raka menukas.
Dia menelpon temannya itu tadi siang setelah tahu mengenai kehamilan Sarah pagi harinya, Dokter Yogi sejak setahun yang lalu sudah membuka klinik sendiri.
"Ok, Sarah....hari pertama haid terakhirnya kapan?"
Sarah menyebutkan sebuah tanggal, di bulan sebelumnya.
"Hm...jadi sudah telat 13 hari ni, dari jadwal menstruasinya. Kemungkinan hamil besar."Dokter Yogi mengembangkan senyumnya pada Raka.
__ADS_1
"Untuk memastikan usia dan kondisi kehamilannya, kita periksa dulu, ya..." Dokter Yogi menoleh dan memberi isyarat pada perawat muda yang berdiri di samping sebuah ranjang kecil di sudut ruangan, untuk mempersiapkan mesin Ultrasonografi (USG).
"Senang sekali calon papa kita ini"Dokter Yogi menggoda Raka yang dari tadi tampak begitu bahagia.
"Iya, tidak sabar nih, Gi. Mau melihat wajah anakku."Sahut Raka sambil nyengir. Sarah tersipu di sebelah Raka.
"Masih lama, Ka...." Dokter Yogi tertawa.
"Ibu, mari berbaring dulu." Perawat muda itu mempersilahkan Sarah menuju hospital bed.
Sementara Raka dengan Dokter Yogi terlibat obrolan, karena lama tak berjumpa.
Perawat itu memeriksa tekanan darah Sarah dan mencatatnya.
"Permisi, bu. Kita oleskan gel dulu di perut ibu" Perawat muda itu begitu ramah dan menyenangkan. meletakkan kain selimut, menutup perut bawahnya sampai kaki. Dengan canggung Sarah menarik baju atasannya.
Dan kemudian dia merasakan sesuatu yang dingin di oleskan di atas kulit perutnya.
Kemudian Si perawat memanggil Dokter Yogi dan mengatakan pasien siap untuk di USG.
Dokter Yogi membawa Raka untuk ikut menyaksikan hasil USG.
"Ayok, kita lihat bagaimana kondisi Raka junior kita."Kata Dokter Yogi.
Raka mengikuti dengan bersemangat mengambil tempat duduk pada kursi yang di letakkan di dekat kepala Sarah berbaring.
Dokter Yogi setelah mensterilkan tangannya, menempelkan tranduser di perut Sarah.
Dilayar segera muncul visualisasi di layar monitor.
"Usia kehamilan Sarah sekarang akan memasuki minggu ke-7" Kata Dokter Yogi.
Senyum Raka merekah, sekarang dia lega, semuanya benar-benar sudah pasti, Sarah benar-benar hamil.
"Bayiku mana?"Cecar Raka antusias.
Dokter Yoga tertawa melihat reaksi temannya itu.
" Ini adalah babynya, yang ada melekat di dinding rahim." Dokter Yogi menunjuk bercak kecil yang melengkung seperti kacang mete, berwarna sedikit terang di bagian tengah layar.
"Kecil sekali." Raka mendekatkan wajahnya, sementara mata Sarah berbinar terharu menatapnya.
"Janin ini ukurannya masih 0,8 centimeter, jadi memang masih kecil."Sahut Dokter Yogi.
"Bakal tangan dan kakinya sebenarnya pada usia ini sudah terbentuk, usia 6 minggu ini, otak dan sistem saraf janin juga sudah berkembang. Sistem pencernaan dan pernapasan bayi mulai terbentuk dengan baik. Dan sel-sel tunas akan berkembang menjadi bakal lengan dan kaki." Dokter Yogi menjelaskan kondisi janin mereka pada usia saat ini.
"Mari kita dengar ini...." Dokter Yogi memutar volume suara dan terdengar bunya detak yang begitu cepat dan berirama.
"Itu apa?" Tanya Raka dengan mata tak berkedip.
"Itu suara jantungnya."
"Jantungnya?" Sarah terpesona. Darahnya mengalir hangat, dia merasakan kehidupan yang luar biasa kini sedang ada dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Selain perkembangan secara fisik, Jantungnya pun sudah berdenyut. Jantung janin berdenyut dengan irama sekitar 150 kali per menit."
"Cepat sekali?" Raka memiringkan wajahnya tanpa sadar tangannya meremas jemari Sarah.
"Denyut jantungnya dua kali lipat lebih cepat dari pada irama jantung orang dewasa ini, akan terus dimiliki janin sampai hari kelahiran nanti. Bukan hanya jantung, janin juga sudah dapat memompa darah dengan cepat, sistem peredaran darahnya pun sudah bertumbuh semakin kompleks." Dokter Yogi memuaskan rasa penasaran pasangan muda itu.
Sarah dan Raka saling memandang, mata Sarah berkaca-kaca. Dia tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata saat merasakan pengalaman pertamanya, melihat calon bayinya itu.
"Sayang, itu dia anak kita." Bisik Raka serak. Sarah mengangguk sambil menggigit bibirnya.
"Anak kita ada di sana." Raka menunjuk layar dengan wajah riang.
"Ya...itu anak kita...." Sarah berucap lirih, sambil balas meremas jemari Raka, hatinya begitu bahagia.
"Dia sehat kan?"Raka berpaling kepada kawannya itu.
"Untuk kondisi sekarang, sepertinya sudah sesuai dengan usia kehamilan. Sejauh ini, janinnya baik-baik saja" Dokter Yogi memutar-mutar tranduser seolah mencari posisi yang tepat dan mengambil potret layar.
"Tapi, Sarah jangan terlalu lelah dan bekerja terlalu berat dulu, pada usia kehamilan 7 -12 minggu masih rawan. Makan makanan sehat dengan porsi lebih dari biasanya dan minum susu, nanti akan ku resepkan vitamin dan suplemen, ya" Tambah dokter Yogi.
"Kita cetak, ya....biar papanya bisa lihat tiap malam." Dokter Yogi terkekeh, dia tahu Raka begitu antusias dengan kehamilan isterinya itu.
"Iya, yang ukuran besar kalau bisa, nanti ku pajang di dinding kamar." Raka menjawab dengan raut memohon.
Dokter Yogi tertawa geli mendengar ocehan Raka.
"Eh, jenis kelaminnya apa, Gi? Laki-laki atau perempuan?"
"Ini masih belum kelihatan, Ka."Dokter Yogi tergelak menanggapi pertanyaan Raka.
"Pada usia 18 minggu baru bisa di lihat jelas."
"Ooo...."Raka mengangguk-angguk sambil menggaruk kepalanya.
"Acara menjenguk Raka Junior sudah selesai"Dokter Yogi tersenyum lebar sambil meletakkan tranduser di atas meja.
Seseorang, biarpun sangat pintar akan terlihat bego saat bertemu dengan pengalaman pertama, menjadi seorang ayah seperti ini.
Menjadi orang tua adalah hal terindah dimana kita seolah bertranformasi menjadi sosok baru.
Emosi yang berubah aneh dan seseorang di tuntut menurunkan keegoisannya serta secara bertahap belajar menjadi panutan.
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru🙏...
Kasih visualisasi Dokter Yogi, ah...🤭
Biar readers dag dig dug dan matanya kinclong habis cuci dengan yang cakep-cakep😅
__ADS_1
Di beberapa part kita akan bertemu dengan dokter kandungan ganteng ini😂