
"Ada apa denganmu, sayang? Mengapa kamu melibatkan diri dalam urusan hutang piutang mamamu?" Raka menatap mata sang istri, bahkan dia tak menjalankan mobil dari parkir resto itu, usai pertemuan dengan om Ferdi dan anaknya karena begitu penasarannya dengan tindakan Sarah yang terkesan begitu gegabah meminta Om Ferdi menyetujui pinjaman mamanya yang berarti menyerahkan setengah saham itu secara tidak langsung pada laki-laki itu.
Raka bukan orang yang mudah percaya dengan orang lain dalam dunia bisnis.
"Sayang, kita beruntung mama datang pada om Ferdi meminta pinjaman, jika itu pada orang lain, maka perusahaan ini akan menjadi bagian dari orang lain. Untuk tetap mempertahankan perusahaan ini menjadi milik keluarga, aku ingin kita berdua bersepakat."
"Bersepakat apa?"
"Kita membeli semua saham yang di pegang mama, melalui perantaraan om Ferdi." Tukas Sarah.
Raka sejenak menatap istrinya tajam. Dia bukan tidak terfikirkan untuk melakukan itu, hanya saja Raka mempertimbangkan banyak hal termasuk bahwa dia belum mengenal pak Ferdi itu dengan benar.
"Kenapa tidak kita yang membelinya langsung? Bukankah itu tidak beresiko?"
"Karena mama tak akan menjualnya kepada kita. Dia lebih rela menjualnya kepada orang lain dan menghancurkan perusahaan ini andai dia bisa melakukannya, untuk membalas dendam dan sakit hatinya pada papa, padaku ataupun padamu. Aku tahu benar sifat mama." Sarah membalas tatapan Raka.
"Tapi apakah om Ferdi itu bisa di percaya?"
"Aku jauh lebih percaya Om Ferdi dari pada mama. Om Ferdi tidak akan membicarakan ini secara rahasia di belakang mama dengan kita, jika dia mempunyai niatan yang tidak baik. Bahkan, lebih menguntungkan baginya, mengambil alih saham mama daripada membicarakan hal ini lebih dulu dengan kita." Sahut Sarah.
"Bagaimana caranya kita yang mengambil alih saham itu dari mamamu tanpa terlibat langsung?" Pertanyaan Raka tidak lagi seperti tidak tahu tapi pertanyaan itu lebih pada menguji kematangan rencana sang istri.
Raka benar-benar ingin meyakini bahwa istrinya itu benar-benar mengerti dunia bisnis dan apa yang sedang di lakukannya. Karena kolega, rekan bisnis dan sesama pengusaha kadang kala tidak sepolos dan semanis bibir mereka, wajah mereka bisa saja menjadi sepuluh demi mendapatkan keuntungan sepihak.
Tak ada yang benar-benar jujur, karena uang kadang kala mengalahkan ketulusan.
"Biarkan mama mengajukan pinjaman pada om Ferdi dan Om Ferdi menerimanya. Mama menyerahkan 15 persen saham itu pada om Ferdi dan pastinya menilik dari kemampuan mama berbisnis yang hampir tak berpengalaman, dia tak akan bisa membayarnya. Kita akan membeli saham itu, berikut menawarkan bunga di atas pinjaman mama sebagai keuntungan bagi om Ferdi. Kita hanya menggunakan om Ferdi supaya mama menyerahkan 15 persen terakhir di tangannya, sehingga akhirnya semua saham perusahaan ini tetap aman kembali kepada keluarga. Papaku tentu sependapat dengan rencana ini, daripada perusahaan ini di masuki oleh orang asing karena keserakahan mama, dia akan merasa sedih karena usahanya puluhan tahun bersama papamu akhirnya di bawah wewenang orang lain." Sarah menghela nafasnya sesaat.
"Jika mama masih gila dengan judi dan hidup foya-foyanya, dia tentu tak akan pernah merasa cukup. Sisa saham itu tak akan bertahan lama di tangannya. Aku tidak melakukannya karena rasa dendam pada mama tetapi lebih kepada bagaimana menyelamatkan semuanya dari tangan orang lain. Mama bukan orang yang bisa kendalikan. Tapi, om Ferdi aku rasa bisa kita coba ajak kerjasama." Sarah menjelaskan dengan begitu runtut semua yang direncanakannya.
__ADS_1
Raka menatap sang istri, dia tak pernah menyangka, Sarah bahkan lebih cerdas daripada yang dipikirkannya.
"Aku ingin kamu membicarakan hal ini pada papamu...supaya tidak menjadi salah faham. Karena itu aku meminta waktu dua hari lagi, untuk kita bertemu kembali dengan om Ferdi."
Raka masih tak berkedip memandang Sarah. Bahkan dia telah mempertimbang setiap langkahnya sedetil mungkin.
"Papamu tak salah memilihmu sebagai komisaris menggantikannya." Ucap Raka lirih. Dia tak perlu bicara lagi, Sarah telah memegang kendali sejak Om Ferdi berusaha menawarkan kerjasama. Sarah memang berbakat dalam segala hal.
"Sayang, rasanya aku punya partner bisnis yang ulung sekaligus partner ranjang yang luar biasa." Raka terkekeh, dan sebuah cubitan Sarah menyusup di sela pinggang sang suami.
"Ayo, cepat kita pergi dari sini, lihatlah juru parkir itu dari tadi memelototi kita. Dia fikir kita berbuat mesum di sini." Sarah mencibir pada Raka.
"Kita langsung pulang saja, ya...tidak usah ke kantor lagi."Tawar Raka sambil menjalankan mobilnya, keluar dari area parkir restoran itu.
"Kenapa terburu-buru, ini masih siang. Lagian kata mbok Yem aku telpon tadi, ada mama di rumah, Rae aman kalau ada mama." Sarah memeluk bahu Raka, mengisyaratkan dia ingin bermanja dengan sang suami, menggunakan kehadiran mertua kadang tak mengapa sekali-kali.
"Memangnya kamu mau kemana?" Raka mengerutkan dahinya.
"Aku kefikiran malah segera mengurungmu dalam kamar, kukuk ini masih pening dengan yang cancel tadi."
"Astaga kukuk ini benar-benar, deh!" Sarah melotot pada suaminya yang masam mesem sendiri.
"Urusan itu bisa tidak di jadwalkan ke nanti malam saja?"
"Tapi malam nanti, undur-undurmu itu belum tentu tak bikin ulah lagi. Mumpung ada mama kita siang-siang saja." Raka mengusulkan dengan serius.
"Ya, kukuk ngalah saja dulu sama anak, masa memaksa sikon kalau tidak memungkinkan. Pokoknya siang ini aku mau pacaran dulu denganmu."
"Sayang, asyikan pacaran di kamar, lho." Bujuk Raka dengan wajah jenaka, sementara wajahnya serius menyetir.
__ADS_1
"Jangan siang-siang, sayang. Pokoknya aku mau di bawa jalan-jalan dulu siang ini. Kamu jarang-jarang jalan berdua denganku, nanti kalau aku jalan sendiri, di kira aku janda, lho. Digodain berondong, mau?" Goda Sarah dengan cemberut.
"Waduh, nyonya ini pakai ngancam segala pakai berondong." Raka nyengir melihat sang istri yang ngotot tak ingin cepat pulang.
"Eh, Papa kan' lagi ke Jepang dengan kak Edgar, mama pasti tidak betah di rumah sendiri. Kita bisa bujuk mama menginap di rumah saja, nanti malam Rae kita titipkan tidur dengan mama. Bagaimana kalau kita berdua menginap di hotel malam ini?" Tiba-tiba ide cemerlang itu muncul di kepala Raka, sedikit licik memangš
Sarah hampir ngakak di buatnya, mereka berdua begitu alot seperti sedang menegosisiasi bisnis, hanya berdebat urusan kebutuhan kukuk yang mau pulang kandang, terkendala baby undur-undur yang suka membuyarkan niatan si kukuk untuk ibadah.
"Kamu tidak malu sama mama, sampai begitunya?" Sarah melotot tambah besar pada sang suami yang acuh saja dengan setirannya.
"Malu apanya? Orang minta ijin berduaan dengan istri sendiri juga, bukan minta ijin sama pelakor. Mamaku itu pengertian lahir bathin..."
"Tapi aku ogah minta ijin sama mama."
"Soal perijinan, aku yang mengurusnya, Nyonya. Anda jangan kuatir. Siapkan saja dirimu, kita bulan madu satu malam di hotel malam ini. Nanti Ryan akan ku suruh reservasi satu kamar suite untuk kita." Raka mengedipkan matanya pada sang istri.
Sarah hanya geleng-geleng kepala.
"Sekarang kita kemana, nyonyaku sayang?"
"Kita ke salon sebentar, habis itu kita berdua nonton bioskop...bagaimana?" Sarah bertanya, dengan wajah bukan meminta persetujuan lebih tepatnya meminta permohonannya tidak di tolak.
"Hari ini aku sopir pribadimu, sayang...hari ini aku milikmu." Raka tersenyum pada Istrinya itu. Jarang sekali Sarah bertingkah manja padanya, tidak mengapa dia melakukannya sekali-kali demi senyum bahagia sang istri yang tak perlu di belinya dengan segepok uang. Setidaknya dia bisa keluar berdua dengan Sarah. Sejak mereka punya anak dan Raka sedikit sibuk dengan dunia kerjanya, hampir tak pernah mereka meluangkan waktu untuk keluar berdua.
(Kadang-kadang me time berdua suami istri itu penting, demi menjaga keharmonisan dan kemesraan. Tak perlu harus liburan ke luar kota atau plesiran keluar negeri, meski hanya duduk berdua di warung tenda, minum kopi berdua di cafe sederhana. Istri yang penat dengan urusan rumah dan anak serta suami yang lelah jiwa raga bekerja, sama-sama perlu recharge mood dan freshing. Berdua dengan pasangan, bersantai sejenak adalah obat yang mujarabāŗļø)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Rakaš¤...
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......