
Dion terjajar ke belakang menghantam pintu mobilnya sendiri, bau alkohol menguar ke udara. Ternyata Dion sedang mabuk.
"Tidak ada yang boleh menyentuh istriku dengan sembarangan!" Raka berucap dengan dengan suara geram.
Dengan segera dia maju memburu Dion yang hampir jatuh menahannya dengan sebuah cengkeraman di leher baju Dion.
"Raka?" Dion terkesiap, menatap wajah Raka yang begitu dekat dengan wajahnya. Matanya berkedip-kedip sesaat memastikan laki-laki di depannya itu Raka.
"Berlakulah sopan, maka kita berdua tidak akan terlibat masalah."Geraman itu terdengar penuh peringatan.
Perasaan marah dan kesal Dion berubah menjadi sedikit dendam, bagaimana dulu beberapa kali Raka pernah mempermalukannya di depan Sarah.
Dan Sarah, perempuan yang paling di sukainya itu, berkali-kali menangis karena dia.
Dion berontak mencoba melepaskan cengkeraman Raka yang begitu kuat. Tapi Raka bertahan, matanya melotot sebesar kelereng.
Tiba-tiba dengan wajah merah padam Dion mengayunkan kepalan tangannya, meninju perut Raka.
"Ugh!" Raka melenguh, tinju Dion tidak seberapa keras karena dia dalam keadaan mabuk tapi sangat terasa karena mengenai ulu hatinya.
Cengkeraman tangan Raka di leher Dion serta merta terlepas. Dia terjajar dua langkah ke belakang.
"Itu untukmu, yang telah mempermainkan perasaan Sarah!" Dion berteriak marah. Lalu dengan langkah sempoyongan memburu Raka.
Raka sudah bersiap di tempatnya dengan dua tangan terkepal.
"Sayang...." Sarah memeluk Raka dari belakang.
"Hentikan ini!" Suara Sarah yang tergagap terdengar parau dan ketakutan.
Raka tersadar dari amarah yang hampir mengendalikan dirinya. Suara Sarah menyadarkannya, dia akan terlihat bodoh dan berlebihan.
Dion yang melihat Sarah memeluk Raka menghentikan gerakannya, kakinya tak lagi melanjutkan langkah sementara kepalan tangannya melayang di udara.
"Sayang...?" Dion menelan ludahnya yang tersa pahit mendengar Sarah memanggil Raka dengan kata sayang.
Panggilan itu seolah memecahkan gendang telinganya, bertahun-tahun dia mengenal Sarah bahkan pernah berusaha memaksa gadis itu jadi kekasihnya, tak sekalipun Sarah memanggilnya dengan kata itu.
Dan sekarang, pada lelaki yang setahunya hanya suami pura-pura Sarah itu, yang tak terhitung kali dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Sarah bersedih karenanya, dengan begitu lugas panggilan sayang itu meluncur dari bibir Sarah.
Dion merasa jiwanya terguncang. Sarah benar-benar tak pernah menyimpan rasa sedikitpun padanya.
Dua orang security apartemen, berlari ke area parkiran itu, mungkin karena mendengar sedikit ketibutan. Mereka menangkap badan Dion dan menahannya.
"Mas Dion?" Pak Amin salah satu security di apartemen Sarah tampak terkejut melihat siapa yang sedang terlibat dalam keonaran itu.
__ADS_1
Dia cukup mengenal Dion, sebagai teman Sarah yang supel dan suka mengobrol di lobby jika menunggu Sarah turun.
"Non Sarah? ada apa ini?" Pak Amin tampak bingung.
"Lepaskan aku!" Dion menggerak badannya dengan kasar, matanya masih nanar menatap lurus pada Sarah.
"Sarah...apa yang terjadi padamu?"Tanya Dion lirih, kedua lengannya masih di pegang oleh pak Amin dan temannya.
"Aku yang harus bertanya padamu, Yon...ada apa denganmu?" Sarah balik bertanya dengan suara tajam tapi terasa bergetar, dia melepaskan pelukannya dari punggung Raka, dan berdiri di samping suaminya itu menyambut tatapan Dion.
"Kamu memanggilnya sayang?" Dion meringis dengan sedih, hatinya benar-benar terluka.
"Dia suamiku. Aku bisa memanggilnya apa saja." Jawab Sarah datar, tapi perasaannya sangat iba melihat Dion.
Mungkinkah karena kebodohannku, yang telah memberikan harapan kosong kepada Dion, membuatnya bersikap seperti ini?
Penyesalan itu menyusup dalam hatinya, dia tak pernah berpikir, telah begitu dalam melukai Dion hanya karena hubungan sekejap tanpa cinta itu.
"Dia tidak mencintaimu, Cay! Dia tidak pernah mencintaimu!"
"Plak!"
Sebuah tamparan keras di wajah Dion melayang dari tangan Raka.
"Pak Raka...tolong tenang! Mari kita bicarakan baik-baik, ada apa ini? "
"Aku mencintai Sarah! Sangat mencintainya." Raka mendekatkan wajahnya hampir hanya sejengkal dari wajah Dion.
"Aku tak akan membiarkan seorangpun menganggu kehidupan rumah tanggaku, siapapun itu! Termasuk kamu! Jika kamu berusaha mendekati istriku maka ingatlah kata-kata itu!" Raka mengacungkan telunjuknya ke depan hidung Dion dengan rahang yang gemerutuk.
Lalu dengan wajah yang masih merah padam, Raka mengambil tangan Sarah.
"Tolong urus lelaki pemabuk ini, pak Amin! Antar dia pulang." Kata Raka dengan suara rendah lalu menggandeng tangan Sarah untuk pergi. Tapi Sarah tak bergeming.
Dia masih menatap Dion.
"Naiklah lebih dulu, sayang. Aku akan menelpon Grace untuk mengantarnya pulang." Ucap Sarah pelan. Raka menatap Sarah sesaat, seolah menyelediki sesuatu, lalu perlahan di bebaskannya tangan Sarah dari genggamannya.
Sesaat dilirik Dion, lalu melangkah menuju ke arah pintu lobby apartemen.
Sarah mengambil ponselnya dan menelpon Grace, minta tolong temannya itu mengirimkan sopirnya untuk menjemput Dion yang dalam keadaan mabuk dan mengantarnya pulang.
"Pak Amin, lepaskan saja dia." Pinta Sarah perlahan lalu maju selangkah.
Pak Amin dan teman securitynya melepaskan lengan Dion lalu menatap Sarah dengan sedikit cemas.
__ADS_1
"Tinggalkan saja kami, dia sudah tak apa-apa."
Kata Sarah kemudian.
"Yon, jangan bersikap kekanak-kanakan. Kita tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi kecuali seorang teman." Suara Sarah dengar menjadi begitu parau.
Dion tak bergerak seperti patung, membeku di tempatnya berdiri.
"Dia mencintaimu?" Tanya Dion, setengah bergumam.
"Dia mencintaiku." Sahut Sarah tegas.
"Maafkan aku atas apa yang terjadi di masa lalu, jika aku telah memberimu banyak harapan palsu dan janji-janji kosong. Semua juga salahku, yang tidak bisa tegas bersikap." lanjut Sarah.
"Tapi dia tak pernah menjadi suami yang sebenarnya bagimu." Sergah Dion.
"Dia suamiku sebenarnya sekarang...."
"Tapi...."
"Aku sedang hamil." Kalimat ini membuat Dion seperti di setrum. Kakinya terasa lemas, dia mundur beberapa langkah dan tersandar di mobilnya sendiri.
"Pulanglah, Yon. Antara kita telah lama berakhir.
Temukan cintamu yang sebenarnya, yang dengan sepadan membalas perasaanmu." Sarah membalikkan badannya perlahan.
"Maafkan aku."Ucapnya, sebelum melangkah pergi meninggalkan Dion yang menatap kepergiannya dengan hati hancur yang tak terkatakan.
Sarah sangat menyesali, kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lalu, di mana saat dirinya sedang bimbang dan terluka datang kepada laki-laki lain demi berharap bisa mengurangi kesedihannya.
Dia menyesal dengan sangat, begitu mudah menerima seseorang masuk ke dalam kehidupan pribadinya demi keegoisannya semata.
Perempuan yang bijak tentunya akan bisa bertahan dalam setiap keadaan untuk bertemu kepastian, tidak dengan sembarangan membuka pintu untuk orang lain ketika berada dalam kebimbangan.
Setiap tempat yang pernah di jejaki akan meninggalkan bekas dan kesalahan apa yang di lakukan di masa lalu mungkin akan muncul di masa depan. Kesalahan terbesarnya adalah, dia telah mempermainkan perasaan seseorang yang tulus mengharapkannya, karena ingin melempar kesakitan yang di alaminya akibat hubungannya dengan Raka.
Sekarang, dia menyaksikan sendiri dan ada harga yang harus di bayar untuk menebus kesalahan itu.
Sarah menatap Dion yang berdiri di jendela Apartemen di tingkat 5, tempat kamarnya berada. Siluet tubuhnya seperti patung gelap di balik kaca, mengawasi ke arah area arkir di mana dia dan Dion berada.
Entah apa perasaan suaminya itu, tapi dia berkewajiban untuk menenangkan kecemburuan yang mungkin sedang menggelegak di sana.
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
__ADS_1
...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru🙏...