
(Part ini zona 21+, untuk yang di bawah umur, jomblo dan yang tak berkenan dengan adegan dewasa mohon di skip ya😅 Reader harap bijak, adegan ini hanya untuk referensi bagi suami istri🙏😆)
"Sayang, kamu boleh melakukan apa saja sekarang...." Sarah mengedipkan matanya kepada Raka yang terpaku karena terpesona melihat istrinya itu.
Raka memeluk tubuh istrinya, kemolekan istrinya itu seolah mengundang dahaga. Tangan Raka menjalar seperti ular, merayap ke sana kemari tak bisa diam. Sementara Sarah menerima semua perlakuan itu dengan pasrah.
Desah*n Sarah mengundang Raka untuk semakin melancarkan setiap gerakannya, menikmati setiap lekuk tubuh istrinya yang duduk di pinggiran meja kerjanya itu.
Gerakan Raka yang begitu hati-hati, membuat Sarah sedikit tak sabar.
Tiba-tiba kedua kaki Sarah mengait di pinggang Raka dengan berani sementara kedua lengannya memeluk erat leher Raka. Bibirnya yang ranum itu mencium Raka dengan sedikit rakus membuat Raka sedikit kewalahan.
"Sayang, apa sikap seperti ini termasuk salah satu pengaruh hormon yang lain?"Raka bertanya di sela nafasnya yang tersengal.
Sarah tak menjawab, dia membuka mulutnya sedikit memberi ruang untuk Raka mengulum belahan bibirnya. Sang suami yang di bakar gairah itu memeluk erat pinggang sarah yang mulai sedikit melebar, mengabulkan permintaan yang di isyaratkan istrinya itu.
"Jika ini, karena pengaruh hormon itu, aku sungguh suka dengan hormon wanita hamil." Bisik Raka.
"Berisik!" Sarah menyahut, lalu menggigit bibir suaminya itu dengan wajah sedikit di buat kesal. Raka terpekik kecil, menyapu bibir bawahnya yang di gigit Sarah dengan ujung lidahnya. Wajahnya merengut lalu di balasnya perlakuan istrinya itu dengan melahap bibir Sarah, memaksa istrinya itu menganga sehingga separuh lidahnya berkeliaran di dalamnya, bermain dari ujung bibirnya mengetuk, merangsek dan menggeliat tak terbendung.
Sarah membeliak, hampir tersedak, tapi dia menikmati sensasi itu tanpa memberi perlawanan. Entah dari mana, suaminya itu mempelajarinya, tapi gaya berciuman yang liar dan sedikit rakus ini baru pertama kali di rasakan Sarah. Aneh tapi menyenangkan!
"Bagaimana? masih mau menggigit lagi?" Sarah menarik wajahnya. Tersenyum penuh kemenangan. Sarah menggeleng, wajahnya merah padam. Tak jelas mengakui kekalahan ataukah karena berharap Raka tak melepaskan.
Raka menikmati raut wajah istrinya yang tak berdaya itu, membayangkan beberapa bulan berpisah dari istri yang telah membuatnya candu ini, tentu saja sebuah dilema bagi Raka.
Raka menyusupkan jemarinya kebalik dress tidur Sarah yang licin dan tipis itu, suara gesekan kain dengan tangannya, memberikan satu sensasi aneh tapi begitu merangs*ng.
__ADS_1
Raka menurunkan wajahnya pada leher Sarah yang jenjang, menciuminya dengan bibirnya hingga kulit Sarah menjadi basah, semakin ke bawah, memaksa Sarah melepaskan lengannya dari leher Raka.
Kedua tanganya sekarang bertumpu di atas meja di antara buku dan map yang tergeletak di sana. Badannya terdorong miring, membiarkan dadanya membusung, meluangkan tempat untuk Raka lebih leluasa mencumbunya. Kepalanya terkulai, membuat rambutnya yang hitam panjang itu menjurai jatuh seperti melayang.
Raka sejenak takjub, pada perempuan yang dulu di lihatnya serupa lukisan itu, tubuh yang diam dalam posisi eksotis itu, benar-benar seperti berada di dalam kanvas.
Hidup tapi keindahannya hampir tak nyata.
Dengan dada yang berdebar hangat, Raka memandangnya, menyapu dari ujung kaki hingga ujung kepala, melukisnya dalam ingatan sebagai hal yang akan di ingatnya pertama kali saat dia merindukan istrinya itu.
Raka sungguh tak bisa lagi menahan dirinya, kepalanya terasa berdenyut tak karuan, darahnya mengalir kuat ke seluruh tubuh dan berhenti pada satu tempat yang kemudian menegang dengan kuat.
Lalu, tanpa di rencanakan, mereka berdua bercumbu dengan liar. Sarah dan Raka melakukan percintaan yang panas itu di atas meja kerja Raka, di saksikan lampu meja, Map dan dokumen yang kemudian berhamburan terjatuh di lantai serta sebuah laptop yang hampir patah tertindih tak sengaja.
Tapi kepuasan yang mereka dapatkan sungguh luar biasa. Mempergunakan sedikit waktu yang tersisa terasa membuat kemesraan mereka lebih intim dan penuh penghayatan.
...***...
Raka terbangun menjelang subuh, mendapati Sarah yang bergelung di bawah lengannya, seperti bayi yang mencari kehangatan. Raka sekali lagi terpesona, menatap wajah istrinya yang terlelap dengan setengah mendonggak padanya. Desah nafasnya yang halus berirama itu seolah menceritakan bagaimana nyenyaknya Sarah tertidur, mungkin setelah percintaan di atas meja kerja yang sedikit liar tadi dan dilanjutkan kembali di atas tempat tidur setelah Raka membopong tubuh istrinya itu dari ruang kerjanya, Sarah menjadi begitu lelah.
Dengan perlahan, Raka menyingkirkan helaian rambut Sarah yang jatuh di bagian dahi dan pipinya, dengan hati-hati menggunakan ujung telunjuknya.
Pertama kali Raka menatap wajah Sarah dengan begitu seksama, matanya yang besar itu di tudungi oleh bulu mata yang hitam lentik. Alis Sarah yang lebat bergaris selegam rambutnya yang laksana sutra hitam. Bibirnya yang merona alami itu, selalu berkilat basah.
Raka baru menyadari, wajah Sarah benar-benar sempurna dalam kesederhanaannya yang alami.
Bagaimana mungkin, gadis secantik peri ini, mengalami banyak penderitaan dan harus menanggung kepahitan dari masa kecilnya.
__ADS_1
Dan rasa sakit menyesak ke dadanya, bagaimana mungkin pula dia pernah begitu tega mengorbankan perempuan ini dulu untuk menjadi tumbal pernikahannya yang gagal dan hampir menghancurkan hidupnya dengan memberikannya status janda tanpa pernah benar-benar menjadi seorang istri.
Mata Raka terasa panas, mengenang setiap perlakuannya pada istrinya itu, begitu kejamnya dia telah memperlakukan gadis berwajah dewi ini dulu. Raka merutuk dirinya sendiri dalam sesal.
Untunglah, perasaan cinta segera menyadarkannya, sehingga tidak menjadi iblis atas kehidupan perempuan yang tak bersalah apapun padanya.
Dengan gemetar, Raka menarik tubuh Sarah, memeluknya dan mencium dahi istrinya itu dengan penuh perasaan.
"Maafkan aku..." Bisiknya dalam penyesalan yang dalam. Sarah melenguh sedikit dan menggeliat halus tapi kemudian dia tampak kembali terlelap.
Tanpa sadar, sudut bibir Raka tertarik sedikit membentuk senyum, lalu matanya tertumpu pada bagian perut Sarah, seolah-olah dia sedang melihat bagian dari dirinya sedang menatap dari sana.
"Papa, aku di sini..." Betapa anehnya, halusinasi seorang ayah yang sangat merindukan buah cinta itu, bahkan dia hampir bisa mendengar bayinya berbicara padanya.
Raka meletakkan tangannya di perut Sarah, seolah berharap tangan kecil yang mungkin sudah terbentuk di dalam sana menggapai untuk menyentuh tangannya.
"Sayang, papa hanya pergi sebentar. Sebelum kamu sadar papamu ini pergi, papa sudah kembali. Jaga mamamu baik-baik, ya. Dia hanya pandai bersikap tegar di depan papa padahal dia pasti tidak suka papamu ini pergi."
Raka bergumam halus, seperti sedang berbicara pada seseorang sambil mengelus perut Sarah yang masih belum terlihat membuncit itu.
Raka berjanji dalam hatinya, tak akan pernah lagi menyakiti Sarah, dengan alasan apapun. Dia akan membayar semua kekeliruannya di masa lalu dengan memastikan Sarah akan selalu bahagia bersamanya.
Ops....! Hari ini author khilaf lagi, UP dua kali😅
(Tanpa Readers apalah artinya Author, tanpa pembaca apalah arti seorang penulis😅Terimakasih buat yang selalu setia mengikuti Sarah dan Raka, semoga part ini tidak terlalu meresahkan ya🤭😂)
Jangan lupa, VOTE, LIKE dan KOMENnya ya...karena bisa menambah dukungan popularitas novel ini🙏😊 I Love You, all...❤️
__ADS_1