
"Kita berdua akan meyakinkan mereka." Doddy tersenyum, menarik kedua tangan Diah dan meletakkannya di dadanya, seolah sedang memberikan kekuatan pada Diah melewati degup jantungnya.
"Ikutlah denganku." Doddy mencium jemari Diah yang dingin seperti es itu, sebelum melepasnya dan membukakan pintu mobil, memvawa Diah untuk keluar dari sana.
"Jangan takut, ada aku..." Bisik Doddy, saat Diah berdiri dengan kaku di sampingnya.
Doddy menggenggam tangan Diah, menggandengnya menuju pintu rumahnya.
Ketika Bel di bunyikan, Diah menarik nafasnya sambil melepaskan tangannya dari genggaman Doddy.
Pintu terbuka, seorang perempuan setengah baya membukanya.
Dia tersenyum hangat pada Diah dan Doddy. Sepertinya dia sedang menunggu kedatangan mereka berdua.
"Assalammualaikum Bik Nem, papa dan mama di mana?" Tanya Doddy, saat melihat Bik Nem, pengurus rumah mereka yang membuka.
"Bapak dan Ibu sudah ada di ruang makan, den..." Jawab Bik Nem, seulas senyum di lemparnya kepada Diah ysng terlihat berusaha menguasai kegugupannya.
"Oh...Terimakasih bik." Doddy mempersilahkan Diah masuk, dia pura-pura tak melihat pandangan Bik Nem yang terpana melihat perempuan yang kini bersamanya.
Ya, sebenarnya Bik Nem sudah tahu ada seorang tamu perempuan yang akan di bawa Doddy malam ini, makan malam bersama ini juga atas prakarsa Doddy karena dia ingin mengenalkan seorang perempuan pada orangtuanya.
Tapi, tetap saja peristiwa ini adalah hal langka bagi rumah itu, karena selama hampir separuh hidup Bik Nem mengabdi untuk keluarga Ferdian baru kali ini Doddy membawa seorang perempuan ke rumah dan bahkan berniat memperkenalkannya pada orang tuanya.
Diah masih berdiri dengan raut tegang di depan pintu. Melihat Diah tak bergeming, Doddy meraih tangan Diah dan menggandengnya masuk.
Pemandangan itu tentu saja semakin membuat Bik Nem terpesona, baru kali ini ada seorang perempuan yang berhasil membuat tuan mudanya ini bersikap semanis itu.
Doddy membawanya masuk melewati beberapa ruangan besar dari ruang tamu dan ruang keluarga yang nenurut Diah super mewah itu, sampai pada ruang makan yang tak kalah besarnya.
Dua orang duduk menghadap meja seperti sedang asyik berbicara dengan dua orang pelayan yang nampak menata makanan di meja dengan hati-hati.
"Assalammualaikum, ma...pa..."
Suara Doddy mengalihkan perhatian dua orang yang sedang duduk di sana tampaknya sedang membicarakan sesuatu.
"Wallaikumsalam..." Sahut mereka berdua berbarengan.
Tatapan dua orang ini, lekat kepada Diah dan Doddy membuat Diah sejenak sah tingkah.
__ADS_1
Dan kemudian dia menyadari pandangan itu tertuju tak hanya pada wajah mereka tetapi pada tangan Doddy yang masih menggandengnya.
"Oh..." Diah berusaha melepaskan jemarinya dari genggaman Doddy dengan wajah merah merona tatapi Doddy menggenggam jemarinya sangat erat, sehingga Diah kesulitan melakukannya.
"Lepaskan tanganku." Bisik Diah, sambil menggoyang jemarinya.
Doddy tak menjawab, tapi menggandengnya mendekati sang mama yang segera berdiri saat Doddy menghampiri.
"Selamat malam, ma...maaf sedikit terlambat, jalan agak macet." Doddy menyalami mamanya dengan takzim, mencium tangan sang mama dengan begitu hormat sementara tangan kirinya tetap memegang tangan Diah erat.
"Oh, tidak apa-apa, mama dan papa juga baru turun." Nyonya Ferdian tersenyum lebar, kerudungnya yang senada dengan warna pakaiannya tampak begitu elegan membalut wajahnya yang cantik dengan riasan tipis alami, dia terlihat muda hanya sedikit kerutan di sudut matanya yang seolah menceritakan usianya matang tetapi di luar itu menurut Diah untuk ukuran mama Doddy, perempuan ini terlihat begitu awet muda.
Doddy melepaskan genggamannya dan memberi isyarat untuk Diah menyalami sang ibu.
Diah dengan gugup menyalami mama Doddy dan mengucapkan salam dengan suara sedikit gemetar.
"Perkenalkan, ma...ini Diah..." Doddy mengenalkan Diah dengan sikap santun.
Mama Doddy menganggukkan kepalanya pada Diah dan tersenyum lagi, meski tanpa mengucapkan sepatah katapun hanya matanya yang berkilat lembut itu seolah sedang berbicara.
Beberapa saat kemudian mereka berempat duduk menghadap meja makan, sangat terasa suasana canggung, Diah benar-benar baru pertama kali mengalami perkenalan seperti ini.
Saat akan menikah dengan Bram, orangtua mereka langsung saling bertemu jadi pembicaraan lebih banyak antara orang tua. Tapi sekarang, Diah benar-benar gugup.
"Ayo, kita makan dulu...biar papamu memimpin do'a" Suara Mama Doddy terdengar lugas, dia benar-benar memiliki sisi kharisma seorang ibu yang baru kali ini Diah dapati, begitu hangat.
Setelah tuan Ferdian memimpin doa, beberapa Pelayan kembali mengantarkan hidangan. Menu di atas meja itu begitu Indonesia, sungguh sangat kontras dengan meja makan kaca yang mewah itu.
Ada semur daging, tempe tahu penyet, ayam bakar dan sayur capcay. Sambal balado dan ada olahan ikan seperti tim dengan kacang polong dan sayur asin diatasnya, yang Diah baru melihatnya.
Menu itu sangat tergolong sederhana untuk ukuran rumah semewah ini.
"Senang bertemu dengan nak Diah..." Kalimat itu begitu nyaman di telinga Diah, mama Doddy benar-benar ramah.
"Fadjri sangat bersemangat untuk memperkenalkan nak Diah pada mama dan papa." Pak Ferdian menimpali, terkekeh kecil sambil melirik Doddy yang tersenyum meski sedikit salah tingkah.
"Akh, papa..." Doddy sedikit tersipu menanggapi kalimat papanya yang setengah menggoda.
__ADS_1
Diah menunduk malu, dia tak tahu harus berkata apa, dipanggil dengan kata nak membuat dirinya merasa begitu dekat dalam sekejap
"Nak Diah, bekerja di sini?" Tanya mama Doddy, matanya sesaat bertemu pandang dengan Diah.
"Iya, bu..."
"Diah bekerja sebagai asisten Sarah, teman Fadjri ma..." Sahut Doddy menimpali, berusaha memecah kecanggungan.
"Owh, Sarah putrinya Wijaya dulu?"
"Iya, ma. Sekarang Sarah adalah penerus perusahaan papanya. Fadjri terlibat kerjasama bisnis sebelum Fadjri berangkat ke London beberapa bulan yang lalu."
"Oh, begitu ya..."
"Orang tuamu tinggal di sini?" Tanya Mama Doddy, dia berusaha mencairkan suasana dengan Diah yang terlihat benar-benar gugup.
"Iya, mama dan papa saya tinggal di sini."
Perlahan suasana makan malam itu berjalan dengan santai, orang tua Doddy tidak terlihat membuat jarak saat mereka makan sambil berbicara.
Doddy tampak senang, beberapa kali dia melirik pada Diah yang tampak asyik sedang membicarakan sebuah topik hangat mengenai sekolah anak terlantar yang di danai oleh Yayasan mama Doddy, dimana ternyata teman Diah adalah salah satu guru di situ.
Makan malam itu berjalan dengan lancar, seperti yang di harapkan Doddy meskipun belum menyinggung pada hal utama yang ingin di sampaikan Doddy.
Setelah makan malam itu, mereka melanjutkan obrolan untuk duduk di ruang keluarga.
"Ma, pa...aku ingin mengatakan sesuatu, tentang tujuanku membawa Diah bertemu dengan papa dan mama malam ini..." Kata Doddy sambil mengatur duduknya, sementara Diah mendadak tegang melihat Doddy terlihat begitu serius.
Mama dan Papa Doddy saling bertatapan.
"Aku ingin menikahi Diah, jika papa dan mama berkenan memberi restu..."
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1