
(Sebelum melanjutkan part Doddy di Multazam, author cut dulu ya๐๐ kita akan mengulang kembali part pembicaraan mama Doddy dengan Diah di ruang yang lain saat Doddy membawa Diah untuk memburu restu pada orang tuanya)
*FLASBACK PEMBICARAAN DIAH DAN MAMA DODDY*
Sesaat kemudian mama Doddy berdiri, memberi isyarat untuk Diah mengikutinya, menuju ruangan yang lain.
Diah berdiri dengan patuh meski sejurus dia melemparkan pandangannya pada Doddy seolah mengharapkan kekuatan dan pembelaan dalam kepasrahannya.
Setelah membungkuk sesaat pada pak Ferdian, Diah melangkah mengikuti punggung mama Doddy, langkahnya terlihat gugup dan gemetar. Dia sedang di hadapkan pada sidang, lulus atau tidak lulus. Dan Diah memaklumi dengan kesadarannya, untuk menjadi pendamping orang setingkat Doddy, dia memang tak punya peluang banyak untuk mendapatkan restu meskipun cinta mereka setinggi gunung.
"Duduklah di sini, nak..." Mama Doddy mempersilahkan Diah duduk di ruangan sudut, seperti ruang ruang keluarga lain yang terletak di bawah tangga. Tempat itu tidak besar tapi viewnya adalah pintu samping yang mengarah pada teras, sepertinya adalah tempat yang sangat nyaman karena di depan teras itu ada kebun bunga mini dengan barisan pot yang di tata dengan artistik.
Di bawah cahaya lampu teras, bunga-bunga berwarna warni itu terlihat begitu sempurna.
"Diah..." Mama Doddy merapikan kerudungnya dan duduk di kursi sebelah Diah.
"Apakah kamu benar-benar mencintai Fajri?" Tanya perempuan itu tiba-tiba.
Diah tertegun sesaat kemudian menganggukkan kepalanya.
"Tahukah kamu, nak...pernikahan itu bukan hanya menyatukan dua insan, melainkan menyatukan dua keluarga?"
Sekali lagi, Diah mengangguk, matanya menatap Mama Doddy dengan gugup, dia berusaha menguatkan hati untuk siap saat perempuan ini mengatakan, mereka tak bisa memberi restu jika Doddy ingin menikahinya.
"Apakah keluargamu tahu tentang hubunganmu dengan Doddy?" pertanyaan itu sungguh beruntun, dengan suara gentar Diah akhirnya menjawab,
"Ayah dan ibu tahu tentang Doddy, saya telah menceritakannya, dan pernah satu kali Doddy bertemu dengan ayah dan Ibu." Jawab Diah dengan polos. Sekarang bergantian, mama Doddy yang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Mereka tahu tentang keinginan kalian berdua?"
__ADS_1
Diah menggeleng perlahan.
"Kenapa kalian tidak mengatakan kepada mereka?"
Diah terdiam, dia tak mengerti arah pertanyaan mama Doddy.
"Saya...saya belum berani mengatakannya."
"Kenapa?"
"Karena saya belum yakin apakah...apakah kami mendapat restu dari mama dan papa?"
"Kenapa kamu tak yakin?"
"Karena...karena saya pernah gagal dalam berumah tangga, saya takut jika saya akan mengecewakan orang tua saya lagi karena memberikan banyak harapan yang belum tentu bisa saya wujudkan." Diah menunduk dalam-dalam.
Diah menelan ludahnya sendiri untuk sekedar membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"Saya bukan perempuan yang di harapkan banyak orang dan mungkin memang tidak sebanding dengan Fajri dalam hal apapun." Jawab Diah.
"Kenapa kamu berfikir begitu?"
"Setiap orang tahu, saya adalah...adalah janda, perempuan yang pernah gagal dalam pernikahan, perempuan dengan membawa seorang anak dari pernikahan pertama. Tidak semua orang bisa menerima hal seperti itu." Diah menguatkan hatinya supaya kabut yang menggantung di pelupuk matanya tak jatuh. Saat mengucapkannya hatinya terasa hancur, tapi meratapi nasib tak akan mengubah apapun.
"Kenapa kamu menganggap dirimu gagal dalam mempertahankan pernikahanmu?"
"Karena aku tak bisa mempertahankannya supaya tetap utuh."
"Apakah itu salahmu?"
__ADS_1
Diah mengangkat wajahnya, dua bulir bening jatuh di sudut matanya.
"Ya, itu salahku. Karena aku tak bisa mempertahankan apa yang telah di ikrarkan kami di depan Qur'an. aku tak mempunyai hati yang besar untuk bisa menerima kesalahan suamiku meskipun mungkin aku telah memaafkannya. Aku telah gagal menjadi istri yang tunduk pada suaminya." Air mata Diah membanjiri pipinya saat menumpahkan semua kalimat itu, dia tak akan munafik dan bersembunyi lagi, jikapun dia tak direstui menikah dengan Doddy, berarti Tuhan tidak memberikan jalan jodoh pada mereka.
"Kamu adalah perempuan yang memiliki kualitas sebagai istri dan ibu...Doddy tak pernah salah memilih perempuan yang dipercayakannya sebagai makmumnya." Senyum mama Doddy terkembang lebar, sementara Diah terpana mendengar kalimat itu seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Tidak selamanya seorang istri harus tunduk pada suaminya, karena keutamaan kita adalah tunduk kepada Allah. Kamu wajib tunduk pada suamimu jika dia menunjukkan keunggulan dan kebaikannya sebagai suami yang bisa membimbingmu kepada keselamatan dunia dan akherat. Jika suamimu tidak memperlakukanmu dengan baik, jika suamimu menyakitinya terus menerus, jika suamimu membuatmu jauh dari Allah, maka kamu boleh mengangkat kepalamu..." Suara mama Doddy terdengar begitu tajam.
"Isteri harus tunduk kepada suaminya dalam segala sesuatu yang benar dan sesuai dengan hukumnya. Tunduk merupakan respon alami terhadap kepemimpinan dalam cinta kasih rumah tangga, ketika seorang suami mengasihi isterinya, membimbingnya dengan benar, mencintainya dengan seharusnya maka tunduk merupakan respon alami dari isteri kepada suaminya. Kamu telah melakukan hal yang benar, nak. Tak ada yang salah saat kamu memilih meninggalkannya untuk menjaga dirimu tetap di jalan yang benar...bahkan, jika itu adalah Doddy, maka mama ada di pihakmu. "
Diah tak berkedip menatap perempuan di sampingnya ini, dengan suara yang bijak dan sungguh menenangkan.
"Lebih terhormat kamu memilih menjadi janda dari pada kamu bertahan sendiri mempertahankan rumah tanggamu, perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang diambil dari sisi Adam, bukan dibuat dari kepalanya untuk memerintah dia; bukan dari kakinya untuk diinjak-injak olehnya. Namun, ia diambil dari sisinya untuk menjadi sederajat dengan dia, di bagian bawah dari tangannya untuk dilindungi, dekat ke hatinya untuk dikasihi." Mama Doddy tersenyum lebar.
"Mama tak pernah mempermasalahkan, apapun statusmu, karena dengan pernah gagal berarti kamu setingkat lebih tinggi levelnya dari orang yang tak pernah menjalaninya. Kegagalan akan membuat orang belajar dan mama percaya kamu lebih mawas diri dari pengalaman pahitmu sehingga lebih pandai menjaga sikap dan berhati-hati dalam pernikahanmu selanjutnya. Seharusnya mama menyebut Doddy beruntung, karena dengan begitu dia tak perlu belajar banyak untuk menjadi suami tetapi dia harus lebih bertanggung jawab dari kebanyakan suami." Mama menghela nafasnya.
"Diah, aku tak meragukanmu sama sekali tetapi lebih mengkhawatirkan emosi Doddy, mama tidak ingin Doddy akan mengecewakanmu untuk kedua kalinya, karena itulah mama ingin dia memantapkan hati, membuktikan bahwa dia benar-benar siap lahir bathin menikahimu." Tangan perempuan itu meraih tangan Diah yang sedingin es, air mata Diah runtuh seperti air hujan, rasa haru yang luar biasa seolah menyerang sampai relung jantungnya.
"Aku...aku harus bagaimana, ma?" Diah balas menggenggam jemari Perempuan yang di matanya kini terlihat seperti malaikat tak bersayap.
(Akak sudah double UP ya hari ini, ya...sesuai dengan permintaan para readers kesayangan๐ Karena Akak dah ekstra menulis lanjutannya, please VOTEnya besok senin fix untuk Diah, yaaa...๐คฃ๐คฃ nantikan lanjutannya yang lebih uwuuu, dan othor yakin readers sudah bisa menebak siapakah bidadari berihram itu๐๐)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1