Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 96 MENJADI ADIK BARU IBU BOSS


__ADS_3

Dari pagi Raka sudah berangkat, bahkan hari ini tak sempat untuk breakfast di rumah.


"Sayang, aku ada janji penting hari ini." Raka mengambil sepatunya dari tangan Sarah.


"Tidak sarapan dulu?"Tanya Sarah dengan tatapan menyelidik.


"Di kantor saja."Jawab Raka pendek, sambil duduk di anak tangga dengan cueknya, mengenakan sepatunya.


"Buru-buru sekali?"Sarah memicingkan matanya.


"Stt...demi kamu."Raka memasang seulas senyum, sambil menegakkan badannya dan melingkarkan tangannya di leher Sarah.


"Akh, alasan!" Sarah mencibir.


Sebuah kecupan membungkam mulut Sarah segera.


Ditutup dengan ciuman di dahi yang manis.


"Nanti sore aku jemput ke klinik dokter Yogi, tidak sabar menjenguk si babynya daddy."


Sebelum Sarah membuka mulut lagi, sang suami sudah hilang dari ruang keluarga itu.


Sekarang, sudah hampir jam empat sore, Raka belum tiba untuk menjemputnya, padahal sore ini dia berjanji akan mengantar Sarah untuk memeriksa kandungannya ke klinik Dokter Yogi.


Seharusnya dia tiba lebih awal, tapi batang hidungnya tak muncul-muncul sesuai janji, membuat Sarah uring-uringan.


Ibu hamil tentu saja sangat senang jika saat berurusan dengan chek up kandungan selalu di dampingi suami, rasanya ada rasa bangga dan kepuasan tersendiri saat bersama-sama menyaksikan si bayi di layar monitor bahkan jikapun hanya untuk mendengarkan wejangan sang dokter.


Tiba-tiba sebuah chat masuk,


"Sayang, meetingnya belum selesai. Aku sudah menyuruh Dea mengantarmu ke klinik dokter Yogi, kamu tinggal datang saja. Nanti aku langsung menyusul setelah selesai.


Jangan marah sayang, cintamu ini berjuang demi sebongkah berlian. love...love...love..."


Setelah itu emot cinta bertebaran, belum sempat Sarah membalas, bi Asih sudah muncul di depannya,


"Nak Sarah, mbak Dea sudah datang, katanya mau mengantar nak Sarah ke dokter."


Rasa kesal Sarah segera menguap, dia segera mengambil tasnya dari atas meja.


"Bi Asih, minta tolong kasih tahu mama, kalau nanti mama pulang dari tempat Ka Lila, Sarah ke dokter kandungan, pulangnya mungkin dengan Raka."Sarah memberikan satu senyum buat perempuan setengah baya yang selalu nampak bahagia jika melihat Sarah itu.


"Iya, nak. Akan bibi sampaikan." Jawab Bi Asih sembari mengangguk, membalas senyum Sarah.


Sarah keluar menyongsong Dea yang berdiri di teras, dengan kemeja orange dan rok di bawah plisket di bawah lutut berwarna peach, di masukkan rapi dengan elegan.


"Bu Sarah, saya di kirim pak Raka untuk..."


"Iya, aku sudah tahu." Sarah menyela formalitas Dea, wajah masamnya sudah berubah menjadi senyum.

__ADS_1


Tak sabar ingin melihat perkembangan sang janin di perutnya yang mulai sedikit membuncit.


"Padahal aku bisa nyetir sendiri, De..." Sarah memasang safety belt dan mencari posisi ternyaman untuk duduk dengan santai di sebelah Dea.


Sarah dari dulu selalu memanggil Dea dengan De, soalnya Raka suka memanggil kependekan nama Dea yang sudah pendek itu dengan panggilan De.


"Tapi pak Raka tidak mau ibu Sarah berkendara sendiri."Jawab Dea, gadis ini periang, wajahnya tampak cute dengan poninya yang bergerai menutupi alisnya. Sebuah kacamata menghias wajahnya, kesan smart terasa kental. Tapi karena wajahnya yang ala japanesse itu, membuatnya seperti anak yang baru beranjak dewasa.


Dia menyetir dengan hati-hati seolah membawa barang mahal.


"Nyetirmu kok lambat sekali, De?" Sarah protes melirik ke speedometer yang cuma 50 km/jam itu.


"Pesan pak Raka, membawa ibu harus hati-hati dan tidak boleh ngebut."


"Tapi tidak begini juga, De. Kalau kecepatan cuma begini, sampainya tengah malam nanti." Sarah tertawa mendengar alasan Dea.


"Bosmu itu benar-benar lagi sibuk tadi?" Tanya Sarah, tiba-tiba.


"Iya, bu. Pak Raka masih belum keluar dari meeting room. Beliau menemani bapak ada pertemuan dengan salah satu rekanan dari Singapura yang mau mengajukan kerjasama menangani project di Bali."


"Oh..." Sarah menyahut, sambil menaikkan alisnya, keterangan Dea membuat separuh dari rasa mangkel yang sedari tadi membuncah, menguap begitu saja.


Belajar memahami menjadi penting, untuk membuang rasa kesal yang tak selalu beralasan. Menekan ego memang adalah keharusan jika tidak ingin menyulut perselisihan.


"Usiamu berapa, De?" Sarah tiba-tiba bertanya dengan sedikit penasaran, dia tidak pernah cukup lama untuk bertemu asisten Raka ini.


Penampilan Dea yang supel ini mengingatkan Sarah pada adiknya Sally tapi dalam versi yang lebih ramah dan menyenangkan.


"Aku sekarang hampir 27 tahun, sepertinya kamu tidak usah memanggilku ibu. Rasanya aku jadi tambah tua. Panggil aku kakak saja." Pinta Sarah.


"Eh, tapi...tidak sopan bu memanggil istri bos Saya dengan Kakak. Nanti orang bilang apa?" Wajah Dea menjadi merah padam, dengan gugup merapikan letak kacamatanya.


"Kan aku yang minta di panggil begitu?"


"Tapi..."


"Tapi apa?"


"Nanti aku di pecat pak Raka kalau bersikap tidak sopan apalagi dengan ibu."Dea berdalih.


"Memangnya, bosmu sekejam itu?" Sarah menatap Dea dengan penasaran.


"Pak Raka itu orangnya galak bu, dia tidak suka kalau bawahannya tidak sopan, apalagi perempuan. Dulu, ada karyawan baru di bagian arsip, orangnya cantik sekali, semua pegawai yang laki-laki melotot melihatnya. Tapi, karena berani masuk ruangan pak Raka tanpa mengetuk lalu memanggilnya dengan nama saja tanpa pak, baru tiga hari kerja langsung di bayarkan gajih satu bulan hari itu juga, tapi di suruh pulang jangan masuk kerja lagi." Dea bercerita dengan penuh semangat.


Sarah tergelak mendengar cerita Dea, memikirkan mimik Raka yang sok galak sungguh mengingatkannya pada pertama kali berjumpa dengan suaminya itu.


"Khusus untukmu, jika di pecat gara-gara memanggilku kakak, ku jamin besoknya kamu naik jabatan." Ujar Sarah di sela tawanya.


"Bener, bu? Eh, kak?!" Dea tampak sumringah di belakang setiran.

__ADS_1


"Kamu tidak takutkan sekarang kalau di pecat?"


"Ya, tidaklah, bu. Soalnya ibu kan bossnya pak Raka?"


"Kok aku bossnya pak Raka?"


"Pak Raka itu paling takut kalau ibu Sarah kenapa-kenapa. Semua hal selalu dengan pertimbangan, untuk istrinya mau yang terbaik, kalau tidak perfect, beliau itu bisa marah." Dea nyerocos saja, tapi Sarah senang bukan main mendengarnya.


Siapa sih istri yang tidak senang di sayang-sayang sang suami di depan orang lain?


"Deal, kamu ku angkat jadi setengah asistenku! Panggil aku Kak Sarah saja mulai sekarang." Sarah menepuk bahu Dea, sementara Dea melongo menatap sejenak pada Sarah, saking tak bisa berkata-kata pada istri pak Bos yang sangat dihormatinya itu.


Sarah senyam senyum sendiri, membayangkan mempunyai teman ngobrol yang menyenangkan, dia selalu ingin punya adik yang tidak hanya memanfaatkan dirinya, tapi menjadi teman yang sesungguhnya.


"Kamu punya pacar, De?" Tanya Sarah, yang mendadak menjadi usil.


"Jomblo akut, Kak." Wajah Dea merona, di tanya seperti itu. Lalu dengan salah tingkah memarkir mobil di depan klinik Kandungan milik Dokter Yogi.


Sarah segera ingat cerita Raka, Dokter Yogi sampai sekarang masih belum ingin pacaran, dia patah hati dan belum bisa move on dari pacarnya di masa kuliah yang meninggal akibat kecelakaan pesawat.


"Kalau begitu kamu harus ikut aku ke dalam karena orang baik pasti bertemu jodoh yang baik."



Catatan author:


Mungkin Readers bertanya kenapa author selipkan tokoh Dea dan dokter Yogi dalam beberapa episode berikut?


Tokoh Dea dan dokter Yogi akan dibuatkan oleh author sebagai tokoh novel "My Dokter, I Love You" Spin off dari novel "Menikahi Tunangan Adikku".


Saat Novel Menikahi Tunangan Adikku ini tamat (mungkin tidak lama lagi😅) entah mengapa author merasa tidak rela memutuskan tali silaturahmi yang telah terjalin indah dengan readers kesayangan semua😓


Kalian telah setia menemaniku siang malam bersama Sarah dan Raka💕💕


Karena itu, Author berencana merilis novel ini sebagai novel baru untuk menghibur para readers kesayangan semua😅


Cerita antara Dea dan Yogi, tak ada hubungannya dengan Sarah dan Raka, tapi perkenalan mereka akan di ceritakan, di awali dari novel Menikahi Tunangan Adikku☺️


Sebagai bocoran, author kasih covernya saja dulu, yaaa...Cerita Dea dan dokter Yogi author janjikan lebih seru dan happy. Seputar cara Dea menahlukkan hati sang dokter dingin yang telah lama patah hati, tentunya sedikit lucu menyesuaikan karakter Dea yang periang 🤭


Yang setuju novel ini rilis setelah Sarah-Raka End, komen dooooooong😅😅😅😅



By the Way, pengen banget crazy up malam ini, doakan akak setrong ngetiknya🤣🤣🤣


Lope yu semuaaaa❣️


...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...


__ADS_2