
Sarah berdiri dengan gemetar di depan Raka, menyongsong pelukan Sally. Dia menjadikan badannya sebagai tameng seolah melindungi Raka.
"Raka..."Sally menubruk tubuh Sarah, membuat tubuh rampingnya terdorong ke belakang.
Raka menahan tubuh Sarah dengan dadanya, memeluk istrinya itu supaya tidak terjatuh.
Sally dan Raka bertemu pandang sesaat sebelum kemudian Raka memalingkan wajahnya dengan gusar, sementara Sarah berada di tengah-tengah mereka berdua.
"Sally, sadarlah..."Sarah memeluk erat tubuh adiknya itu, dengan perasaan campur aduk. Antara kasihan dengan adiknya itu tetapi jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, benar-benar tidak rela jika Sally menyentuh suaminya.
Raka melepaskan dirinya dari tubuh Sarah dan mundur beberapa langkah ke belakang, membiarkan Sarah memeluk Sally.
"Raka, ini aku, Sally...ini aku..."Wajah kuyu Sally berada di pundak Sarah dengan mata berkaca-kaca. Tangannya terulur di belakang punggung Sarah seolah berusaha menggapai Raka.
"Raka, aku pulang...kamu memintaku pulang, sekarang aku pulang..."Panggilnya dengan terbata-bata.
"Sally, ada apa denganmu? Sadarlah...!" Sarah mengguncang-guncang tubuh Sally. Tapi Sally sepertinya tidak memperdulikan Sarah, matanya hanya tertuju pada orang yang berada di belakang Sarah. Seolah dia hanya mengenal Raka seorang.
"Raka, kita akan menikah kan? Aku akan memakai baju pengantin besok..."Sally meracau. Dia memberontak saat Sarah berusaha menahannya.
"Oh, iya...anak kita mana? anakku mana, ma? Raka harus melihatnya,"
Mama Sarah terisak di tempatnya berdiri, sementara papa berdiri dan menarik Sally dari pelukan Sarah.
"Sally, hentikan ini!" Suara papa menggelegar, bukan karena marah tapi lebih karena rasa sedih melihat keadaan Sally.
"Sadarlah, nak. Sadarlah...jangan begini terus."
Sarah menggigit bibirnya, melihat Sally terduduk bersimpuh di depan mereka. Dia menangis seperti anak kecil, tersedu-sedu begitu rupa sambil menutup wajahnya.
Mama menghambur dan memeluk Sally yang menangis.
"Sayang, ini mama...jangan bersikap seperti ini. Kamu menakuti mama..."
__ADS_1
"Raka menyuruhku pulang...dia menyuruhku pulang, ma. Kami akan menikah besok." isaknya.
"Tapi, aku meninggalkan bayi kami. Raka marah padaku, karena meninggalkan bayi kami" Sepertinya memorry Sally bercampur aduk, tumpang tindih. Tidak ada yang benar-benar pas di ingatannya. Dia benar-benar depresi berat.
"Sayang...kenapa kamu jadi begini?"Mama mengusap wajah Sally dengan begitu iba, melihat keadaan anak kesayangannya ini benar-benar membuatnya tidak tahan.
"Mama, katakan pada Raka, aku akan bersiap-siap. Aku akan menjadi pengantinnya yang cantik besok."Sally memegang kedua tangan mamanya dan menangkupnya di dadanya, seperti seorang anak yang sedang memohon kepada ibunya.
"Sayang...ayo berdirilah..." Mama berusaha membimbing Sally berdiri, tapi gadis itu menolak.
Matanya tertuju kepada Raka yang berdiri seperti balok es di tempatnya, tidak bergeming dan tidak terpengaruh sedikitpun dengan apa yang sedang terjadi.
Sarah bersimpuh di depan Sally, air matanya tiba-tiba turun melihat keadaan adiknya itu, bagaimanapun Sally adalah adiknya, tentu saja dia begitu sedih dan tak tega melihat keadaan kejiwaan Sally sekarang.
"Sally, sadarlah..."Ucap Sarah dengan bibir bergetar.
"Aku akan menikah besok, apakah bajuku sudah siap?"
"Raka telah menikah denganku, Sally. Kamu sendiri telah meninggalkannya. Dia adalah suamiku sekarang..." Suara Sarah begitu rendah hampir seperti bisikan.
"Jangan berbicara bohong padaku, Raka mencintaiku, dia tidak akan menikahi orang lain selain aku!" Sally berteriak seperti orang tidak waras.
"Sarah! Tidak usah berbicara lagi! Kamu hanya menambah Sally terluka! Hanya memperkeruh keadaan!" Mama membentak ke arah Sarah, begitu marah.
Raka tiba-tiba berjalan mendekat, berjongkok mengulurkan tangannya,
"Sayang, kita harus pulang..." ucapnya kepada Sarah dan membantu istrinya itu berdiri dan memeluk Sarah di depan semua orang.
Mata Sally nanar melihat pada dua orang yang sedang berpelukan itu.
"Raka...ada apa denganmu?" Sally mendonggak dengan masih bersimpuh di pelukan mamanya.
"Harusnya aku yang bertanya padamu, Sally...ada apa denganmu?!" Raka menatap tajam pada Sally.
__ADS_1
"Kamu mencintaiku...jangan lakukan ini padaku..." isak Sally terdengar beradu dengan nafasnya, sehingga dia terdengar sesenggukan.
"Sudahlah, Sally...sudah sayang..."Mamanya menahan tubuh Sally, yang tiba-tiba merangkak ke arah Sarah dan Raka.
"Sally, aku sangat sedih dengan keadaanmu. Tapi aku tidak terikat lagi padamu. Kita tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi, kecuali kamu adalah adik iparku. Semoga saja kamu segera sembuh dari keadaanmu ini. Aku atau Sarah mungkin tidak bisa berbuat banyak." Raka benar-benar teguh dengan pendiriannya, sama sekali tak tergetar bahkan untuk sekedar berpura-pura baik di depan Sally.
"Om, tante...sepertinya kami benar-benar harus pulang sekarang. Semoga Sally segera pulih dari sakitnya ini."Raka menggandeng tangan Sarah hendak berbalik, ketika Sally menarik ujung gaun Sarah.
"Kembalikan Raka padaku...!"Suara Sally terdengar seperti tercekat, mendonggak pada Sarah yang terkejut dengan apa yang di lakukan Sally.
Raka membungkuk dan melepaskan tangan Sally dengan tatapan tak kalah nanarnya pada Sally. Entah rasa iba, kasihan, dendam, sakit hati dan kebencian, seolah menyatu di balik tatapan itu.
"Sarah tidak pernah meminjam apa-apa darimu Sally, jadi dia tidak berkewajiban untuk mengembalikan apapun!" Raka mengibaskan jemari Sally.
"Kembalilah ingat dengan benar, saat kamu memilih pergi. Jangan bersikap seperti korban saat kamu kembali. Aku bukan Raka yang dulu lagi. Raka yang pernah menjadi tunanganmu itu telah lama mati."Suara Raka begitu datar, dengan mata yang berkilat tajam.
Papa dan mama Sarah hanya terpana di tempat mereka masing-masing, tidak pernah menyangka sikap kejam itu datang dari seorang Raka, yang selama ini begitu patuh dan penurut.
"Om, tidak perlu menekan aku lagi dengan hubungan antara om dan papa, supaya aku melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan keinginanku. Bisnis dan hubungan keluarga tak patut untuk di campur adukkan, om dan tante mungkin lebih tahu tentang itu.
Aku menghormati om dan tante sebagai orangtua. Dan kami berdua, aku dan Sarah sampai hari ini selalu menunjukkan bakti kami sebagai anak."Raka berbalik kepada papa Sarah yang berdiri terpekur seperti patung, wajahnya begitu tegang dengan semua adegan yang terjadi di depan matanya malam ini.
"Dan ku rasa, cukup sudah hidup Sarah kita korbankan untuk keegoisan kita. Dia tak tahu apa-apa. Berikan dia kesempatan untuk memilih jalannya sendiri. Dia telah banyak berkorban untuk kita."Raka menggenggam tangan Sarah dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi.
"Jika kejadian malam hari ini menyakiti perasaan om dan tante aku minta maaf, segala konsekuensinya aku siap menanggungnya. Selamat malam, om, tante." Raka menarik tangan Sarah setelah membungkuk dengan hormat kepada Papa dan mama Sarah.
Dua orang tua itu tidak menyahut apa-apa, selain menatap kepada Raka yang setengah menyeret Sarah keluar dari sana.
"Raka...aku mencintaimu...Jangan pergi! Raka, aku benar-benar mencintaimu..."Sally berteriak dari tempatnya yang terduduk bersimpuh di tengah ruang keluarga.
Meraung-raung seperti orang yang benar-benar kehilangan kewarasannya.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu lho🙏...
__ADS_1
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP🙏☺️...