
"Sally kamu tidak perlu ikut bicara ini bukan hal yang kamu mengerti."
Mytha mengangkat telapak tangan ke arah Sally, tanpa menoleh sedikitpun pada anaknya itu.
"Lanjutkan Doddy..." Perintahnya, meminta Doddy kembali berbicara.
Doddy tersenyum kemudian menatap dua wanita itu bergantian.
"Ibu Mytha menawarkan kepada pak Hendro, ajuan peminjaman dengan jaminan kepemilikan saham.
Kemudian, aku mengerti satu hal, Ibu Mytha tidak punya rencana untuk menjual hanya semacam menjaminkan pinjaman itu. Saya yakin, ibu Mytha sedang dalam project khusus untuk mendapat uang berkali lipat dari yang ibu pinjam."
Ucapan Doddy serta merta membuat Mytha tersenyum lebar, seolah-olah sedang berbicara dengan seseorang yang benar-benar mengerti dirinya, bukan dengan orang yang menjudge atau mempertanyakan tindakannya.
"Pak Hendro adalah kolega ayahku, dia sebenarnya berminat dengan penawaran ibu Mytha, sayangnya dia tidak cukup dana untuk itu. Perusahaannya sedang pailit, karena itu saya menjadi tahu urusan ini."
Doddy menghela nafasnya.
"Kemudian sebagai orang yang mengambil alih separuh saham sebelumnya, saya rasa tidak ada salahnya saya menawarkan diri mencairkan dana yang di minta oleh ibu Mytha, bahkan saya melebihkan dari penawaran." Doddy melipat jemarinya, tatapan ya begitu seius.
"Kamu serius?" Mytha tercengang.
"Tentu saja saya serius, sangat di sayangkan jika saham ini jatuh pada orang lain. Karena saya memiliki setengahnya lebih dulu, jika ibu Mytha percaya, saya akan membeli kepemilikannya." Mytha yang sedang benar-benar membutuhkan uang itu tampak terpesona pada Doddy.
Dia tak menyangka uang anak ini begitu banyaknya.
"Tapi..." Mytha tampak ragu sesaat.
"Kenapa? Ada yang salah? atau jika memang ibu Mytha tidak berkenan dengan saya, sungguh saya tidak memaksa. Saya hanya menawarkan diri tapi jika ada orang lain yang sudah terikat komitmen dengan ibu, saya tidak apa-apa. Berarti bukan jodoh saya."
"Bukan...bukan begitu..." Mytha menyahut dengan terburu-buru.
"Lantas?"
"Aku hanya ingin memastikan Sally maju sebagai CEO, dengan begitu saya bisa melepaskan saham ini dengan tenang."
"Untuk soal itu, ibu Mytha jangan kuatir. Saya janjikan, Sally akan berdiri dua minggu lagi di depan Dewan Direksi, silahkan persiapkan diri." Doddy melirik pada Sally yang menatap Doddy dengan tak berkedip.
Ibu Mytha mengangguk dengan rasa puas.
__ADS_1
"Saya akan melepaskan saham itu, setelah Sally maju."
"Jika demikian saya tidak bisa menjanjikan dana yang ibu minta, karena dalam dua minggu ke depan ayah saya mempertimbangkan membuka pabrik di kalimantan. Saya hanya berusaha menggunakan dana itu untuk ibu Sally jika telah kita sepakati, saya menerima saham itu dalam jangka waktu kurang dari tiga hari, lebih dari itu mungkin akan sulit bagiku."
Mytha menarik tubuhnya bersandar di kursi, memandang makanan yang ada di meja. Seharusnya mereka sudah makan sedari tadi tapi pembicaraan ini lebih oenting dari sekedar makan.
"Harus secepat itu?" Mytha tampak bimbang tetapi hutangnya memang perlu di bayar dalam minggu ini, hutang itu jatuh tempo. Jika dia mangkir semua aset yang tersisa akan di sita, termasuk perpanjangan hutang berbunganya yang naik sesuai perjanjian.
Dalam perjudian terakhirnya, dia bahkan mempertaruhkan semua yang di milikinya dan uang-uang pinjamannya dari beberapa mantan rekan bisnis pak Wijaya yang percaya padanya.
"Semua terserah kepada ibu Mytha, tentunya saya tidak memaksakan diri. Ibu bisa meminta tolong orang lain dalam berbagai resiko, tapi mungkin tidak akan setinggi saya menghargainya." Doddy melemparkan senyum tipisnya.
Handphonenya tiba-tiba berbunyi, matanya tertuju pada nama kontak yang memanggil,
Diahpita memanggil...
Matanya sejenak terpaku kemudian mengangkat wajahnya pada Mytha yang berada di seberang meja.
"Maaf, saya harus mengangkatnya."
Ucapnya lalu tanpa basa basi ditekannya tombol terima, dengan tetap berada di tempat duduknya.
"Saya sedang bersama dengan rekan bisnis, sebentar lagi saya selesai. Saya akan telpon sebentar lagi, ya."
Di depan Sally dan ibunya yang masih melongo menatap kepadanya, dia mengucapkan kalimat yang tegas namun lembut itu.
Lalu tanpa menunggu jawaban dari seberang dia memasukkan handphonenya ke dalam sakunya kembali.
"Maafkan saya, sepertinya saya terburu-buru malam ini." Dia melirik pergelangan tangannya, melihat pada jarum jam yang menunjukkan angka lewat dari jam 8.
"Tapi kita belum selesai bicara." Mytha tampak menatap kepada Doddy dengan tatapan curiga dengan sedikit waspada.
"Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya benar-benar harus pamit sekarang. Terimakasih atas undangan makan malamnya, semoga di lain waktu saya bisa membalas undangan ini dan menuntaskan dinner yang belum selesai ini." Doddy berdiri dari duduknya, di ikuti tatapan kedua orang yang kini nampak bingung dan tak suka dengan cara Doddy meninggalkan mereka.
"Silahkan hubungi papa saya jika ibu Mytha berubah fikiran dalam tiga hari ini, saya rasa ibu Mytha mempunyai nomor kontak papa." Doddy tersenyum lagi, rautnya begitu aneh, bahkan sebagai seorang rekan bisnis dia tak berusaha meninggalkan nomor kontak pada mereka.
"Kita belum mulai mencicipi menu utama, kamu sudah mau pergi saja." Sally menatap pada makanan yang tersaji cantik di atas meja, matanya melirik Doddy dengan genit.
__ADS_1
"Saya..." Doddy menggaruk kepalanya denga raut salah tingkah di pandang seperti itu.
"Saya harus pergi sekarang..." Dia membungkukkan badannya sedikit dengan kedua telapak tangan yang di satukan sebagai bentuk penyesalan dan permintaan maaf.
"Calon istri saya menunggu saya menelponnya kembali ..." Lanjutnya dengan sedikit ragu dan malu. Membuat Sally terperanjat dengan terkejut tak kalah terkejutnya dengan sang mama, mereka sebenarnya tahu laki-laki setampan dan sekaya Doddy tak mungkin tak memiliki kekasih, tapi mereka tak menyangka jika dia sebentar lagi akan menikah.
Doddy membalikkan badannya, wajahnya merah padam sendiri, dia merutuk alasan yang di buatnya untuk membuatnya segera melarikan diri dari depan dua perempuan yang hampir membuatnya muntah itu.
"Sarah benar-benar memberi misi yang menjengkelkan. Berhadapan dengan mereka rasanya seperti menghadapi dua ular beludak." Keluhnya dalam hati.
Begitu dia keluar dari ruangan itu, dengan tergesa dia menarik handphonenya dari dalam sakunya.
Dan saat dia menatap pada layar handphonenya, layar itu aktif dan...
Diahpita dalam panggilan beserta detik yang berjalan terpampang jelas.
Doddy mengepalkan tangannya dengan wajah seperti kepiting rebus, dia terlalu tergesa sehingga lupa menutup telpon.
Diah ada di dalam panggilan dan tentu saja, dia pasti mendengar pembicaraannya dengan Sally dan ibunya.
"Oh, Tuhan...apa dia mendengar soal aku menyebut calon istri tadi?"
Doddy merutuk dalam hati, dia benar-benar sangat malu sekarang. Maksudnya tadi hanya memberi alasan sekenanya, tetapi dia menjadi malu bukan alang kepalang dengan kelakuannya sendiri.
"Hallo..." Doddy meletakkan telpon itu di telinganya, suaranya goyah dan sedikit canggung.
"Hallo..." Suara Diah terdengar dari seberang.
"Maaf, tadi saya..." Suara Doddy tercekat, tak kuasa meneruskan kalimatnya.
"Iya, saya tahu." Jawaban Diah yang tenang itu sangat pendek, tapi membuat Doddy benar-benar salah tingkah.
"Ibu Sarah dan pak Raka sekarang menunggu di Westin Resto."
"Iya, saya tahu..." Doddy menggigit bibirnya, dia seolah mengulang kalimat Diah, sebagai laki-laki dalam image kalem dan sulit tersentuh, Doddy tidak pernah se salting ini.
(Yeayyyy....sudah mulai terbuka kan, siapa dalang di balik semua ini😁😁 Yuk, jangan lupa nantikan selanjutnya, part yang lebih seru🤗🤗🤗 Kebahagiaan para readers kayaknya makin deket deeeh🤭🤭 Tetap ikuti kisah ini, apa yang akan terjadi...semoga belum bosan ya, sama kisah ini☺️)
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....