
Sejuknya udara sore musim semi di Amsterdam, membuat Sarah begitu berbinar. Tangannya tanpa malu-malu lagi bergelayut manja di lengan Raka.
Setelah melalui antrian bus yang panjang di Schipol Plaza menuju ke Keukenhof, sama sekali tidak terasa melelahkan bagi mereka berdua.
"Kapan lagi naik bus dengan nyaman kalau tidak di Amsterdam..." Kata Raka pada Sarah.
"Dan naik Bus bersama nyonya cantikku, membuat pengalaman naik bus ini tak terlupakan." Lanjutnya, membuat Sarah mengerling manja.
"Sejak kapan, Pak Raka ini boros sekali urusan memuji perempuan?" Tanya Sarah, geli.
"Sejak aku tahu, isteriku itu ternyata paling cantik sedunia."
Entah karena sedang mabuk cinta dengan istrinya itu ataukah sifat aslinya muncul, Raka paling bisa membuat Sarah langsung tersipu salah tingkah.
Satu-persatu bus datang dan pergi, untuk menjemput para turis yang ingin berkunjung ke Keukenhof di kota Lisse. Perjalanan menuju Keukenhof sekitar 30 menit tadi, menggunakan bus 858 dari Schipol Plaza tidak terasa membosankan, karena Sarah dan Raka disuguhi pemandangan kota Amsterdam yang begitu bersih dan hijau.
Di setiap perjalanan nampak beberapa Windmills atau kincir angin dengan teknologi modern yang digunakan masyarakatnya sebagai sumber pembangkit energi tenaga angin.
Kota amsterdam menuju Keukenhof adalah pemandangan terbaik yang pernah di lihat oleh Sarah.
"Apa yang membuatmu ingin ke Keukenheof?" Tanya Raka sambil menggandeng tangan Sarah.
Mereka berdua berjalan menyusuri lautan bunga tulip yang beraneka warna,
"Ingin melihat bunga tulip." Jawab Sarah dengan polosnya.
"Di sini menurut cerita Aldert adalah musim semi terindah di dunia." Lanjutnya dengan senyum manis.
Raka berhenti sejenak, wajahnya nampak masam.
"Sayang, kamu berfikir Keukenheof itu indah hanya karena mendengar cerita si nyentrik itu?"
"Eh, kan pertama kali dengar tentang Belanda memang dari Aldert, apa salahnya?" Sarah menautkan alis hitamnya dengan bingung melihat tingkah Raka.
"Kalau si nyentrik itu tidak cerita tentang Keukenheof kamu tidak pernah tertarik ke sini kan?" tanya Raka, air muka nampak tak suka.
"Aku kan kenal lama duluan dengan Aldert, wajarlah dia banyak berbagi cerita untukku tentang Amsterdam. Lagian ini rumahnya dia."
"Si Nyentrik itu memang menyebalkan! Dia mengambil keuntungan menjadi menarik di mata mu gara-gara dia kenal kamu duluan."
"Aku tidak tertarik dengan Aldert." Sarah melotot.
Beberapa wisatawan yang lewat nampak bingung dengan perdebatan sepasang suami istri itu.
Mereka meributkan hal yang benar-benar tidak penting.
"Aku hanya tertarik pada satu orang laki-laki di dunia ini." Sarah mengedipkan matanya dengan menggoda kepada Raka.
__ADS_1
"Siapa? Laki-laki perlente yang tergila-gila kepadamu, yang suka mengkoleksi banyak model itu?" Raka mencecar.
Sarah tertawa geli melihat wajah cemburu suaminya itu, ternyata melihat Raka berapi-api membuatnya merasa lucu. Si dingin ini, bisa cemburu!
"Dion bukan tandingan laki-laki itu." Sarah mencondongkan wajahnya lebih dekat.
"Siapa?" Raka menarik tangan Sarah, mencengkeramnya. Menunggu dengan gugup, takut ternyata Sarah menyimpan banyak barisan laki-laki yang mencintainya, selain Raka sendiri.
"Dia itu...suamiku." Jawab Sarah lirih, lalu meletakkan tangannya di leher Raka, kakinya berjinjit sedikit, mencium bibir Raka sesaat. Sebelum melepasnya dengan tawa sumringah.
Raka sesaat terpana, dicium oleh Sarah di antara lautan bunga tulip membuat lututnya terasa goyah.
"Sayang, kamu nakal sekali..." Raka menarik Sarah ke dalam pelukannya.
Raka menggandeng Sarah dengan bahagia, menunjukkan bunga-bunga tulip yang terhampar seperti lautan dalam keadaan mekar sempurna, Keukenhof sendiri sebetulnya merupakan sebuah acara exhibition atau pameran, yang pesertanya adalah company yang bergerak di bidang floricultural sector di Belanda. Ada sekitar 100 company/suppliers yang turut berpartisipasi setiap tahunnya. Jadi bisa dibayangkan ya betapa indah dan warna-warninya taman ini. Sekitar 800 varietas bunga Tulip ada disana, bentuknya sangat beragam dan cantik-cantik.
Selain Tulip, di taman ini juga ada bunga Sakura.
Sarah yang pertama kali melihat bunga sakura secara langsung, begitu jatuh cinta dengan bunga berwarna pink itu.
"Ini adalah hadiah bulan madu terindah untukku" Kata Sarah, sambil duduk berselonjor di pinggir sebuah danau buatan, di mana angsa berenang di permukaannya. Kepalanya bersandar di bahu Raka dengan manja.
"Sayang, apakah kamu akan memberikanku hadiah bulan madu yang lain lagi?" Sarah meletakkan dagunya di bahu Raka, menatap si dagu belah tampan ini dengan penuh harap.
"Kamu jangan terlalu serakah!" Raka memencet hidung Sarah dengan wajah pura-pura cemberut.
"Aku harus memberimu apa?" tanya Sarah dengan sudut bibir yang tertarik, seolah memikirkan sesuatu.
"Malam ini, aku mau kamu membuatku jadi raja" Bisik Raka.
Mata Sarah melotot kemudian dia tertawa mendengar permintaan suaminya itu.
"Setiap malam aku telah membuatmu menjadi raja, tuanku Raka" Sergahnya.
"Malam ini, aku mau istriku membuatku jadi raja dalam semalam. Aku tak perduli bagaimana caranya, itu hadiah bulan maduku." Raka tersenyum penuh kemenangan.
Sarah mengedipkan matanya pada Raka, memikirkan apa yang mungkin dilakukannya.
"Sayang..." Raka merengkuh bahu Sarah kemudian, merasa iba melihat wajah sang istri yang nampak berpikir keras.
"Jangan terlalu di fikirkan, aku hanya bercanda. Aku sudah jadi raja beberapa hari ini berkat ratu Sarahku." Lanjutnya sambil mencium dahi Sarah.
Sore turun di atas Keukenhof, mereka berdua berpelukan menyaksikan keindahannya, seolah berharap waktu berhenti sejenak, memberi mereka kesempatan menikmati kebersamaan mereka.
"Tahu kah kamu? Menikahimu adalah hal terbaik yang pernah ku lakukan dalam hidupku."Kata Raka dengan volume rendah.
"Aku tak tahu, apa yang terjadi jika aku benar-benar menikahi Sally waktu itu."
__ADS_1
Sarah terdiam, dadanya bergemuruh tiba-tiba. Mendengar Raka menyebutkan nama adiknya itu tiba-tiba seolah mencubit-cubit hatinya.
"Aku mungkin tidak pernah tahu rasanya, benar-benar jatuh cinta." lanjut Raka dengan suara serius.
Mereka berdua diliputi hening, menatap ke tengah danau dalam kejengahan yang sama.
Selama ini Sarah menghindari segala hal yang berhubungan dengan Sally, karena menganggap itu hanyalah masa lalu Raka yang terlalu sensitif saat dia memikirkannya.
"Aku boleh bertanya satu hal?" tanya Sarah tiba-tiba.
Raka menoleh dan menunggu, kalimat Sarah selanjutnya.
"Apakah kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Sarah hati-hati.
Raka memandangnya tak berkedip, lalu memeluk Sarah dengan gemas.
"Pertanyaan macam apa itu?"Raka terkekeh.
"Tentu saja aku benar-benar mencintaimu."
Sarah tersenyum mendengar jawaban itu, lalu dengan mata yang berbinar sayu dia mengangkat wajahnya pada Raka.
"Aku boleh bertanya satu hal lagi?" tanya Sarah, sekarang tampak lebih hati-hati.
"Apa? banyak sekali pertanyaan isteriku ini." Raka mengangkat alisnya.
"Apakah kamu benar-benar telah melupakan adikku, Sally?"
Raka menatap tajam ke arah Sarah, tidak menyangka pertanyaan itu keluar dari mulut Sarah.
"Sayang, apakah ini penting untuk di tanyakan?" Raka balik bertanya.
"Tidak usah di jawab jika berat." Sarah tersenyum kecut. Dia pun tak berharap Raka menjawab hanya untuk menyenangkan hatinya.
Melupakan orang yang telah begitu lama bersamamu mungkin bukan hal yang mudah, tapi aku tidak akan menyerah membuatmu menjadikanku satu-satunya yang kau cintai di kemudian hari. Kamu menikahiku, dan kamu telah membuatku jatuh cinta padamu sedalam ini. Karena itu, kamu harus bertanggungjawab untuk menjadikanku sebagai istri yang bahagia. Apapun yang terjadi.
Sarah bertekad dalam hati, Tuhan tidak akan memberinya perasaan ini jika ternyata semuanya sia-sia.
Dititipnya perasaan itu pada hamparan tulip di seberang danau.
Tidak ada yang salah sekarang, karena dia mencintai suaminya sendiri!
"Kita akan pulang ke Indonesia, minggu depan selama libur semester, Deasy kangen sama tante Sarah katanya. Sekalian menjenguk ponakan kecil kita yang baru lahir." Kalimat Raka, mengalihkan kegamangan hatinya yang sesaat sempat menganggu.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
__ADS_1
...Biar author tambah rajin UP...