
Bu Mytha mengambil tempat, duduk di sebelah pak Wijaya dengan sikap yang tetap sama, senyumnya terlihat benar-benar sinis, menatap ke seluruh yang hadir di depannya. Apalagi kepada mantan suaminya pak Wijaya, seolah-olah dia tidak melihatnya.
"Terimakasih atas penyambutan ini, saya rasa saya tidak perlu mengenalkan diri lebih lanjut. Dan perlu saya tambahkan, kenapa saya duduk di depan anda semua karena...saya adalah pemegang saham 30 persen di dalam perusahaan ini." Suara yang terdengar tegas itu memecah keterkejutan sesaat setelah dirinya masuk.
Pak Rudiath menganggukkan kepalanya sedikit ketika mereka saling bertemu pandang sesaat. Sementara Raka segera membuang mukanya dengan pias kecut. Dia sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa tak sukanya pada perempuan setengah baya ini.
"Selamat berganung ibu Mytha." Pak Rudiath nampak berusaha bersikap ramah meskipun respon yang diterimanya hanya sebuah senyum samar tak jelas.
Perhatian semua yang hadir kini terpusat pada tiga orang yang duduk di depan mereka.
"Sebagai seorang pemegang saham resmi di dalam perusahaan, ibu Mytha akan mempunyai hak suara dalam rapat dewan direksi kita selanjutnya, dan berhak mengetahui semua data di dalam perusahaan berikut akses yang diperlukan sesuai kepentingan bersama." Pak Rudiath berucap kemudian.
Tiba-tiba Pak Wijaya yang duduk di sebelah pak Rudiath memundurkan kursinya dan berdiri.
"Dan dalam kesempatan ini, saya juga mengumumkan secara resmi bahwa saya akan mundur sebagai salah satu komisaris utama dalam perusahaan ini."
Kalimat itu di sambut suara terkejut dari peserta meeting. tak terkecuali Edgar dan pak Rudiath yang tadinya nampak tenang.
Bu Mytha lebih-lebih terkejut lagi, dia tak menyangka jika mantan suaminya itu mengambil keputusan sebesar ini. Dia meminta 30 persen saham perusahaan itu sebagai salah satu syarat cerai adalah supaya bisa setiap hari berhadapan dengan laki-laki yang telah mempermalu dirinya itu.
__ADS_1
Sejuta dendam membuatnya mengumpul rencana untuk menghancurkan kehidupan Wijaya dengan kehadirannya, bahkan kalau perlu dia akan menghancurkan orang-orang lain, termasuk keluarga Rudiath yang sekarang sangat di bencinya itu.
Dia sangat yakin, sisa 30 persen yang kini dipegang oleh mantan suaminya itu akan berpindah ke tangannya lambat laun di bawah tekanannya, dengan memiliki lebih dari separuh saham perusahaan maka dia akan membuat Rudiath dan anaknya Raka yang dibencinya sampai ke tulang-tulang itu untuk bersimpuh di kakinya.
"Jika kamu mengundurkan diri, bagaimana dengan 30 persen saham yang berada di tanganmu?" Bibir perempuan ini tersenyum licik, dia yakin mantan suaminya ini benar-benar keok di hadapannya, bahkan sebelum dia memulai perang, dia telah kalah duluan. Tanpa perlu ribut, ternyata Wijaya telah mengaku kalah dan siap menyerahkan sisa saham yang dipegangnya kepada dirinya.
Jika demikian, bukankah tanpa susah payah lagi, lebih dari setengah saham perusahaan adalah miliknya!
Pak Wijaya terdiam sesaat, matanya menyorot tajam pada mantan istrinya ini.
"Saya akan melepaskan 30 persen saham yang saya pegang pada orang baru yang akan menjadi salah satu dari komisaris utama hari ini..."
Bu Mytha terkesiap mendengar apa yang di ucapkan mantan suaminya itu selanjutnya.
Sekretaris pak Wijaya, ibu Dian membuka pintu ruangan itu sambil membungkukkan badannya sedikit.
Suara sepatu higheels yang bersentuhan dengan lantai terdengar berirama seperti detak jantung, ketika seorang perempuan muda dalam balutan kemeja krem yang serasi dengan kulit putihnya terlihat rapi dan elegan, masuk ke dalam ruangan itu seperti tampilan seorang eksekutif yang berkelas.
__ADS_1
Siapapun menjadi terkesima termasuk Raka sendiri, meskipun dia tahu Sarah akan tiba pagi ini tapi dia tak berkedip memandang istrinya itu bukann karena terkejut tapi terpesona dengan kecantikan dan kharisma yang di tampilkan istrinya. Tetap saja dia tak pernah bisa berhenti untuk terkagum-kagum pada sang istri.
Edgar dan Pak Rudiath sudah tahu dari awal, jadi mereka tidak menampakkan pias terkejut berlebihan seperti yang lain.
"Sarah!" Bu Mytha terbeliak kaget, matanya nyalang seperti burung hantu menatap pada anak angkat yang sangat di bencinya ini.
Sarah membungkukkan badannya kepada semua yang hadir, membiarkan semua mata tertuju padanya.
"Selamat pagi..." Suaranya terdengar bening, begitu tenang seperti air.
Sesaat matanya bersirobok pandang dengan sang suami yang duduk di jajaran direktur, sebagai CEO.
"Duduklah di kursi ini..." Pak Wijaya mempersilahkan Sarah duduk, tepat di samping bu Mytha, di mana dia duduk sebelumnya.
Sarah berjalan dengan langkah yang anggun dan senyum yang terkembang ramah, membungkukkan badannya pada papanya, papa mertua dan terakhir kepada ibu angkatnya, kemudian duduk di sana di bawah tatapan bu Mytha yang tak berkedip mengikuti setiap gerakannya.
"Ini adalah ibu Sarah, yang akan menggantikan saya, sebagai salah satu komisaris di Rudiath-Wijaya group."
(Yuuuuuk....di VOTE yaaaa, yang belum VOTE☺️ LIKE dan KOMEN positifnya adalah penyemangat othor untuk memberikan double UP hari ini🥰)
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...😊...