Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 214 KEGAGALAN SALLY


__ADS_3

Hari ini di depan rapat dewan direksi, Sally dipermalukan secara besar-besaran di depan Forum.


Tak ada satu suarapun yang menyetujui jika dia menjadi CEO. Semua orang memberi pendapat bahwa presentasinya sama sekali tidak relevan dengan bidang bisnis real estate, yang menjadi bidang bisnis perusahaan itu.


"Kompetensi saudari Sally tidak sesuai dengan harapan kami." Kalimat-kalimat senada itu terasa menusuk telinga Sally bahkan sampai jantungnya, malu dan kesal membuat pipi putihnya itu seperti baru saja di kuas blush on.


Sally yang mengambil jurusan Bisnis Internasional sebagai basic keilmuannya terlalu fokus pada tantangan-tantangan yang dihadapi oleh dunia bisnis di pasar internasional, sepertinya terlalu tinggi memberikan ekpetasi sehingga tidak memperhatikan posisi perusahaan itu berpusat dan lebih berkembang di area lokal.



"Sangat penting untuk melihat peluang dan solusi bisnis serta kemampuan untuk mempertimbangkan resikonya, dari yang dapat kami tangkap, saudari Sally sama sekali tidak mengerti tentang ranah ini. Saudari Sally lebih banyak berteori daripada memaparkan hal kongkrit yang mau di realisasikan." Edgar adalah salah satu orang yang berpendapat dalam menilai kompetensi Sally.


Setelah di adakan Voting suara, usai presentasi, akhirnya pak Rudiath angkat bicara menyikapi hasil meeting itu yang bulat menolak Sally.


"Etika dan hukum bisnis dalam skala internasional pastinya berbeda dengan etika dan hukum bisnis dalam negeri, mungkin saudari Sally dilatih untuk berpikir secara global dalam menciptakan ide dan solusi dalam permasalahan ekonomi dan bisnis di lingkup internasional. Tetapi ide dan solusi perbisnisan kita konsen pada wilayah lokal. Mungkin saat ini kita sudah mulai mengembangkan satu dua hotel di Malaysia, tetapi yang benar-benar kita kelola sekarang adalah di dalam negeri pada delapan kota besar. Jadi setelah mendengar pendapat dari beberapa dewan direksi cabang tadi, saya rasa kita masih tidak memerlukan Saudari Sally di dalam jajaran dewan direksi." Itulah kalimat panjang yang di sampaikan pak Rudiath sebagai alasan penolakan dewan terhadap pengajuan Sally dan Mytha, setelah Sally membela diri dengan presentasi tentang terobosan yang mungkin di bawanya saat dia menjadi CEO.


Ketika Voting persetujuan itu di lasanakan, tak ada seorangpun uang menyetujui Sally memegang jabatan yang di ajukan oleh ibu Mytha.


Rapat itu berakhir dengan hasil bulat, tidak ada CEO baru sampai kemudiam di rasa perlu.


Yang membuat Sally merasa dunianya runtuh adalah semua orang menertawakan visi misi yang dipaparkannya. Apalagi ketika dia menjawab beberapa pertanyaan yang di ajukan, Sally tak menguasai satupun. Dia seperti bahan lelucon di dalam forum itu.


Mamanya tak bisa berbuat apa-apa dalam membelanya, meskipun dia melihat anaknya itu jadi badut dalam ruangan itu.


Doddy yang di harapkannya menjadi pendukungnya bahkan tak muncul di dalam rapat dewan itu. Laki-laki yang telah memberikan suaranya beberapa minggu yang lalu dalam rapat terbatas seperti hilang di telan bumi.

__ADS_1


Sarah sedikitpun tak bersuara, tanpa memberi komentar apa-apa, dia hanya menyetujui apapun yang menjadi hasil final rapat dan tentu saja salah satu dari orang yang menyumbang suara tidak setuju atas kehadiran Sally.


"Rapat ini berakhir..." Pak Rudiath sambil berdiri. Semua yang hadirpun berdiri.


Setelah basa-basi penutupan, tak menunggu lama semua orang beranjak dari ruangan itu, tak terkecuali Raka dan Sarah.


Bahkan Sarah tak berbicara sepatah katapun pada Sally dan mamanya. Melangkah pergi tanpa berucap apa-apa.


Semua orang begitu acuh dengan kegagalannya, yang tersisa hanya Sally yang tak bisa menahan tangisnya sementara Mytha menenangkannya.


"Seharusnya Doddy ada di sini...dia bahkan tak muncul batang hidungnya. Jika ada dia, mungkin akan membelamu." Mytha mendengus kesal bukan main, masih berandai-andai putra pak Ferdian itu hadir. Kharisma anak itu menurut Mytha, sangat perlu dipertimbangkan.


"Doddy itu pembohong. Mereka sama saja." Mata Sally nampak berkaca-kaca, merah seperti hendak menangis.


Harapannya untuk memasukkan Sally ke dalam perusahaan itu sepertinya hilang begitu saja.


"Sarah, aku tahu ini semua adalah karena kamu. Anak yang tak tahu di untung. Aku akan membuatmu menderita seumur hidupmu karena berkali-kali membuat Sally menangis."


Mytha menggeram dengan perasaan amarah melihat bagaimana anak kesayangannya itu menangis tak karuan.


"Mama telah berjanji pasti membuatku berkuasa di perusahaan ini, mama sudah berjanji padaku akan membuat Raka kembali padaku, mama sudah berjanji untuk membuat Sarah menangis di kakiku...mama sudah berjanji..." Sally dalam kemanjaan dan kekanakannya menangis sambil menghentakkan kakinya di depan sang mama, seperti seorang anak yang minta di belikan boneka.


Dialah Sally, gadis manja yang selalu dituruti dan tak pernah sekalipun di abaikan keinginannya. Seorang anak yang selalu di bela entah salah maupun benar.


Pribadi yang egois itu adalah bentukan karya seorang ibu yang tak pernah mengajarkan bagaimana harus menanam jika ingin memanen sesuatu. Seorang mama yang adalah ibu peri bagi Sally, jika dia ingin maka mamanya mengadakannya tanpa harus di minta dua kali.

__ADS_1


Ketika ibu peri itu tak lagi bisa memberinya keajaiban maka Sally merasa kecewa dan di bohongi. Membuatnya merasa mamanya tak lagi mencintainya.


"Sayang, jangan menangis begini..." Mytha menatap anaknya itu dengan nanar. Kedua tangannya mencengkeran bahu puterinya itu.


Cukup menyakitkan baginya melihat bagaimana Sally di tertawakan ketika gagal menjelaskan suatu pertanyaan dari dewan direksi terkait ilustrasi kasus setelah pemaparannya.


Sally memang tak bisa menjelaskan dengan benar tapi tetap saja dia tak bisa menerima perlakuan dan tatapan para dewan direksi itu, tawa dan pandangan mereka sangat menyakitkan hati Mytha.


Dan tiga orang yang di anggapnya sebagai musuh-musuhnya itu, Sarah, suaminya dan mertua Sarah, meskipun diam seperti batu dia yakin sedang mengejek Sally dengan tatapan mereka.


"Mama...lakukan sesuatu untukku." Mata boneka milik Sally yang memelas itu, membuat Mytha ingin segera mengeluarkan murkanya.


"Mereka telah mempermainkan kita!" Mytha berucap dalam kegeramannya,


Sally menangis sambil berpegangan pada tangan mamanya.



(Cinta yang terlalu berlebihan, didikan yang tak benar, ambisi yang tak jelas bisa membuat seseorang menjadi terganggu jiwanya...โ˜บ๏ธโ˜บ๏ธ)


I LOVE YOU MY READERS, Yuk yang belum VOTE, please Vote...๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… terimakasih buat cangkir-cangkir kopi dan bunga yang melayang hari ini, kalian the best๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka๐Ÿค—...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....

__ADS_1


__ADS_2