Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EKSTRA PART. APAKAH DOSA JIKA MENCINTAIMU?


__ADS_3

Diah menunduk di sebelah Doddy, sedari mobil itu meluncur di jalanan raya yang ramai itu, Diah tak sepatah katapun membuka suaranya.


"Apa yang dikatakan mama padamu?" Tanya Doddy dengan hati-hati, meski perasaannya hancur tapi dia tetap tak bisa menahan diri untuk bertanya.


Diah tidak menjawab hanya suara isakannya yang tadi tertahan tiba-tiba terdengar meski sekuat tenaga tampaknya Diah berusaha memendamnya, hal itu membuat Doddy merasa seperti di tikam.


"Kenapa kamu menangis? mama mengatakan hal yang kasar padamu?" Tanya Doddy lagi dengan beruntun, dia begitu cemas mamanya telah memperlakukan Diah dengan tidak baik, atau paling tidak mamanya telah menolaknya dengan cara yang halus, tetapi tetapi tetap saja itu pasti menyakiti Diah.


Diah menggeleng kuat-kuat, lalu mengangkat wajahnya menatap pada jalanan yang raya.


"Mamamu adalah perempuan terbaik di dunia ini, aku tak pernah menemukan orang sebijak dia sampai aku bertemu dengannya malam ini. Kamu adalah anak yang paling beruntung, karena Allah menjadikan beliau adalah walimu di dunia ini." Diah mengusap pipinya dengan punggung tangannya, dalam keremangan pantulan cahaya lampu mobil yang berpapasan air matanya berkilau keperakan.


"Tetapi kenapa kamu menangis dari tadi, mama mengatakan apa saja? Dia telah menolakmu? Apakah mama terang-terangan mengatakan bahwa mama tak merestui kita? Apakah dia menyinggung karena...karena mungkin statusmu sebagai janda? Apakah....?"


"Sepertinya, kamu harus mendengarkan orangtuamu." Diah menyela sebelum Doddy melanjutkan pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkannya dengan nada gusar.


"Maksudmu?" Doddy hampir mengerem mobilnya mendadak, mendengar kalimat yang di ucapkan Diah.


"Orangtua adalah yang paling tahu tentang kita, mereka juga tidak akan lelah dalam memberikan nasihat kepada anak agar terhindar dari hal yang buruk. Mama dan papamu juga melakukan hal yang sama, mereka sangat mencintaimu melebihi apapun di dunia ini." Diah berucap tanpa sedikitpun menoleh pada lelaki di sampingnya itu.


"Diah, kamu tidak perlu membela mama dan papa jika mereka tidak sependapat dengan kita. Aku akan berbicara lagi dengan mama dan papa...aku akan membuat mereka mengerti bahwa aku adalah pria dewasa, bukan anak kecil lagi yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik untukku?" Doddy dengan sedikit ragu meraih jemari Diah, seolah ingin memberikannya kekuatan tapi Dia menghindarinya.


"Tak ada yang salah tentang pertanyaan mereka, tak ada yang salah tentang kita...hanya kadang memang kita perlu mendengarkan orang lain. Orang tua selalu punya cara untuk menasehati kita tetapi kita sering kali menutup telinga.

__ADS_1


Setelah hari ini aku menyadari, sebagai anak kita kerap begitu egois.


Mereka hanya bertanya dan ingin memastikan, tetapi sikap perlawanan kita seolah kita pantas menghakimi pendapat mereka. Mereka hanya mengkhawatirkan kita, tidak ada yang salah dengan itu." Diah berusaha menyunggingkan senyum samar, entah mengapa air matanya tetap saja keluar.


"Jika tak ada yang salah lalu mengapa mereka seolah menentang niat suci kita? Apa karena kamu seorang janda, menjadi sandungan untuk memberikan restu? sejelek itukah image perempuan yang pernah gagal berumah tangga? Siapapun pasti tak ingin itu terjadi, apalagi kegagalan itu bukan dari pihakmu, kenapa kamu yang harus menanggungnya? Apakah menjadi janda itu aib? Kamu pernah menikah dan gagal, itu bukan salahmu! Kamu memiliki anak dan bukan perempuan lajang lagi, bukankah itu adalah pilihan hidup? Lalu ketika aku memilihmu, aku merasa mampu menerima apapun itu tentang dirimu.


Diah, apa aku berdosa jika mencintaimu? Apakah memilihmu sebagai orang yang paling ku inginkan adalah kesalahan?" Tak pernah Doddy berbicara sebanyak ini, tapi kata demi kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Tampak kesal dan marah, tapi tak tahu harus melampiaskannya pada siapa.


Diah tak menjawab apapun, dia hanya diam seribu bahasa karena Diah sendiri tak punya jawaban untuk semua pertanyaan Doddy.


Mereka terdiam, hening begitu lama, melewati dua lampu merah, mereka tetap tak saling bicara. Sepertinya mereka larut dalam fikirannya masing-masing.


Saat memasuki halaman apartemen, Doddy menghentikan mobilnya di area parkiran. Dan berhenti di sana, Doddy tak menoleh pada Diah, tetapi ketika Diah mencoba membuka pintu mobil hendak keluar, pintu itu di kunci oleh Doddy.


"Kita harus bicara sebentar lagi." Kata Doddy dengan nada datar.


Diah menoleh pada Doddy tangannya masih di gagang pintu, tertegun pada laki-laki yang kini menjadi terlihat dingin dan marah dalam pias wajahnya yang mendadak suram.


"Aku tak bisa menerima, jika mereka menolakmu hanya karena statusmu, karena yang lebih berhak menilaimu dari sisi itu adalah aku yang akan hidup denganmu bukan mereka atau orang lain." Suara Doddy begitu Datar.


"Apa yang bisa kamu lakukan? Kata-kata Orangtua adalah hal yang pertama untuk di dengar. Menikah bukan hanya tentang aku dan kamu, menikah adalah tentang penerimaan dari kedua belah pihak termasuk keluarganya. Jika kamu adalah aku, apakah kamu akan siap dengan di abaikan setelah menikah? Ataukah menurutmu lebih mudah menerima sakitnya penolakan di awal, menerimanya dengan kesadaran penuh bahwa mungkin kita bukan pasangan yang di harapkan. Yang manakah yang lebih sakit?" Diah sekarang memalingkan tubuhnya menghadap Doddy yang seperti membeku di depan setiran.


"Aku tidak ingin kamu merasa sakit terluka!"

__ADS_1


"Jika kami tidak ingin aku terluka maka turutilah semua permintaan orang tuamu."


"Bagaimana aku bisa menuruti mereka kalau ini soal dirimu, soal orang yang padanya kupercayakan masa depanku. Bagaimana mungkin kamu memintaku begitu?"


Diah menggigit bibirnya, tangannya gemetar meremas tas di pangkuannya, mata itu berkilat lagi dalam keremangan.


"Aku tidak apa-apa jika itu untuk membuatmu tetap menjadi baik di mata semua orang." Kalimat itu terdengar di ucapkan Diah dengan gemetar, seribu kata sepertinya ingin di ucapkannya pada Doddy tapi dia hanya berusaha sekuat tenaga menahannya.


"Nasihat adalah bentuk kasih sayang tak terhingga yang diberikan orangtua kita. Mungkin kita akan menyepelekan beberapa nasihat orangtua, tapi kelak kamu akan sadar bahwa kata-kata mereka akan menuntunmu menuju kebahagiaan. Ingatlah aku jika kamu sampai pada titik itu, dimana kamu bersyukur lebih mendengarkan orangtuamu daripada dirimu sendiri." Diah membuang wajahnya, tetapi Doddy meraih tangannya, dia yang selalu hati-hati dan berusaha tidak menyentuh Diah, sekarang menarik jemari Diah dengan gerakan yang tegas.


"Diah..." Doddy menatap Diah dengan tajam, menggengam tangan Diah yang mengepal kuat.


"Apakah aku salah jika aku sekarang meragukan bahwa kamu memiliki perasaan yang sama denganku? Saat aku mendengarmu berkata sepasrah ini, aku tak yakin kamu juga mencintaiku sebesar aku mencintaimu. Kenapa aku...aku merasa bahwa aku hanya sedang berjuang sendiri..."



(Untuk pembicaraan mama Doddy dengan Diah akan othor UP di salah satu babnya yah, buat yang penasaran. Jangan lari dari novel ini, yaaa...nanti gak kebagian undangan VIP pernikahan Doddy dg Diah, lho๐Ÿ˜…)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐Ÿค— i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

__ADS_1


__ADS_2