
Bram membalikkan badannya bersiap untuk keluar ketika sebuah tangan mungil menahannya.
"Papa..."
Dia berpaling menatap seraut wajah polos milik Bella yang menatap padanya sambil memegang pergelangan tangannya.
"Bella..." Bram berucap dengan suara gemetar.
"Papa datang?" Bella menyambut dengan senyumnya. Dalam sebulan sekali, Bram memang bertemu dengan teratur dengan Bella. Meskipun Bram tidak bertemu Diah, karena pada hari yang di sepakati Bram menjemput Bella di rumah mantan mertuanya, orang tua Diah.
Dia bebas membawa Bella ke rumah orangtuanya ataupun jalan-jalan meski sekedar membawa anaknya itu ke toko buku dan makan berdua di sebuah resto serta membeli ek krim.
Ya, Diah adalah perempuan yang bijak dan adil, meskipun dia tahu tidak bisa lagi membesarkan Bella dalam rumah tangga yang utuh seperti keluarga yang lain pada umumnya, tapi dia tak ingin Bella kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Diah memberikan Bram kesempatan untuk tetap menunjukkan dirinya sebagai ayah yang baik bagi Bella, Bram boleh menunaikan tugasnya dalam porsi yang sama melimpahkan anak mereka dengan cinta dan perhatian demi tumbuh kembang Bella dan tentu saja,
"Putusnya perkawinan, bukan berarti putus antara hubungan orang tua dan anak. Tanggung jawab terhadap kehidupan, kesejahteraan dan kecukupan kasih sayang Bella tetap melekat kepada kita berdua selaku orang tuanya meski sampai kapanpun. Kita berdua mungkin tak lagi bisa menjadi orangtua yang utuh baginya tapi kita bisa memberikan kasih sayang bersama-sama dengan cara kita. Ahlak dan karakter Bella di tentukan dengan bagaimana cara kita mengasihinya. Kamu tetap ayah Bella meski sampai akhirat sekalipun, kamu boleh bertemu Bella setiap akhir bulan saat weekend. โ ujar Diah lewat telpon berbulan-bulan yang lewat setelah mereka bercerai. Meski Diah sangat menjaga jarak dengannya dengan tidak ingin bertemu langsung secara sengaja dengan Bram, dia memberi ruang bagi Bram mengasuh Bella juga, bersama-sama.
Sikap Diah yang tidak egois dan mengutamakan perkembangan Bella membuatnya benar-benar terenyuh, meski apapun yang telah di lakukannya pada Diah, perempuan yang pernah begitu mencintainya itu tidak pernah memikirkan perasaannya sendiri. Dia mengesampingkan kemarahan dan kekecewaannya pada Bram demi anak mereka.
"Bella tidak boleh membencimu, ayahnya, hanya karena kesalahan kita yang tak bisa memberinya keluarga yang utuh. Dia adalah satu-satunya hal terbaik dari pernikahan kita. Jangan biarkan dia merasa kekurangan, meski hubungan kita sebagai orangtua tak lagi sempurna." Bram sebagai laki-laki tak pernah menangis sampai tersedu, saat Diah mengucapkan itu padanya meski hanya lewat telpon saja.
__ADS_1
Dia benar-benar telah menyia-nyiakan perempuan terbaik yang pernah menyerahkan hidupnya padanya.
"Papa, kenapa melamun begitu? Papa tidak mau bertemu mama?" Tanya Bella kemudian, dalam suara polos yang manja.
"Hari ini mama jadi princess, bukankah mama cantik sekali? Papa harus melihat mama dan om Doddy. Kata mama, hari ini mereka menikah, dan mama akan dijaga om Doddy seperti papa pernah menjaga mama." Oceh Bella sambil menggoyang-goyang tangan sang ayah. Anak berusia hampir tujuh tahun itu, memahami arti pernikahan kedua sang mama dengan caranya sendiri.
"Sayang..." Lutut Bram serasa lemas, dia berjongkok menatap Bella dengan berusaha menahan air matanya.
"Papa sedang terburu-buru, sepertinya papa tak bisa bertemu dengan mama." Bram memegang kedua bahu kecil anaknya yang menatapnya dengan mata berkedip.
"Papa mau kemana?" Tanya Bella dengan polos, piasnya tampak keberatan.
"Uni Izah?" Mata Bella segera melotot pada sang ayah.
"Bella juga mau bertemu uni Izah dan kak Tito!" Mata Bella berpendar dengan semangat.
"A...nanti papa akan tanyakan mamamu dulu, apakah besok papa boleh menjemputmu. Tapi...hari ini kami harus bersama mamamu, dia akan sedih jika Bella tidak menemaninya sebagai princess." Bram menjadi salah tingkah.
Dia pernah sekali membawa Bella untuk mengantarkan makanan pada anak-anak yang sedang belajar mengaji di mesjid, di mana dulu pertama kali dia terdampar dalam sakit hati setelah di campakkan Sally.
Bram memang selalu mengunjungi mesjid itu secara rutin, setelahnya.
__ADS_1
Di situ dia bertemu pak Bahri yang baik hati, yang membimbingnya perlahan untuk kembali dalam keinsyafan. Dan dia mengenal Azizah, putri pak Bahri, penjaga mesjid itu, seorang perempuan muda berhijab dengan seorang putera bernama Tito, anak laki-laki berusia delapan tahun yang mahir mengaji.
Bella sangat suka bertemu dengan Tito, dia mengatakan, Tito sangat mirip dengan kak Beni, kakaknya yang telah tiada.
"Sampaikan pada Mama, papa mengucapkan selamat untuknya. Semoga mama selalu bahagia bersama om Doddy." Suara Bram bergetar, sambil menepuk pipi Bella lembut.
"Kenapa kamu tidak katakan sendiri padanya?" Sebuah suara berat membuat Bram mendonggak, karena terkejut.
(Maafkan othor beberapa hari ini sedikit sibuk di dunia nyata, jadi gak sempat menjenguk dunia maya, sehingga lanjutannya lambat UP๐๐
Ekstra part Doddy dan Diah hampir selesai yah...nantikan lanjutannya dalam beberapa episode lagi.
Jangan lupa Votenya selalu untuk novel ini, bagi fans pasangan Diah dan Doddy๐ค๐ค๐ค)
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1