
(Area agak panas, bawah umur di sarankan skip☺️)
Raka menyeringai melihat pemandangan itu, istrinya ini benar-benar mempunyai kemolekan yang tiada duanya.
Dengan perlahan di seretnya telunjuk pada leher yang tak bercacat itu, berusaha merasakan setiap jengkal kelembutan di atas kulit lembut itu.
Raka bahkan bingung sendiri, sampai hari ini tak pernah sekalipun dia merasa bosan untuk menikmati keindahan tubuh istrinya itu.
Sarah mendesah, saat Raka melakukannya, darahnya terasa mengalir lebih cepat dari ujung jari kaki sampai ubun-ubunnya.
"Sayang..."Sarah menghentikan telunjuk Raka saat sampai ujung bibirnya lalu dengan penuh hasrat di kul*mnya seperti menikmati sebuah permen lollipop yang manis.
Raka tertegun, belum pernah merasakan sensasi sedemikian kuatnya, Sarah sungguh penuh kejutan.
Mata Sarah yang sayu melirik kepada Raka, dia tahu suaminya itu sekarang sedang begitu bern*fsu melaksanakan hajatnya. Lirikan nakal Sarah semakin membuat Raka gemas.
Raka membungkuk mencapai leher Sarah menjelajahinya dengan ciuman yang basah.
Erangan Sarah membuat Raka lupa daratan, gerakan Raka semakin liar tak terkendali.
Entah siapa yang memulai, Sarah sudah terbaring di atas tempat tidur dalam posisi polos, lutut tertekuk dan tangan yang menjulur sedemikian rupa di atas kepala, menekuk terkulai begitu mengundang.
Raka menindih Sarah dan melepaskan pakaiannya sendiri seperti kerasukan, dia di ambang kemabukan ingin menghempaskan gairah yang membuncah.
Sarah benar-benar pasrah sudah, Raka hendak melakukan apapun dia tak akan protes.
Ketika Raka melorotkan celana pendeknya dengan tergesa, tiba-tiba intercom wireless berbunyi. Sarah dan Raka melotot bersamaan.
"Kamu punya janji...?"Sarah bertanya dengan muka merah.
Raka menggelengkan kepalanya dengan alis mengkerut.
"Siapa yang bertamu malam-malam begini?" Sarah menggumam, mendorong tubuh Raka yang seperti laba-laba raksasa di atas tubuhnya lalu dengan cepat menarik selimut menutupi tubuh polosnya. Rasanya darah yang sudah sampai kepalanya tadi mengalir turun seperti air terjun.
Gairahnya yang menyala-nyala seperti kobaran api seperti di tiup angin laut. Sungguh perasaan yang sangat menjengkelkan.
"Ah, itu paling-paling Dea. Sudahlah, acuhkan saja palingan nanti dia nelpon, anggap kita lagi tak ada di rumah." Raka berucap acuh sambil menarik selimut dari badan Sarah.
Dia masih berhasrat untuk menuntaskan semua rencana awal, mereka sudah berada di tengah permainan, untuk mundur benar-benar tanggung.
"Pak Amin tahu kita ada di dalam."
"Stt...biar saja!"
__ADS_1
"Tapi..."Sarah mencekal pergelangan tangan Raka.
"Tidak ada tapi-tapian..."Raka menyambar dengan kesal. Sementara intercom berbunyi lagi.
Sarah sudah kehilangan gairahnya, suara intercom yang menjerit-jerit itu memenuhi kepalanya. Sementara Raka benar-benar tak perduli. Dia sudah terlanjur merasakan kehidupan pada bagian tersembunyinya yang memaksanya untuk melanjutkan perjuangan.
Intercom itu akhirnya diam tak lagi mengeluarkan suara berisik. Raka menyeringai dengan penuh kemenangan.
"Tuh, kan...dia bosan juga bunyi sendiri." Raka terkekeh. Tapi di detik berikutnya, HP Raka menggelepar di atas meja di sebelah tempat tidur. Bergetar memberitahukan panggilan.
Raka melongok dengan cuek, tangannya masih di atas dada Sarah. Tapi kemudian Raka seperti orang kelojotan. Meloncat dari atas tempat tidur.
Layar HP memberitahukan panggilan Video Call dari mama!
"Astaga, mama ini kenapa sih, nelpon sembarang waktu. Tidak tahu anaknya lagi sibuk, menyelesaikan proyek cucu untuknya!" Raka menggerutu dengan kesal di sambut tawa Sarah yang cekikikan melihat tingkah Raka.
Panggilan pertama dilewatkan Raka, berharap mamanya tidak melanjutkan panggilan supaya perang tertunda itu bisa segera di lanjutkan.
Tapi sepertinya, mama pantang menyerah, panggilan berlanjut membuat Raka lemas, kalau seperti ini mau tidak mau telpon itu harus di angkat.
Raka mengenakan baju kaosnya secepat kilat, meski bawahannya masih hanya mengenakan celana dal*m sementara Sarah seperti kura-kura yang masuk ke cangkang, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sampai kepala.
"Hallo, Ma..." Raka menyambut panggilan sambil merapikan rambutnya yang berantakan karena sempat di acak-acak Sarah saat kepalanya menyusup di belahan dada istrinya itu tadi.
"Di rumah." Jawab Raka pendek.
"Rumah mana?"
"Apartemen Sarah."
"Mama di bawah dari tadi sama Dea kenapa tidak di sahut?"
Raka melongo sesaat, seperti orang yang kepergok sedang mencuri sesuatu.
"Mama di bawah?" Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mendengar kalimat itu, Sarah menggeloyor dengan selimutnya, perlahan turun dari tempat tidur lewat belakang punggung Raka. Lalu mengambil handuk yang tergeletak di lantai, setengah berjinjit dengan gugup menuju lemari.
Dia memang harus segera berpakaian.
"Ini, pak Security dari tadi calling ke atas, tidak di jawab. Masa jam tujuh, kalian sudah tidur."Mama menunjukkan wajah kesalnya yang tidak serius.
"Okey, ma...naik saja! Raka ada di atas." Raka tidak mau memperpanjang acara debat itu, karena akan membuat mama semakin banyak bertanya panjang lebar.
__ADS_1
Raka menutup telpon dan melemparnya sembarangan ke atas tempat tidur.
Lalu meraih celana pendek yang tersangkut di pinggir ranjang. Mengenakannya dengan tergesa dan berjalan menuju pintu bersamaan dengan bel yang berbunyi.
Raka membuka pintu dengan senyum selebar daun pintu yang terbuka.
"Hai, mama. Selamat malam, mama sayang. Tumben malam-malam ke mari?" Raka memeluk dan mencium pipi mamanya, sementara matanya melotot tak jelas pada Dea yang berdiri di belakang mama sambil membawa sebuah tas.
Ini pertama kalinya mama datang ke apartemen Sarah, dan tentunya Dea lah pelaku utama yang membawa mama kemari.
Bukan masalah dikunjunginya yang membuat Raka mangkel, tapi kedatangan pada saat yang tak tepat ini penyebabnya.
"Tidak ada larangan tuh, mama datang menjenguk anak-anak mama." Si mama menjawab acuh, ternyata gaya acuh ini di turunkan kepada Raka dari mama.
"Hai, ma..."Sarah muncul dari belakang Raka dengan dress katun panjang di bawah lutut. Lalu memeluk dan mencium pipi kiri kanan mertuanya yang baik hati itu.
"Papa tidak ikut?" Sarah celingukan.
"Papamu ada meeting dengan kolega, jadi mama kesepian di rumah."Jawab mama.
"Sayang, tadi mama masak makanan kesukaan Raka, mama mau makan malam di sini, jadi meminta Dea mengantar mama." Mama memberi isyarat kepada asisten Raka yang manis itu untuk menyerahkan tas di tangannya, yang berisi rantang makanan.
"Ah, jadi merepotkan mama. Kan mama bisa telpon biar Sarah sama Raka bisa makan di rumah mama." Sarah menyambut tas dari tangan Dea.
"Mama sudah kangen dengan kalian, seminggu ini tidak pernah muncul ke rumah." Mama mengalihkan pandang kepada Raka yang masih berdiri di depannya dengan senyum aneh seperti di lem.
"Itu ma, Sarah sibuknya melebihi menteri keuangan. Jadi rencana menjenguk mama dan papanya selalu tertunda." Raka menggaruk kepalanya dengan salah tingkah di depan mamanya.
"Sarah siapkan makan malamnya dulu." Sarah membawa tas di tangannya menuju meja makan.
"Ayo ma, kita duduk dulu..."Raka menggandeng tangan mamanya,
"Tunggu dulu." Mama mengernyitkan dahi, matanya terpicing ke arah Raka.
"Kenapa, ma?" Raka menghentikan langkahnya, bingung melihat tatapan heran sang mama.
"Kenapa bajumu terbalik begitu?"
Raka gelagapan salah tingkah tingkah di depan mama dengan wajah merah padam, seperti maling yang baru saja tertangkap basah.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu lho🙏...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
__ADS_1
...Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP🙏...