
"Sayang, jujurlah padaku...apakah sebenarnya kamu keberatan jika aku berada di posisi ini?" Sarah mendonggak mencari wajah suaminya itu denagan raut yang bimbang sekaligus penasaran
"Aku tak keberatan sedikitpun, sayang...aku bahkan ingin mendukungmu mencapai apapun yang ingin kamu raih jika itu membuatmu bahagia dan puas." Jawab Raka lembut.
"Hanya saja, seorang suami tetaplah seorang laki-laki yang dalam egonya selalu ingin merasa dibutuhkan dan di anggap superhero dalam keluarganya. Seorang suami adalah mahluk yang paling sombong, yang tak pernah ingin diremehkan oleh istrinya dalam hal apapun. Jadi setinggi apapun seorang istri itu berdiri, jangan pernah berusaha merendahkan suamimu dengan kelebihanmu, karena jika itu terjadi, kita mungkin akan sulit untuk menemukan kesepahaman." Kalimat itu mengalir lembut, tanpa menggurui tapi lebih pada sebuah permintaan.
"Aku berjanji sayang, tetap akan berusaha menjalankan kewajibanku seperti semestinya." Bisik Sarah dengan suaranya yang bening.
Raka melingkarkan tangannya dipinggang Sarah lebih erat.
"Tenang saja sayang...aku akan mengatasi semuanya bersamamu, semua terserah kepadamu saja mau baiknya bagaimana, aku tidak akan mempermasalahkan apa yang menjadi keputusanmu. Kamu memindahkan kantor ini kerumah kita juga aku oke saja." Raka berucap sambil cengengesan.
"Terimakasih sayang..."Sarah memeluk lengan Raka yang masih memeluknya dari belakang punggungnya itu.
"Secara pekerjaan, aku yang akan mengerjakan semuanya...tapi nama kepemilikan tetap menggunakan namamu, untuk menghargai keinginan papamu. Fokus saja kepada Baby Rae...jabatan ini jangan membuatmu pusing."
Raka mencium tengkuk sang istri dengan gemas.
"Untuk hal-hal penting yang harus melibatkanmu, kita bisa diskusikan di atas ranjang."Raka terkekeh sambil menyusupkan kepalanya di balik rambut Sarah.
Sarah menggeliat geli, ciuman Raka di tengkuknya membuatnya menggelinjang.
__ADS_1
"Hush...ini kantor." Ucap Sarah setengah berbisik.
"Ini kantor pribadimu sekarang, tidak ada yang melarang, kita bermesraan di sini."
"Sayaaaang, kamu membuat dandananku berantakan."
"Kamu tidak dandan saja, si kukuk meronta melihatnya apalagi kamu dandan cantik begini? Salah siapa?"
"Salah si kukuk matanya suka melototin orang."
"Sayang, kukuk ini tidak pernah sekolah, cuma tahu jika liat kamu, maunya pulang ke sarang."
"Alasan..." Sarah berbalik dan mengalungkan tangannya di leher Raka.
"Ada apa?" Tanya Raka mengerutkan keningnya. Urung berusaha menciumi istrinya itu.
"Menurutmu papa sekarang baik-baik saja?"
Tanya Sarah dengan raut sedikit resah.
"Dia baik-baik saja...dan mungkin sekarang sedang tidur nyenyak di dalam pesawat menuju
__ADS_1
Kanada." Jawab Raka sambil tersenyum.
"Akhir tahun ini, kita dan Rae akan ke sana untuk mengunjungi papa..." Raka menepuk lembut punggung sang istri.
Papa Sarah memang telah memutuskan untuk sementara tinggal di Kanada, dalam masa pensiunnya. Dia memilih tinggal di ranch milik ayah kandung Sarah. Selain untuk menenangkan diri pasca perceraian dan semua kejadian yang di alaminya, dia ingin menjenguk dan membenahi kediaman adiknya itu.
Winarta ternyata meninggalkan sebuah rumah dan guest ranch yang memperkerjakan beberapa karyawan. Selama di tinggal oleh Winarta dan tak pernah kembali karena dia meninggal, guest ranch ini di kelola oleh manejernya. Guest ranch yang asri ini telah di wariskan oleh Winarta atas nama Sarah sebagai anaknya, melalui perantaraan Wijaya.
Peternakan yang di jadikan tempat berkunjung wisatawan itu telah di bangun Winarta hampir 20 tahun dan Sarah berjanji akan terus menjaga warisan sang ayah, tempatnya menyembunyikan diri selama ini.
"Kamu berjanji?" Sarah mendonggakkan wajahnya, sekarang wajah itu berbinar kembali.
"Ya, kita akan berlibur di Kanada tahun ini membawa Rae, dia sudah cukup besar untuk jalan-jalan ke luar negeri. Dan kalau perlu kita bulan madu di sana, kita kan' belum pernah bulan madu?"
"Bulan madu? Bulan madu apanya, kita sudah punya ekor undur-undurmu itu." Raut wajah Sarah yang bersemburat tampak malu-malu mendengar rencana sang suami.
"Eh, bulan madu malah lebih asyik saat sudah punya anak. Siapa tau Rae beruntung punya adik bayi lagi." Tukas Raka.
Mata Sarah bersinar cerah, rasanya menyenangkan mendengar semua rencana suaminya itu. Dia tak sabar bertemu akhir tahun, berbulan madu kedua dengan sang suami di Kanada.
__ADS_1