
Tidak mau berlama-lama, Papah mengemudikan mobilnya dengan laju yang sangat cepat. Bahkan Mamah sampai memperingati Papah, tetapi tidak digubris olehnya. Papah semakin fokus menatap jalanan. Sedangkan penumpang yang lain sangat gelisah berusaha untuk mencari pegangan.
Setibanya di rumah sakit tempat Pak Angga di rawat, penumpang dan supir dari mobil silver segera keluar menapakan kakinya di atas lahan rumah sakit. Mamah yang masih syok terlihat sangat pucat. Bahkan sesekali mual-mual sepeti hendak mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
Huekk..huekk...
“Mah, Mamah gak papa?”
“Enggak sayang. Mamah cuma pusing aja.”
Huekk..huekk...
“Maafkan Papah! Tadi Papah khilaf sampai-sampai lupa kepada kalian. Papah cuma berpikir caranya agar Angel bisa segera membantu temannya itu.”
“Tidak apa-apa, Pah.”
Aku berusaha untuk membantu Mamah mengeluarkan isi perutnya. Ketika Mamah berlari menuju kamar mandi, aku pun mengikutinya. Dan benarlah, Mamah mengeluarkan semua isi perutnya seperti tidak ada lagi yang tersisa.
“Pusing gak, Mah?”
“Enggak sayang. Mamah udah lega.”
“Syukurlah. Angel takut Mamah kenapa-kenapa.”
“Mungkin Mamah mabuk perjalanan. Karena belum pernah Papah membawa mobil seperti sedang kerasukan kayak tadi, sayang.”
“Kita periksa kesehatan Mamah aja yuk, Mah!”
“Tidak usah. Udah baikan kok. Ya udah kita balik ke Papah, yuk! Kasihan Papah pasti menunggu sendirian.”
“Heem.”
Sepertinya Mamah sudah tidak apa. Mukanya juga tidak lagi pucat. Juga tidak merasa mual dan muntah-muntah lagi. Kami keluar dari dalam toilet dan menuju tempat terakhir kami meninggalkan. Papah sangat setia. Ia masih menanti dan berdiri di posisi awal. Setelah melihat kemunculan kami, Papah langsung menyambutnya.
“Angel, kamu gak papa kan, Nak?”
“Enggak, Pah. Mungkin Mamah yang masih lemas.”
“Ya udah kamu masuk duluan aja, ya! Nanti kita nyusul. Papah mau mengajak Mamah untuk mencari sesuatu yang dapat menghangatkan badannya.”
“Oke, Pah.”
Saat ini terpaksa kami harus berpisah. Berjalan dengan arah yang berbeda. Papah menemani Mamah. Sedangkan aku seorang diri memasuki rumah sakit terbesar di kota ini. Tapi tidak apa. Ini bukan pertama kalinya aku datang kesini.
“Kak Angel...”
“Hallo Rendy...”
“Kakak darimana saja? Rendy kangen sama Kakak.”
“Maaf ya, sayang! Kakak ada urusan sebentar. Nanti kalau urusan Kak Angel sudah selesai, kita main lagi. Oke?”
Rendy menangis dengan lepas di pelukanku. Aku berusaha untuk membuat dia tenang dengan cara mengelus-elus punggungnya. Tidak lama seorang perawat datang menghampiri kami.
“Mbak Angel?”
__ADS_1
“Saya, Sus.”
“Apakah sudah siap untuk mendonorkan darahnya sekarang, Mbak?”
“Iya. Angel siap.”
“Baiklah. Silakan ikuti saya, Mbak!”
Sebelum mengikuti langkah perawat, aku harus menyelesaikan beberapa tugas. Salah satunya yaitu dengan memberikan Rendy kepada Bi Rani. Hal tersebut tidak mudah. Rendy baru mau di bujuk dengan sesuatu yang manis seperti cokelat atau permen.
“Rendy tunggu disini ya! Jangan nakal. Mengerti?”
“Siap, Kak. Rendy mengerti.”
“Baguslah. Anak baik dan pintar pula.”
Cup!
Perawat masih setia menunggu agar aku bisa ikut bersamanya. Sedangkan Bi Rani tersenyum menyaksikan kedekatan aku dan Rendy. Bahkan sebelum aku meninggalkan Rendy, terlebih dahulu aku memberikan kecupan di kening miliknya.
Aku tidak peduli meskpiun dilihat oleh orang banyak. Serta mungkin mereka bertanya-tanya tentang status aku dan Rendy. Entah itu adiknya? Apakah dia anaknya? Kurang lebih seperti itu yang dapat aku dengar.
“Siang Mbak Angel...”
“Siang, Dok. Sebelumnya Angel ingin meminta maaf atas keterlambatan Angel hari ini. Padahal Angel sudah janji akan mendonorkan secepatnya. Tapi nyatanya Angel mengingkari jani tersebut.”
“Tidak apa, Mbak. Masih tersisa beberapa menit lagi sampai saya pindah ke ruangan saya untuk merawat pasien rawat jalan. Yang terpenting telatnya tidak sampai 1 X 24 jam aja, Mbak.”
“Syukurlah.”
Prosedur pendonoran darah dilakukan sesuai dengan urutannya. Lagi lagi aku harus merasakan ngilu ketika jarum menembus kulitku. Memang jarumnya kecil dan juga tipis, tetapi ngilunya akan membekas dan tidak bisa hilang dengan mudah.
Cukup lama aku hanya terbaring sambil menyaksikan kantong yang berisi darah. Perlahan kantong tersebut mulai terisi penuh. Aku tidak bisa melakukan gerakan apapun. Bahkan untuk memainkan ponsel saja tidak mampu. Apalagi ada perawat yang mengawasi pergerakanku. Jika sampai aku ketahuan bergerak, maka dia akan langsung menegur dan memberikan peringatan.
“Sudah selesai, Mbak. Ini makanan untuk Mbak konsumsi setelah proses donor darah selesai.”
“Ini untuk apa, Sus?”
“Itu untuk menjaga sistem kekebalan tubuh Mbak. Terdapat suplemen juga agar Mbak tidak lemas. Tolong di konsumsi ya, Mbak! Sekurang-kurangnya sekitar satu pekan ke depan.”
“Baik, Sus.”
Dengan sangat hati-hati aku melangkahkan kaki. Dengan kantong kecil berisi sesuatu pemberian dari suster berada di tangan kananku. Ketika telah berhasil membuka gagang pintu dan membukanya dengan lebar, aku telah menemukan kedua orang tuaku sedang duduk sambil menatap ruangan tempat aku masuk sebelumnya.
“Mah, Pah...”
“Angel...”
Setelah mengetahui bahwa aku telah keluar, Papah dan Mamah segera menghampiriku. Mereka membawa aku untuk duduk di kursi ruang tunggu.
“Kamu lemas, ya?”
“Ini diminum dulu sayang, agar tenaga kamu kembali pulih.”
“Makasih, Mah.”
__ADS_1
Mamah menolongku dengan membuka kantong yang aku bawa. Kemudian memberikan susu kotak kepadaku. Aku pun meminumnya dengan sangat lahap, dengan harapan aku bisa kembali menemukan tenagaku.
“Oh iya Nak, Papah ingin menjenguk teman kamu yang membutuhkan darah itu. Jika nanti darahnya masih kurang, Papah bersedia untuk mendonorkan darah. Kebetulan golongan darah kita kan sama.”
“Hah? Oh itu, iy-ya Pah. Nanti kita ketemu sama dia, ya. Kata dokter untuk sekarang tidak boleh diganggu dulu, Pah. Mungkin setelah proses donor darahnya selesai, baru kita bisa menjenguk.”
“Oh iya Papah lupa. Mungkin sekarang dia lagi menerima darah dari kamu, ya.”
“Heem.”
Aku berharap Papah melupakan keinginannya untuk bertemu orang yang menerima donor darahku, yaitu Pak Angga. Aku takut Papah akan kembali marah karena aku masih berhubungan dengan Pak Angga.
Aku tidak mengerti kenapa Papah sangat membenci Pak Angga. Padahal sudah sangat jelas jika kata yang keluar dari mulut Frans hanyalah dusta. Tetapi Papah berhasil termakan hasutan tipu daya Frans.
“Kak Angel...”
Dari arah kejauhan terlihat anak kecil yang berlari sambil memanggil namaku. Dibelakangnya terdapat wanita tua yang mengikuti. Tangan mungil anak kecil itu menggenggam erat jemariku.
“Kakak sudah kembali? Rendy menunggu Kakak dari tadi.”
“Hah? Eu, oh iya Kakak baru saja keluar.”
“Rasanya sakit gak, Kak?”
“Hmm eu-enggak kok. Tidak sakit.”
“Kalau Kakak perlu bantuan bilang sama Rendy ya! Rendy akan membantu Kak Angel.”
Aku tersenyum kaku kepada Rendy. Bahkan aku menjawab pertanyaan dari Rendy dengan terbata-bata. Aku takut jika Papah mengetahui kalau Rendy ini anak dari Pak Angga. Aku takut jika Papah juga akan membenci Rendy. Padahal Rendy tidak tahu apa-apa.
“Hallo sayang, nama kamu siapa? Lucu banget sih.”
“Hallo om. Nama aku Rendy.”
“Rendy, nama yang bagus. Persis seperti muka kamu yang tampan. Usia kamu berapa tahun, Nak?”
“Rendy baru 3 tahun, om.”
“Masih kecil sekali. Tapi om sudah bisa menebak kalau Rendy akan tumbuh menjadi anak yang cerdas. Iya gak, Mah?”
“Iya Pah. Gaya berbicaranya sama seperti Angel waktu kecil ya, Pah.”
“Heem. Om jadi penasaran kamu anaknya siapa sih?”
Dag dig dug jantungku semakin cepat. Apa yang harus aku jawab kepada Papah? Apakah mungkin ini waktunya untuk aku mengungkap hubungan aku dengan Pak Angga? Apakah Papah akan menerima? Bagaimana jika sebaliknya? Papah semakin menentang hubungan kami.
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏