
Langkah kaki yang semakin dipercepat. Serta detak jantung yang tidak karuan. Hati yang sudah resah. Ketakutan menghampiri jika mereka bertanya sesuatu yang tidak bisa aku jawab. Aku melihat jam di tangan. Sudah 30 menit berlalu. Dan aku masih belum sampai di tempat tujuan.
Dred..dred..dred...
“Hallo.”
“Angel, Papah sudah di bawah. Kamu dimana, Nak?”
“Angel lagi di perjalanan, Pah. Sebentar lagi sampai.”
Tut..tut..tut
Sebelum Papah bertanya lebih banyak lagi, lebih baik aku memutuskan panggilan tersebut. Kegelisahan semakin menyelimutiku. Pikiranku terbagi menjadi beberapa bagian. Memikirkan kondisi Pak Angga, dan juga memikirkan kedua orang tuaku.
“Papah...”
“Mamah...”
Setelah ojek online yang mengantarku tiba di tempat tujuan, aku melihat dua orang disamping mobil silvernya. Dengan berlari kecil aku segera menghampiri mereka dan memeluknya secara bergantian. Begitupun dengan mereka menyambut kehadiran diriku dengan sangat ramah.
“Kamu dari mana, Nak?”
“Eu Angel habis menemani teman Angel yang di rawat di rumah sakit, Pah.”
“Jadi dari kemarin kamu enggak pulang.”
“Hehe iya, Mah.”
“Emang teman kamu sakit apa sih?”
“Hah? Eu gak papa kok, Pah. Kata dokter cuma kecapekan aja. Ya udah ayo masuk Pah, Mah!”
Papah dan Mamah mengikuti langkah kakiku menuju kamar kost-an. Ini bukan pertama kalinya mereka kesini. Jadi sudah tidak aneh jika melihat kamarku yang sangat berantakan. Dan dengan sabarnya Mamah merapikan dan membereskan barang-barang yang berceceran.
Dred..dred..dred..
“Pah, Mah, Angel jawab dulu panggilannya.”
“Oh iya, silakan!”
Ketika ponsel bergetar, dan aku melihat nama yang tertera di layar, aku segera meminta ijin untuk menjauh dan menjawab panggilan tersebut. Tidak mungkin aku menjawabnya di dekat mereka. Bagaimana nantinya jika mereka tahu apa yang menjadi topik pembicaraan kami. Aku belum siap untuk mencari alasannya.
Ketika posisi telah cukup jauh dari Papah dan Mamah, aku segera mengangkat panggilan yang masuk dari pihak rumah sakit dengan suara sangat lirih.
“Mbak ditunggu oleh dokter untuk segera melakukan donor darah sekarang.”
“Sekarang, Sus?”
“Iya Mbak. Agar pasien bisa pulih secepatnya, maka donor darah pun harus segera dilangsungkan.”
“Baik Sus. Saya akan segera kesana.”
Panggilan telepon telah tertutup. Tetapi aku masih enggan kembali mendekati Papah dan Mamah. Pikiranku berjalan-jalan entah kemana. Memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa mendonorkan darah hari ini juga.
Batinku menjerit, “Argh, bagaimana ini? Aku tidak mungkin terus terang bahwa aku akan mendonorkan darah untuk Pak Angga, sedangkan Papah masih sangat tidak menyukai Pak Angga. Tetapi di lain sisi Pak Angga harus segera mendapatkan darah itu. Hanya golongan darah aku yang cocok. Dan jika mencari yang lain harus membutuhkan waktu yang lama. Aku tidak mau melihat Pak Angga tersakiti terlalu lama.”
“Angel...”
“Angel..."
__ADS_1
“Eh iya Mah.”
“Ayo sini masuk! Kita makan dulu.”
“Iy-iya Mah.”
Teriakan berulang kali yang berasal dari dalam ruangan memecahkan lamunanku. Sebelum mereka curiga hal apa yang membuat aku gelisah, lebih baik aku segera menghampiri mereka. Tentunya dengan ekspresi yang menunjukan bahwa semuanya baik-baik saja, tanpa beban apapun.
“Waahhh makanan kesukaan Angel.”
“Iya dong. Mamah sengaja masak yang banyak agar kamu bisa makan sepuasnya.”
“Makasih Mamah. Pokoknya Mamah adalah ibu terbaik di dunia ini.”
“Kamu ini berlebihan deh kalau muji Mamah.”
“Angel serius Mah. Hehe.”
“Jadi Mamah aja nih yang terbaik. Papah enggak?”
“Enggak dong. Papah juga Papah terbaik yang ada di dunia ini.”
“Hahaha.”
Kami mengakhiri perbincangan dengan gelak tawa. Kemudian Mamah mengambilkan nasi beserta lauk pauknya untuk aku dan Papah. Kami menikmati makan siang sambil berbincang topik pembahasan yang santai. Tetapi ketika aku mengingat Pak Angga, raut wajahku ikut berubah menjadi muram.
Rupanya tawaku hanya untuk menutupi masalah yang sedang aku hadapi. Tetapi hatiku tidak bisa berbohong. Kondisi kesehatan Pak Angga masih menjadi pusat perhatianku.
“Angel kamu kenapa kok jadi berubah sendu?”
“Gak papa kok, Pah.”
“Enggak ada, Pah.”
“Kamu serius? Atau kamu sakit?”
“Engga Pah. Ini Angel sehat nih. Hiii.”
Aku tersenyum dengan memperlihatkan barisan gigi putih yang tertata rapi untuk meyakinkan Papah bahwa aku baik-baik saja. Beruntunglah mereka tidak bertanya lebih jauh lagi. Mereka percaya dengan alasan yang aku buat.
Untuk sementara aku sejenak melupakan beberapa beban yang sedang aku pikul sampai acara makan siang usai.
“Sayang kita jalan-jalan yuk!”
“Jalan-jalan kemana, Mah?”
“Keliling kota Bandung. Mumpung kamu libur kuliah, terus ada Papah sama Mamah disini. Jadi kita liburan bareng. Gimana? Setuju kan Pah?”
“Kalau Papah terserah Angel. Kalau Angel mau Papah juga pasti mau.”
“Hmmm boleh. Kebetulan juga Angel sudah lama tidak liburan. Angel disibukan dengan tugas kuliah.”
“Sabar ya, Nak. Ini bagian dari perjuangan hidup kamu. Kamu boleh mengeluh, kamu juga boleh lelah. Tapi kamu tidak boleh menyerah. Sudah sejauh ini, apa iya kamu akan menyerah?”
“Tidak Pah. Angel tidak akan menyerah. Sesulit apapun kehidupan, Angel tidak akan menyerah untuk menjalaninya.”
“Itu baru namanya anak Papah sama Mamah.”
Pelukan yang sangat aku rindukan. Hangat dan menenangkan. Orang tua masih menjadi tempat ternyaman untuk berlindung. Bersamanya aku bisa kembali menemukan kekuatanku.
__ADS_1
Aku menuruni anak tangga dengan tangan yang tidak lepas dari genggaman sang Ibu. Sedangkan Papah berjalan memimpin karena lebar jalan hanya cukup untuk 2 orang saja. Setelah semua penumpang memasuki mobil, sang supir melajukan si silver dengan sangat hati-hati. Tidak mau membahayakan orang-orang yang ia cintai
Sebenarnya kami berjalan tanpa tujuan. Sesuai kesepakatan di awal, bahwa kami hanya mengelilingi indahnya kota Kembang. Untuk menghilangkan kejenuhan selama perjalanan, kami mengisinya dengan bernyanyi tanpa aturan, dengan nada dan lagu yang berubah kapanpun kami mau.
Getar ponsel seketika menghentikan aktivitas kami. Tetapi aku tidak mempedulikannya. Aku kembali mengajak Papah dan Mamah untuk bernyanyi lagi. Namun ponsel itu kembali bergetar berulang-ulang, sehingga benar-benar telah mengganggu kami.
“Angkat dulu sayang, siapa tahu penting!”
“Hah? Oh iya, Mah. Kalau gitu Angel angkat teleponnya dulu ya.”
Tanganku bergetar ketika hendak menjawab panggilan yang masuk dari pihak rumah sakit. Apalagi sekarang aku tidak bisa menjauh dari Papah dan Mamah. Aku tidak mungkin meminta Papah untuk berhenti dulu. Apalagi posisi kami berada di tengah-tengah lampu merah.
Terpaksa aku menjawabnya dengan volume paling rendah.
“Mbak Angel dimana? Dokter sudah menunggu. Proses donor darah harus segera dilangsungkan.”
“Hmm, Saya...saya masih di jalan, Sus.”
“Apakah bisa sampai kurang dari satu jam? Karena dokter harus menangani pasien yang lainnya, Mbak.”
“Baik, Sus. Akan saya usahakan.”
Panggilan telah di akhiri. Mamah langsung membalikan badannya untuk menatap ke arahku. Tidak ada lagi alasan yang bisa aku buat. Mungkin ini saatnya aku harus mengungkapkannya.
“Ada apa sayang? Kenapa berubah jadi tegang gitu ekspresinya?”
“Mah, sebenarnya...”
“Heem?”
“Sebenarnya...”
“Ada apa, Nak? Kenapa gugup seperti itu?”
“Sebenarnya teman Angel sedang membutuhkan donor darah sekarang juga. Dan kebetulan golongan darah Angel cocok sama dia.”
“Teman kamu yang sedang di rumah sakit itu?”
“Iya, Pah.”
“Kenapa gak bilang dari tadi. Ya udah kita ke rumah sakit sekarang ya.”
“Angel boleh mendonorkan darah, Pah?”
“Ya boleh dong sayang. Kenapa tidak? Itu perbuatan yang sangat mulia. Dan itu juga baik untuk kesehatan kamu.”
Akhirnya aku bisa bernafas lega setelah mendapatkan persetujuan dari Papah dan Mamah. Papah memutar balikan si silver untuk menuju alamat rumah sakit tempat Pak Angga di rawat.
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 😍🥰
Terimakasih 🙏🙏
__ADS_1