My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-07 Kegagalan Pertama


__ADS_3

“Mah, Angel pulang.”


“Hai sayang. Pak Angga mana ?”


“Udah pulang.”


“Kok gak di ajak masuk sih ?”


“Tadi udah, Mah. Tapi ditolak.”


“Yaahh, padahal Mamah mau ketemu sama Pak Angga.”


“Ada apa sih, Mah ?”


“Hehe gak papa. Cuma mau bilang terimakasih aja udah nganterin anak Mamah yang cantik ini.”


“Jangan-jangan Mamah sengaja ya nyuruh Pak Angga nganterin Angel ?”


“Apa ? Enggak kok.”


“Terus kemana Mang Dudung, kok gak jemput ?”


“Istrinya sakit sayang, Mang Dudung nemenin di Rumah Sakit.”


“Ya udah kapan-kapan kita nengokin yuk, Mah.”


“Iya. Sekarang kamu istirahat dan fokus sama ujikomnya !”


“Siapp!!!”


***


Sampailah pada suatu hari. Dimana siswa-siswi tampak tegang. Tak ada gurat senyuman yang terlukis di wajah. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Matanya hanya menatap ruangan yang kini berubah bak pengadilan. Dimana setiap insan yang memasukinya akan merasa ketakutan.


1 jam . . . .


2 jam . . . .


3 jam . . . .


4 jam . . . .


Teeetttt . . . teeetttt . . .


Dering bel telah berbunyi menandakan berakhirnya jam pelajaran dan mulainya jam istirahat. Hal tersebut berlaku bagi para peserta ujikom. Semuanya meninggalkan kelas setelah ada instruksi dari penguji. Sebagian melangkahkan kakinya menuju mushola, namun kebanyakan dari mereka memburu makan siang di kantin sekolah.


“Ngel makan yuk ! Gue lapar.”


“Lo duluan aja ya, Cha. Gue mau ke mushola dulu.”


“Oh iya gue lagi libur Ngel, biasa ada tamu bulanan. Lo nanti nyusul ya !"


Aku hanya menjawabnya dengan senyuman yang menampakkan guratan garis tipis dipipi. Pikiranku tidak tenang. Setelah tadi aku tidak bisa menyelesaikan tugas ujikom sampai akhir batas waktu yang telah ditentukan. Apalagi setelah jam istirahat dilanjutkan dengan tes lisan. Kini aku kehilangan kepercayaan diri. Fokusku hanya kepada ujikom. Sampai-sampai melupakan perut yang sebenarnya sedari tadi sudah keroncongan.


Jam istirahat terasa lebih singkat, sehingga dering bel pertanda dimulainya jam pelajaran kembali nyaring terdengar.


“Lo gak makan, Ngel ?”


“Eh iya, Cha. Gue lupa.”

__ADS_1


“Dari tadi gue nungguin lo di kantin tapi gak muncul-muncul. Keburu habis kan istirahatnya. Emangnya lo gak lapar ?”


“Emm iya sih, Cha. Dikit.”


“Ya elah. Ntar gimana kalau lo sakit lagi.”


“Iihh jangan dong, Cha.”


“Selamat siang. Bagaimana sudah siap untuk melanjutkan ujian tes lisannya ?”


Pembukaan dari penguji membungkam semua perbincangan para siswa yang sebelumnya masih riuh terdengar. Begitu juga berakhirnya percakapan aku dan Alessyia. Muka kami berubah menegang, sama sekali tidak merasakan kedamaian. Apalagi kala penguji memulai dengan menyebut nama siswa secara berurutan berdasarkan nama yang terpampang di absen.


***


Hari yang paling menegangkan itu hampir usai. Salah seorang penguji menyampaikan hasil yang di dapatkan dari usaha masing-masing siswa. Malangnya dari 42 siswa hanya 3 siswa yang lulus. Dan yang lainnya harus menjalani test remedial dengan mengerjakan kembali projek yang telah diberikan dan dikumpulkan pada pertemuan minggu depan.


Aku, menjadi salah satu dari 39 siswa yang harus mengikuti remedial. Dengan tenaga yang hampir habis, aku langkahkan kaki perlahan keluar menuju gerbang sekolah.


Kekuatanku benar-benar habis. Sudah tidak mampu untuk melangkah. Beruntunglah ada kursi yang terletak 5 langkah dari tempat aku berdiri saat ini. Mungkin jika tidak ada kursi ini, aku sudah terkapar di tanah.


“Ngapain masih disini ? Mau jadi penunggu sekolah ?”


“. . .”


“Ekhem . .”


“. . .”


“Ekhem . .”


Akhirnya setelah deheman yang keras disertai dengan tepukan lumayan menyakitkan yang mendarat di bahu membawa aku keluar dari alam bawah sadar.


“Kamu kenapa bengong ? Hati-hati disini rawan kemasukan makhluk halus.”


Tanpa ekspresi dengan santainya aku menjawab, “Angel gak takut.”


“Nanti saya bantu kamu ngerjain tugasnya. Dan akan saya pastikan kamu lulus. Tak apa kali ini kamu belum berhasil. Ada kesempatan untuk memperbaikinya. Saya juga minta maaf tidak bisa membantu kamu secara maksimal. Mungkin materi yang saya berikan kemarin masih ada yang kurang.”


Terang Pak Angga menenangkanku. Seakan tahu apa yang kini sedang dikhawatirkan olehku.


“Enggak Pak. Itu bukan salah Bapak. Justru Angel berterima kasih sebesar-besarnya karena Bapak dengan sangat murah hati mau membantu Angel dengan mengajarkan les buat Angel. Angel yang harusnya minta maaf. Angel tidak bisa menyelesaikannya. Angel mengecewakan Mamah, Papah, dan juga Pak Angga. Sekali lagi Angel minta maaf Pak !”


Air mata keluar membasahi pipiku seakan menggambarkan apa yang saat ini kurasakan. Namun kehangatan dari sentuhan tangannya yang megusap air mataku membuatku merasa lebih tenang. Entah mengapa kehadirannya mampu membuatku merasa lebih baik. Semangat yang awalnya mulai memudar, kini perlahan bangkit kembali.


“Jangan menangis ! Jangan menyerah ! Masih ada kesempatan ! Kamu pasti bisa ! Semangat !”


Sungguh aku tidak menyangka apa yang barusan diucapkan Pak Angga. Aku tidak bisa berkata-kata, bahkan hanya sekedar untuk membalas kata-kata motivasi yang terlontar dari beliau.


Sama pula dengan Pak Angga, dia langsung mematung dengan tatapan tajam dan tangan yang masih terletak di pipiku. Dibalik kesunyian yang tercipta, tiba-tiba suara nyaring yang berasal dari perut merusak suasana.


“Duuhh, kenapa harus bunyi sekarang sih ? Kan malu aku. Pas banget suasananya lagi sepi. Pasti keras banget kedengarannya.”


“Kamu lapar ?”


“Engga kok. Bukan suara perut Angel. Mungkin perut Bapak kali.”


“Kamu gak bisa bohong sama orang tua. Ayo ikut !”


“Iihh mau kemana ?”

__ADS_1


Pak Angga sama sekali tidak menjawab pertanyaan dariku. Ia langsung membawaku keluar sekolah menuju restoran yang terletak tidak terlalu jauh dari lokasi saat ini.


Emang tidak bisa dipungkiri, aku benar-benar lapar. Apalagi aku baru makan satu kali, yaitu sarapan di rumah. Hal tersebut membuat makanan yang tersaji di meja habis dengan cepat. Sama sekali tidak peduli dengan orang yang sedari tadi memperhatikan aku makan. Yang terpenting perutku terisi dan tenagaku pulih kembali.


“Katanya gak lapar ?”


“Hehehe.”


“Mau bungkus sekalian ?”


“Gak usah. Iihh Bapak malu-maluin Angel deh.”


“Ya kan buat makan di rumah lagi, siapa tahu kamu belum kenyang.”


“Pak Angga . . . Please deh Angel makannya gak sebanyak itu juga kali. Ini karena Angel lapar aja.”


“Walaupun stress kamu harus tetap makan. Jangan sampai sakit lagi !”


“Iya Pak Guru !”


Setelah menghabiskan beberapa jenis makanan berbeda yang tersaji di meja makan, Pak Angga mengantarkan aku pulang. Karena tidak mungkin juga dia membiarkan aku pulang sendiri setelah matahari terbenam dan hanya menyisakkan cahaya rembulan.


Tibalah di depan pintu pagar yang dicat warna silver.


“Masuk dulu Pak, Mamah Angel nyuruh buat bawa Bapak masuk dahulu.”


“Tidak usah. Saya langsung pulang. Salam aja buat Mamah kamu.”


“Nanti Angel diomelin lagi dong sama Mamah.”


“Nanti saya mampir, kalau pulangnya masih sore.”


“Hmmm iya deh.”


Pak Angga memakai helm dan menutup kaca hitamnya.


“Pak Angga . . .”


Pak Angga membuka sedikit kaca penutup mukanya dan memperlihatkan sepasang bola matanya yang indah.


“Apa ?”


“Terimakasih . . .”


“Buat apa ?”


“Hmmm yaaa, buat semuanya. Buat traktiran makan tadi, dan udah anterin Angel.”


“Itu semua tidak gratis.”


“Lhoo kok, tadi katanya gak usah bayar.”


“Kamu bayar dengan cara kamu lulus ujikom.”


Pak Angga menutup kembali kaca helmnya. Sehingga mungkin tidak terlihat senyuman yang terlukis diwajahku.


“Hati-hati, Pak.”


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2