
Terbebas dari seseorang yang telah mengganggu kehidupan kita itu adalah hadiah terbesar. Bayangkan saja hidup tetapi seperti terkurung dalam sangkar. Tidak ada yang menginginkan hidup seperti itu. Bahkan jika kita bisa mendengar dan mengerti suara burung, sudah pasti dia meminta tolong untuk dibebaskan dari sangkar yang telah mengunci pergerakan sayapnya.
Masih bersama abang ojol, kali ini aku di antar menuju kost-an. Di satu sisi aku senang karena mendapatkan bukti kelakuan buruk Frans. Tetapi di lain sisi, aku masih terngiang-ngiang suara mengerikan. Bahkan untuk membuka ponsel saja aku jijik.
“Cha, lo dimana ?”
“Gue di rumah, Ngel. Ada apa ?”
“Ada yang mau gue bicarakan, Cha. Penting !”
“Penting ? Tentang apa, Ngel ?”
“Lo ke kost-an gue, ya !”
Aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku membutuhkan masukan dari orang lain agar rencanaku berjalan sempurna. Dan juga, aku perlu meminjam Alessyia untuk dapat melihat siapa wanita yang bersama Frans. Karena tadi aku merekam videonya, tetapi dengan mata yang terpejam.
“Kenapa ? Ada apa, Ngel ? Lo sakit ? Atau lo putus beneran sama Pak Angga ? Atau lo bisa bebas dari Frans ?”
“Iiihh Cha. Santai dulu dong. Jangan berubi-tubi gitu nanya nya !”
“Hehe maaf ! Gue penasaran Angel. Katanya penting.”
“Iya penting. Sangat penting. Tapi bukan gue putus dengan Pak Angga. iiihhh amit-amit.”
“Terus apa dong ?”
“Kayaknya kata lo yang terkahir, Cha.”
Alessyia hanya menatapku dengan tatapan yang penuh pertanyaan.
“Gue bisa bebas dari Frans, Cha.”
“Serius lo ?”
“Heem.”
“Aaaaaaa.”
Alessyia memeluk aku dan berteriak kegirangan. Ternyata Alessyia sangat bersimpati kepadaku. Dia juga menginginkan aku bebas dari belenggu Frans.
“Tapi masih ada yang harus gue lakukan, Cha ?”
“Apa itu ?”
“Lo bisa bantu gue gak ?”
“Gue pasti bantu. Gue juga udah janji akan bantu bebasin lo dari si Psycho itu.”
“Coba lo lihat ini !”
Aku memberikan ponsel yang di dalamnya telah berisi video tidak senonoh yang dilakukan Frans. Alessyia menatapku heran. Mungkin ia tidak mengerti kenapa aku tiba-tiba memberikan ponsel. Padahal itu adalah barang privasi.
“Putar video itu, Cha !”
Alessyia menuruti perkataanku. Ia menekan tombol play dilayar. Dan aku bisa mendengar kembali suara-suara yang sangat menjijikan. Alessyia juga ikut terkejut. Bahkan ia melempar handphone yang berada pada genggamannya.
“Angel, lo parah. Ngapain lo koleksi video-video kayak gitu ?”
“Cha, itu bukan koleksi. Justru itu senjata gue buat hancurin Frans.”
“Maksud lo ?”
“Coba lo lihat dengan teliti siapa yang ada di video tersebut !”
Alessyia kembali mengambil handphone yang sebelumnya telah dilempar olehnya. Perlahan ia melihat layar handphone sembari meringis dengan mata yang menyipit. Sedangkan aku menutup telinga agar tidak mendengar suara-suara erangan.
__ADS_1
“Frans ?”
“Angel ini Frans ?”
Alessyia mengoyang-goyangkan badanku untuk meyakinkan apa yang dilihatnya.
“Bisa lo lihat siapa wanita itu ?”
Alessyia melanjutkan aktifitasnya. Aku dapat melihat ekspresi Alessyia bahwa dia enggan menonton video itu lagi. Tetapi dia terpaksa melakukannya demi menolongku.
“Gue gak bisa lihat, Ngel. Dia membelakangi kamera.”
Huuufftttt.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Padahal aku sangat ingin melihat wanita itu. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia bukan Clarissa. Jika benar dia adalah Clarissa, maka pintu maafku benar-benar telah tertutup untuk Frans. Dia kembali mengkhianatiku dengan orang yang sama.
“Eehh bentar-bentar. Gue bisa melihatnya, Ngel.”
“Siapa Cha ? Siapa dia ?”
“Eu-eu sepertinya tidak asing.”
Aku menantikan kelanjutan dari pembicaraan Alessyia dengan penuh harap-harap cemas.
“Clarissa. . .”
“Apa ?”
“Clarissa, Ngel. Dia Clarissa . . .”
“Serius lo, Cha ?”
“Gue yakin seratus persen dia Clarissa.”
Sepertinya perasaanku kepada Frans telah berubah 360 derajat. Aku tidak lagi terluka ketika melihat Frans bersama wanita lain. Berbeda dengan waktu pertama aku melihat video ciuman Frans bersama Clarissa. Kali ini, bahkan aku menyaksikannya secara langsung, tetapi tidak ada rasa cemburu sama sekali. Yang ada hanyalah amarah, karena dia telah berani menipu Papahku.
Dari awal aku memang sudah tidak percaya kepada Frans. Tetapi Papah yang tidak tahu apa-apa menerima Frans dengan lapang dada. Papah sangat tidak suka dengan kebohongan. Apalagi ini menyangkut perasaan anak semata wayangnya. Aku dapat membayangkan bagaimana marahnya Papah setelah semuanya terbongkar.
“Angel ini gimana ceritanya ? Darimana lo dapat video ini ?”
“Lo ingat kan tadi nyokapnya Frans telepon gue minta tolong cariin Frans ?”
“Iya gue ingat.”
“Terus gue cari Frans ke kampusnya, tapi gak ada. Gue datangi kediamannya. Dan kata secutrity benar Frans ada di dalam.”
“Terus terus ?”
Alessyia menantikan kelanjutan dari ceritaku dengan sangat tidak sabar.
“Ya terus gue masuk ke dalam. Gue udah keliling rumahnya yang di lantai satu, Cha. Tapi gak ada siapa-siapa.”
“Heem terus ?”
“Gue naik ke lantai atas. Dan disanalah semuanya terjadi.”
“Gila ini Frans. Sumpah Clarissa tuh. Argh greget gue sama mereka. Gue gak nyangka Clarissa kok gitu. Padahal dia kan cantik. Model lagi.”
“Udah udah, Cha. Sekarang lo bantuin gue untuk bilang perihal ini kepada bokap gue. Supaya gue bisa segera terbebas dari Frans.”
“Ya lo langsung aja kirim video itu. Apa susahnya ?”
“Gak semudah itu, Cha. Gue ingin membuat ini terkesan. Dan menjadi hal yang tidak bisa dilupakan oleh Frans.”
Keadaan menjadi hening seketika. Aku dan Alessyia sedang memikirkan jalan keluar dari masalah ini.
__ADS_1
“Gue tahu !”
Alesyia berbicara dengan penuh kebahagiaan. Sepertinya dia sudah menemukan cara. Kemudian Alessyia melanjutkan pembicaraannya dengan penuh semangat. Begitupun aku memperhatikannya dengan sangat teliti. Sepertinya ide tersebut bagus. Harus aku coba.
***
Demi kelancaran acara yang telah aku dan Alessyia rencanakan matang-matang, terpaksa aku harus memainkan peran. Mau tidak mau aku harus berbaik hati kepada Frans. Meskipun aku malas berjumpa dengannya. Karena dengan melihat mukanya saja, aku menjadi bergidik ngeri dan ingatan adegan panas itu kembali muncul.
“Frans, gue suapin ya !”
“Hah ? Boleh.”
“Ini, aaaaa.”
Aku menyodorkan sendok yang telah diisi makanan. Malam ini aku sengaja mengajak Frans makan malam. Aku akan memberikan Frans kebahagiaan. Dan setelah itu, aku akan menghancurkan kebahagiaan itu. Sama dengan dia yang telah menghancurkan perasaanku 2 tahun silam. Ketika dia meninggalkan aku disaat aku benar-benar sedang menyayanginya.
“Angel, kok tumben kamu ramah sama aku ?”
“Emangnya gak boleh, ya ? Kamu kan pacar aku.”
“Tentu boleh. Aku senang akhirnya kamu menganggap aku dan memperlakukan aku dengan sangat baik.”
Aku memberikan senyuman termanis yang aku miliki. Aku tidak lagi berbicara singkat kepada Frans. Bahkan aku selalu memulai pembicaraan lebih dulu.
“Ini baru permulaan Frans.” Gumamku dalam hati.
“Frans, pulang yuk ! Udah malam. Besok kan harus kuliah.”
“Oh iya. Ayo !”
Aku menggandeng tangan Frans. Hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Ini juga aku melakukannya dengat sangat berat hati. Tetapi balik lagi, ini demi kelancaran acara yang telah tersusun sangat rapih.
Di dalam mobil saja aku tidak melepaskan genggaman Frans. Sesekali aku bergelayutan di pundaknya. Biasanya aku melakukan itu hanya kepada Pak Angga.
Setelah sampai di gerbang, Frans membuka pintu dan aku menerima uluran tangannya dengan senyum yang tidak pernah hilang. Sejenak aku hentikan langkah kaki untuk berbicara kepada Frans.
“Oh iya Frans, gue mau mengundang kamu makan malam bersama keluarga gue.”
“Serius, Ngel ?”
“Iya. Akhir pekan nanti, ya ! Tapi kayaknya kita harus pulang dulu.”
“Ya udah gak papa.”
“Lo jemput gue, ya ! Kita pulangnya barengan.”
“Dengan senang hati, Tuan Putri.”
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung author dengan meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote 💙🥰
.
Jika kalian suka boleh dimasukan ke daftar favorit agar mendapatkan notifikasi jika novel ini sudah up😉😍😍
.
Terimakasih 🙏🙏
__ADS_1