My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-61 Mengambil Alih Rendy


__ADS_3

Pak Angga tidak akan membiarkan Rendy berama-lama dengan Windy. Apalagi setelah mengetahui kebenaran bahwa Windy emang sengaja menjebak dirinya di Hotel Angkasa. Jika tidak ada aku disampingnya, sudah pasti Pak Angga akan bersifat anarkis.


Tok. .tok. .tok. .


“Windy keluar kamu !”


Tok. .tok. .tok. .


“Windy keluar !”


Pak Angga terus mengetuk pintu dengan sangat keras. Windy belum juga memberi respon.


“Bee, jangan marah-marah.”


“Tapi Angel. . .”


“Bee, nanti kalau Rendy lihat akan mempengaruhi psikisnya. Bagaimana kalau Rendy jadi takut sama Ayahnya sendiri dan tidak mau ikut pulang ?”


“Kamu benar. Maafkan aku, ya !”


Kali ini Pak Angga mengetuk pintu lebih santai dari sebelumnya. Ia juga memanggil nama Windy tidak dengan cara teriak-teriak. Sudah cukup lama kami menungu, tetapi Windy belum juga membuka pintu.


Tid. .tid. .


Mobil sedan putih baru saja masuk gerbang. Wanita dengan highils kurang lebih 15 cm keluar dari pintu sebelah kanan. Dengan dress berbahan kaos yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dan panjang di atas lutut. Ia berjalan memutar untuk menuju pintu mobil sebelah kiri.


“Ayah. . .”


“Rendy. . .”


Seorang anak kecil dalam pangkuan Windy memanggil Pak Angga dengan sebutan Ayah. Aku dapat melihat pancaran kebahagiaan yang keluar dari bola mata Pak Angga.


Windy berbisik sangat lirih, tetapi kami masih bisa mendengarnya samar-samar, “Rendy ingat kata Bunda, ya !”


Pak Angga segera mengambil alih Rendy dari pelukan Windy.


“Saya sudah tahu semuanya. Sayangnya, kali ini usahamu juga harus gagal. Saya peringatkan sama kamu, jangan pernah ganggu hidup saya dan Angel lagi ! Saat ini saya masih bisa memaafkan kamu. Tapi lain kali, akan saya pastikan untuk menempuh jalur hukum.”


“Apa maksud kamu, Ngga ? Aku tidak mengerti.”


“Saya yakin kamu sudah tahu kemana arah pembicaraan saya. Kamu ingat Hotel Angkasa ?”


Windy sepertinya merasa heran kenapa Pak Angga bisa membicarakan Hotel Angkasa. Ia sangat gugup. Tatapannya tidak fokus. Mulutnya terkunci. Pak Angga segera melangkah menjauhi Windy ketika Rendy dalam pelukannya serta aku dalam genggamannya.


“Angga tunggu !”


Windy meraih tangan Pak Angga di sebelah atas tanganku. Pak Angga berusaha melepaskannya dengan cara mengibas-ngibaskan.


“Lepas !”


“Angga dengarkan penjelasan saya !”


“Penjelasan ? Penjelasan apa ? Yang saya tahu semua yang keluar dari mulut kamu hanyalah omong kosong. Semuanya kebohongan.”


“Enggak, Ngga.”


Pak Angga segera melepaskan Windy dari tangannya. Ia membuka pintu mobil agar semua penumpang dapat masuk ke dalamnya. Setelah itu pedal gas diinjak dengan kecepatan tinggi.


“Ayah, Rendy takut.”


Aku menahan Rendy yang berada di kursi belakang agar tetap berada pada posisinya.

__ADS_1


“Bee, jangan ngebut. Kasihan Rendy ketakutan.”


“Bee. . .”


Aku berusaha untuk menyadarkan Pak Angga. Tetapi dia masih belum juga mengurangi laju kecepatan mobilnya. Mobil itu baru berhenti ketika 5 cm lagi akan menabrak kucing yang sedang melintas. Sontak semua penumpang terdorong ke depan. Keningku juga terbentur. Begitupun dengan Rendy. Ia bahkan turun dari kursi penumpang. Hal tersebut membuat Rendy terkejut sampai menangis.


“Cup cup cup ! Jangan nangis ya, Rendy sayang ! Rendy kan anak cowok. Kalau cowok harus kuat ya, Nak !”


Aku segera mengambil Rendy dan membawanya ke pangkuanku. Aku elus-elus keningnya yang sedikit memerah karena terbentur jok depan. Pak Angga langsung tersadar dan segera memberikan perhatiannya kepada Rendy. Ia membawa Rendy untuk duduk di kursi yang sama dengannya.


“Rendy sakit ya sayang ? Maafkan Ayah ya, Nak. Ayah telah menyakiti kamu.”


“Rendy jangan nangis lagi, ya ! Kalau nangis terus gak akan dikasih cokelat sama Kakak, lho.”


Setelah beragam bujukan tidak dapat membuat Rendy berhenti menangis, ia baru terdiam ketika mendengar akan mendapatkan cokelat.


“Kakak beneran akan memberikan Rendy cokelat ?”


“Iya dong sayang. Tapi dengan satu syarat.”


“Syarat apa Kak ?”


“Rendy gak boleh nangis lagi. Oke ?”


“Oke.”


Aku mengepalkan tangan dan mengarahkannya ke hadapan Rendy. Kemudian Rendy membalasnya dengan kepalan tangannya yang masih mungil.


“Tapi kata Bunda, Rendy gak boleh dekat-dekat sama Kakak.”


“Lho kenapa ?”


“Kata Bunda, Kakak jahat. Kakak merebut Ayah dari Bunda.”


“Rendy dengarkan Ayah, Kakak ini tidak jahat. Kakak Angel juga tidak merebut Ayah dari Bunda. Begitupun tidak merebut Ayah dari Rendy. Kak Angel tulus menyayangi Rendy. Buktinya Kak Angel mau berteman dengan Rendy.”


“Tapi kata Bunda aku gak boleh ketemu lagi sama Kakak ini.”


“Memangnya menurut kamu Kak Angel orang jahat ?”


“Enggak.”


“Kalau Kak Angel jahat, Ayah juga tidak akan berteman dengan Kak Angel. Mulai sekarang Rendy jangan berpikir kalau Kak Angel itu jahat, ya !”


Rendy mengangguk. Aku berusaha untuk mengambil perhatian lagi dari Rendy. Aku mengajaknya untuk duduk di pangkuanku selagi Pak Angga sedang menyetir. Aku tidak menyangka Windy bisa menodai pikiran anak kecil yang masih polos demi kebahagiaan dirinya sendiri. Padahal itu akan menjadikan Rendy tumbuh menjadi anak yang selalu berpikiran negatif terhadap orang-orang.


Mobil Pak Angga terhenti di depan salah satu mini market. Aku turun dari mobil di ikuti dengan langkah kecil Rendy.


“Rendy mau yang mana, Nak ?”


“Mau yang itu, Kak.”


“Hehe kamu gak bisa lihat semuanya ya. Sini Kakak bantu angkat kamu.”


Aku lupa Rendy masih kecil. Tingginya tidak sampai untuk menggapai cokelat yang ia inginkan. Aku mengangkat badan Rendy agar dapat memilih sendiri cokelat apa yang dia inginkan.


“Satu, dua, tig . .”


“Ga. .”


“Ihh anak pintar.”

__ADS_1


Aku mencubit gemas pipi Rendy ketika ia melengkapi hitungan yang aku lakukan.


“Aku mau yang itu, Kak !”


“Yang mana ? Yang ini ?” Aku menunjuk satu per satu cokelat yang ada di hadapan kami.


“Bukan.”


“Yang ini ?”


“Bukan. Yang itu, Kak !”


“Yang ini ?”


“Iya yang itu.”


“Kamu mau berapa ? Satu ? Dua ?”


“Satu aja, Kak. Kata Ayah aku gak boleh makan cokelat terlalu banyak. Nanti gigi Rendy bisa ompong.”


“Betul kata Ayah. Nanti kalau gigi Rendy ompong jelek tahu, jadi kaya kakek-kakek.”


“Hahaha.”


Aku dan Rendy tertawa bersama. Kami segera kembali setelah mendapatkan satu batang cokelat yang berada dalam genggaman Rendy.


“Rendy sayang, apa kamu masih menganggap Kak Angel jahat ?”


“Enggak Ayah. Kak Angel sangat baik. Kak Angel membelikan Rendy cokelat. Kak Angel juga membantu Rendy agar lebih tinggi.”


“Hah ? Maksudnya gimana, Nak ?”


“Tadi Kak Angel angkat Rendy untuk memilih cokelat. Padahal Rendy berat kan, Ayah ?”


“Hahaha.”


Aku dan Pak Angga tertawa geli mendengar Rendy berkata sangat polos. Kami segera melanjutkan perjalanan untuk mengantar aku pulang. Seperti biasa Pak Angga mengantarku tidak sampai depan rumah.


“Kakak rumahnya disini ?”


“Enggak sayang rumah Kakak masih harus ke dalam lagi.”


“Kok kita berhenti disini, Ayah.”


“Nanti kapan-kapan Kakak ajak masuk ke rumah Kakak. Rendy mau gak ?”


“Mau dong Kak.”


“Tapi sekarang disini dulu, ya.”


“Kakak hati-hati, ya !”


“Rendy juga hati-hati, ya !”


Rendy mencium hormat tanganku. Aku memberikan kecupan yang mendarat di kening Rendy. Kemudian aku bepamitan kepada Pak Angga.


“Ayahnya enggak dapat nih ?”


“Dapat apa ?”


Pak Angga menunjuk keningnya sembari tersenyum dan memperlihatkan mata genitnya. Aku hanya meresponnya dengan senyuman geli. Dan segera berlalu meninggalkan mereka.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2