
Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍
Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇
Terimakasih 🙏🙏🙏
**************************************************
Suatu kenangan tidak akan bisa dihapuskan dengan mudah. Apalagi jika kenangan itu adalah peristiwa yang membuat jiwa bahagia. Meskipun orang yang menciptakan kenangan tersebut telah pergi, tetapi kenangan tidak ikut pergi bersamanya. Dia masih berdiam diri jauh di lubuk hati.
Kerinduan terhadap seseorang bisa menimbulkan fatamorgana. Bisa saja menganggap orang lain adalah orang yang sama dengan yang dirindukan, tetapi nyatanya bukan. Bahkan jika mencium wangi aroma khas yang biasa digunakan oleh orang yang di anggap istimewa, maka otomatis pikiran akan langsung mengingatnya.
Indra perasa telah dilatih untuk mengenali ciri khas dari orang yang telah memberikan warna pelangi di hidup. Ia tidak pernah salah mengenali, meskipun terkadang mata salah melihat. Itu semua karena insting yang pernah tercipta di antara keduanya sangat kuat.
“Kak Angel…”
"Huwaaaa…"
Aku masih mematung menyaksikan anak kecil yang berlari ke arahku dengan tangan yang mengucek matanya karena menangis. Entah alasan apa yang membuat anak tersebut menangis histeris. Dan jika tidak salah dengar, dia juga memanggil namaku.
Ajakan dari Alessyia dan yang lainnya tidak bisa aku dengar. Bukan karena aku mengabaikannya, hanya saja fokusku teralihkan kepada anak kecil yang masih berlari dengan suara tangisan yang menggelegar.
“Kak Angel…”
Di belakang anak kecil tersebut terdapat perempuan paruh baya yang dengan setianya mengikuti langkah lari si kecil. Aku semakin menatap lekat kedua orang yang kini sedang berjalan menghampiriku. Sosok mereka seperti tidak asing bagiku. Dan benar, mereka adalah orang yang pernah hadir di kehidupanku.
“Bi Rani…Rendy…” Gumamku lirih.
Anak kecil tersebut langsung memeluk diriku dengan sangat erat. Sedangkan aku masih mematung tidak memberikan respon apa-apa. Aku menatap perempuan yang bersama dirinya untuk memastikan siapakah dia. Penglihtanku tidak salah, dia adalah Bi Rani. Berarti anak kecil ini juga Rendy. Penglihatanku bukan fatamorgana.
“Kak Angel kemana aja? Rendy kangen sama Kakak. Huwaa…”
Tidak ada yang berani memisahkan aku dan anak kecil itu. Dan tidak ada juga yang berani menenangkan anak kecil itu agar berhenti menangis. Mereka seolah memberikan kesempatan kepada kami berdua untuk saling mengobati kerinduan.
Sekarang aku mengerti alasan Rendy menangis. Berulang kali dia mengatakan merindukan ku. Berulang kali juga dia bertanya alasan kenapa kita tidak lagi berjumpa. Sungguh sangat mengiris hati. Aku pun ingin menangis. Hanya saja aku berusaha untuk menahannya. Aku tidak mau membuat Rendy semakin sedih.
Kini aku mengubah posisi agar sejajar dengan Rendy. Aku segera membalas pelukannya dengan sangat erat.
__ADS_1
“Rendy jangan nangis lagi, ya! Maafkan Kak Angel tidak bisa mengunjungi Rendy. Banyak tugas yang harus Kak Angel kerjakan.”
Entah apakah Rendy percaya dengan alasan yang aku ucapkan barusan atau tidak. Tetapi yang pasti ada masalah yang tidak dapat dimengerti oleh anak kecil. Mungkin suatu hari nanti jika Rendy sudah besar, dia akan mengerti kenapa kita tidak lagi bisa bertemu.
Untuk saat ini aku tidak mau mengatakan kejujurannya kepada Rendy. Ia masih terlalu kecil untuk mengetahui permasalahan orang dewasa. Sudah cukup ia terluka karena perceraian orang tuanya. Aku tidak mau menambah lukanya lagi dengan kembali menyaksikan perpisahan antara aku dan Pak Angga.
Di dalam pelukan Rendy batinku berkata, “Maafkan Kak Angel tidak bisa menunaikan janji untuk selalu mendampingi Rendy. Maafkan Kak Angel tidak bisa memenuhi keinginan Rendy untuk menjadi Bundanya Rendy. Maafkan Kak Angel!”
“Kak Angel jangan pergi! Rendy mohon jangan tinggalkan Rendy! Rendy tidak mau kehilangan Kak Angel. Rendy butuh Kakak. Hiks..hiks…”
“Maafkan Kak Angel! Maafkan Kakak!”
Setetes air mata berhasil lolos keluar dar pelupuk mata. Aku segera menghapusnya sebelum orang lain melihat, apalagi Rendy. Jika sampai Rendy tahu aku menangis, aku yakin dia akan lebih histeris. Apalagi sekarang Rendy sudah mulai tenang. Dia hanya mengeluarkan isak tangis yang tidak terlalu kencang.
“Rendy sekarang mau main permainan lagi atau gimana? Kak Angel temenin, ya?”
“Rendy mau pulang aja. Kakak antar Rendy pulang, ya! Please!”
“Emm, kalau itu sepertinya…”
Aku masih memikirkan jawaban apa yang akan aku beri untuk Rendy. Tidak mungkin aku mengantarnya pulang. Bagaimana jika nanti aku bertemu dengan Pak Angga. Akan sia-sia usahaku untuk melupakannya jika kami kembali bertemu. Tetapi bagaimana cara aku menolaknya agar tidak membuat Rendy kecewa.
“Heem, kalian siapa?”
“Kenalin nama Kakak Beni.” Ucap Kak Beni sambil menyodorkan tangan perkenalan yang menyamai posisi berdiri aku dan Rendy.
“Kakak temannya Kak Angel. Dan ini Kak Aldo yang satunya lagi tuh Kak Echa.”
“Hallo Rendy!” Sapa Alessyia dan Kak Aldo bersamaan.
“Hallo Kak."
Rendy juga menyapa mereka dengan sangat ramah. Kali ini sudah tidak ada lagi kesedihan yang terlukis. Air mata yang mengalir membasahi pipinya juga sudah mengering.
“Kalau Rendy mau pulang, kita boleh ikut gak?”
“Boleh dong Kak. Rendy senang punya banyak teman. Ayo Kak!”
“Ayo!”
__ADS_1
Entah apa maksud Kak Beni dan yang lainnya dengan menyetujui kami mengantar Rendy. Aku juga tidak bisa lagi menolak. Kami berjalan keluar dari mall dengan Rendy yang berada di dalam gendongannya Kak Beni.
Seperti biasa Kak Aldo berjalan berdampingan dengan Alessyia. Dan aku berdiri di samping Kak Beni. Secara perlahan aku memundurkan langkah agar bisa berjalan sejajar dengan Bi Rani. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Tentunya kami berbicara dengan cara berbisik agar tidak dapat di dengar oleh telinga yang lain.
“Bi, ada Bapak di rumah?”
“Kalau sewaktu Bibi sama Rendy berangkat kesini gak ada Bapak, Non. Katanya ada pekerjaan di luar. Tapi gak tahu sekarang sudah pulang atau belum.”
Aku hanya mengangguk pertanda mengerti. Harapanku kali ini semoga tidak ada Pak Angga di rumah. Meskipun Bibi mengatakan Pak Angga sedang ke luar, tetap saja aku tidak tenang. Apalagi Bibi juga tidak tahu pasti kapan Pak Angga akan kembali lagi ke rumah.
Kami berjalan menembus ramainya kota dengan menumpangi mobil Kak Beni. Sedangkan Alessyia berada di mobl terpisah bersama Kak Aldo. Syukurlah Rendy mudah akrab dengan Kak Beni. Selama perjalanan juga mereka tertawa bersama. Kehadiran Rendy berhasil sejenak menghilangkan beban yang selama ini aku pikul.
“Kak Angel ayo turun!”
“Angel, ayo! Udah sampai.”
“Hah? Eh iy-iya.”
Rupanya ketenangan itu tidak bisa aku rasakan selamanya. Ketika mobil yang membawa kami telah terparkir dengan rapi di halaman, ketakutan kembali menghantuiku. Bahkan ajakan Rendy dan Kak Beni sama sekali tidak dapat aku dengar.
Dengan langkah yang gemetar aku berusaha mengeluarkan kaki dari dalam mobil. Kak Beni menghampiriku dan berbisik ke telinga, “Jangan takut! Ada kita yang menemani. Kamu tahu kenapa alasan kita ingin ikut mengantar Rendy? Itu untuk melindungi kamu.”
Aku tidak tahu apakah Kak Beni sudah mengetahui perihal kandasnya hubungan aku dengan Pak Angga atau belum. Tetapi jika mendengar ucapannya barusan seakan dia sudah mengetahui semuanya. Dia tidak membiarkan aku datang seorang diri menuju rumah seseorang yang pernah hadir membawa cinta dan derita.
“Silakan masuk Non, Aden!”
“Terimkasih, Bi.”
Kami semua telah memasuki kediaman Pak Angga. Tetapi aku tidak dapat melihat atau mendengar tanda-tanda kehadiran Pak Angga. Syukurlah, akhirnya aku bisa bernafas lega. Sepertinya Pak Angga belum pulang.
“Aww…”
“Eh maaf maaf! Yah jadi basah.”
“Udah gak papa.”
“Bia aku bantu bersihkan ya, Pak.”
Tapi tunggu! Darimana suara barusan? Sepertinya aku mendengar suara wanita dan pria? Tetapi aku tidak dapat melihat sosoknya. Suaranya juga terdengar sangat pelan. Seperti terhalang oleh ruangan. Dan juga bukan hanya aku yang mendengar. Alessyia dan yang lainnya juga mendengarnya.
__ADS_1
*Bersambung*