
Jika mendengar orang yang kita cintai sakit maka naluri akan menjadi sangat sensitif. Berbagai petuah di sampaikan agar cepat membaik. Bahkan menjadi orang yang sangat over protektif. Melarang melakukan pekerjaan apapun, bahkan sekedar berjalan menuju mini market.
Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, Pak Angga menghentikan mobilnya di depan salah satu apotek yang memiliki bangunan cukup besar.
“Bee, kok berhenti ?”
“Tunggu sebentar, aku mau membeli tabung oksigen yang kecil agar bisa dibawa kemana-mana. Tadi aku lupa tidak membeli di apotek rumah sakit.”
Pak Angga segera berlalu setelah meminta ijin untuk meninggalkan aku seorang diri di dalam mobil. Tidak lama ia kembali dengan membawa kantong bukan sekali pakai di tangan kanannya.
“Ini !”
Pak Angga memberikan kantong itu kepadaku. Dan saat dibuka isinya 2 botol oksigen dengan ukuran kecil.
“Kamu harus membawanya kemanapun kamu pergi. Jangan sampai lupa ! Aku sengaja membeli yang kecil agar mudah dibawa kemana-mana.”
“Terimakasih, Bee.”
“Kamu kenapa murung ? Masih sakit ?”
“Maafkan Angel ! Angel selalu merepotkan orang-orang di sekitar Angel.”
“Sssttt !”
Pak Angga mengusap air mata yang menetes membasahi pipiku menggunakan kedua tangannya.
“Kamu sama sekali tidak merepotkan. Aku senang bisa membantu kamu. Aku senang bsia menjadi teman berbagi kamu. Bukan hanya berbagi suka, melainkan juga duka.”
Pak Angga kembali melanjutkan perjalanannya menuju kost-anku. Setelah sampai, ia membantu aku untuk masuk menaiki tangga.
“Angel, kamu yakin mau disini aja ?”
“Iya, Bee. Angel gak papa kok.”
“Tapi akan lebih baik kalau kamu ada yang menemani. Untuk malam ini saja kamu menginap di rumah Alessyia, ya !”
“Enggak, Bee. Angel disini aja. Gak papa kok.”
“Ya udah tapi kalau ada apa-apa, atau kamu merasa sesak segera hubungi aku. Oksigennya jangan disimpan terlalu jauh. Harus selalu berada di samping kamu.”
“Siap 86 komandan. Hehe.”
Setelah menyampaikan beberapa nasihat, Pak Angga segera berlalu. Aku juga segera masuk ke kamar agar bisa istirahat karena besok masih harus kuliah.
***
Pagi telah datang. Tetapi tidak ada ayam berkokok atau kicauan burung yang menyambut. Berbeda dengan suasana rumah. Karena Papah sengaja memelihara ayam jago dan beberapa burung, sehingga kala matahari menampakkan dirinya akan disambut hangat oleh mereka berdua.
Pagi ini, aku bangun lebih awal. Karena aku harus mengkonsumsi obat yang telah di resepkan oleh dokter kemarin, maka aku harus meluangkan waktu untuk sarapan dulu meskipun hanya menyantap selembar roti gandum dan segelas susu putih.
Sebelum matahari semakin berada di ketinggian, aku segera melangkah menuju kampus. Karena pasti sudah ada Alessyia yang menunggu di depan gerbang.
“Lho mana ya ? Kok gak ada. Atau aku lupa tidak membawanya ?”
Sejak menuruni tangga tanganku masih bekerja untuk menjelajahi isi tas. Sepertinya aku melupakan barang yang seharusnya aku bawa. Seingatku telah dimasukan semalam. Tapi sekarang aku mencari gak ada. Mungkinkah ingatanku keliru ?
__ADS_1
“Whoaa.”
“Aaaaaa.”
Aku berjalan sambil terus menatap isi dalam tas tanpa menengok kanan dan kiri. Aku sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang yang mungkin telah cukup lama memperhatikan diriku. Sehingga aku terkejut ketika ia tiba-tiba hadir di hadapanku dengan menimbulkan suara yang keras.
“Lho Bee ? Kenapa ada disini.”
“Kamu jawab dulu pertanyaan aku ! Kamu membawa tabung oksigennya ?”
“Eu itu. . .itu. . .”
“Kamu pasti lupa kan ? Angel . . . sudah aku peringatkan untuk selalu membawanya. Kenapa gak dibawa ?”
“Semalam udah Angel masukan ke dalam tas kok, Bee.”
“Terus sekarang mana ? Gak ada kan ?”
Aku tidak tahu kenapa Pak Angga bisa tahu kalau aku lupa tidak membawa tabung oksigen pemberian darinya. Mungkin feelingnya sangat kuat jika menyangkut kesehatanku.
“Mana kunci kost-an kamu ? Aku akan mengambilnya !”
Aku tidak mau berdebat lagi dengannya. Apalagi melihat wajahnya sudah sangat kesal. Mungkin ia kecewa karena aku tidak mendengarkan perintah darinya. Tanpa bertanya lagi, aku segera memberikan kunci itu kepada Pak Angga. Ia segera berlari dengan sangat cepat menaiki tangga menuju kamarku.
Tidak membutuhkan waktu lama, Pak Angga telah kembali dihadapanku dengan tabung oksigen di tangannya. Kemudian ia memberikannya kepadaku.
“Ini. Jangan sampai lupa lagi ! Aku takut kamu kenapa-kenapa. Maafkan aku telah memarahimu.”
“Angel yang seharusnya minta maaf. Lagi lagi Angel merepotkan Pak Angga.”
“Tunggu. . .Bee kenapa ada disini pagi-pagi sekali ? Emangnya gak takut kesiangan mengajarnya ?”
“Hari ini aku jadwalnya cuma satu. Itu pun jam siang. Jadi santai aja.”
Aku baru tersadar bahwa Pak Angga masih menggunakan kostum lengkap seperti semalam. Tidak mungkin ia memakai pakaian formal seperti itu jika keluar rumah. Apalagi katanya dia tidak ada jadwal pagi.
“Bee, sejak kapan disini ?”
“Sejak semalam.”
“Maksudnya ?”
“Aku tidak mungkin meninggalkan kamu sendiri disaat kamu baru keluar dari rumah sakit. Terus aku gak mungkin menginap dalam satu atap bersama kamu. Alternatif lainnya ya aku menunggu dan tidur di dalam mobil.”
“Ya ampun, Bee. . .Hiks.”
“Ih kok malah nangis ?”
“Angel terharu di perlakukan sangat baik. Belum pernah Angel berjumpa dengan sosok seperti Pak Angga. Bahkan Pak Angga sampai rela tidur di dalam mobil hanya untuk menjaga Angel.”
Pak Angga menyeka air mataku lagi. Mungkin ia tidak mau melihat aku selalu meneteskan air mata. Karena setetes air mata itu sangat berharga jika keluar dari mata orang yang sangat kita sayangi. Aku juga tidak ingin ada tangisan selain tetesan air mata kebahagiaan yang keluar dari orang yang aku cinta.
“Angel. . .”
Terdengar suara khas yang sangat nyaring di telinga. Siapa lagi kalau bukan Alessyia yang hobinya teriak-teriak jika memanggil seseorang.
__ADS_1
“Udah jangan nangis lagi ! Itu ada Alessyia. Ayo berangkat nanti kesiangan.”
Aku segera mengusap air mataku agar kering sepenuhnya. Aku tidak mau Alessyia banyak bertanya. Sudah pasti dia akan menyalahkan Pak Angga jika melihat aku menangis di hadapan Pak Angga.
“Angel ayo berangkat ! Gue udah nunggu dari tadi di depan, lo gak muncul-muncul. Ehh ternyata sedang bersama Pak Angga.”
“Cha, titip Angel ya !”
“Oh iya gue lupa, ya ampun. Kondisi lo gimana, Ngel ?”
“Udah baikan kok. Ini buktinya gue bisa kuliah.”
“Tapi serius lo gak papa ?”
“Enggak. Cuma shock aja.”
“Ya udah kalau gak papa. Ayo berangkat.”
Aku dan Alessyia melangkahkan kaki menuju kampus setelah sebelumnya berpamitan kepada Pak Angga. sebelum semakin menjauh, sesekali aku menengok ke belakang. Pak Angga masih berdiri pada posisinya dan memperhatikan kepergianku.
Kedatangan kami disambut oleh dua pria yang sangat terkenal di kampus karena ketampanannya. Bahkan mahasiswi yang lain selalu menatap aku dan Alessyia sinis. Mungkin mereka iri melihat kedekatan kami. Entahlah, aku tidak mau dipusingkan dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan faktanya. Toh meskipun dijelaskan, mereka tetap tidak akan mengerti.
“Angel, kamu kemarin kenapa ?”
“Gak papa, Kak. Angel cuma shock aja. Tapi kata dokter gak papa kok.”
“Emangnya Angel kenapa ? Kok Kak Ben gak tahu apa-apa.”
“Yeeeyy Kak Ben sih pacaran mulu.”
“Iya lo Ben. Urusin pasangan lo aja sampai tidak tahu kalau Angel kemarin pingsan.”
“Cha, Kak Ben belum pacaran kok. Angel pingsan ? Pingsan kenapa ?”
“Gak papa Kak Ben. Cuma tidak terbiasa di ruangan tanpa cahaya.”
“Maaf, Kak Ben benar-benar gak tahu.”
“Kita paham kok kalau orang sedang di mabuk cinta. Bahkan bisa sampai lupa makan.”
“Hahaha.”
Kami mengakhiri pagi itu dengan gelak tawa. Sebelum bunyi pertanda jam pelajaran dimulai, kami memasuki ruang kelas masing-masing.
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak melalui like, komen, rate 5 & vote🥰🥰
Terimakasih 🙏🙏
__ADS_1