My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-59 Keluarga Haritama


__ADS_3

Alarm telah berbunyi berulang-ulang. Mamah juga telah memanggil dan mengetuk pintu kamar. Sayangnya aku masih belum membelalakan mata. Aku masih berada di alam mimpi. Rasa dingin membuat aku ingin terus berada di bawah selimut.


“Sayang, ini Frans datang.”


“Angel, ini aku Frans.”


Seketika aku terbangun dan membuka mata sangat lebar saat terdengar seseorang memanggil nama Frans. Argh sungguh mengganggu mimpi indahku. Jika tidak dibangunkan, mungkin aku telah menikah dengan Pak Angga di alam mimpi.


“Sayang, bangun yuk ! Buka pintunya.”


“Iya, Mah.”


Aku menjawabnya dengan sangat lesu. Kuturunkan kaki kanan dan kiri secara bergantian. Ku gapai gagang pintu agar bisa dibuka. Aku kira cuma mimpi, ternyata setelah pintu terbuka, benar ada Frans disana.


“Angel kamu sakit ?”


Frans ingin meletakkan tangannya di keningku. Namun dengan sigap aku segera menghadang pergerakannya.


“Gak papa.”


“Muka kamu lesu banget, Angel.”


“Itu karena ada lo disini. Kalau lo gak datang, gue gak akan lesu kaya gini.” Gerutuku kesal dalam hati.


“Sayang kamu mandi dulu, ya ! Habis itu langsung turun ! Kita sarapan bareng.”


“Iya, Mah.”


“Oh iya, kamu mandinya pakai air yang hangat !”


Aku kembali menutup dan mengunci pintu kamar. Tujuanku kali ini bukan ranjang, melainkan kamar mandi. Padahal kasur disana telah melambai-lambai meminta agar aku kembali tertidur. Pasti akan terasa hangat bersembunyi di balik selimut. Tapi karena kehadiran Frans, aku jadi harus mandi. Padahal masih terlalu pagi dan cuaca lagi dingin.


Aku menuruni anak tangga. Aku dapat melihat Mamah dan Frans tengah duduk di kursi, dengan beberapa makanan dan minuman yang telah tersaji di hadapan mereka.


“Cantik.”


Frans tidak berkedip dan memalingkan pandangannya semenjak melihatku.


“Anak tante cantik banget.”


“Frans apaan sih ?”


Anehnya aku tidak senang sama sekali mendapatkan pujian dari Frans. Bagiku, semua yang keluar dari mulut Frans hanyalah dusta. Pasti ia juga sering memuji wanita lain di luar sana. Berbeda dengan Pak Angga, semua perkataannya adalah ketulusan, berasal dari hati.


“Mami sama Papi aku ingin ketemu sama kamu, Ngel. Kebetulan mereka sedang libur dari kerjanya.”


Uhuk. .uhuk. .


Ucapan Frans membuat makanan yang sedang aku telan terhenti di kerongkongan. Mamah menyodorkan minum untuk membantunya mengalir dengan lancar.


“Ketemu sama gue ? Ngapain ?”


“Ingin ketemu sama calon mantu, katanya.”

__ADS_1


“Tapi. . .tapi gue. . .”


Dred. .dred. .


Sepertinya Frans telah membicarakan perihal ini kepada Papah. Buktinya Papah mengirimi aku chat meminta aku untuk ikut bersama Frans menyapa kedua orang tuanya. Kalau sudah begini tidak bisa aku menolaknya.


Aku memasuki mobil setelah sebelumnya Frans membuka pintunya. Aku telah menolak. Aku bisa membuka pintu itu sendiri. Tetapi Frans selalu berusaha melayani aku dengan baik. Seperti saat ketika Frans ingin membantuku memakaikan seatbelt.


“Tidak usah. Aku bisa sendiri.”


Dengan cepat aku memakai sabuk pengamanan agar tangan Frans segera beralih dari seatbelt itu.


Mobil yang dikendarai Frans telah memasuki gerbang sebuah rumah. Bangunan yang dipenuhi ornamen berwarna emas menambah kesan elegan. Ukurannya sangat besar, mungkin 3 kali lipat ukuran rumahku. Dinding yang terbuat dari marmer membuat tampilannya sangat mengkilat. Barang-barang antik dan mahal menghiasi seluruh penjuru ruangan.


“Frans, ini pacar kamu ?”


“Iya, Mii. Namanya Angel.”


“Hallo sayang . .”


“Nama aku Angel, tan.”


“Jangan panggil tante, panggil aja Mami !”


“Eu iy-ya tan. Maksud Angel Mami.”


Mami Frans terlihat sangat modis. Pakaian yang dipakainya dari atas sampai bawah semuanya berasal dari merk-merk terkenal. Aku tahu berapa harganya. Makanya aku tidak punya barang seperti itu. Aku tidak mau menghabiskan uang Papah untuk hal-hal yang kurang bermanfaat.


“Angel ya ?”


“Iya om.”


“Panggil aja Papi. Papi sudah sering dengar nama kamu dari Frans. Ternyata benar kamu cantik.”


“Iya Pii, Angel cantik banget ya ?”


“Eu-eu terimakasih Mami, Papi.”


“Iya dong. Pilihan Frans tidak pernah salah kan ?”


“Haha.”


Mereka tertawa bersama. Aku juga harus ikut tersenyum. Meskipun aku merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah keluarganya Frans. Padahal mereka telah menyambut dan menerima kehadiran diriku dengan lapang dada. Tetap saja aku merasa tidak tenang. Mungkin karena aku tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Frans.


“Angel, kamu serius mencintai Frans ?”


“Hah ? Eu-eu.”


“Jadi kapan kalian akan menikah ?”


“Pi, aku serius sama Angel. Kami pasti akan menikah. Iya kan, Ngel ?”


“Maaf sebelumnya, tapi Angel tidak ingin buru-buru dulu. Angel harus menyelesaikan kuliah. Setelah itu, Angel ingin mengejar karir dulu.”

__ADS_1


“Gak papa Angel. Kapanpun kamu mau, kami pasti siap. Kamu benar, selesaikan dulu kuliahnya. Dan kejar karir kamu sampai berhasil.”


Kami menyelesaikan makanan. Beruntunglah orang tua Frans tidak melontarkan pertanyaan yang membuat aku kikuk lagi. Pembahasan kali ini sangat ringan. Hanya menanyakan kegiatan sehari-hari.


Dred. .dred. .


Getar ponsel terdengar nyaring. Aku meraih handphone dari dalam tas, rupanya bukan berasal dari milikku. Frans meminta ijin untuk menjawab panggilan yang masuk melalui ponselnya. Ternyata getar itu berasal dari handphone Frans.


Telah cukup lama aku berbincang-bincang dengan kedua orang tua Frans. Tetapi Frans belum juga kembali. Mami Frans meminta aku untuk menyusul Frans ke lantai atas. Aku mengikuti perintahnya. Lagi pula telah terlalu lama bersama mereka, aku bingung harus membicarakan topik apa lagi.


Setelah sampai di lantai atas, aku melihat beberapa ruangan yang berpintu. Sama seperti lantai dasar, disini juga dihiasi oleh barang-barang mewah. Terdapat 2 pintu yang berdampingan. Aku tidak tahu Frans berada di ruangan yang mana. Beruntunglah aku dapat mendengar bisik-bisik orang berbicara. Suara itu berasal dari pintu sebelah kanan. Aku hendak membuka pintu, tetapi langkahku terhenti ketika mendengar pembicaraan Frans bersama rekan melaui teleponnya.


“Aku yakin Angel pasti marah dan kecewa sama Pak Angga.”


“. . .”


“Pasti cemburu dong. Bagaimana tidak melihat kamu di atas ranjang berdua bersama Pak Angga.”


“. . .”


“Aku tidak nyangka kamu bisa mendapatkan ide cemerlang seperti itu, Windy.”


“. . .”


“Haha iya deh.”


“. . .”


“Gimana ? Keren kan hasil foto gue ?”


Aku tidak tahu pasti apa yang di omongkan oleh lawan bicara Frans. Tapi sepertinya aku tahu dia siapa dan apa yang mereka bahas. Aku mengurungkan niatku untuk menemui Frans. Kutarik pintu dan segera berlari keluar dari rumah itu. Sepertinya pintu yang aku tutup menimbulkan suara, sehingga pemiliknya menyadari kehadiranku.


“Angel. . .”


“Angel tunggu !”


“Maaf Pii, Mii, Angel harus pulang sekarang.”


“Lho, kok buru-buru ?”


Aku tidak menggubris panggilan dari Frans. Berpamitan kepada kedua orang tua Frans juga sangat buru-buru. Bahkan aku tidak menjawab pertanyaan terakhir dari mereka. Sehingga mungkin menimbulkan pertanyaan bagi orang tua Frans. Terlihat dari tatapan mereka yang sangat terheran.


“Angel tunggu !”


“Please please please ! Cepat taksi.”


“Angel.”


“Argh.”


Taksi belum juga menampakan kehadirannya. Aku belum sempat berlalu. Dan sekarang, Frans telah berhasil mengejarku.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2