
Setiap pertemuan akan ada perpisahan. Entah itu pertemuan dalam periode singkat, sedang maupun lama. Tiada yang salah dari sebuah pertemuan. Dan tidak bisa menyalahkan alasan di balik perpisahan.
Aku memutuskan untuk menjaga jarak dari Kak Reza dan kedua rekannya. Aku tidak tahu apakah keputusan yang aku buat benar atau salah. Tetapi jika terus memaksakan untuk bersama, aku tidak yakin akan merasa baik-baik saja seperti dulu kala. Dan untuk Alessyia, aku masih berusaha untuk mendapatkan maaf darinya.
Meskipun kami telah pecah, tetapi aku tahu bahwa Kak Reza dan sahabatnya selalu mengawasi aku dan Alessyia dari Geng Mozea. Mungkin mereka khawatir jika Mozea akan kembali membuat aku dan Alessyia berada dalam bahaya.
Aku memang memutuskan pertemuan dengan mereka. Tetapi aku tidak sepenuhnya memutuskan hubungan. Nomor handphone mereka masih aku simpan dengan sangat rapih. Meskipun demikian, aku sama sekali tidak berkontak. Bahkan jika ada pesan masuk dari mereka, aku tidak menggubrisnya sama sekali. Maaf bukannya aku sombong, tetapi inilah yang terbaik bagi kita semua.
Hari itu aku ada jadwal kuliah sore. Aku berangkat ketika matahari berada tepat di atas kepala. Dan ketika mata kuliah telah usai, matahari sudah bersiap untuk memasuki pelupuk awan.
“Angel. . .”
“Kak Ben ?”
“Kakak mau bicara sebentar.”
“Tidak bisa, Kak. Angel harus segera pulang. Takutnya keburu malam.”
“Cuma sebentar Angel, please ! Ya udah Kakak antar kamu pulang, ya ? Kita bisa mengobrol di jalan.”
“Angel rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.”
“Angel, please !”
Sebenarnya aku gak mau berbicara dengan Kak Beni. Masih sangat terasa canggung. Meskipun waktu itu Kak Beni bilang untuk tidak canggung, tetap saja ada sesuatu yang menghalangi kedekatan kami. Padahal sebelum kejadian waktu itu, kami berdua sangat dekat.
Aku lebih dekat kepada Kak Beni daripada Kak Reza atau Kak Aldo. Kami becanda seperti kakak dan adik. Aku sangat senang karena diperlakukan seperti adik oleh Kak Beni. Dan aku jadi tahu bagaimana rasanya mempunyai kakak laki-laki.
“Angel, maafkan Kakak !”
“Maaf untuk apa, Kak ?”
“Maaf karena Kakak telah salah menyukai kamu.”
“Tidak ada yang salah. Hanya mungkin kita dipertemukan dalam waktu yang salah.”
__ADS_1
Tidak ada yang bisa menyalahkan perasaan seseorang. Rasa suka dan cinta hadir begitu saja tanpa di rencanakan. Jika perasaan bisa memilih kepada siapa ia harus jatuh cinta, maka tidak akan pernah ada cinta sepihak atau cinta bertepuk sebelah tangan.
“Kakak mohon jangan menjauh dari Kakak ! Kakak merasa ada yang hilang, tapi entah apa. Kehadiran kamu telah membuat hari-hari Kakak menjadi lebih berwarna. Kakak telah berjanji tidak akan mengubah perasaaan Kakak kepada kamu lebih jauh lagi. Dan Kakak akan mengembalikan perasaan Kakak ke masa kita awal bertemu. Percayalah, Kakak akan tetap menyayangi kamu sebagai sahabat dan adik.”
“Angel tidak bisa, Kak. Angel tetap merasa canggung. Mungkin kehadiran Angel disini adalah sebuah kesalahan. Jika saja Angel tidak disini, maka Alessyia tidak akan membenci Angel. Dan pertemanan Kakak dan Kak Reza tentunya masih baik-baik saja.”
“Kamu bukanlah sebuah kesalahan. Kamu adalah anugerah. Yang salah dari kisah ini adalah rasa suka dan cinta. Kakak tahu Reza suka sama kamu sejak pertama kamu salah masuk ruangan. Dia juga bercerita kalau kamu adalah gadis impiannya selama ini. Kamu tahu kenapa dia memilih Alessyia untuk menjadi kekasihnya ?”
“. . .”
“Itu karena dia sangat mencintai kamu. Reza gak mau melihat kamu terluka. Dan Reza gak mau melihat kamu bersedih. Dia mengorbankan perasaannya sendiri demi kebahagiaan kamu. Agar kamu terbebas dari Mozea. Dan agar kamu dan Alessyia kembali akrab.”
“Melihat pengorbanan Kak Reza demi membuat kamu bahagia, Kakak juga berpikir untuk membahagiakan kamu dengan cara yang berbeda. Kakak mengikhlaskan untuk mengubur dalam-dalam perasaan Kakak kepada kamu. Seperti apa yang telah Kakak ucap, berada di dekat kamu adalah sebuah kebahagiaan. Jadi Kakak mohon, tetaplah menjadi sahabat Kakak !”
Aku masih membutuhkan waktu untuk bisa berdamai dengan keadaan. Untuk saat ini aku masih tetap pada keputusan awal. Menjauh dan menjaga jarak dengan harapan semuanya akan kembali seperti semula.
***
Sahabat sejati tidak akan pernah meninggalkan. Meskipun badai selalu menerpa. Meskipun rintangan dan masalah berdatangan silih berganti. Kekuatan kasih dan sayang tidak akan pernah hilang.
Aku berjalan sendiri. Melewati detik, jam, hari dan minggu. Aku tidak tahu kenapa aku masih berdiri kokoh. Dan aku tidak mengerti alasan yang selalu membuat aku tegar. Meskipun aku masih kuat, tetapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku selalu merindukan sosok Alessyia.
“Angel. . .”
Aku hendak meninggalkan ruangan ketika seminar telah selesai. Aku duduk di kursi paling belakang, sehingga aku keluar agak lambat menunggu yang di depan keluar lebih dulu. Alessyia yang juga duduk di barisan kursi belakang tiba-tiba memanggil dan menahan pergerakan langkahku.
“Maaf !”
Apa aku tidak salah dengar ? Barusan Alessyia meminta maaf ? Jika ini benar, maka inilah keajaiban kesekian kalinya yang Tuhan kirimkan.
“Gue sadar tidak seharusnya menyalahkan lo atas semua yang terjadi. Dan gue sadar gak seharusnya memaksakan seseorang buat menjadi milik gue. Jika cinta hadir karena paksaan, semua pihak akan terluka. Dia terluka karena berpura-pura mencintai gue, dan gue juga terluka karena dicintai dengan kebohongan.”
“Gue minta maaf, Cha. Gue sama sekali gak bermaksud merebut atau merusak kebahagiaan lo.”
“Enggak, Ngel. Justru gue berterimakasih sama lo. Jika gue terus menutup mata dan telinga, itu akan membuat gue lebih terluka nantinya. Untuk apa gue bersama seseorang yang hatinya bukan buat gue ? Gue juga masih punya harga diri. Dan gue gak mungkin tega membuat Kak Reza selalu membohongi perasaannya sendiri.”
__ADS_1
“Lo itu baik, Cha. Gue yakin akan ada seseorang yang mencintai lo dengan tulus. Mencintai kelebihan lo dan menerima kekurangan lo. Itulah yang dinamakan cinta.”
Sahabat sejati mungkin itulah kami. Meskipun masalah selalu menimpa kami, tetapi kami mampu melewatinya bersama. Meskipun perpisahan selalu mengancam, tetapi kami dipertemukan kembali.
“Pulang yuk ! Badan gue kaku duduk terus.”
“Ayo !”
Dred. .dred. .
“Eh Cha, lo duluan ya ! Nanti gue nyusul.”
“Pak Angga ?”
Aku hanya membalas dengan mengangguk serta senyuman yang tersimpul.
“Pantas saja senyum-senyum sendiri. Ya udah gue tunggu di depan ya !”
Aku segera menjawab panggilan dari Pak Angga. Telah lama kami tidak berkomunikasi. Tentu saja kabar darinya selalu aku nantikan.
“Udah pulang belum ? Saya ada di depan kampus.”
“Hah ? Serius ?”
“Iya. Ayo pulang ! Aku lihat orang-orang telah keluar.”
“Sebentar, Angel keluar sekarang. Angel masih di aula.”
“Aku tunggu disini. Cepat !”
Ini semua seperti mimpi. Kebahagiaan berkali-kali lipat datang kepadaku secara bersamaan. Alessyia yang meminta maaf, dan kehadiran Pak Angga. sungguh seperti berada di dalam negeri dongeng.
“Kok gak bisa dibuka ?”
“Tolong ! Tolong ! Ada orang di dalam.”
__ADS_1
Aku berusaha menggedor-gedor pintu. Entah kenapa bisa terkunci, padahal barusan masih terbuka lebar. Bayangan terkurung di dalam ruang pengap kembali menghantuiku. Dadaku selalu sesak jika mengingat peristiwa ngeri tersebut. Aku baru ingat kata Dokter, bahwa aku memiliki phobia terhadap ruang pengap tanpa pentilasi. Mungkin itu salah satu trauma akibat dari kejadian terkurung di dalam gudang.
*Bersambung*