
Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍
Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇
Terimakasih 🙏🙏🙏
**************************************************
Ada pepatah yang mengatakan bahwa cinta itu buta. Mungkin semua itu benar. Hal tersebut terjadi pada Kak Beni. Ia menutup mata perihal bukti yang membongkar keburukan Clarissa. Di matanya, tetap dia wanita sempurna.
Mungkin cinta buta juga berlaku padaku. Aku tidak peduli cibiran orang yang mengatakan kami tidak pantas bersama karena perbedaan usia dan status. Perihal orang menyebutku pelakor, dan masih banyak cacian yang lainnya. Karena yang penting aku tidak seperti apa yang mereka pikirkan.
Tetapi jika Papah dan Mamah sudah turun tangan mencampuri hubungan asmara yang aku jalin, maka jalan terakhirnya adalah mengikhlaskan. Karena mengikhlaskan lebih menenangkan daripada memaksakan. Sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir baik. Apalagi jika menyangkut restu orang tua.
“Eh kita hunting yuk!”
“Boleh tuh. Kayaknya seru. Lumayan kan buat menghilangkan stress.”
“Gue gak ikut deh. Kalian berdua aja.”
“Ih lo kenapa sih? Gak asik deh. Ayo dong!”
“Males ah. Nanti gue jadi lalat yang tidak di anggap dan malah mengganggu kalian.”
“Dih apaan? Udah pokoknya lo harus ikut!”
Tidak bisa lagi aku menolak ajakan dari Alessyia. Aku sudah lebih dulu di seret dengan kekuatan yang super dahsyat. Dibantu lagi dengan Kak Aldo yang membantu aku melangkah. Mau tidak mau akhirnya aku berjalan dengan langkah guntai.
Kami memasuki mobil milik Kak Aldo dengan sang punya menjadi supir. Ditemani Alessyia di kursi penumpang depan serta aku yang duduk di kursi belakang. Aku tidak mau mendengarkan ocehan-ocehan yang keluar dari mulut Kak Aldo dan Alessyia. Lebih baik aku memilih menyaksikan bangunan bertingkat yang tertata di pinggir jalan. Melihat kebersamaan yang terjalin antara mereka, mengingatkan aku pada sosok Pak Angga dan kenangan yang telah susah payah aku lupakan.
“Angel ayo turun!”
“Hem?”
“Udah sampai. Ayo cepat!”
Ketika mobil telah terparkir dengan sempurna bahkan aku tidak menyadari. Selama perjalanan tanpa tersadar aku memejamkan mata. Dan barulah membelalakan manik mata ketika terdapat telapak tangan yang mendarat di pipi dengan menepuknya pelan.
Kami keluar meninggalkan kendaraan yang telah membawa kami sampai pada pusat perbelanjaan. Dengan kondisi di khalayak ramai seperti ini membuat aku harus menunjukan ekspresi bahagia. Entah kenapa meskipun di tengah-tengah keramaian, hatiku masih merasa sepi dan kosong. Mungkin karena saat ini sudah tidak berpenghuni, membuat aku selalu merasa kesepian.
__ADS_1
“Eh Ngel, lo mau beli apa? Kemarin ada baju baru yang lagi hits lho. Kita lihat yuk!”
“Gue tunggu di foodcurt aja ya, Cha. Gue lapar.”
“Masa udah lapar lagi sih? Tadi kan udah makan?”
“Gue juga haus. Udah kalian pergi berdua aja!”
“Seriusan lo gak mau ikut?”
“Heem.”
Meskipun aku telah berusaha untuk terlihat baik-baik saja, tetapi semua itu tidak mudah. Apalagi jika harus berada di antara sepasang pria dan wanita yang sudah seperti pasangan kekasih, membuat aku merasa tidak nyaman.
Lebih baik aku menikmati jus alpukat sambil duduk santai menikmati orang-orang yang berlalu lalang. Jika melihat raut muka mereka sudah pasti sangat gembira. Mana ada orang yang tidak bahagia jika sedang berada di pusat perbelanjaan. Kecuali anak kecil yang menangis minta jajan.
Sudah cukup lama aku berdiam diri, tetapi Alessyia belum juga kembali. Satu gelas jus sudah hampir habis. Dan kentang goreng yang baru saja aku pesan sudah tersaji di meja.
“Mbak, jus jeruknya satu ya!”
“Baik. Mohon ditunggu!”
Tidak mau kehabisan minum padahal makanan baru tersaji, aku memesan kembali minuman dengan rasa yang berbeda. Aku membuka kunci ponsel untuk memastikan kabar dari Alessyia, tetapi tidak ada notifikasi apa-apa. Aku berusaha untuk menghubunginya, tetapi tidak ada jawaban.
Uhuk..uhuk…
“Ih Cha lepasin! Pengap tahu. Sesak nih gue.”
“Hehe, iya maaf Angel sayang.”
Bagaimana aku tidak kesulitan bernafas jika Alessyia yang baru tiba langsung melingkarkan lengannya di leherku. Padahal aku sedang menikmati kentang goreng yang sudah mendarat di mulut.
“Angel lo yakin gak mau beli? Bagus lho ini. Keren deh. Apalagi kalau lo yang pakai, pasti cocok banget.”
“Enggak deh Cha. Masih banyak baju gue yang masih baru. Gue gak mau boros uang. Mau ditabung aja. Bagaimana kalau suatu hari nanti gue di usir sama bokap?”
“Ya ampun Angel. Seram banget sih omongan lo. Lagian hal seperti itu tidak akan terjadi. Bokap lo bicara seperti itu karena sedang emosi. Kan lo juga tidak melakukan kesalahan lagi. Lo udah putus sama Pak Angga.”
“Tapi Kak Aldo setuju sama prinsipnya Angel. Jangan boros terhadap uang! Lebih baik ditabung untuk bekal masa depan. Cari uang itu susah lho. Kasihan Papi kamu, Cha. Kayaknya Kakak gak mau punya istri kamu. Nanti uang Kakak habis lagi.”
“Yeeey, siapa juga yang mau nikah sama Kak Aldo. Echa juga ogah kali. Wlee.”
__ADS_1
Alessyia menjulurkan lidahnya kepada Kak Aldo dan dibalas cubitan yang mendarat dipinggangnya. Sedangkan aku hanya tersenyum menyaksikan dua insan yang sudah seperti kucing dan tikus. Selalu bertengkar jika bertemu, tetapi merindu jika jauh.
Alessyia dan Kak Aldo memesan beberapa makanan dan minuman. Sedangkan aku yang sudah menghabiskan 2 gelas jus serta 1 porsi kentang goreng tidak mau memesan makanan lagi karena rasanya perutku sudah kembung.
“Ini makanan sama minumannya. Silakan dinikmati!”
“Ah iya, makasih Mbak.” Sapa Alessyia dengan ramahnya.
“Eit, Mbak tunggu! Ahahaha, ini semua masakan Mbak?”
“Iya Mbak, dibantu sama pelayan.”
“Kalau resepnya dari mana Mbak?”
“Em itu dari pencetus bisnis kami, Mbak.”
Alessyia bertingkah aneh. Ketika pelayan yang mengantar makanan dan minuman hendak berlalu, ia menahan lajunya dengan menarik tangannya. Alessyia juga melontarkan beberapa pertanyaan yang bahkan tidak memerlukan jawaban. Ia juga terlihat gugup ketika berbicara. Begitu juga dengan pelayannya, dia bingung harus menjawab apa.
“Cha udah dong! Kasihan Mbak nya harus bekerja lagi.”
“Huh? Em iya. Bentar kali, Ngel. Masih ada sesuatu yang ingin gue tanyakan.”
“Cha udah cukup! Mbak terimakasih ya! Mohon maaf telah mengganggu waktunya!”
Tidak mau membuat pelayan itu canggung, aku segera membebaskannya dari cengkraman Alessyia. Meskipun awalnya susah karena Alessyia menggenggamnya sangat erat seperti anak kecil yang tidak mau ditinggalkan oleh ibunya.
Ketika sudah tidak ada pelayan yang berdiri di sampingku, aku dapat melihat sepasang kursi dan meja sudah terisi oleh sepasang pria dan wanita. Senyuman yang baru saja masih terlukis, kini berubah menjadi awan kelabu. Aku dapat menyaksikan wanita tersebut memberikan perhatian kepada pria yang berada di hadapannya dengan menyuapi makanan yang ada dalam sendok.
Aku segera memalingkan penglihatan dari pandangan yang sangat menyakitkan mata. Bukan hanya perih di mata, tetapi sakit sampai ke hati. Rupanya itulah alasan Alessyia berusaha menghentikan pelayan agar tidak pergi. Supaya aku tidak bisa melihat keromantisan Pak Angga bersama seorang wanita.
“Argh. Mati aku. Sudah aku bilang jangan pergi.” Ucap Alessyia lirih sambil menutup mukanya dengan sepuluh jarinya.
Sejenak aku menundukan pandangan. Tetapi sadar sekarang aku sedang berada di tengah-tengah orang ramai, aku kembali menengadahkan pandangan dengan tatapan percaya diri. Sama sekali tidak terlihat raut kesedihan. Mataku juga tidak memerah. Bibirku masih memperlihatkan senyuman yang melengkung indah.
“Angel, maafkan gue! Seharusnya gue tidak mengajak lo kesini. Kalau gue tidak memaksa, lo gak akan terluka lagi. Maafin gue, Ngel!”
“Kamu sih Cha, maksa-maksa bawa Angel kesini.” Ucap Kak Aldo dengan nada menyalahkan.
“Kan Echa juga gak tahu akan seperti ini Kak.”
“Gue gak papa kok. Lagian gue udah melupakannya. Di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Jadi terserah dia mau jalan sama siapa, gue gak peduli. Itu hak dia. Gue gak ada urusan lagi dengan dia.” Aku menjelaskan dengan senyuman yang tidak pernah hilang.
__ADS_1
“Ya udah kita pulang aja yuk!” Ajak Alessyia.
*Bersambung*