My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-117 Masih Mencinta


__ADS_3

Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰


Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍


Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇


Terimakasih 🙏🙏🙏


**************************************************


Seorang teman yang sudah sangat dekat, bahkan sudah seperti keluarga, tidak akan membiarkan anggota yang lainnya terluka. Baginya, melihat dia terluka itu lebih menyakitkan. Jika perlu dia akan menukar posisi agar sakit itu berpindah kepadanya.


Aku sangat bersyukur bertemu dengan orang-orang baik seperti Alessyia, Kak Aldo dan Kak Beni. Meskipun kami dipertemukan secara tidak sengaja, dan baru menjalin hubungan dalam hitungan tahun, tetapi ikatan kasih sayang yang terjalin di antara kami telah sangat kuat.


Ketika melihat aku kembali bercakap-cakap dengan pria yang telah menggoreskan luka hati, tentu saja mereka tidak bisa diam saja. Sebelum waktu yang aku habiskan bersama Pak Angga semakin lama, mereka segera mendekat dengan tatapan yang sangat ganas.


“Angel, ayo kita pergi sekarang!”


“Ayo, Kak!”


“Tunggu!”


Kak Beni yang baru tiba segera menarik pergelangan tanganku untuk menjauhi Pak Angga. Tentu saja langkah kami tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Meskipun kami tidak meminta izin terlebih dahulu, sudah pasti Pak Angga tidak akan membiarkan aku pergi dengan mudah.


“Berikan waktu untuk saya dan Angel! Saya janji tidak akan lama.”


Pak Angga mengemis kepada orang-orang yang hendak membawa aku menjauh. Kak Beni tidak memberikan jawaban apa-apa. Dia hanya menatap ke arahku. Malalui pergerakan matanya aku dapat mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Kak Beni.


“Tidak Kak, Angel mau pulang. Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan.”


“Angel please! Jangan pergi!”


Aku tidak mengerti kenapa Pak Angga masih terus memohon agar aku tidak pergi. Seperti saat ini, ia masih berusaha menggapai lenganku dan menahan pergerakannya. Kak Beni segera menyibakan tangan Pak Angga jauh-jauh dari tubuhku.


“Angel…”


Bahkan ketika kami telah melangkah menjauh, Pak Angga masih terus memanggil namaku. Sedetik aku membalikan badan untuk melihat kondisinya, aku masih dapat melihat Pak Angga berdiri di tempat yang sama dengan tatapan yang menyaksikan kepergian diriku.


Masih ada tugas yang belum aku selesaikan, yaitu berpamitan kepada Rendy. Karena niat awal aku datang kesini untuk mengantar Rendy, maka ketika hendak pulang aku juga harus berpamitan kepadanya agar Rendy tidak mencari-cari keberadaanku. Tentu saja selalu ditemani oleh 3 orang yang selalu berdiri di samping dan belakangku.


“Rendy, Kak Angel pulang dulu ya.”

__ADS_1


“Kak Angel jangan pergi! Rendy mau sama Kakak.”


“Tidak bisa sayang. Kak Angel masih punya kepentingan pribadi. Jadi tidak bisa tinggal bersama Rendy. Kakak janji deh kalau ada waktu luang akan mengunjungi Rendy. Gimana? Oke deal?”


“Janji ya, Kak! Kakak akan sering menjenguk Rendy dan bermain bersama Rendy?”


“Iya, Kak Angel janji.”


Aku mengikatkan jari kelingking dengan Rendy sebagai bukti ikatan perjanjian. Tetapi aku tidak yakin apakah akan bisa menepatinya atau tidak. Tetapi yang pasti untuk saat ini aku tidak mau Rendy kecewa. Dan juga aku harus mencari alasan agar bisa pergi menjauh dari rumah Pak Angga.


Entah kenapa melihat sosok Pak Angga membuat nafasku terasa sesak. Antara perasaan kecewa, sakit, benci dan cinta, semuanya seakan bercampur menjadi satu. Segera kami melangkah pergi dengan aku dan Kak Beni yang memimpin perjalanan.


“Kak Angel tunggu!”


Sayangnya perjalanan kami tidak berjalan mudah. Rendy berlari mengejar langkah kami dan menghadang laju kakiku. Tentu saja kami segera berhenti karena tidak mau menyakiti Rendy dengan berjalan paksa menabrak tubuhnya.


“Jangan pergi! Rendy mau ikut sama Kak Angel. Bawa Rendy pergi bersama Kakak!”


Mendengar perkataan Rendy barusan tentu saja membuat aku kebingungan. Seketika aku menatap teman-temanku secara bergantian. Tentunya mereka juga kembali menatapku penuh tanda tanya. Aku segera berjongkok untuk menyamai posisi Rendy yang saat ini sedang memegang erat betis kaki kiriku.


“Rendy sayang, dengarkan Kak Angel! Rendy tidak bisa ikut sama Kakak. Rendy punya Ayah yang akan menjaga dan mengurus Rendy sampai dewasa.”


“Rendy tidak kehilangan Kak Angel. Kita masih bisa bertemu dan bermain bersama. Rendy masih bisa merasakan kasih sayang yang Kak Angel berikan. Hanya saja untuk saat ini kita tinggal berjauhan, ya.”


“Hiks…hiks…”


“Cup cup cup! Jangan nangis! Rendy kan anak lelaki yang kuat. Masa anak cowok nangis sih? Malu tuh dilihatin sama kakak-kakak. Apalagi ada Kak Alessyia yang cantik.”


Tetesan air keluar dari bola mata Rendy yang masih terlihat jernih. Tidak mau melihat tetesan tersebut lebih deras, aku segera membawa Rendy ke dalam dekapanku dan mengeluarkan beberapa patah kata yang di harapkan bisa membuatnya tenang.


Cup!


Ketika tangisan sudah tidak ada lagi dan air mata sudah mengering, aku segera memberikan Rendy kepada Bi Rani. Sebelum kami benar-benar pergi meninggalkan anak kecil yang masih polos, aku memberikan kecupan yang mendarat di keningnya terlebih dahulu.


Selama perjalanan tidak ada percakapan yang tercipta. Kak Beni masih fokus mengendalikan setir kemudi dan aku masih asik menatap lurus dengan tatapan yang kososng. Bahkan ketika mobil yang kami kendarai sudah berhenti, aku tidak menyadari. Barulah aku tersadar ketika teriakan Alessyia masuk semua ke pendengaranku.


“ANGEL…”


“Whoaaa….Cha, lo apaan sih? Sakit tahu kuping gue.”


“Udah sampai Angel, kenapa bengong aja sih?”

__ADS_1


“Hah? Eu gak papa kok. Ya udah ayo kita masuk!”


“Angel, gue sama Kak Aldo langsung pulang aja ya.”


“Kenapa buru-buru sih?”


“Emm gak, gak papa kok.”


“Oouuhh gue ngerti. Ya udah kalian boleh pergi. Hati-hati ya! Kak Aldo titip teman Angel yang langka ini.”


“Haha. Oke siap.”


Kecurigaan aku semakin besar kepada Alessyia dan Kak Aldo. Aku merasa seperti ada yang mereka tutupi. Dan entah kenapa perasaan aku semakin kuat mengatakan bahwa mereka menjalin suatu hubungan. Tetapi aku belum bertanya langsung kepada mereka. Aku memberikan waktu agar mereka yang terlebih dahulu mengungkap statusnya.


“Kak Ben, ngerasa gak ada yang aneh sama mereka berdua?”


“Iya. Kamu ngerasa juga, Ngel? Kakak pikir cuma firasat Kakak aja.”


“Menurut Kak Ben mereka berpacaran atau gimana?”


“Bisa jadi sih. Iya gak sih?”


“Heem. Entahlah, mereka masih malu untuk jujur mungkin.”


“Kita lihat aja sampai mana mereka akan kuat menjalani backstreet.”


“Haha iya iya. Ya udah ayo masuk, Kak!”


“Kak Ben langsung pulang aja, ya! Oh iya, jangan ingat-ingat kejadian yang tadi. Anggap saja tidak pernah ada. Kalau kamu perlu bantuan segera hubungi Kakak! Oke?”


“Siap komandan! Hehehe.”


Kak Beni telah memasuki mobil miliknya dan membawanya melaju meninggalkan aku seorang diri. Aku juga segera melangkah memasuki kamar kost. Dan ketika aku sudah sendiri, kejadian beberapa waktu lalu kembali berputar di ingatanku.


Meskipun Kak Beni telah berpesan untuk melupakannya, tetap saja memori tersebut berputar dengan sendirinya. Sebenarnya aku juga tidak mau lagi berurusan dengan kehidupannya Pak Angga. Apalagi hari ini aku kembali memergokinya dengan seorang wanita di dalam kamar. Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan semua itu? Hati siapa yang tidak kecewa melihatnya?


Dulu aku melihat Pak Angga sedang menerima suapan dari wanita di salah satu pusat perbelanjaan, dan kini aku kembali menjumpainya bersama wanita yang berbeda. Meskipun Pak Angga sudah menceritakan kronologisnya, tetap saja hatiku sakit melihatnya.


Semua yang berurusan dengan Pak Angga selalu memberikan luka. Ucapan yang keluar dari mulutku yang mengatakan aku sudah tidak peduli semuanya hanyalah dusta. Karena pada nyatanya Pak Angga benar, aku cemburu melihatnya dengan wanita lain. Oleh karena itu aku segera berlari.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2