
Setelah perjalanan panjang disertai dengan perdebatan, akhirnya kini telah menemukan titik terang. Pilihannya jatuh pada salah satu Universitas ternama dan terbesar di kota Kembang, dengan Fakultas Sastra dan Bahasa Indonesia.
Sebelum memilih jurusan apa yang akan aku ambil juga dipenuhi dengan selisih paham terlebih dahulu. Keinginan Papah belum berubah, yaitu menginginkan aku untuk menjadi seorang programmer. Tapi aku sadar fashion aku bukan disana. Mau dipaksakan sekeras apapun, aku tetap tidak bisa berada pada bidang tersebut.
Lagi dan lagi orang tua selalu mensupport apa yang aku inginkan. Bahasa Indonesia itu unik, terdapat banyak kata yang memiliki makna berbeda. Terdapat beberapa kata ungkapan yang tersembunyi dibaliknya. Serta beberapa makna kiasan yang indah di dengar.
Mungkin aku tidak pandai dalam berpuisi, tapi aku ingin merangkai kata-kata indah untuk mengungkapkan perasaanku. Entah itu rasa senang, sedih, duka ataupun tawa. Mungkin itu alasan kenapa aku memilih jurusan Sastra Bahasa Indonesia.
“Baik, Bu. Kalau begitu untuk kekurangannya akan Angel lengkapi secepatnya.”
“Tapi jangan terlalu lama, ya ! Biar segera diproses.”
“Siap, Bu. Kalu gitu Angel permisi dulu.”
Alessyia ngeselin. Dia sudah janji untuk mengumpulkan berkas pendaftaran hari ini. Ternyata dia mengingkarinya. Dengan alasan bangun kesiangan. Padahal bisa saja dia menyusul. Bilang saja kalau males. Tapi emang sewaktu aku menelepon dia, suaranya parau bak kesadarannya belum pulih seutuhnya. Tapi dia kan bisa datang menyusul aku. Aaarrrggghhhh bikin mood aku hancur.
“Bu, jus alpukatnya satu !”
Ternyata marah diam-diam juga membuatku capek. Kerongkonganku terasa kering. Padahal aku hanya mengumpatnya dalam hati. Untung saja si Ibu kantin tidak lama memproses pesananku. Sehingga aku bisa meredam amarahku dengan dinginnya jus alpukat. Tapi tetap saja mengingat Alssyia membuat aku ingin marah. Hingga menampakkan raut wajah kekesalan.
“Kenapa monyong gitu bibirnya ?”
“Pak Angga. . . Iihhh ngagetin Angel aja.”
“Ngapain disini sendirian ?”
“Gara-gara Alessyia. Kalau dia tidak berkhianat aku tidak mungkin berada disini sendiri.”
Jawabku ketus. Pak Angga tidak menjawab ocehanku dengan kata-kata. Ia hanya membalasnya dengan senyuman yang susah payah ia tahan agar tidak ketahuan. Jelas aku heran. Apa yang lucu sehingga membuatnya tersenyum ? Aku ini lagi marah, bukan melawak.
“Jangan melotot gitu matanya ! Serem.”
“Lagian Bapak kenapa coba ngetawain Angel ?”
“Kamu ini marah, tapi lucu.”
Aku sama sekali tidak mengerti dengan cara ia memandangku. Jelas aku menampakkan aura kemarahan. Tapi dia bilang lucu. Lucu darimana ?
“Iya iya maaf. Udah jangan marah-marah ! Tapi ucapan saya benar kok. Kamu lucu, apalagi kalau marah. Muka kamu tuh gak bisa marah Angel. Walaupun kamu sedang marah besar, tapi muka kamu tetap aja polos. Itu kenapa saya bilang lucu.”
Tiba-tiba saja aku melupakan rasa kesal terhadap Alessyia yang sebelumnya hampir meledak. Lagi lagi, ucapan Pak Angga mampu menenangkan. Jika saja tidak hadir Pak Angga pada waktu itu, mungkin aku telah membabi buta mendatangi rumah Alessyia dan memarahinya.
“Ada keperluan apa kamu ke sekolah ?”
“Angel habis mengumpulkan berkas pendaftaran masuk Universitas. Janjinya sama Alessyia, tapi dia gak jadi.”
“Jadi itu alasan kamu marah ?”
__ADS_1
“Iya. Habisan Angel kesal. Angel gak suka jika ada yang telah berjanji namun diingkari.”
“Ya udah jangan ngebahas itu lagi. Saya tidak mau kamu darah tinggi karena marah-marah.”
“Heem.”
“Sudah sampai mana berkasnya ?”
“Masih ada beberapa yang kurang. Nanti Angel lengkapi secepatnya.”
Dred. .dred
Dering ponsel memberitahukan notifikasi dari aplikasi WhatsApp berupa chat. Terlihat nama yang tertera dilayar depan ‘Mamom’. Aku melupakan satu hal, yaitu titipan Mamah. Mamah meminta aku untuk membelikan obat alergi di apotek. Bukan untuk Mamah, melainkan untuk salah satu ART di rumah yang mengalami benjolan dan gatal-gatal setelah memakan ikan yang dibeli dari pasar.
“Maaf, Pak ! Angel harus pergi sekarang.”
“Mau saya antar ?”
“Tidak usah. Bapak kan masih ada kelas. Angel bisa sendiri kok.”
Aku segera berlalu menunggu di depan gerbang sekolah driver ojek online yang sebelumnya telah aku pesan melalui aplikasi. Aku memilih naik ojol karena jarak dari sekolah ke apotek tidak terlalu jauh. Jika menggunakan bus, tidak ada halte yang turun di daerah situ.
Aku telah menggenggam obat ditangan kanan. Entahlah apakah obat ini yang Mamah maksud. Aku lupa tidak menanyakan namanya. Yang Mamah suruh hanyalah obat alergi. Aku memilih ini karena rekomendasi dari pelayan apotek.
“Ayo naik !”
“Saya akan mengantarkan kamu.”
“Tapi Angel sudah memesak ojek online.”
“Untuk kali ini saya mohon cancel saja !”
Dengan terpaksa aku membatalkan reservasi yang telah dilakukan sebelumnya. Sebenarnya aku tidak enak untuk membatalkannya. Kasihan sama abang ojolnya. Tetapi karena perkataan Pak Angga, “Saya telah meninggalkan kelas saya demi menemui kamu. Kali ini tolong dengarkan kemauan saya !”
Mendengarnya yang telah berkorban ijin tidak masuk kelas, aku juga tidak tega. Kejam sekali aku, bukan ? Dia telah merelakan sesuatu demi aku, tapi aku sama sekali tidak menghargainya.
"Untuk kali ini maafkan Angel abang ojol. Pesanannya Angel cancel. Tapi lain kali Angel tidak akan membatalkannya lagi."
Gang untuk menuju rumahku sudah terlewat. Tetapi motor yang membawaku masih melaju dengan kecepatan tinggi. Apa mungkin dia lupa ? Atau mungkin dia sengaja ? Aku ingin bertanya kepada sang supir, tetapi percuma saja, suaraku tidak mungkin menang melawan bisingnya kendaraan bermotor yang melintas tiada henti.
Motor gede berwarna merah menyala telah terparkir di halaman depan sebuah Resto. Orang yang membawaku kemari sama sekali belum mengatakan apa-apa. Dia hanya membawa tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Persis seperti orang tua yang memegang anaknya ketika akan menyebrang jalan.
Dua pasang kaki berjalan mengarungi anak tangga. Setelah berhasil menaklukkan beberapa anak tangga, aku benar-benar terkejut dengan suguhan yang disajikan resto tersebut. Mataku dibuat terpana dengan keindahan gunung menjulang tinggi yang ķurang lebih berjarak sekitar 10 km dari kediamanku saat ini. Tepat dipinggir bangunan ini terdapat hamparan sawah yang luas. Aku tidak menyangka ada tempat yang seperti ini. Aku kira disini tidak ada lahan kosong, melainkan sudah terpenuhi dengan bangunan-bangunan bertingkat.
Pak Angga memundurkan kursi agar aku bisa duduk disana. Ternyata Pak Angga bisa juga bersikap manis. Aku kira dia tidak mengerti perihal keromantisan.
“Katanya kamu sudah bosan di kota ini ? Berarti tempat ini bukanlah hal yang baru bagi kamu kan ? Karena kamu pasti sudah menjelajahi sudut pelosok kota ini.”
__ADS_1
“Tidak. Maksud Angel bukan seperti itu. Waktu itu Angel bilang bosan hanya sebagai perumpamaan saja, Pak. Tempat ini indah. Belum pernah Angel temui tempat seperti ini sebelumnya.”
“Apakah kamu suka ?”
“Suka. Angel suka. Sangat suka.”
“Tidak bisakah kamu tetap disini ?”
Seketika kulihat wajahnya berubah menjadi sendu.
“Tapi cita-cita Angel bukan disini, Pak. Angel tidak bisa merubah keputusan Angel lagi.”
Ia belum mengatakan apa-apa. Ia menarik tanganku dan menggenggamnya.
“Maafkan saya Angel ! Saya sadar sikap saya barusan adalah keegoisan. Saya tidak mungkin menghalangi dan mengganggu apa yang kamu impikan sejak kecil. Saya hanya takut.”
“Takut ? Apa yang membuat Bapak takut ?”
“Saya takut kamu bertemu dengan pria yang se-usia dengan kamu. Dia tampan, pintar, dan yang pasti dia bukanlah seorang duda beranak satu seperti saya.”
“Pikiran yang kekanak-kanakan. Untuk apa menakutkan hal yang tidak mungkin terjadi ?”
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Angel.”
“Angel memang tidak bisa janji setia sama Bapak untuk sekarang. Disaat status kita yang belum ada kejelasan. Tetapi jika suatu hari Angel sudah tidak menyukai Bapak, Angel akan berterus terang dengan cara yang tidak akan menyakitkan.”
“Tidak mungkin tidak tersakiti. Selalu ada yang tersakiti dari kata perpisahan.”
“Apa yang lebih sakit hati, berpura-pura dicintai, atau berterus terang ?”
“. . .”
“Bagi Angel, dicintai tapi tidak sepenuh hati itu jauh lebih menyakitkan daripada berterus terang bahwa dia tidak mencintai kita. Karena kita telah beranggapan bahwa dia merasakan kasih dan sayang sama seperti kita, namun semua itu hanyalah dusta. Sama halnya dengan aku memiliki raganya, tetapi tidak dengan hatinya.”
*Bersambung*
.
.
.
.
Author sangat berterimakasih kepada para readders yang telah meluangkan waktunya untuk mampir di Novel author🙏🙏🙏
Selalu dukung author ya dengan like, komen, dan vote😇😇
__ADS_1
Terimakasih 🥰🥰🥰