My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-58 Romantisme di Saat Hujan


__ADS_3

“Sudah sore. Kita pulang sekarang ?”


“Gak bisa nunggu sunset dulu, Bee ?”


“Enggak bisa sayang. Apa kata Mamah kamu nanti ?”


“Yaaahhh.”


“Next time kita nikmati sunset bersama, ya !”


Salah satu impianku ketika aku masih jomblo yaitu ingin menikmati sunset bersama pacar. Tetapi impianku itu belum aku rasakan. Pak Angga benar. Aku harus segera pulang sebelum malam tiba, untuk menghindari pertanyaan bertubi-tubi dari Mamah.


Pak Angga menggenggam tanganku untuk melangkah bersama. Kemudian memakaikan helm dan memastikan telah terpakai dengan sempurna di kepalaku. Perlahan si merah melaju meninggalkan jejak di pasir yang telah menampungnya beberapa saat.


Sebelum perjalanan semakin jauh, aku masih dapat menikmati deburan ombak yang bergulung.


Clak. . .


Tetesan air langit mendarat sempurna di hidung. Aku pikir itu cuma akan terjadi sekali. Tetapi semakin lama tetesan itu semakin tiada henti.


“Bee, hujan. . .”


“Kita berhenti di depan.”


Pak Angga mempercepat laju si merah sebelum hujan semakin deras dan membasahi kami berdua. Beruntunglah tidak jauh dari posisi kami saat ini terdapat gubug terbuka tanpa alas dengan atap dari genting. Sepertinya sudah lama tidak terawat. Gentingnya sudah berantakan. Sehingga air hujan dapat menerobos di antara celah-celah yang terbuka.


Aku menggosok-gosokan kedua telapak tangan untuk menciptakan rasa hangat. Kemudian menempelkannya di pipi.


“Dingin ?”


Aku mengangguk. Pak Angga segera melepas jaket yang ia pakai. Kemudian memakaikannya kepadaku.


“Gak usah, Bee. Nanti kamu kedinginan.”


“Gak papa. Aku masih pakai lengan panjang.”


“Tapi Bee, itu tetap dingin.”


“Yang penting kamu gak kedinginan. Aku gak mau kamu masuk angin.”


Pak Angga kemudian menggosokan tangannya dan menempelkan ke pipiku. Aku menatapnya sambil tersenyum. Kemudian aku juga membalasnya dengan perlakuan yang sama.


“Bee, kayanya hujannya udah reda.”


Aku tengadahkan pandangan dan menjulurkan tangan terbuka untuk memastikan hujan telah reda. Benar, tiada lagi air langit yang menetes.


“Kita lanjut lagi ?”


“Ayo !”


Pak Angga kembali menancap gas si merah. Aku dapat melihat terkadang Pak Angga bergidik. Sepertinya Pak Angga kedinginan. Angin akan terasa tajam ketika sedang naik motor. Apalagi habis turus hujan.


“Bee, jaketnya kamu yang pakai aja, ya !”


“Buat kamu aja sayang.”


“Angel gak papa kok, Bee. Kamu yang di depan. Pasti anginnya terasa banget.”


“Enggak akan terasa sayang kalau kamu meluk aku.”


Pak Angga segera menarik kedua tanganku untuk memeluknya lebih erat. Aku tersenyum mendengar perkataan Pak Angga. Di saat seperti ini yang dia pikirkan hanyalah kesehatanku. Padahal aku yakin dia sendiri merasa kedinginan.


“Terimakasih, Bee. I love you.” Gumamku dalam hati.


Si merah memasuki sebuah gang. Tetapi itu bukan gang ke arah rumahku. Membutuhkan waktu sekitar 10 menit lagi untuk sampai ke rumahku. Itulah gang yang akan mengantarkan menuju kediaman Pak Angga. Dan benar, Pak Angga berhenti ketika tepat di depan rumahnya.


“Bee, kita kesini ?”


“Sebentar, aku mau ambil jaket untuk kamu.”

__ADS_1


Pak Angga melangkah lebih dulu. Kemudian langkahnya terhenti melihat tiada sepasang kaki yang mengikutinya. Pak Angga berbalik ke arahku.


“Masuk dulu ! Di luar dingin.”


“Ah iya.”


Pak Angga menarik tanganku untuk masuk. Aku tidak tahu kenapa bisa se-gugup ini. Padahal ini bukan pertama kali aku berkunjung ke rumah Pak Angga. Tetapi setiap menginjakkan kaki di halaman depan rumah itu, rasa gugup kembali menghampiriku.


“Bee, Rendy dimana ?”


“Rendy dibawa ke rumah Bi Rani. Udah 2 malam tidur disana. Mungkin malam ini juga.”


“Kenapa disana ?”


“Disana ada temannya. Cucu Bi Rani se-usia dengan Rendy.”


Aku mengangguk mengerti. Karena pintu depan dikunci, maka sudah pasti di rumah Pak Angga tidak ada siapa-siapa. Aku juga tidak melihat tanda-tanda kehadiran Rendy. Dan aku jadi tahu setelah mendengar penjelasan Pak Angga.


Pak Angga kembali dengan membawa jaket ditangannya. Kemudian memberikan kepadaku agar dapat segera dipakai.


Aku menarik lengan jaket agar jemariku dapat terlihat. Karena ini jaket milik Pak Angga, sudah pasti terlalu besar bila aku yang pakai. Pak Angga tertawa geli menyaksikan aku memakai jaket kelonggaran itu.


“Kebesaran, Ya ?”


“Heem.”


“Gak papa. Kamu lucu memakai itu.”


Hari ini saja aku sudah mendengar pujian 2 kali dari Pak Angga. Sungguh di luar dugaan. Senang bukan main sampai aku refleks melompat dan berputar. Aku lupa bahwa alas sepatu yang aku pakai basah karena hujan. Itu mengakibatkan licin ketika bergesekan dengan lantai.


“Aaaaaaa.”


Beruntunglah Pak Angga sangat sigap. Ia segera menarik pinggangku dan menahannya agar tidak mendarat di lantai. Aku bisa bernafas lega. Dan perlahan membuka mata. Aku tidak menyangka ternyata sekarang kami sangat dekat. Bahkan getaran dada Pak Angga dapat aku rasakan. Hangatnya nafas Pak Angga mengenai hidungku.


Haacciihhh. . .


“Kamu sakit ?”


“Eu-enggak kok, Bee. Cuma kedinginan aja kayanya.”


Aku masih gugup dengan kejadian barusan. Aku mencoba menetralkan emosi dengan mencari topik pembicaraan yang baru.


“Eu, Bee. Ini jaketnya.”


Pak Angga memakai jaket yang aku kembalikan kepadanya.


“Lho Bee, kok dipakai ? Itu pasti dingin habis kena air hujan.”


“Biar masih ada wangi khas kamu. Jadi aku merasa dipeluk terus sama kamu.”


“Ihhh Bee, gombal terus.”


“Hahaha.”


Aku dan Pak Angga keluar rumah untuk melanjutkan perjalanan. Aku berjalan lebih dulu ketika Pak Angga sedang mengunci pintu. Tiba-tiba Pak Angga sudah berada tepat dibelakangku. Ia kini memelukku dari arah belakang.


“Bee, gak enak ih. Nanti kalau dilihat orang gimana ?”


“Siapa yang lihat ?”


“Ya orang-orang.”


“Gak ada sayang. Paling mereka iri lihat nya.”


“Iiihhh, Bee.”


“Sebentar. Aku sangat merindukanmu. Aku belum siap untuk berpisah denganmu. Berjanjilah kamu tidak akan meninggalkan meskipun badai selalu menerjang hubungan kita !”


“Angel tidak akan pernah beranjak. Jika bukan kepada Pak Angga, maka Angel tidak akan jatuh cinta.”

__ADS_1


Haaciih. . .


“Kamu sakit sayang ?”


“Enggak, Bee.”


Pak Angga melepaskan pelukannya dan beralih berdiri di hadapanku. Ia meletakkan punggung tangannya di keningku untuk mengecek suhu tubuhku.


“Tuh gak papa kan, Bee ?”


“Kalau kamu sakit atau merasa gak enak badan, segera hubungi aku.”


“Angel gak sakit, Bee.”


“Iya. Tapi kamu bersin-bersin terus. Pokoknya kalau kamu merasa pusing atau flu kasih tahu aku ! Oke ?”


“Oke.”


Kebersamaan aku dan Pak Angga harus berakhir detik ini. Aku telah tiba di depan rumah setelah Pak Angga mengantar di gang depan. Aku memasuki pintu dengan jaket di tenteng di tangan kanan.


“Sayang baru pulang ?”


“Mamah. Hehe iya, Mah.”


“Lho, kamu kok basah. Kamu hujan-hujanan, sayang ?”


“Iy-iya, Mah. Tadi sebelum hujan Angel naik ojek onlie. Mau berhenti tanggung lagi di tengah-tengah perjalanan. Tepaksa deh melanjutkan sambil hujanan.”


“Ya ampun sayang. Ya udah kamu mandi dulu, ya ! Nanti Mamah siapin minuman dan sop hangat.”


Aku segera menuju lantai atas untuk membersihkan badan dan mengganti pakaian. Jika lebih lama lagi memakai pakaian basah itu, aku bisa masuk angin.


Setelah selesai, aku segera menuju ruang makan. Disana telah tersaji mangkok yang berisi sop beserta teh dicampur jahe geprek yang masih mengeluarkan uap panas.


Haaciih. .


“Tuh kan sayang kamu bersin-bersin. Kamu habiskan dulu makan dan minumnya, ya ! Mamah ambilkan obat dulu.”


Mamah kembali setelah mengambil obat untuk aku. Aku segera menerima dan meminumnya.


Haaciih. .


“Mah, Angel tidur ya.”


“Iya sayang. Lebih baik kamu istirahat.”


Sepertinya badanku kaget mendapatkan tetesan air hujan yang langsung jatuh ke tubuhku. Mungkin dengan membawanya tertidur, ketika aku esok bangun lagi akan menghilangkan rasa tidak nyaman dihidungku.


*Bersambung*


.


.


.


Jangan lupa untuk mendukung author dengan meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote 🥰🥰


.


.


Kalian juga bisa jadikan novel ini sebagai favorit, agar mendapatkan notifikasi ketika up 😍😍


.


.


Terimakasih 🙏😇

__ADS_1


__ADS_2