
Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍
Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇
Terimakasih 🙏🙏🙏
**************************************************
Aku pernah bermimpi Pak Angga menyematkan cincin di jari manisku, begitupun dengan aku yang menyematkan jari cincin di jari manis milik beliau. Waktu itu aku sangat berharap bahwa mimpi tersebut benar-benar terjadi di dalam kehidupan nyata.
Sekarang apa yang aku mimpikan telah terwujud. Dulu aku pernah berpikir bahwa hal tersebut hanya ada dalam mimpi. Aku tidak menyangka jika akhirnya bisa menjalin hubungan dengan Pak Angga secara terbuka, tanpa harus sembunyi-sembunyi dari Papah dan Mamah.
Sekarang aku sadar, bahwa mimpi pada waktu itu salah satu pertanda baik. Hal tersebut menggambarkan hubungan kami selangkah lebih jauh. Sungguh sesuatu yang membahagiakan ketika Papah sudah bersikap ramah kepada Pak Angga, bahkan mereka berbincang dan tertawa bersama.
Aku masih belum mengetahui bagaimana detailnya sampai Papah mengubah keputusannya. Karena yang Papah ceritakan hanyalah ungkapan perasaannya, bukan kronologis kejadiannya. Tetapi aku tidak mau merusak suasana keakraban yang saat ini sedang terjalin dengan mempertanyakan sesuatu yang mungkin tidak penting bagi sebagian orang.
“Mah, Angel mau ke atas dulu ya. Angel mau rebahan dulu sebentar di ranjang. Angel kangen sama kamar tidur Angel.”
“Oh iya silakan sayang.”
Aku meninggalkan Mamah yang sedang duduk menatap dua pria yang sedang asik membicarakan suatu hal. Pak Angga dan Papah masih melakukan percakapan. Tetapi rasanya tubuhku kaku, mungkin karena seharian tidak meluruskan badan. Aku memutuskan untuk naik ke lantai dua menuju tempat ternyaman di rumah ini, yaitu kamar tidur.
Seperti tujuan utamaku kesini, aku segera membuka pintu kamar dan menutupnya kembali. Dengan langkah yang fokus, aku menghampiri ranjang dan segera berbaring disana. Perlahan mataku terpejam, tetapi tidak terlelap. Hanya untuk menghilangkan rasa perih karena seharian tanpa memejamkan mata yang cukup lama.
Tok..tok..tok…
“Mas…”
Sebelum aku memberikan izin kepada seseorang yang telah mengetuk pintu, orang tersebut telah membuka pintu. Mataku langsung terbuka dan dapat melihat sosok tersebut dengan jelas. Bahkan karena terkejutnya aku tidak sempat menyelesaikan kata yang hendak di ucapkan. Orang tersebut telah berjalan mendekatiku.
“Stop! Jangan mendekat!”
__ADS_1
Aku segera terbangun dan berusaha menghadang pergerakan dia dengan menggunakan kedua tanganku. Kepalaku bersembunyi di antara lengan atas, sehingga aku tidak dapat mengetahui posisi orang tersebut.
“Angel, kamu kenapa?” Tanya Pak Angga heran.
Aku masih pada posisi yang sama untuk melindungi tubuhku dari beliau. Dengan segera Pak Angga berusaha menyingkirkan tanganku agar dapat melihat wajahku. Kekuatannya sangat kuat, sehingga aku terkalahkan dan memperlihatkan kembali wajahku yang telah memerah.
“Muka kamu kenapa, kok merah gitu?”
“Pak Angga ngapain masuk ke kamar Angel tiba-tiba?”
“Tadi kan aku ketuk pintu dulu.”
“Tapi kan Angel belum menjawabnya. Terus bagaimana bisa kesini? Bukannya tadi lagi ngobrol sama Papah? Emangnya Pak Angga dibolehkan naik ke lantai dua?”
“Baiklah sekarang giliran aku untuk menjawab. Pertama-tama aku ingin meminta maaf karena sudah masuk ke kamar kamu tanpa izin. Kedua, aku naik kesini karena sudah selesai bercakap-cakap dengan Papah kamu. Ketiga, Mamah kamu yang menjelaskan bahwa kamu sedang ada disini. Dan Mamah kamu juga yang menyuruh aku menemui kamu disertai dengan restu dari Papah kamu.”
Aku hanya mematung mendengarkan penjelasan Pak Angga.
Pak Angga segera melangkahkan kakinya meninggalkan ranjang mendekati pintu keluar. Kedua langkah kakinya telah membawa anggota tubuhnya menjauh. Akhirnya aku bisa bernafas lega. Rupanya selama ini pikiranku yang terlalu jauh. Aku takut Pak Angga akan melakukan sesuatu yang aneh. Tapi nyatanya, tidak ada perlakuan dia sedikitpun yang mengarah pada hal-hal tersebut.
Sebelum keluar kamar, aku lebih dulu mencuci muka. Takutnya ada kotoran yang menempel disana, dan aku juga merasa bahwa mukaku telah sangat kusam dan berminyak. Barulah aku keluar setelah memastikan mukaku kembali bersih.
Tatapanku mengelilingi seluruh penjuru ruangan. Tidak ada sosok Pak Angga di dalam ruang. Ketika badanku hendak berbalik, aktivitasku terhenti ketika menatap ke arah luar dan menemukan seseorang sedang berdiri menatap langit yang terbentang luas.
“Kenapa melamun?”
“Siapa yang melamun? Aku cuma lagi melihat keindahan alam yang Tuhan berikan.”
Aku hanya mengangguk sebelum memutuskan untuk duduk di sofa. Pak Angga masih berdiri disana. Entah apa yang dia lihat sampai matanya mengeluarkan sorot cahaya serta membuat lengkungan di garis bibirnya.
“Bee, Angel ada disini. Tadi katanya Angel disuruh keluar. Sekarang Angel udah keluar lho. Kok di abaikan gitu sih.” Ucapku ketus.
Pak Angga langsung berbalik untuk berjalan mendekatiku. Dengan tatapan menyejukannya dia berkata, “Maafkan aku sayang. Tadi aku hanya sedang menikmati indahnya dunia. Saat ini aku juga sedang tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur karena Tuhan telah mempersatukan kita berdua. Bagiku, ini adalah salah satu keajaiban terindah dan terbesar selama hidupku.”
__ADS_1
Entah kenapa balkon selalu menjadi tempat terciptanya suatu momen yang nantinya akan menjadi sejarah di dalam hidupku. Dan kejadian sekarang, aku berjanji tidak akan pernah melupakannya. Begitupun dengan peristiwa yang terjadi di balkon kamar indekost, semuanya masih tergambar jelas dalam ingatan.
“Bee, sebenarnya bagaimana kejadiannya sebelum Papah memberikan restu? Angel ingin mengetahui detailnya dari awal kamu meminta restu sampai Papah memberikan restu. Tolong ceritakan kepada Angel, Bee!”
“Bukannya kamu sudah tahu penjelasan dari Papah kamu tadi?”
“Itu bukan penjelasan kronologisnya, Bee. Itu hanya sebagian ungkapan perasaan Papah. Please, Bee! Angel ingin tahu.”
Entah kenapa aku sangat ingin mengetahui prosesnya. Karena bagiku tidak ada hasil tanpa suatu proses. Dan aku akan lebih mengharagai proses daripada hasilnya.
“Baiklah jadi gini, siang hari setelah aku mendatangi kamu dan meminta kita untuk kembali, aku segera mendatangi orang tua kamu. Seperti janjiku padamu untuk mendapatkan restu dari mereka sebelum kita kembali lagi. Awalnya aku ragu, takut bukan main. Tetapi aku tidak mau kehilangan kamu lebih lama lagi. Aku juga takut akan ada pria yang berhasil membuat kamu jatuh hati.”
Pak Angga menghentikan sejenak penjelasannya untuk menarik nafas, kemudian melanjutkan pembicaraannya.
“Dan kamu tahu respon pertama yang Papah kamu berikan kepadaku? Sama dengan apa yang aku bayangkan sebelumnya. Bentakan, kata-kata yang sedikit kasar, hinaan dan cacian.”
“Kata-kata seperti apa itu, Bee?”
“Aku rasa tidak perlu menjelaskannya. Kamu juga telah sering mendengarnya. Tetapi itu tidak membuat aku menyerah. Aku masih berdiri untuk memohon. Tetapi belum juga ada respon yang baik dari Papah kamu. Dan aku memutuskan untuk bersimpuh di hadapannya dengan harapan agar hati Papah kamu luluh. Dan aku sangat berterima kasih kepada Mamah kamu. Tanpa bantuan dari beliau, aku tidak mungkin bisa mengantongi restu seperti saat ini.”
“Mamah? Apa yang Mamah lakukan?” Tanyaku heran.
“Beliau menangis histeris dan meminta agar Papah memberikan restu kepadaku. Entah mungkin dia tidak tega melihat aku terus mengemis. Tetapi aku yakin bukan itu alasannya. Kamu tahu kan feeling seorang ibu sangat kuat?”
“Heem.”
“Dan Mamah kamu telah mengetahui bahwa anaknya bahagia ketika bersama denganku. Itulah alasannya kenapa Mamah kamu membantu aku untuk memohon kepada Papah. Mamah kamu juga ikut bersimpuh dan menangis tanpa henti. Bahkan Mamah kamu mengeluarkan kata-kata ancaman, bahwa dia akan meminta pisah jika Papah tidak juga memberikan restu kepada Angel. Kurang lebih seperti itu yang dia katakan.”
Pak Angga menjeda ucapannya. Tidak lama, dia melanjutkan lagi untuk menjelaskan.
“Dan tidak lama setelah itu, mata hati Papah kamu akhirnya terbuka. Dia memberikan restu kepadaku dengan syarat yang harus aku tepati. Syarat tersebut telah kamu dengar dari beliau tadi. Dan aku berjanji akan selalu melakukan syarat yang Papah kamu berikan.”
*Bersambung*
__ADS_1