
Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍
Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇
Terimakasih 🙏🙏🙏
**************************************************
Suka dan duka, tangis dan tawa, senang dan sedih, pilu dan bahagia, semua itu tidak bisa lepas dari kehidupan. Jika saat ini kamu merasa ada di atas puncak kebahagiaan, maka suatu hari kamu akan merasakan pahitnya nestapa. Apabila saat ini kamu merasa terpuruk, maka yakinlah akan selalu ada terang setelah gelap.
Bangkitlah disaat kamu terjatuh. Bintang tidak akan bisa diraih jika kamu hanya diam di tempat. Impian tidak bisa terwujud dengan sendirinya. Kamu masih harus menyelesaikan misi dan tugas kehidupan. Jangan terpuruk karena satu masalah. Jadikan setiap masalah sebagai pembelajaran yang tidak akan terulang di masa mendatang.
Layaknya siswa yang sedang menjalani ujian, maka hasil dari ujian yaitu kelulusan. Begitupun dengan kehidupan. Tiada hidup yang tidak di uji. Jika kamu merasa ujian sangat berat, berarti kamu adalah orang yang kuat karena telah mampu menjalaninya. Ingatlah! Ketika kamu berhasil melewati setiap cobaan yang ada, maka kamu satu tingkat lebih baik dari sebelumnya.
Bukan aku tidak sedih. Jika ada kata yang melebihi arti sedih maka akan aku ucapkan. Tetapi untuk apa aku terus menangisi sesuatu yang bahkan tidak ada hasilnya. Dan apabila aku memohon kepada Papah dan Mamah untuk merestui hubungan kami, semuanya percuma karena Pak Angga telah pergi dan takkan kembali.
Sudah tidak ada komunikasi yang terjalin antara aku dan Pak Angga. Telah aku coba menghubunginya melalui WhatsApp, tetapi tidak dapat terhubung. Semua pesan yang aku kirim selalu menunjukan ceklis satu abu-abu. Semua akun media sosial telah ia block, terbukti aku tidak bisa menemukan akun Pak Angga.
Mungkin Pak Angga telah benar-benar melupakan cinta yang pernah ada. Tetapi tidak bagiku. Sangat sulit untuk menghapus nama yang telah terukir di hati. Meskipun aku selalu terlihat baik-baik saja di hadapan kedua orang tua beserta teman-temanku, tetapi aku masih selalu memikirkan Pak Angga jika malam tiba.
Satu bulan telah berlalu sejak terakhir pertemuanku dengan Pak Angga. Sesuai janji Papah, aku kembali melanjutkan study di Bandung. Bertemu kembali bersama Alessyia dan Kak Aldo. Dan masih ada satu hal yang belum berubah, yaitu kemarahan Kak Beni.
Kak Beni masih menjaga jarak dengan kami. Bahkan tidak pernah bertegur sapa meskipun kami bertabrakan. Entah bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Clarissa, tapi yang pasti mereka masih terlihat bersama. Aku juga tidak tahu perkembangan rencana Alessyia dan Kak Aldo yang akan menunjukan video syur Clarissa dan Frans kepada Kak Beni.
“Oh iya Cha, gue lupa belum bertanya perihal rencana lo dan Kak Aldo tentang video panas itu? Gimana? Berhasil gak? Pasti berhasil dong. Kak Beni percaya kan?”
“Ih Angel, kok lo jadi kayak gue sih bicara nyerocos gak ada hentinya. Lo ketularan gue?”
“Hahaha, ya maaf kan gue penasaran.”
“Menurut lo kalau Kak Beni percaya, apakah dia masih tetap menjauhi kita? Tentu tidak kan? Kalau Kak Beni percaya, maka kita sudah kembali bersama seperti dulu lagi.”
Aku termenung mencerna perkataan Alessyia. Apa yang dia ucapkan benar. Kak Beni tidak akan tetap menjauh jika percaya dengan bukti video tersebut. Tetapi nyatanya, Kak Beni masih bersikap acuh tak acuh.
__ADS_1
“Woy!” Alessyia melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku.
“Ih apaan sih, Cha?”
“Kenapa lo melamun?”
“Gue lagi mikir aja. Ucapan lo itu benar. Tapi kenapa gue masih gak ngerti ya? Kenapa gue gak mikir sampai kesana sih?”
“Gue tahu penyebab lo gak fokus seperti itu. Lo masih kepikiran Pak Angga kan?”
Aku kembali terdiam seribu bahasa. Lagi lagi ucapan Alessyia benar. Dia seperti bisa membaca isi kepalaku. Bak seorang peramal, Alessyia tahu apa yang sedang aku pikirkan.
“Eh sorry sorry! Maaf, Ngel! Gue gak maksud ingetin lo kepada Pak Angga. Tadi gue cuma becanda kok. Tapi malah membuka kembali luka lama lo, ya?”
“Gak papa Cha. Sekarang gue udah baik-baik aja kok.”
Aku mencoba untuk mengelak kecurigaan yang dituduhkan Alessyia dengan tetap memperlihatkan senyuman tulus dari hati. Semua kisah perjalanan hidup yang aku lalui telah Alessyia ketahui. Termasuk kandasnya jalinan asmara aku dengan Pak Angga. Alessyia selalu menjadi tempat mencurahkan rasa resah dan gelisah yang melanda.
Mungkin saat ini Alessyia tahu kalau aku kembali flashback ke masa lalu kala nama Pak Angga disebut. Tidak bisa ditutupi rasa duka dari ekspresi muram yang sempat terlihat walaupun sekilas. Tetapi aku berusaha terlihat tegar dihadapan semua orang.
“Whoaaa!!!”
Aku dibuat teriak sekencang-kencangnya karena refleks kehadiran seseorang yang menepuk bahu dengan keras disertai teriakan yang masuk semua ke gendang telinga.
“Ih Kak Aldo sama aja kayak Alessyia. Hobinya bikin kaget orang.”
“Hehe, maaf! Lagian kalian bicara apa sih? Mukanya pada tegang gitu.”
“Eu ini Kak, tadi Angel nanya sama Echa perihal rencana kita tentang video panas itu lho.”
“Iya Kak, gimana ceritanya sih?”
“Oh itu, pantesan serius banget. Kakak kira lagi ngomongin Kakak yang ganteng ini.”
“Yeeyy! Pede banget sih.” Ucap aku dan Alessyia kompak.
__ADS_1
“Jadi gini ceritanya…”
Kak Aldo kembali membawa ingatannya pada suatu hari pertemuannya dengan Kak Beni. Tidak semudah membalikan telapak tangan, Kak Aldo harus mengeluarkan jurus rayuannya yang dapat membuat orang percaya. Dan setelah kata-kata maut disertai bujukan yang meyakinkan berhasil di lontarkan, akhirnya Kak Beni menerima tawaran Kak Aldo untuk bertemu di salah satu Resto.
“Ben, ada yang mau gue bicarakan sama lo.”
“Gue gak mau berhubungan lagi sama lo.”
“Ben please! Tadi gue bertemu Clarissa, dan dia mengajak kita ketemuan nanti malam di Resto dekat kampus.”
Kurang lebih seperti itu percakapan yang terjadi antara Kak Aldo dan Kak Beni. Terpaksa Kak Aldo berbohong dengan membawa nama Clarissa. Karena jika tidak seperti itu, Kak Beni tidak akan mau menerima ajakannya.
Tibalah pada waktu yang dijanjikan. Kak Aldo memasuki Resto beriringan dengan Alessyia. Mereka dapat melihat sosok Kak Beni telah duduk di meja yang telah di pesan. Tidak langsung pada acara inti, Kak Aldo mengajak untuk memesan makanan terlebih dahulu. Dan ketika makanan telah tersaji di atas meja, Kak Beni mulai menanyakan perihal Clarissa.
“Dimana Clarissa?”
“Ben, kita makan dulu yuk! Nanti Clarissa tiba setelah kita makan.”
“Kenapa kita gak menunggu dia untuk makan bersama? Dan darimana kamu tahu tentang keberadaan Clarissa, sedangkan dua hari yang lalu dia bilang sedang menjalani pemotretan dan ponselnya tidak bisa dihubungi.”
Tidak bisa menunggu lama lagi daripada Kak Beni semakin curiga dan memutuskan untuk pergi, Kak Aldo mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memutar video untuk diperlihatkan kepada Kak Beni.
“Lo perhatikan siapa orang yang ada di video tersebut!”
Kak Beni fokus menatap layar ponsel, sebelumnya Kak Aldo telah membuat volume menjadi nol sehingga tidak dapat terdengar. Jika suara erangan dan desahan keluar, akan sangat malu jika sampai terdengar oleh pengunjung Resto yang lain.
“Maksud lo apa? Gue gak ngerti.”
“Itu Clarissa sama Frans, Kak. Kak Beni ingat lelaki yang mengejar-ngejar Angel? Dialah Frans. Dan wanita itu adalah Clarissa.”
“Hahaha tidak mungkin. Ini semua pasti akal-akalan kalian. Gue gak percaya.”
“Kak, semua itu fakta. Angel sendiri yang merekamnya ketika mencari keberadaan Frans di kediaman villa milik keluarga Frans. Angel yang melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.”
“Gue semakin kehilangan respek sama kalian. Sebegitu irinya kalian sampai berbagai cara dilakukan untuk memisahkan gue dan Clarissa. Jangan pernah temui gue lagi karena gue tidak mau berteman dengan orang munafik seperti kalian!”
__ADS_1
*Bersambung*