My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-46 Penyesalan


__ADS_3

Aku gak tahu kenapa ujian selalu datang kepadaku. Tetapi aku yakin selalu ada hikmah dibalik semua ini. Masalah yang datang akan membantu aku menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.


Pak Angga telah menunggu aku di depan kampus. Telah terlihat banyak mahasiswa meninggalkan kampus. Tetapi aku belum juga menampakkan kehadiran. Aku berusaha untuk menjawab panggilan yang dilakukan berkali-kali oleh Pak Angga. Tetapi tidak ada tenaga sama sekali.


Pak Angga merasakan keresahan karena panggilannya tidak mendapatkan jawaban. Ia berusaha mencari kabar tentang diriku, salah satunya dengan menghubungi Alessyia.


“Hallo Pak Angga ada apa ?”


“Cha kamu lihat Angel ?”


“Ini Echa lagi nunggu Angel. Angel masih di aula, tadi katanya mau jawab telepon dari Pak Angga dulu.”


“Enggak, Cha. Saya dari tadi sudah mematikan panggilan. Tetapi Angel belum juga kemari. Saya telah menunggunya cukup lama.”


“Masa sih ?”


“Kamu bisa cek keberadaan Angel gak ? Saya mempunyai perasaan tidak enak.”


Alessyia segera berlari sebelum panggilan berakhir. Bukan hanya Pak Angga yang mempunyai perasaan buruk tentang aku, Alessyia juga merasakannya. Mungkin ikatan yang telah kami jalin cukup lama, sehingga instingnya sangat kuat.


“Angel. . .”


“Angel ini gue Alessyia. . .”


“Lo di dalam kan ?”


“Angel. . .”


Aku dapat mendengar Alessyia menggedor-gedor pintu dan memanggil namaku. Tetapi aku tidak bisa menjawabnya. Aku hanya berbisik dalam hati semoga Alessyia dapat menemukan keberadaanku. Aku takut, disini pengap, nafasku sakit.


“Echa ?”


“Kak Reza. . .”


“Kenapa, Cha ?”


“Kak bantuin Echa, Kak. Pelase !”


“Ada apa ?”


“Hiks. . .hiks. . hiks. .”


“Tenang dulu, ya. Kamu jangan nangis. Kakak pasti bantu kamu. Ada apa ?”


“Angel Kak. . Angel. . .”

__ADS_1


“Angel. Angel kenapa ? Ada apa, Cha ?”


“Angel hiks. .hiks. . ada di dalam, Kak.”


Kak Reza dan kedua sahabatnya berusaha untuk mendobrak pintu aula. Namun sayang tenaga mereka tidak mampu melawan tralis besi yang menghalangi. Usaha mereka sia-sia. Pagar tralis ini harus dibuka menggunakan kuncinya.


“Gak bisa, Za. Ini gak akan berhasil.”


“Terus gimana, Do ? Angel ada di dalam.”


“Lo tenang dulu. Jangan emosi.”


“Gue khawatir, Ben. Lo tahu kan Angel punya trauma ruang pengap.”


“Stop ! Stop ! Tidak ada waktu untuk berdebat. Kita harus segera mengeluarkan Angel.”


Emosi Kak Reza membuat usahanya sementara terhenti. Ia berperilaku seperti itu karena kekhawatirannya sangat besar kepadaku. Ia sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah cara untuk mengeluarkan aku dari dalam. Bahkan ia tidak peduli dengan darah yang mengalir ditangannya karena memaksa membuka tralis besi tersebut.


“Kak stop ! Ini tidak akan bisa. Tangan Kakak terluka. Hiks. .hiks.”


“Kakak gak apa-apa, Cha. Kakak harus segera mengeluarkan Angel.”


“Za stop ! Percuma, gak akan bisa kebuka. Kita telepon petugas keamanan.”


Ternyata petugas keamanan memang mengunci pintu aula. Ia rasa sudah tidak ada orang lagi di dalam. Makanya pintunya dikunci. Karena aula tidak bebas terbuka. Jadi ketika seminar telah selesai, pintunya segera ditutup dan dikunci.


“Maafkan saya, Mas. Saya benar-benar gak tahu ada orang di dalam.”


Petugas keamanan tiada henti-hentinya meminta maaf. Tetapi tak ada yang merespon. Fokus mereka hanya kepada keselamatan diriku.


“Angel. . .”


Setelah pintu terbuka, semua orang histeris menyaksikan aku yang sudah terkapar dilantai. Dengan muka pucat pasi bak tak ada darah yang mengalir. Serta tubuh yang dingin seperti telah dimasukkan ke dalam lemari es.


Kak Reza tidak membiarkan aku terbaring di lantai lebih lama. Ia segera membopong dan membawa aku menuju klinik kampus. Sayangnya karena waktu sudah cukup sore, tak ada yang menjaga klinik atau dalam artian klinik tersebut telah tutup. Dengan aku yang masih dalam pangkuannya, Kak Reza segera mencari klinik terdekat.


“Gimana Dok kondisinya ?”


“Shock yang berlebih mengakibatkan dia sesak nafas. Hal ini tidak boleh dibiarkan terjadi lagi, karena akan membahayakan saluran pernafasannya. Bisa saja dia meninggal karena oksigen yang mengalir tidak lancar atau oksigen terhenti mendadak."


Mendengar penjelasan Dokter, Alessyia menggenggam tanganku sangat erat dan terus mengucapkan kata maaf. Sepertinya Alessyia menyesali semua perbuatannya.


“Maaf, Ngel ! Maafin gue ! Semua ini salah gue. Lo memiliki phobia itu gara-gara gue. Lo mengalami trauma gara-gara gue. Andai saja waktu itu gue gak berpikir pendek dengan mengadukan lo kepada Mozea, maka lo gak akan dikurung di dalam gudang. Lo gak mungkin mengalami masa sulit seperti sekarang. Maafin gue. Hiks. .hiks. .”


“Angel sadar ya ! Kak Beni janji kalau kamu sadar akan mengajak Angel ke kawah putih. Katanya, kamu belum pernah kesana. Dan itu salah satu impian kamu. Kakak akan bantu untuk mewujudkan keinginan kamu, Ngel. Kamu sadar ya ! Kamu adalah wanita yang kuat. Kakak yakin pasti bisa.”

__ADS_1


“Kak Aldo juga minta maaf, Ngel. Kak Aldo selalu usil sama kamu. Kak Aldo suka jahilin kamu. Angel pasti kesal sama Kak Aldo. Iya Kan ? Angel bangun ya ! Kak Aldo kesepian gak ada yang bisa di ajak becanda. Kakak belum pernah menemukan orang yang satu frekuensi selain kamu. Kakak tahu kamu anak semata wayang, begitupun dengan Kak Aldo. Kehadiran kamu membantu Kakak mengetahui bagaimana rasanya punya saudara.”


“Angel, Kak Reza minta maaf ! Kakak telah salah. Kakak telah menyakiti dua hati wanita secara bersamaan. Kakak mematahkan hati Alessyia dengan memberikan harapan palsu. Dan Kakak telah menyakiti kamu melalui Mozea yang berakibat fatal pada kesehatan kamu. Jika Kakak dapat memutar waktu, Kakak hanya ingin mengendalikan perasaan Kakak. Kakak tidak akan menyukai kamu lebih dari sahabat. Jika dengan kepergian Kakak akan membuat kamu bahagia, maka Kakak akan melakukannya. Tetapi Kakak mohon bangunlah !”


Aku berusaha untuk membuka mata. Ternyata alat bantu pernafasan kembali menempel. Tanganku juga ngilu karena jarum infus. Sepertinya mereka kelelahan selalu menjagaku. Kak Aldo dan Kak Beni tertidur di sofa panjang, dan Alessyia tertidur di sofa yang pendek. Sedangkan Kak Reza tertidur di kursi samping brangkar.


Tangan Kak Reza berada disamping tubuhku. Aku melihat masih ada darah yang membekas. Aku segera menggapainya untuk melihat luka apa disana. Rupanya gerakanku membangunkan Kak Reza dari mimpi indahnya.


“Angel. . .”


Semua orang terbangun mendengar Kak Reza memanggil namaku. Mungkin Kak Reza terlalu senang atau bersemangat melihat aku tersadar, sehingga frekuensi yang keluar cukup nyaring.


“Tangan Kakak kenapa ?”


“Gak apa-apa. Udah kamu jangan mikirin Kakak, ya ! Yang terpenting sekarang adalah kesehatan kamu.”


“Pasti sakit ya ?”


“Enggak Angel. Ini gak sakit. Kamu jangan terlalu banyak bicara, ya ! Lebih baik kamu istirahat.”


“Kakak harus segera di obati. Kalau enggak, Angel gak mau ketemu Kakak lagi.”


“Tapi Angel . .”


“Cha. . .”


“Iya Angel. Echa disini. Echa akan selalu ada disamping Angel.”


“Tolong bantu obati lukanya Kak Reza. Takut akan infeksi jika dibiarkan. Tolong ya, Cha !”


“Iya. Aku akan membantu Kak Reza. Kamu tenang ya, jangan banyak pikiran !”


Bagaimana caranya menghilangkan phobia ini ? Aku ingin ingatan mengerikan ketika berada di dalam gudang itu menghilang. Trauma itu selalu menghantuiku. Aku ketakutan. Sungguh aku tidak mau terus-menerus berada dalam bayang-bayang hitam.


*Bersambung*


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak melalui like, komen, rate & vote💙💙🥰🥰


Terimakasih atas dukungannya kepada author🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2