
“Oh iya, Rendy katanya mau cokelat. Sekarang Rendy ke mini market yang ada di depan ya sama Bi Rani! Ini uangnya Kakak kasih.”
“Kakak enggak ikut?”
“Aden, Kak Angel masih lemas. Kita pergi berdua, ya.”
“Baiklah.”
Aku memberikan uang kepada Rendy. Dengan muka lesu Rendy beranjak pergi bersama Bi Rani. Beruntunglah Papah tidak bertanya lebih jauh lagi. Tenyata aku masih belum mampu untuk membongkar kejujuran itu.
“Sayang, kita pulang dulu yuk! Kamu harus istirahat.”
“Iya Nak, nanti kita kesini lagi kalau teman kamu sudah sadarkan diri.”
“Oh iya, Mah. Ayo kita pulang, Pah!”
Batinku berkata lirih, “Bee, Angel minta maaf tidak bisa menemani sampai kamu sadar. Angel ragu Papah sudah berhenti membenci kamu. Angel tidak mau Papah marah-marah lagi sama kamu, padahal kesehatan kamu lagi kurang baik. Angel pulang dulu ya, Bee! Cepat sembuh sayang!”
Dengan langkah kaki yang berat, serta tangan yang digandeng oleh Papah dan Mamah, kami melangkah meninggalkan rumah sakit. Tidak ada cara lain selain menghindar. Dan semoga saja mereka melupakan keinginannya untuk bertemu pasien itu.
Setibanya di tempat tujuan, Mamah menggandeng tanganku dengan sangat hati-hati. Sedangkan Papah memimpin jalanan dan membuka pintu. Sebelumnya aku telah memberikan kunci kamar kepada Papah.
“Awas hati-hati sayang! Mamah ambil minum dulu.”
“Heem.”
Perlahan Mamah membawa aku untuk duduk di sofa yang berukuran sedang. Papah duduk di sofa yang sama di paling ujung. Sedangkan Mamah menyiapkan beberapa minuman di dapur.
“Pah, Angel minta maaf!”
“Maaf buat apa, Nak?”
“Seharusnya kita menikmati liburan bersama. Tetapi Angel harus mendonorkan darah.”
“Gak papa, Nak. Liburan bisa di undur lain waktu. Tapi teman kamu tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Justru Papah senang ternyata kamu mempunyai hati yang baik. Peduli kepada sesama.”
“Iya Pah. Angel memang seperti itu. Dia tidak tega jika melihat ada orang yang tersakiti. Apalagi jika itu teman dekatnya, pasti akan Angel bantuin. Iya gak sayang?”
“Hehehe.”
Aku tersenyum tersipu malu. Mamah memberikan susu hangat untukku dan kopi hitam untuk Papah. Sekarang Mamah mengambil tempat yang masih kosong di antara aku dan Papah. Kami menikmati biskuit cokelat sambil sesekali berbicara mengenai sesuatu pengalaman yang telah kami lewati.
Dred..dred..dred..
“Siapa sayang?”
“Gak tahu Mah. Nomor tidak dikenal.”
“Jawab aja dulu, Nak! Siapa tahu penting.”
“Emm, iya Pah.”
Aku menjawab panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Tidak ada nama yang tertera hanya berupa beberapa angka yang berjejer rapi.
__ADS_1
“Huwaaa...”
“Hallo.”
“Non Angel.”
“Huwaa….”
“Iya ini siapa, ya?”
“Non bisa kesini gak? Rendy nangis terus dari tadi ingin bertemu sama Non Angel.”
Suara dari seberang sana tidak jelas di telingaku. Volume orang itu terkalahkan oleh suara tangisan anak kecil. Tetapi sepertinya aku mengetahui siapa dia. Wanita itu menyebut nama Rendy. Tidak lain dan tidak bukan dialah Bi Rani.
Aku tidak tega mendengar tangisan histeris Rendy. Tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya meminta ijin kepada Papah dan Mamah untuk pergi tanpa membuat mereka curiga. Apalagi kondisiku masih lemas. Sudah pasti tidak akan mereka ijinkan. Jika boleh pun harus di temani sama mereka. Bagaimana jadinya jika mereka bertemu?
“Argh, bisa jadi perang ketiga.” Gumamku dalam hati.
Tut..tut..tut…
Panggilan sudah di akhiri. Aku masih mematung memikirkan cara untuk menghindar dari papah dan Mamah.
“Telepon dari siapa, Nak? Sepertinya Papah mendengar tangisan anak kecil.”
“Hah? Oh itu…”
“Bukankah anak kecil yang tadi ketemu sama kita, sayang?”
“Hmmm, iy-ya Mah.”
“Angel juga gak tahu Pah. Oh iya Pah, Angel boleh gak kembali ke rumah sakit?”
“Sekarang, Nak?”
“Iya Pah. Angel ingin mengetahui kabar teman Angel itu.”
“Tapi kamu belum istirahat lho. Pasti badan kamu juga masih lemas.”
Hfftt.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan dibuang secara pelan-pelan.
“Ya udah kamu boleh kesana. Tapi dengan satu syarat harus ditemani sama Papah dan Mamah.”
Sudah aku duga. Mereka tidak mengijinkan sama sekali, atau mereka juga ikut bersamaku. Sama saja seperti membunuhku. Mana mungkin aku membiarkan mereka ketemu dan mengetahui siapa sebenarnya Rendy. Tetapi aku juga tidak mau membuat Rendy terus menerus menangis.
“Ya udah gak papa. Kalian ikut aja.”
Akhirnya aku menyetujui kespakatan yang telah dibuat Papah. Entah kenapa aku bisa menjawab demikian. Mungkin ini salah satu jalan untuk Papah mengetahui kebenaran yang telah lama aku sembunyikan.
Beruntunglah selama perjalan Papah tidak bertanya lebih jauh lagi tentang Rendy. Papah hanya fokus menatap jalur mobilnya. Kali ini Papah membawanya dengan laju normal. Tidak mau lagi membuat Mamah sampai mabuk perjalanan lagi.
Setibanya di rumah sakit, kami melangkah bersama memasuki ruangan. Sebenarnya aku tidak tahu akan memasuki ruang yang mana. Karena aku masih ragu untuk memperkenalkan Pak Angga kepada orang tuaku.
__ADS_1
Dalam perjalanan kami yang tanpa arah, terdengar suara anak kecil dari arah berlawanan yang sedang berada dalam pangkuan pengasuhnya. Anak kecil itu menangis tersedu sedan.
“Non Angel….”
“Bi Rani...”
“Huwaaaa.”
“Kenapa Rendy, Bi?"
“Bibi juga tidak tahu, Rendy tiba-tiba nangis tidak mau berhenti. Dan memanggil-manggil nama Non Angel.”
“Cup cup cup!”
Aku mengambil alih Rendy dari pelukan Bi Rani. Kemudian aku membawa Rendy menuju halaman rumah sakit. Karena jika terlalu lama di dalam bisa jadi di tegur oleh petugas keamanan. Karena di dalam rumah sakit tidak boleh ada kegaduhan.
Kali ini tidak mudah untuk membuat Rendy berhenti mengeluarkan air mata. Aku telah membujuknya dengan memberikan 2 cokelat batang yang berisi kacang.
“Rendy jangan nangis lagi ya, sayang! Kak Angel sudah ada disini. Disamping Rendy.”
“Kak Angel jangan tinggalkan Rendy! Huwwaaa.”
“Iya, Kakak janji tidak akan meninggalkan Rendy sendirian lagi.”
Rendy baru bisa berhenti ketika ia mendengar ucapan dariku yang berjanji tidak akan meninggalkannya. Mungkin ia bersedih karena aku pulang ke kost-an. Padahal sebelumnya ia telah mengatakan bahwa dia menunggu diriku. Tetapi ketika ia berhasil ketemu denganku, kami hanya menghabiskan waktu beberapa menit. Mungkin hal tersebut yang membuat Rendy kecewa dan menangis.
Rendy sudah bisa lebih tenang. Ketika aku goda Rendy juga sudah meresponnya dengan baik. Kami tertawa bersama ketika membicarakan suatu topik pembicaraan.
“Ya ampun aku lupa.”
“Kenapa Kak?”
“Hah. Eu enggak. Gak papa kok.”
Aku kembali tersenyum menatap Rendy. Tetapi pikiranku sekarang pergi entah kemana. Bi Rani pasti sedang bersama Papah dan Mamah. Bi Rani tidak tahu apa-apa tentang rahasia hubungan aku dengan Pak Angga. Dan pasti Papah sama Mamah akan bertanya tentang asal-usul Rendy. Karena mereka melihat Bi Rani yang selalu menemani Rendy.
“Bagaimana jika semuanya terbongkar sekarang? Apakah aku siap?” Aku bertanya lirih dalam hati.
Sudah pasti Bi Rani akan menceritakan semuanya kepada orang tuaku. Perihal Rendy adalah anaknya Pak Angga. Serta perihal kedekatan yang terjalin antara aku dan Pak Angga.
“Rendy, kita kembali ke dalam yuk!”
“Ayo Kak.”
Aku membawa Rendy ke dalam gendongan dan memasuki bangunan rumah sakit. Aku masih melihat orang tuaku di tempat yang sama. Bedanya, kali ini mereka sedang duduk di kursi yang telah disediakan. Dan juga personil mereka bertambah. Iya, itu Bi Rani. Mereka terlihat sedang bercakap-cakap. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak dapat mendengarnya.
*Bersambung*
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 😍🥰🥰
Terimakasih 🙏🙏