
Rangkaian acara demi acara yang di adakan oleh sekolah telah terlewati. Aku dan Pak Angga mengikutinya dengan sangat khidmat. Itulah acara yang biasa di adakan oleh sekolah tersebut setiap satu tahun sekali yang dihadiri oleh semua orang tua siswa.
Acara tersebut bertujuan untuk mempererat silaturahmi antara guru dan orang tua siswa. Tentunya para hadirin membawa serta pasangannya. Termasuk anak-anak mereka yang bersekolah disini ataupun yang masih dalam gendongan.
Kini telah tiba di penghujung acara, yaitu waktunya untuk menikmati beberapa hidangan yang telah disajikan. Pak Angga menggandeng tanganku untuk memilih makanan yang kami inginkan.
“Kamu mau makan apa?”
“Hmmm apa ya, Bee?”
“Mau siomay, batagor, bakso atau cupcake?”
“Angel mau es krim aja, Bee.”
“Oke. Sebentar aku ambil dulu!”
Pak Angga menuju stand yang menyediakan es krim. Tidak lama ia kembali dengan membawa 2 es krim dalam cup yang berbeda rasa.
“Kamu mau yang mana?”
“Angel mau yang vanilla.”
Pak Angga memberikan es krim rasa vanilla kepadaku. Dan aku segera menikmatinya. Ketika satu suap telah masuk ke dalam perutku, aku merasa ada yang aneh. Belum pernah sebelumnya aku merasakan es krim vanilla. Biasanya aku hanya memilih rasa strawberry atau cokelat. Untuk itu aku ingin mencoba rasa baru.
“Bee, kok rasanya aneh ya? Angel belum pernah makan rasa vanilla.”
“Kamu gak suka ?”
“Heem.”
“Ya udah aku ambil yang baru, ya. Mau rasa apa?”
“Eu gak usah, Bee. Angel makan punya kamu aja, ya?”
“Tapi ini udah aku makan lho.”
“Gak papa. Angel mau punya kamu aja.”
“Kamu yakin?”
“Heem.”
Aku segera mengambil es krim yang ada di tangan Pak Angga. Begitupun dengan es krim yang ada di tanganku segera aku kasih kepada Pak Angga.
“Enak kok. Manis kayak kamu.”
“Iihhhh gombal deh.”
“Serius. Apalagi ada bekas bibir kamu. Manis banget.”
“Pak Angga ih, Angel malu ah. Nanti ada yang dengar gimana?”
“Hahaha.”
Kami menikmati sesuap demi suap es krim sambil menyaksikan acara musik. Pihak sekolah sengaja mengundang grup band alumni sekolah tersebut yang terdiri dari 5 personil pria. Tetapi ketenteraman kami terusik dengan kehadiran beberapa orang remaja putri.
“Pak Angga...”
“Bapak kami boleh foto bersama Bapak gak?”
“Iya Pak. Ayolah sekali aja, Pak!”
“Pak Angga tampan deh...”
“Ih genit banget sih.” Gerutuku kesal dalam hati. Bagaimana aku tidak kesal. Mereka tiba-tiba hadir langsung menyerobot di tengah-tengah aku dan Pak Angga. Bahkan aku sampai terusir jauh dari samping Pak Angga.
“Eu iy-ya boleh.”
“Yeayy!”
“Ehh guys, tapi siapa yang ambil fotonya nih?”
__ADS_1
“Lo aja!”
“Enggak. Gue mau ikut foto sama Pak Angga. Lo aja.”
“Gue juga mau ikut. Lo aja.”
Hfffttt.
Aku yang mendengar kegaduhan yang ditimbulkan oleh gadis remaja tersebut hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Segitu inginnya mereka untuk foto bersama Pak Angga. Sampai-sampai harus berdebat dulu untuk memutuskan siapa yang akan menjadi fotografernya.
“Eh dia aja!”
“Oh iya.”
“Mbak, bisa minta tolong ambilin foto kita gak?”
“Mbak...?”
Aku terheran ketika mereka melihat ke arahku. Aku menggunakan jari telunjuk untuk menunjuk diriku sendiri.
“Iya Mbak. Boleh minta tolong gak Mbak? Kita mau foto sama Pak Angga. Tetapi kita semua harus ada dalam foto tersebut.”
“Oh boleh. Dengan senang hati.”
Aku membuang es krim yang masih tersisa sedikit lagi ke dalam tempat sampah yang tidak jauh dari tempat aku berdiri. Dengan senyuman termanis tetapi tidak tulus aku menerima permintaan tolong dari gadis remaja tersebut.
“Satu...dua...tiga.”
Cekrek !
“Lagi Mbak. Yang banyak, ya!”
“Oke.”
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
“Mbak aku lihat dulu ya hasilnya.”
“Silakan!”
Gadis tersebut mengambil handphonenya. Kemudian ia melakukan gerakan menggeser ke kanan dan kiri.
“Mbak boleh minta tolong lagi gak?”
“Apa?”
“Tolong foto aku sama Pak Angga ya, Mbak! Berdua aja.”
“What ? Gue ini pacarnya. Bukan fotografer.” Gerutuku kesal dalam hati. Kali ini aku tidak bisa lagi menunjukan senyuman palsu itu. Hanya mengangguk untuk menuruti keinginan gadis tersebut.
“Satu...dua...tiga.”
Cekrek !
“Eh lo kok curang sih? Gue juga mau foto berdua sama Pak Angga.”
“Gue juga mau.”
“Gue juga mau kali.”
Sebelum mereka meminta aku untuk menjadi fotografer lagi, aku segera memberikan handphone tersebut kepada pemiliknya dan segera melangkah seribu kaki meninggalkan tempat kejadian perkara.
“Pak Angga tunggu!”
“Bapak!”
“Maaf maaf! Saya harus pergi.”
__ADS_1
Dengan hati yang terus mengumpat serta mulut yang komat-kamit seperti sedang mengucapkan jurus, aku terus melangkah tanpa henti meskipun tiada arah.
“Angel....”
“Angel tunggu!”
“Angel...”
Ketika Pak Angga memanggil namaku, aku semakin mempercepat langkah kakiku. Tetapi karena highills yang mengganggu laju perjalananku, akhirnya Pak Angga berhasil menarik pergelangan tanganku.
“Kenapa kesini? Udah disana aja sama cewek-cewek cantik !”
“Angel, aku minta maaf!”
“Gak perlu minta maaf. Angel sadar diri kok. Kalau kehadiran Angel tidak di anggap istimewa di antara gadis cantik disana.”
“Angel kamu jangan bicara seperti itu. Aku tidak tahu kalau mereka akan sebanyak itu mengambil fotonya. Aku sungguh minta maaf. Bukan maksud aku tidak menganggap kehadiran kamu. Kalau kamu tidak percaya, kamu ikut aku sekarang! Aku akan bicara langsung kepada mereka dan mengenalkan kamu sebagai kekasih aku.”
“Ehh jangan!”
Aku menghentikan gerakan Pak Angga yang menarik tanganku dan hendak membawaku pergi.
“Kenapa? Kamu gak mau mereka tahu hubungan kita?”
“Angel gak mau mereka hilang respect sama Pak Angga, karena Bapak mengencani gadis belia yang lebih pantas menjadi murid Bapak.”
“Aku tidak peduli. Lebih baik aku kehilangan respect dari mereka, daripada aku harus membuat kamu terluka.”
“Bee, Angel gak papa. Ini demi kebaikan Pak Angga.”
“Tapi Angel...”
“Bee, Angel mohon!”
Aku semakin mengeratkan genggamanku kepada lengan Pak Angga. Aku juga menunjukan tatapan sendu. Pak Angga mengacak rambutnya sendiri seakan frustasi dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
“Ya udah. Aku akan ikuti kata kamu. Tetapi jika sampai peristiwa seperti tadi terulang lagi, aku tidak bisa menahan lagi. Aku akan berterus terang perihal hubungan kita. Aku siap dengan segala konsekuensinya.”
Aku tersenyum menatap Pak Angga yang juga dibalas senyuman oleh dirinya. Pak Angga menggandeng tanganku untuk kembali kepada pusat pesta tersebut.
“Bee, Angel ke toilet dulu ya!”
“Oke. Aku tunggu disini.”
Karena panggilan alam yang tidak bisa lagi ditahan, dengan terpaksa aku meninggalkan Pak Angga.
“Aaahh leganya.”
Setelah beban yang sebelumnya mengganjal, aku kembali menghampiri Pak Angga. Tetapi pemandangannya sudah berubah. Baru saja aku meninggalkannya sebentar, sudah banyak lalat yang menghampiri.
“Genit banget sih. Emang Pak Angga itu ganteng. Tapi emangnya gak malu apa berbicara sama guru sangat dekat? Aku aja dulu selalu merasa canggung.”
Aku semakin tidak tahan ketika melihat mereka tertawa bersama Pak Angga. Entah apa yang membuat mereka tertawa renyah seperti itu.
“Dasar tidak tahu malu. Bahkan Pak Angga tidak tersenyum sedikitpun.”
Memang Pak Angga seperti itu. Ia masih sangat dingin kepada orang lain. Dengan tangan yang mengusap-usap dada, aku berusaha untuk menenangkan diriku sendiri, “Sabar Angel...kamu harus sabar.”
Aku menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara pelan-pelan. Kemudian aku melangkah mendekati mereka.
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen rate 5 & vote seikhlasnya 🤭😘
Terimakasih 🙏
__ADS_1