
Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍
Sebelum kita lanjutkan episode author akan menyampaikan untuk bab ini dan beberapa bab kedepannya itu khusus sudut pandang Beni, ya😊
Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇
Terimakasih 🙏🙏🙏
**************************************************
Kebersamaan yang terjalin dapat mengalirkan kebahagiaan tertentu. Meskipun terlihat sederhana, tetapi kebersamaan lebih berharga daripada barang limited edition. Meskipun hanya duduk beralaskan tikar, itu jauh lebih baik daripada di atas kursi mahal namun hanya seorang diri. Bukankah hidup di dunia ini untuk bersosialisasi?
Kebersamaan yang sempat retak mungkin jika kembali tidak akan sama seperti dulu lagi. Awalnya aku juga berpikir demikian. Karena pertama kali Kak Beni kembali setelah sekian lama, masih terasa canggung. Tetapi syukurlah peristiwa tersebut tidak berjalan lama. Kehebatan Kak Beni dalam menyatukan tali yang telah terputus patut di acungkan jempol. Ia selalu berusaha membangkitkan suasana dan menghilangkan rasa canggung.
Tapi masih ada satu hal yang belum aku ketahui dari Kak Beni. Perihal peristiwa yang membuatnya tersadar dan membuka mata tentang siapakah Clarissa. Tetapi jika aku bertanya sekarang, apakah tidak akan merusak suasana?
“Kak Ben…”
“Hem, ada apa Ngel?” Kak Beni yang sedang meneguk air mineral dalam botol segera melepaskan minuman tersebut dari mulutnya hanya untuk menjawab sapaan dariku.
“Emm, tidak apa Kak. Hehe.”
“Kenapa? Ada yang mau kamu bicarakan?”
Aku menggeleng sangat keras. Keberanianku untuk bertanya masih belum seratus persen. Masih terselip sebuah keraguan dan ketakutan. Takut jika Kak Beni akan tersinggung dan justru kembali membenci kami. Untuk saat ini, biarkan Kak Beni menikmati kebersamaan yang telah lama tidak terjalin.
Pasti akan selalu ada alasan di balik setiap peristiwa. Ada makna yang membekas di baliknya. Ada kenangan yang terngiang-ngiang di ingatan. Entah itu kenangan baik, atau bahkan kenangan buruk yang tidak bisa di lupakan.
“Kenapa kalian gak bertanya alasan saya bisa tersadar?”
Awalnya tidak ada yang berani membuka suara untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Kak Beni. Kami hanya saling menatap satu sama lain. Pertanyaan Kak Beni seolah mewakili perasaanku saat ini. Apa yang ada di dalam pikiranku serupa dengan pertanyaan Kak Beni barusan.
“Karena itu semua tidak penting bagi kami, Ben. Yang paling penting lo udah tahu bagaimana sifat asli wanita berbulu domba itu. Dan kita sangat bersyukur akan hal itu.”
Kak Aldo mewakili kami untuk menjawab pertanyaan Kak Beni. Jujur aku tidak tahu harus menjawab apa. Karena jauh di dasar hatiku, aku sangat ingin tahu bagaimana proses dibalik semua ini. Tetapi jika mengingatnya akan membuat Kak Beni terluka, maka biarlah itu semua dipendam. Karena tidak ada rasa sakit dari sebuah peprisahan. Apalagi perpisahan karena pengkhianatan.
“Kalau kalian tidak keberatan, apakah boleh saya bercerita?”
__ADS_1
“Tentu, silakan! Dengan senang hati akan kami dengarkan.”
*Flashback on*
*POV Beni*
Langit yang mulai menguning karena matahari mulai kembali masuk kepada persembunyiannya. Jalanan yang ramai oleh orang-orang berlalu lalang pulang ke rumah selesai bekerja, kuliah dan melakukan aktivitas lainnya. Berada di sebuah caffe menikmati secangkir kopi hangat ditemani gadis cantik yang berhasil membuat aku jatuh cinta.
Sejak pertama aku bertemu dengannya, wanita ini telah berhasil menarik perhatianku. Gayanya sangat unik dan terlihat modis. Hal tersebut berhasil menimbulkan perasaan cinta dari yang semula masih memendam rasa untuk Angel.
Hingga suatu perkataan hinaan yang menjatuhkan keluar dari mulut seorang teman, tentu aku tidak mempercayainya. Bagaimana bisa gadis yang bersikap baik dan sopan bisa berbuat hal bejat seperti itu.
“Sayang, aku mau ke toilet dulu ya.”
“Oh oke.”
“Sebentar saja.”
Cup!
Sebelum Clarissa melangkah meninggalkan aku untuk sementara, ia lebih dulu memberikan ciuman yang mendarat di pipi kanan. Dialah wanita dewasa pertama yang memberikan aku kecupan setelah ibu.
Bagaimana aku tidak tertarik oleh pesonanya, jika yang ia berikan selalu berhasil membuat perasaanku melayang. Hal tersebut semakin membuat cintaku kepadanya tumbuh semakin besar. Tetapi ada rasa takut di balik itu semua. Takut jika ucapan teman-temanku adalah kenyataan, dan aku akan kehilangan wanita yang kini telah berhasil mengalihkan duniaku.
“Ini Mas minumannya.”
“Oh iya, makasih Mbak.”
Brakk!
Ketika pelayan caffe telah menyimpan dua gelas di meja, tidak sengaja tas milik Clarissa yang disimpan di atas meja terjatuh karena tersenggol oleh siku pelayan tersebut.
“Maaf maaf Mas, saya tidak sengaja.”
“Tidak apa-apa Mbak. Biar saya aja yang bereskan.”
Meskipun telah ditolak untuk membereskan, tetapi mungkin karena rasa bersalahnya membuat pelayan tersebut membantu aku membereskan barang-barang yang keluar dari dalam tas milik Clarissa. Tetapi ada satu hal yang menarik mataku untuk menatapnya lebih lama.
“Sekali lagi maaf ya, Mas.”
__ADS_1
“Tidak apa-apa Mbak, terimakasih sudah membantu merapikan kembali.”
Setelah semua barang yang sempat keluar kembali masuk ke dalam tas, pelayan caffe kembali ke tempatnya untuk melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan aku masih menggenggam secarik kertas yang masih terlihat licin.
“Hotel…”
Seketika manik mataku semakin melebar kala melihat nama perusahaan dan logo salah satu hotel yang terletak di kota Bandung. Apalagi kalau bukan surat tanda chek in. sebelum Clarissa kembali, aku lebih dulu memotret kertas tersebut dan dimasukan kembali ke dalam tas.
“Hai sayang.”
“Eh hai. Udah?”
“Heem. Maaf ya lama.”
“Enggak kok. Gak papa, gak lama juga.”
“Oh iya sayang, nanti malam aku ada pemotretan jadi handphone aku silent dan manager yang megang. Jadi maaf ya kita tidak bisa komunikasi untuk sementara waktu.”
“Oh iya gak papa sayang. Aku ngerti kok.”
Entah kenapa jadwal pemotretan Clarissa sama dengan tanggal dan jam yang ada di tiket hotel. Aku berpikir mungkin itu tempat Clarissa beristirahat setelah melakukan pemotretan. Tidak mau memikirkan hal-hal buruk, aku lebih memilih untuk menikmati momen bersama Clarissa.
Ketika waktu semakin malam, terpaksa aku harus berpisah dengan Clarissa. Seperti biasa aku selalu menjadi sosok pelidung baginya, termasuk mengantarnya pulang dan memastikannya selamat sampai masuk ke dalam rumah.
“Daah! Hati-hati ya sayang!”
Clarissa melambaikan tangannya ketika telah turun dari mobilku. Aku telah memintanya untuk masuk terlebih dahulu sebelum aku pergi, tetapi dia dengan keras menolaknya. Hal tersebut sedikit menimbulkan rasa penasaran kepadaku, karena biasanya ia selalu beranjak terlebih dahulu sebelum aku melajukan mobil.
Entah kenapa juga tiket hotel tersebut sangat mengganggu pikiranku. Batinku berkata untuk mencari tahu infomasi sedetail-detailnya. Aku memutuskan untuk melajukan mobil agar tidak lagi terlihat oleh pandangan Clarissa. Namun aku masih mengintai pergerakannya dari sudut pandang yang cukup jauh.
“Kenapa dia masih berdiri disitu?”
Aku semakin curiga ketika sudah lama aku pergi, tetapi Clarissa masih belum masuk ke dalam rumah. Ia menengok kanan-kiri seperti sedang mencari keberadaan seseorang. Dan tidak lama mobil sedan hitam berhenti di hadapannya. Ketika mobil itu berlalu, sosok Clarissa juga ikut menghilang.
“Lho Clarissa kok pergi? Oh iya gue lupa, hari ini kan dia pemotretan. Mungkin yang menjemputnya itu managernya.”
Meskipun aku telah berusaha meyakinkan diriku sendiri, tetap saja rasa penasaran itu belum terobati. Aku membuka ponsel untuk melihat potret tiket yang berhasil aku ambil. Tidak mau diselimuti oleh rasa penasaran terus menerus, aku memutuskan untuk menuju alamat hotel tersebut.
Perjalanan yang cukup lama dikarenakan jarak yang lumayan jauh, ditambah padatnya kendaraan yang berlalu lalang karena sekarang adalah hari weekend. Mobil yang membawa Clarissa telah melesat dengan sangat cepat. Bahkan baru sekejap aku memalingkan pandangan, mobil tersebut telah menghilang.
__ADS_1
Setelah sampai di tempat tujuan, terlebih dahulu aku melakukan penyamaran. Karena aku tidak tahu kemana Clarissa pergi, dan takutnya dia benar ada di hotel ini, maka lebih baik aku mengubah penampilan agar tidak diketahui oleh Clarissa.
*Bersambung*