
Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍
Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇
Terimakasih 🙏🙏🙏
**************************************************
Jika ada yang tidak setuju tentang bagaimana cara aku memandang, maka aku tidak menyalahkan mereka. Karena aku sadar pola pikir masing-masing kepala itu berbeda. Aku juga tidak berharap mereka akan mengerti tentang apa yang aku pikirkan, karena yang mengalami peristiwa itu aku sendiri, bukan mereka.
Meskipun semua orang menentang hubungan aku dengan Pak Angga, itu tidak akan mengubah rasa cinta dan sayangku kepada Pak Angga. Entah mungkin mereka mengatakan aku bodoh karena masih mengharapkan seseorang yang telah memilih pergi. Tapi yang pasti, hatiku enggan untuk jatuh cinta selain kepada Pak Angga.
Mau tidak mau aku juga harus siap jika mendapatkan kata-kata penolakan dari teman-temanku. Mereka melakukan itu bukan karena membenciku, justru mereka tidak ingin melihat aku kembali terluka. Mereka tidak akan membiarkan aku kembali jatuh pada lubang yang sama.
“Bagaimana perasaan kamu kepada Pak Angga sekarang?” Tanya Kak Beni lirih.
“Emm, jujur Angel masih sangat mencintai Pak Angga. Mungkin Angel tidak akan jatuh cinta lagi selain kepada dia. Angel tahu perasaan ini egois. Karena Angel hanya memikirkan perasaan Angel, tanpa mempedulikan kalian bahkan Papah. Tapi sampai saat ini, Angel masih berharap suatu hari nanti akan ada jalan agar Angel bisa bersama dengan Pak Angga.”
“Angel, lo yakin masih mencintai Pak Angga? Setelah apa yang lo dapatkan? Setelah dia pergi meninggalkan sejuta luka?”
“Pak Angga memang orang yang telah melukai perasaan gue, Cha. Tapi hanya dia yang bisa mengobatinya. Maafin Angel!”
“Kenapa kamu minta maaf? Tidak ada yang salah. Perasaan kamu bukanlah kesalahan. Hanya saja waktu yang belum pas. Jika kebahagiaan kamu terletak pada Pak Angga, maka kejarlah dia! Raih kebahagiaan kamu! Yakinlah jika usaha kalian sungguh-sungguh, maka kalian akan mendapatkan hasilnya. Luluhkan hati Papah kamu! Kak Ben yakin kalian akan mengantongi restu dan menjalin hubungan dengan restu dari orang tua kamu.”
“Kak Ben…hiks…”
Entah kenapa mendengar dukungan dari Kak Beni membuat hatiku tersentuh. Aku tidak menyangka mereka akan berada di pihakku dan meminta aku untuk tidak berhenti berjuang. Padahal sebelumnya aku berpikir bahwa mereka juga akan menentang perasaanku kepada Pak Angga.
Air mata telah berhasil lolos mengalir membasahi pipi. Kak Beni menepuk bahuku pelan, sedangkan Alessyia beranjak untuk memeluk diriku. Mereka bersama-sama memberi kekuatan agar energiku kembali pulih.
Dekapan ternyaman kedua setelah Papah dan Mamah yaitu dekapan seorang sahabat. Aku sangat berterimakasih dipertemukan dengan Alessyia, Kak Aldo dan Kak Beni. Mereka sangat care. Jika ada salah satu dari kami terluka, maka yang lain juga akan ikut terluka. Begitupun sebaliknya, salah satu personil bahagia, maka kebahagiaan itu akan mengalir kepada personil yang lain.
Hari semakin sore, mata kuliah telah usai. Seluruh mahasiswa mulai meninggalkan kampus. Semua orang berlalu lalang berjalan tidak beraturan. Alessyia telah lebih dulu pulang bersama Kak Aldo. Sedangkan aku berjalan kaki seorang diri.
Tid..tid…
__ADS_1
“Mau ikut gak?”
“Kak Ben…”
“Ayo naik!”
Beruntunglah masih ada Kak Beni belum meninggalkan kampus. Dengan ramahnya, Kak Beni membuka kaca jendela dan menyapaku. Setelah mendapatkan tawaran darinya, aku segera menghampiri dan masuk ke dalam mobil.
“Kamu sendirian?”
“Iya, Echa udah pulang sama Kak Aldo.”
“Ohh pantes aja dia pulang buru-buru. Ternyata mau jalan berdua sama Echa. Hmm Angel, kayaknya kecurigaan kita benar deh, iya gak?”
“Itu sih udah pasti Kak. Angel sih yakin. Udah kelihatan banget dari tingkah mereka berdua.”
“Kalau gitu, kita harus minta PJ dong nih. Pajak Jadian…”
“Ayo! Pokoknya besok kita tagih.”
“Hahaha.” Aku dan Kak Beni tertawa bersama.
“Kak Ben, ayo masuk dulu!”
“Enggak Ngel, Kak Ben langsung pulang aja!”
“Buru-buru banget. Ayo masuk dulu! Angel buatkan minum.”
“Next time ya Adekku yang bawel!”
Kak Beni terkekeh geli, sedangkan aku menampilkan ekspresi tidak senang dengan memonyongkan bibir karena mendengar sebutan ‘bawel’ yang keluar dari mulut Kak Beni. Hal tersebut semakin membuat Kak Beni tertawa lepas. Aku masih dengan raut muka yang sama, bukan karena aku kesal dibuatnya. Aku juga tahu Kak Beni hanya sekadar becanda untuk menghangatkan suasana.
Ketika malam tiba, aku segera mengambil posisi terlentang di atas ranjang. Karena hari kemarin yang kekurangan tidur, maka aku akan membalasnya. Malam ini aku tidur lebih awal dari biasanya. Bahkan orang-orang saja masih disibukkan dengan aktivitasnya. Sedangkan aku sudah berada di alam mimpi.
Dengan mata yang terlelap serta kesadaran yang sudah tidak normal, senyuman terlukis di wajahku. Dengan mengenakan gaun berwarna silver, riasan yang menambah kecantikan, disaksikan oleh banyak orang, Pak Angga menyematkan cincin di jari manisku. Cincin tersebut sebagai bukti keseriusannya menjalin hubungan denganku.
Tok..tok..tok…
__ADS_1
Ketika sedang menyantap beberapa hidangan, mataku sudah kembali terjaga. Sejenak aku tersenyum mengingat mimpi yang baru saja terjadi. Andai saja itu terjadi dalam kehidupan nyata, maka aku akan menjadi wanita yang paling bahagia. Wanita mana yang tidak bahagia ketika di lamar oleh seorang pria.
“Apakah mimpi itu pertanda baik? Atau justru sebaliknya?” Gumamku dalam hati.
Tok..tok..tok…
Lamunanku kembali pecah karena mendengar ketukan pintu. Sebenarnya ketukan pintu pertama yang membuat aku terbangun dari mimpi indah. Tetapi aku melupakan seuara tersebut karena terlalu asik mengulang mimpi. Ketika pintu diketuk kembali, maka aku segera tersadar.
Aku masih duduk di atas ranjang. Tidak ada lagi ketukan pintu yang terdengar. Aku terlalu takut untuk membuka pintu. Siapa pula yang akan bertamu malam-malam seperti saat ini. Tetapi ketika mataku menatap jam yang menempel di dinding, aku baru menyadari kalau sekarang baru pukul 9. Mungkin karena aku sudah tidur cukup lama, maka terasa waktu sudah tengah malam.
Dred..dred..dred…
Tanpa melihat nama yang tertera di atas layar, aku segera menjawab panggilan yang masuk. Fokusku masih kepada sumber suara ketukan pintu ketika telingaku sedang mendengarkan orang yang sedang berbicara di seberang sana.
“Angel ini aku. Tolong buka pintunya!” Ucap seseorang dari telepon tersebut.
“Pak Angga…”
Setelah mengetahui bahwa orang tersebut Pak Angga, aku segera berjalan mendekati pintu dan membukanya. Benar saja, Pak Angga sedang berdiri dengan tangan yang melipat di dada.
“Pak Angga kenapa gak bilang dari tadi kalau itu Bapak, Angel kan jadi takut.”
“Aku udah memanggil nama kamu lirih, tetapi tidak ada jawaban. Jika aku berisik, sudah pasti akan mendapatkan omelan. Apakah aku mengganggu tidur kamu?”
“Huh? Tid-tidak kok. Ada apa kesini lagi?”
“Ada yang mau aku bicarakan sama kamu.”
Aku mempersilakan tamu yang datang secara tiba-tiba untuk masuk. Pintu ditutup tetapi tidak dikunci. Pak Angga mengarahkan untuk duduk di balkon depan. Ia telah berjalan lebih dulu disaat aku sedang mengambil minuman dan makanan ringan.
Belum ada perbincangan yang tercipta. Aku menyimpan nampan ke atas meja yang sedari tadi berada dalam genggaman. Kemudian aku mengambil posisi untuk duduk di samping Pak Angga, tetapi dengan jarak yang cukup jauh sehingga menyisakan celah yang kosong di tengah-tengah kami.
“Apa yang ingin Bapak bicarakan?”
“Aku sudah berhasil menyelesaikan misi. Aku juga menunaikan janjiku kepadamu. Sekarang aku akan menagih janji kamu. Bukankah kamu tahu janji adalah hutang dan harus dibayar agar terhindar dari dosa.”
“To the point saja, apa maksud ucapan Pak Angga? Jangan terlalu berbelit-belit! Angel tidak mengerti.”
__ADS_1
*Bersambung*