My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-06 Pujian Dari Sang Guru


__ADS_3

Kain basah yang menempel dikening membangunkan aku dari lelap tidurku. Saat aku berusaha bangkit dari tempat tidur, rupanya ada tangan halus yang memeluk erat perutku. Pergerakkan tubuhku membangunkan seseorang yang tengah terlelap disampingku.


“Sayang udah bangun. Bentar Mamah siapin makan ya !”


Setelah memastikan suhu tubuhku tidak terlalu demam, ia bergegas meninggalkan kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


Beruntunglah saat jatuh sakit, berada pada penghujung hari yaitu hari Jumat. Sehingga aku terbaring lemah tanpa ketinggalan materi pelajaran.


Mamah kembali ke kamar untuk membangunkan aku, dan membawaku berjalan menuju meja makan.


Disana telah tersaji nasi putih, sayur-sayuran yang direbus, serta telur bulat utuh hasil dari rebusan, tidak lupa buah apel yang telah dikupas serta jeruk yang telah terpisah dari cangkangnya.


“Mah, gak enak. Gak ada rasanya.”


“Sabar ya sayang. Ini juga demi kesembuhan kamu. Kata dokter kamu tidak boleh memakan masakan yang diolah dan mengandung banyak garam. Jadi untuk sementara kamu makan yang direbus ya ! Mamah janji kalau kamu udah sembuh akan memasak makanan yang enak buat kamu.”


“Asiikkk. Janji ya, Mah.”


“Iya janji.”


“Kalau Mamah lupa nanti aku tagih.”


Aku mengacungkan jari kelingking yang dibalas dengan ikatan jari kelingking juga dari Mamah. Kemudian kami tertawa bersamaan.


Suasana hangat yang selalu membuat aku betah di rumah. Apalagi jika Papah sedang beristirahat dari pekerjaannya. Lengkap sudah kebahagiaan yang aku miliki. Tuntutan kerja yang memaksa aku terpisah dengan Papah sejak kecil. Mungkin jika dihitung dalam setahun hanya bisa berkumpul dengan Papah kurang lebih 24 hari.


Papah bekerja disalah satu perusahaan manufaktur yang terletak di Ibu Kota. Menjadi Manager perusahaan membuat tanggung jawabnya lebih besar. Hanya 2 hari dalam sebulan waktu yang Papah miliki untuk berkumpul bersama keluarga. Jika tidak ada keperluan mendesak, tidak bisa meninggalkan perusahaan dengan mudah.


“Sayang, bukannya guru kamu yang kemarin, itu yang nganterin kamu pulang waktu itu kan ?”


Pertanyaan Mamah tiba-tiba mengejutkan bagiku, sehingga membuat makanan yang sedang aku kunyah tidak bisa terproses dengan sempurna.


Uhuk . . . uhuk . . .


“Pelan-pelan dong makannya. Mamah gak akan ngambil kok.”


“Mamah kok bisa tahu kalau mereka orang yang sama ?”


“Benar ? Jadi itu benar ? Padahal Mamah Cuma asal bicara lho.”

__ADS_1


“Iiihhh Mamah, bukan kok, bukan Pak Angga.”


“Sayang, jawaban kamu yang barusan cukup meyakinkan kalau orang yang nganterin kamu pulang adalah Pak Angga.”


“Emangnya kenapa kalau itu Pak Angga, Mah ?”


“Engga. Gapapa kok. Mamah suka aja. Tampilannya rapih, tapi juga tidak kolot. Masih seperti anak muda.”


“Yaa wajar dong kalau rapih, kan guru harus menjadi panutan bagi muridnya, Mah. Memberikan contoh yang baik.”


“Iya. Makanya Mamah suka.”


“Aaahhhh udah ah. Angel mau istirahat.”


Entah kenapa Mamah bisa begitu mudahnya menyukai Pak Angga. Mamah tidak tahu saja kalau Pak Angga adalah orang yang cuek. Kalau Mamah mengetahui kedinginan Pak Angga, apakah masih tetap menyukainya ?


Tapi perkataan Mamah memang ada benarnya, Pak Angga sangat rapih, dengan baju yang terlihat licin, rambut pendek, dan kumis tipis menambah kesan gentle. Berbeda dengan anak muda zaman sekarang dengan gaya rambut yang aneh, serta fashion yang terlihat acak-acakkan, bagiku tidak enak dipandang.


Jelas saja Pak Angga berbeda dengan anak remaja zaman sekarang, toh usia dia juga sudah sedikit berumur. Tapi tidak dapat dipungkiri kalau Pak Angga masih memancarkan daya tariknya. Dengan wajah tampan dilengkapi rahang tegas, membuat dirinya semakin sempurna dimata wanita dewasa. Iya wanita dewasa, yang se-usia dengan Pak Angga. Bukan gadis remaja yang masih kecil seperti diriku ini.


“Lagian aku kenapa sih ? Emangnya mikir kalau Pak Angga bakal suka sama aku ? Terus aku juga suka sama Pak Angga ? Ya gak mungkin dong. Ayolah masa mikir yang gak masuk akal kaya gitu sih.”


Bukannya tanpa alasan aku selalu menggunakan angkutan umum selama ini. Karena aku anak semata wayang, dan Papah yang over protektif tidak mengijinkan jika aku naik kendaraan sendiri. Makanya aku tidak difasilitasi kendaraan bermotor. Mau tidak mau aku harus menuruti perintah Papah, atau Papah akan membuat aku bersekolah di rumah, atau yang lebih dikenal dengan sebutan home schooling.


Jelas aku lebih memilih naik angkutan umum daripada home schooling. Karena jika sekolah aku lebih banyak melakukan interaksi dan bersosialisasi. Menambah pengalaman dengan bertemu orang-orang baru. Dan aku yakin jika home schooling akan sangat terasa menjenuhkan.


“Cantik.”


“Hah ? Apanya yang cantik Pak ?”


“. . . “


“Pak . . Bapak kenapa lihatin Angel ? Ada yang salah sama Angel ya Pak ?”


“Kamu punya kaca gak ?”


“Iihh tuh kan pasti ada sesuatu dimuka Angel.”


Aku merogoh cermin kecil di tas yang berada tepat disampingku untuk memastikan jika ada sesuatu yang menempel dimuka. Mengusap, melihat, berulang kali aku lakukan. Tapi tak ada sesuatu yang aneh dari penampilanku. Kini Pak Angga malah menertawakan kelakuan aku. “Ada apa sebenarnya sih ?” gumamku dalam hati.

__ADS_1


“Ih Bapak kok malah ketawa sih.”


“Kamu cantik.”


“Hah apa Pak ? Angel gak salah dengar kan Pak ?”


“Udah waktunya pulang. Mamah kamu tadi minta tolong saya buat anterin kamu ke rumah. Karena orang yang biasa jemput kamu sedang berhalangan.”


“Iisshhhh.”


“Kenapa ? Kamu gak mau di antar saya ? Ya sudah kamu tungguin aja sampai bus lewat !”


“Enggak Pak. Bukan itu. Kesel aja Bapak gak jawab pertanyaan Angel.”


“Pertanyaan yang mana ?”


“Eng . .Engga deh.”


“Cantik. Iya kamu cantik. Emangnya saya bilang cantik ke siapa. Kan cuma kamu yang saat ini bersama saya.”


Seperti panah yang menancap tepat di dadaku. Jantungku bekerja sangat cepat, berdetak tak beraturan. Tubuhku gemetar. Kakiku lemas tak mampu melangkah. Mulutku tertutup rapat oleh sebuah gembok dan sepertinya kuncinya telah dibuang jauh, sampai rasanya aku tak mampu membuka mulutku kembali, berat sekali.


Lama terdiam. Hening. Pak Angga berusaha menyadarkan aku. Hingga saat aku kembali ke alam normal, hampir saja aku terjatuh. Untungnya lengan kekar serta kuat segera menggenggam tanganku, ditariknya badanku kedalam dekapannya, membuat manik kami kami saling bertatapan. Hingga terdengar knop pintu yang terbuka, aku segera menjauhkan tubuhku dari sosok yang telah menolongku barusan dan segera memalingkan tatapan dari mata indah hitam pekat tersebut.


Aku rapihkan pakaian yang sedikit nampak acak-acakan. Tak lupa aku kendalikan emosi yang sempat tak karuan agar tidak terlihat cemas oleh Ibu Ratna, salah satu guru produktif di jurusan yang aku ambil.


“Angel belum pulang ? Belum beres les nya ya ?”


“Eh iya ini baru beres, Bu. Ibu belum pulang ?”


“Ada yang ketinggalan. Jadi ibu balik lagi deh.”


“Emm. Kalau gitu Angel duluan ya, Bu.”


“Oh iya hati-hati.”


Dua pasang kaki berjalan bersamaan meninggalkan ruangan dengan salah satu dari kami berada di depan, satunya lagi mengikuti.


Menaiki motor gede berwarna merah terang, menerobos gelapnya malam, melawan dinginnya hembusan angin yang membuat suasana seakan membeku. Sama halnya dengan kami berdua, tidak ada yang memecahkan keheningan kala itu.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2